
"Alex, aku tadi habis menabrak seorang wanita. Kebetulan barang yang dia bawa pecah. Kau urus saja."
"Baik pak."
"Kau cari saja tamu yang bernama___ hmm Heny, yah namanya Heny."
"Baik akan saya cari."
"Hmm, Alex apa jadwalku hari ini padat?"
"Pagi ini ada meeting, di lanjut dengan ketemu klien di rumah makan Jepang, dan sore juga ada janji ketemu dengan klien."
"Bisakah kau jadwal ulang? hubungi mereka."
"Maaf pak, jadwal ini sudah kita atur ulang. Takutnya mereka akan menganggap kita tidak serius."
"Heh, baiklah." ucap Xander.
Ia segera menuju ruang meeting untuk melakukan rapat tentang kinerja dan laporan keuangan. Selama rapat berlangsung ia sama sekali tidak konsentrasi. Sebentar - sebentar melihat handphone.
Seharusnya dia sudah sampai, kenapa belum menghubungiku batin Xander.
"Jadi saat ini laporan keuangan kita meningkat pak, otomatis laporan kinerjanya juga meningkat. Demikian laporan dari saya." ucap manajer keuangan sambil menutup laporannya. Ia terdiam sambil menunggu reaksi dari Xander. Tapi tampaknya Xander masih sibuk memandangi handphonenya.
"Ehem, saya sudah selesai melaporkan pak."
"Apa? apa yang kau laporkan?"
"Laporan keuangan yang bapak minta."
"Aku tidak mendengar dan melihat kau melaporkan."
Semua yang hadir dalam rapat saling berpandangan. Baru kali ini Xander memimpin rapat dalam keadaan tidak konsentrasi.
"Tapi___"
"Ulangi." perintah Xander.
"Baik pak." jawab manajer keuangan sambil kembali menampilkan laporannya. Ia memaparkan kembali laporannya. Jadi rapat yang seharusnya bisa berlangsung cepat menjadi lama gegara Xander yang banyak melamun.
Setelah melalui proses yang lama akhirnya rapat bisa selesai. Xander kembali ke ruangannya. Disusul Alex masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Maaf pak, saya sudah bertemu dengan ibu Heny."
"Terus? sudah kamu ganti barangnya?"
"Ia ingin bertemu dengan anda secara langsung."
"Buat apa?"
"Saya kurang tahu pak. Katanya minimal ada itikad baik dari anda setelah menabraknya."
"Heh, baiklah." ucap Xander. "Menambah pekerjaan saja."
"Kalau begitu saya permisi pak."
"E... Alex kau telepon saja dia sekarang. Ketemu aku di bar and resto bawah. Aku ingin pekerjaanku cepat selesai."
"Baik pak."
Xander keluar dari ruang kerja nya menuju ke bar and resto yang ada di bawah. Ia mempercepat langkahnya karena hari ini ia memadatkan jadwal agar besok bisa menyusul Kamisha ke Jogja.
Kyara melihat Xander berjalan cepat menuju suatu tempat. Ia berusaha mengejarnya, mengikutinya hingga langkahnya terhenti karena sesuatu.
"Selamat siang pak Xander."
"Selamat siang, maaf sudah menunggu."
"Oh tidak apa - apa. Demi bertemu orang setampan bapak saya rela menunggu." goda Heny.
"Panggil saja saya Xander. "
"Baiklah, Xander."
"Apa yang ingin anda bicarakan?"
"Saya hanya ingin mengenal anda."
"Oh, tapi maaf hari ini jadwal saya padat."
"It's oke Xander. Kita bisa bertemu lain waktu."
"Kalau itu saya tidak bisa memastikan." ucap Xander berusaha mengelak. "Ini barang yang kemarin saya pecahkan."
"Sebenarnya kamu tidak perlu menggantinya. Cukup dengan kita ketemu besok."
"Maaf, besok saya harus ke rumah mertua saya di Jogja."
"Mertua?"
"Ya, saya akan ke Jogja menyusul istri saya."
"Oh..."
"Maaf, saya harus ada rapat lagi. Permisi."
"Terima kasih atas waktunya Xander."
__ADS_1
Xander segera pergi meninggalkan Heny sendiri. Tampak di wajahnya kekecewaan begitu tahu kalau Xander sudah menikah. Pasti akan lebih sulit merayunya.
"Dengan siapa tadi kamu bertemu?!" tanya Kyara tiba - tiba mendekatinya.
"Dengan atasanmu, Xander."
"Kenapa kau mau menemuinya?"
"Aku tidak perlu melaporkan setiap kegiatanku denganmu."
"Jangan coba - coba mendekatinya."
"Itu urusanku, buat apa kami ikut campur."
"Dia itu pernah menjadi kekasihku."
"Oh, mantan."
"Apa kau bilang? Xander masih mencintaiku."
"Kalau dia masih mencintaimu, sekarang kau pasti sudah menjadi nyonya Xander. Kyara, kalau mimpi jangan terlalu tinggi, kalau terbangun biar tidak sakit."
"Kurang ajar kamu ya!" teriak Kyara yang kemudian mengguyur wajah Heny dengan air minum di atas meja.
"Aaacchhh...!!! apa yang kamu lakukan?!"
"Itu balasan karena kamu jadi wanita gatal!"
"Dasar brengsek! wanita simpanan!" dengan cepat Heny menjambak rambut Kyara hingga ia maju dan terantuk meja.
Beberapa orang segera melerai mereka. Apabila terjadi pertengkaran maka nama baik hotel akan dipertaruhkan. Kyara berusaha meredam emosinya itu juga demi kelancaran rencananya.
"Aku minta jauhi Xander." ancam Kyara sambil pergi meninggal Heny.
Kurang ajar, berani menabuh genderang perang denganku rupanya. Baiklah kalau itu maumu Kyara. Akan aku ladeni batin Heny.
Ia juga meninggalkan bar and resto untuk menuju ke kamar. Heny membanting tas dan barang - barang di sekitarnya. Ia marah sejadi - jadinya. Hampir saja rencananya gagal. Ia segera menelepon om Dimas.
"Halo, om."
"Ada apa Heny? kenapa kau tampak kesal?"
"Bagaimana aku tidak kesal! Kyara hampir saja menggagalkan rencana kita! Dia melarangku mendekati Xander."
"Apa alasannya?"
"Karena dia mantannya."
"Mantan? tidak mungkin, informasi yang aku dapatkan tidak seperti itu."
"Dan om juga harus tahu, ia sudah menikah."
"Mungkin keep silent, om. Untuk privasi sendiri."
"Baiklah, aku akan mencari informasi lebih lanjut."
"Bagaimana aku bisa bergerak kalau Kyara menghalangiku."
"Tenang... tenangkan dirimu, oke. Aku akan mencari cara memyingkirkannya."
"Oke, aku tunggu kabar baik dari om." panggilan diakhiri.
Heny merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pandangannya menatap ke arah langit - langit. Ia mengenang masa lalu. Saat ia dan Kyara masih menjadi teman yang baik. Saat mereka berdua masih berjuang dari kejamnya ibukota. Ternyata dengan uang semua nya bisa berubah, semuanya bisa di beli termasuk persahabatan.
Air matanya menetes, apalagi sekarang rumah tangganya diambang kehancuran. Suaminya sudah di PHK. Ia hanya mengandalkan uang dari om Dimas, itu pun kalau rencananya berhasil.
🍁🍁🍁🍁
Malam itu Xander pulang. Kamisha hanya mengiriminya pesan kalau ia sudah sampai di Jogja dan sedang berada di rumah sakit menunggui bapaknya. Xander mengerti mungkin di sana Kamisha disibukkan dengan merawat pak Amir.
"Kau pulang larut, Xander?"
"Ya, ma."
"Mau mama panaskan makanannya?"
"Tidak perlu, aku sudah makan dengan klien tadi."
"Kau jadi berangkat ke Jogja?"
"Belum tahu, ma. Hari ini tadi aku belum mendapat kesepakatan dengan klien. Pembicaraan berjalan dengan alot. Dan akan dilanjutkan besok pagi. Kalau besok bisa selesai cepat aku langsung berangkat ke Jogja."
"Ya sudah, jelaskan itu pada Kamisha. Kalau pekerjaanmu itu memang tak bisa kamu tinggalkan."
"Sudah, aku sudah bicara dengannya."
"Tanggapannya?"
"Ia bilang tidak apa - apa. Karena pekerjaanku menyangkut banyak kepala rumah tangga. Jadi kalau terjadi apa - apa ia takut akan merugikan perusahaan."
"Hah aku memang tidak salah memilih menantu. Kau harusnya bersyukur memiliki istri yang pengertian."
"Yah, aku tahu." jawab Xander. "Axel mana?"
"Dia sudah tidur. Kau istirahatlah."
"Aku akan melihat Axel dulu, setelah itu istirahat."
"Ya, mama juga akan istirahat."
__ADS_1
Xander dengan langkah gontai naik ke atas menuju kamar Axel. Ia melihat anak laki - laki itu tertidur pulas. Setelah mencium keningnya dan memastikan tidurnya benar - benar nyaman, Xander segera menuju ke kamarnya.
Malam ini ia akan tidur di sofa seolah - olah ia merasa dekat dengan istrinya. Kenapa aku begitu merindukannya. Apakah aku sudah jatuh cinta padamu Kamisha batin Xander. Ia berusaha memejamkan matanya walau terus terang hatinya gelisah.
🍁🍁🍁🍁
Pagi ini Xander berangkat agak kesiangannya. Axel diantar oleh mbok Sri dan sopir. Kamisha sempat menelepon sebentar hanya untuk memberi kabar kalau besok bapak sudah boleh pulang.
Tapi ia belum bisa pulang karena kondisi bapak masih lemah. Sepertinya Xander harus bersabar lagi untuk bertemu dengan istrinya. Ia tidak mau menjadi pria egois dan satu - satunya cara ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera menyusul istrinya di Jogja.
"Alex rapat hari ini harus selesai, aku tidak bisa memberi waktu lagi untuk mereka bernegosiasi."
"Baik pak."
"Tekan mereka dalam rapat nanti, sehingga segera diambil keputusan."
"Baik pak."
"Oya setelah itu pesankan aku tiket ke jogja."
"Baik pak. Hmm... anda mau ke jogja? menyusul mbak Misha?"
"Ya." ucapnya. "Eh bukan, aku mau menjenguk mertuaku."
"Oh.. itu betul pak. Sebagai menantu harus perhatian dengan mertua. Dan juga nggak enak kalau berpisah lama dengan istri."
"Aku biasa saja. Aku sudah terbiasa mandiri."
"Ya itu dulu pak, mungkin saat - saat ini sudah berbeda."
"Maksudmu?"
"Kaos kaki yang bapak pakai warnanya berbeda."
Xander melihat ke arah bawah kakinya. Ah ya betul kenapa warnanya bisa beda begini batin Xander kesal.
"Itu gara - gara bik Yanti, akan aku potong gajinya." jelas Xander sambil memalingkan muka karena malu. "Kau belikan aku kaos kaki yang baru.
"Baik, pak."
Alex segera menjalankan perintah Xander.
Pagi ini meeting dengan klien berlangsung cukup lama. Lagi - lagi ia harus di hadapkan dengan kenyataan tidak bisa bertemu dengan Kamisha. Tiket yang sudah terbeli pun harus terbuang sia - sia.
"Pak sudah malam, bapak tidak pulang?"
"Sebentar lagi Alex, badanku pegal semua."
"Bagaimana tidak pegal, pekerjaan yang seharusnya di selesaikan dua minggu anda selesaikan dalam waktu dua hari."
"Kau sudah pesankan tiket penerbangan paling awal?"
"Sudah pak, sekitar jam sebelas siang."
"Apa tidak ada yang lebih pagi?"
"Tidak ada pak."
"Ya sudah, pulanglah dulu. Aku akan disini sebentar lagi."
"Saya akan pulang setelah bapak, saya tunggu di depan."
"Baiklah kalau itu mau mu."
Xander berbaring di sofa sebentar, kantuk sudah mulai menyerang, tiba - tiba saja ada panggilan video call masuk.
"Misha." sapanya sambil tersenyum.
"Kau masih di kantor?"
"Ya, aku lembur."
"Oh, aku kira kau jadi datang ke Jogja hari ini."
"Baru saja pekerjaanku selesai."
"Jangan terlalu capek, ingat jaga kesehatanmu." ucapnya sambil tersenyum. "Bagaimana kabar Axel?"
"Dia sangat manis dan penurut. Sama sekali tidak rewel."
"Syukurlah, sepertinya ia sudah terbiasa denganmu." ucap Kamisah. "Oya, misalkan ada beberapa hal yang harus kamu selesaikan dikantor, selesaikan saja dulu. Tidak usah memaksakan diri untuk ke Jogja. Apalagi bapak sudah membaik. Mungkin dua hari lagi aku akan pulang."
"Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan ke Jogja menjenguk mertua sekalian menjemputmu." ucap Xander. Mana bisa aku hidup dengan tenang. Kamu tinggal dua hari saja aku sudah kacau begini, malah mau tambah dua hari lagi batin Xander.
"Ya sudah, istirahatlah di rumah. Aku tutup dulu."
Xander mengangguk dan panggilan terputus. Hah panggilan tadi menambah rasa rinduku saja.
"Alex."
"Ya pak."
"Bawakan tas ku ke mobil aku akan pulang. Jangan lupa besok pagi antar aku ke bandara."
"Baik pak."
Hari ini terasa panjang di tambah dengan beratnya kerinduan. Besok kita akan ketemu Misha.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1