Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Sakit.. Sakit.. Sakit..


__ADS_3

"Aku menginginkanmu Xander."


"Misha, kau yakin dengan apa yang kau ucapkan itu."


Kamisha hanya diam. Ia terus mendesak maju hingga tubuh Xander terduduk di sofa.


Xander tidak percaya kenapa tiba - tiba sikap Kamisha berubah. "Kau kena pengaruh obat?"


"Aku tidak tahu, yang aku tahu aku menginginkanmu." Kamisha mulai meracau. Ia mulai duduk di atas pangkuan Xander yang masih tidak percaya.


"Siapa yang memberimu obat?"


Kamisha diam tidak menjawab, di sibuk meraba dada Xander yang keras dan liat. Tentu saja itu membangkitkan sesuatu di bawah sana yang sudah lama tidak terusik.


Sial aku tidak bisa menolak pesona Kamisha. Aku begitu menginginkannya batin Xander bergejolak, berperang dengan akal sehatnya.


"Misha." ucapnya lirih sambil mendorong pinggang Kamisha untuk mundur sedikit, karena ini terlalu dekat. Bisa bahaya.


"Jangan tolak aku Xander." bisik Kamisha di telinga suaminya itu.


"Misha ak__." belum sampai Xander menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah di bungkam dengan ciuman - ciuman panas dari Kamisha yang bertubi - tubi.


Ciuman yang selama ini begitu ia rindukan dan sekarang ia mendapatkannya tanpa susah payah. Kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh Xander.


Maaf sayang, kau yang memulainya lebih dulu batin Xander. Ia segera membalas ciuman Kamisha yang begitu panas, memainkan lidahnya dan bahkan memberikan gigitan - gigitan manja. Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut mungil Kamisha.


Xander mulai memberanikan diri dengan memberikan sentuhan - sentuhan yang membuat Kamisha semakin berani. Ia mulai membuka kaos Xander. Kedua tangan Xander tak hentinya memainkan bukit kembar istrinya yang mengeras dan padat.


"Pelan - pelan sayang, sakit." ucapnya lirih.


Xander melembutkan irama dalam memainkan bukit kembarnya. Tak hanya itu tangan yang satu lagi mulai memainkan bokong Kamisha yang semakin berisi.


"Masuki aku Xander."


Xander menatap tajam jauh ke dalam mata Kamisha. Ia ingin memastikan bahwa itu benar - benar permintaan istrinya dan bukan main - main atau prank.


"Kau tahu, kalau sudah seperti ini aku tidak bisa berhenti Misha."


"Lakukanlah sayang." Kamisha menangkupkan kedua tangannya di pipi Xander. "Oh aku merindukanmu Xander."


Xander berdiri sambil menggendong tubuh Kamisha, dengan otomatis ia mengaitkan kedua kakinya pada pinggang Xander. Xander membawanya masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan tubuh Kamisha dengan perlahan.


Ia mulai menciummi tubuh harum istrinya sambil membuka pakaian Kamisha hingga tubuh itu terpampang nyata tanpa satu helai benang pun.


"Kau tambah seksi sayang." puji Xander.


"Nikmatilah Xander, please." Kamisha menarik tubuh suaminya agar segera melakukan penyatuan.


Mereka mulai berciuman, tangan Xander membelai lembut liang kewanitaan Kamisha yang sudah basah. Dengan perlahan Xander menyatukan miliknya masuk ke dalam liang kenikmatan.


"Aauuww.. sakit!" teriak Kamisha pelan.


Xander tahu mereka sudah lama tidak berhubungan badan. Butuh penyesuaian pada diri Kamisha. Xander memperlambat tempo permainannya setelah Kamisha merasa nyaman baru ia menambah kecepatan.


"Aacchh..! sayang, aku mau meledak." teriak Kamisha.


"Kita sama - sama meledak sayang." Xander semakin mempercepat permainannya hingga lenguhan panjang lolos dari mulutnya.


Kamisha dengan napas terengah - engah dan peluh membasahi tubuhnya, memejamkan mata.


Xander mencium Kamisha. "Maafkan aku sayang, aku mencintaimu." ucapnya sambil menyelimuti tubuh istrinya.


Sebenarnya ia masih mau melakukannya lagi akan tetapi melihat Kamisha yang kelelahan dan langsung tertidur ia mengurungkan niatnya.


Xander memeriksa Enzio, bayi itu telah bangun tapi sama sekali 1tidak rewel. Setelah membersihkan diri Xander menggendong Enzio, bayi itu tampak senang.


"Jangan rewel boy. Mommy sedang istirahat." Xander membawa Enzio di tempat tidur samping Kamisha. Ia menaruh Enzio di dadanya dan menepuk - nepuknya hingga tertidur lagi. Xander juga ikut tertidur di samping Kamisha, ia tidur dengan bahagia.


🌸🌸🌸🌸


"Oahemm." Kamisha menguap. Ia meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Kenapa tubuhku rasanya lelah sekali pikirnya. Ia membuka selimut dan ingin melihat apakah Enzio sudah bangun.


"Aaaacchhh!" teriaknya sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Kenapa aku tidak pakai baju begini, tubuhku juga lengket bekas keringat, ya tuhan apa yang terjadi pikirnya panik.


Ia melihat sekelilingnya dan dengan mata terbelalak seakan tidak percaya ia melihat Xander yang hanya mengenakan boxer tidur sambil memeluk Enzio.


Kamisha marah melihat ini semua. Ia tidak percaya bahwa Xander tega melakukan ini semua.


"Xander bangun!" Kamisha mengguncang tubuh Xander dengan keras.


"Oahemm, sebentar sayang aku masih capek."


"Bangun! atau aku teriak keras - keras."


Xander membuka matanya dengan segera. "Apa maksudmu?"


"Apa yang kau lakukan padaku?"


"Kau lupa? semalam kita sudah berdamai Misha, kau sudah memaafkan aku dan kita sudah bercinta."


"Tidak, itu tidak benar. Aku belum memaafkanmu Xander."


"Tapi semalam kau yang merayuku."


"Hentikan! hentikan semua omong kosongmu itu!"


"Aku tidak bohong sayang, itu yang sebenarnya terjadi." Xander berusaha meyakinkan. "Cobalah tenang dan ingat kejadian semalam."


Kamisha terdiam sesaat, kepalanya sakit harus mengingat dengan keras kejadian semalam. Ia bingung, ia marah. "Aku tidak mungkin melakukan ini jika kau tidak memberi sesuatu padaku?"


"Hei, aku tidak sehina itu untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku." Xander menaruh Enzio yang masih tidur ke dalam box bayi.


"Tidak.. tidak.. ini tidak benar." Kamisha mondar mandir. Ia merasa sebagai wanita murahan di depan Xander. Ia merasa malu. Tiba - tiba ia diam. "Mama.. yah pasti mama."


"Apa yang mama lakukan?"


"Pasti mama yang memberiku obat hingga aku berbuat senekat itu padamu?"


"Misha, tolong lupakanlah amarahmu padaku. Kita mulai lagi rumah tangga ini dari awal."


"Tidak Xander, aku justru tambah marah padamu!"


"Maksudmu?"


"Kau tahu aku dalam pengaruh obat, tapi kenapa kau tega memanfaatkan ke tidak berdayaanku!" teriak Kamisha. "Itu sama saja kau telah memperkosaku!"


"Kita suami istri, mana ada istilah pemerkosaan."


"Ada, karena kau yang memaksaku. Itu sama saja dengan memperkosa bukan?"


"Kau yang terus memaksaku, aku tidak kuasa menolak pesonamu sayang. Kita suami istri dan itu artinya kita melakukannya atas dasar saling cinta. Aku tidak memerkosamu."


"Aku dalam pengaruh obat Xander! dan dalam keadaan sadar aku tidak mau melakukan itu denganmu!"

__ADS_1


Tampak raut wajah Xander yang kecewa mendengar perkataan Kamisha. "Segitu bencikah kau padaku?"


"Yah, aku membencimu." ucap Kamisha sambil memalingkan muka, ia memejamkan matanya, mulutnya bergetar. Apakah aku benar - benar membenci suamiku, atau hanya perasaan malu karena akhirnya Xander tahu kalau aku masih menginginkannya, masih mencintainya batin Kamisha berperang.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku pergi." Xander memakai kembali bajunya dan segera pergi dari rumah Kamisha.


Kamisha bersimpuh dan menangis sejadi - jadinya. Ia menunduk dan memeluk kedua kakinya. Apa yang telah dia lakukan, kenapa semuanya menjadi semakin kacau.


Sementara itu..


Mama Attalia, Axel dan mbok Sri.sudah sampai di rumah.


"Loh kok sepi mbok pada pergi kemana?" mama Attalia sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil dari rencananya.


"Mommy.. mommy.." panggil Axel.


Dari dalam kamar keluarlah Kamisha dengan muka sembabnya.


"Kalian sudah pulang?" tanyanya sambil tersenyum menyembunyikan hatinya yang luka.


"Iya mommy, acaranya sudah selesai."


"Masuklah ke kamar Axel, mommy mau bicara dengan oma."


Mama Attalia sepertinya sudah tahu hasil dari rencana hanya dengan melihat wajah sembab Kamisha dan Xander yang tidak ada di sana. Bisa dipastikan rencananya gagal total.


"Aku mau bicara, ma."


"Bicaralah."


"Kita duduk di teras depan."


Mereka berdua keluar dan duduk santai di teras depan.


Kamisha menghela napas sebelum mulai berbicara dengan mertuanya. Ia tidak mau menyinggung perasaan mama karena selama ini ia lah yang selalu memberikan semangat dan mendukungnya.


"Ma."


"Ya."


"Apakah mama sudah menaruh sesuatu ke dalam minumanku?"


"Ya."


"Kamisha terkejut dengan jawaban mama. "Kenapa?"


"Mama ingin kalian kembali bersatu, mama tahu kalian masih saling mencintai."


"Tapi mama kan tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku butuh waktu, ma."


"Mau sampai kapan? mama kasihan melihat anak - anak kalian."


"Mama terlalu berlebihan. Axel tidak apa - apa ketika tidak ada daddy nya. Apalagi Enzio."


"Kamu salah Misha, Axel cerita kepadaku betapa bangganya ketika Xander selalu datang ke sekolahnya. Di sekolah, anakmu itu selalu dikatakan sebagai anak haram, anak yang tidak punya bapak. Apa kamu tahu itu?"


"Tta.. tapi Axel tidak pernah cerita."


"Karena ia tidak mau menambah beban mu. Ia melihat kau diam - diam selalu menunggu kedatangan Xander dengan tidur di sofa. Itu kebiasaanmu ketika Xander pulang terlambat. Ia tahu kamu sangat menantikan kehadiran Xander. Walaupun ia tidak tahu masalah kalian apa."


"Ma aku__."


"Sudahlah, mama sudah lelah dengan semua ini. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang terbaik. Kalian ini sama - sama keras kepala."


"Dimana Xander?"


"Dia pergi."


Mama Attalia beranjak dari duduknya.


"Mama mau kemana?"


"Mencari Xander, aku rasa saat ini ia butuh mama setelah penolakanmu."


"Aku ttidak__."


"Aku tahu kalian pasti sudah bercinta tadi malam, tapi kamu pasti menyesal mengetahui bahwa kamu dalam pengaruh obat dan akhirnya menolak Xander." mama Attalia langsung tahu begitu melihat beberapa tanda merah dileher Kamisha. "Dan perlu kau tahu kami semua menginginkan kalian bersatu kembali termasuk Sofi sahabatmu."


"Sofi."


Mama Attalia segera membawa kopernya kembali dan memasukkan ke dalam mobil. "Berpikirlah dengan jernih dan tenang Misha."


"Hati - hati, ma."


🌸🌸🌸🌸


Malam itu Kamisha banyak sekali melamun. Mbok Sri tahu majikannya itu sedang banyak pikiran. Jadi dia berinisiatif mengurus Axel dan Enzio.


Kamisha duduk termenung di ruang tengah, ia memejamkan mata berusaha mengingat malam itu. Kemudian ia teringat dengan perkataan mama kalau Sofi juga banyak tahu masalah ini. Ia mencoba menelepon sahabatnya itu.


"Halo, Sof."


"Hai nyonya Xander. Selamat ya atas bersatunya kalian kembali."


Kamisha hanya diam.


"Hei, kenapa diam?"


"Kenapa ide gila itu bisa muncul di pikiranmu, Sof?"


"Oke, sepertinya rencanaku gagal."


"Yah rencana gila yang kau susun dengan mama itu gagal total."


"Kami hanya ingin kalian kembali seperti dulu karena kami tahu kalian masih saling mencintai."


"Tapi apa kau mempertimbangkan perasaanku?"


"Perasaan apa? yang aku tahu perasaan saling mencintai. Sudahlah Sha, aku tahu kamu terlalu gengsi mengakui bahwa kamu membutuhkan suamimu itu."


"Kau tidak tahu apa - apa. Malam itu aku merasa diperkosa oleh suamiku sendiri."


"Itu hanya luar hatimu yang berbicara, tapi tidak dengan dalam hatimu. Jika kamu benar -benar menolak reaksi obat itu kamu pasti pergi menghindari suamimu. Tapi kamu justru membiarkan itu mengalir apa adanya. Yang benar - benar tahu isi hatimu adalah dirimu sendiri, Sha." Sofi diam sejenak. "Aku minta maaf jika terlalu berani mencampuri urusan rumah tanggamu, Sha."


"Tidak apa - apa Sof, aku tahu maksud kamu baik."


"Berpikirlah dengan tenang, aku tidak akan memaksakan kehendak lagi dan mengorbankan persahabatan kita."


"Sof, aku tidak akan pernah bisa marah padamu. Karena aku tahu kamu melakukan ini demi aku."


Panggilan diakhiri. Kamisha kembali terdiam, ia membenarkan bahwa apa yang dikatakan oleh Sofi adalah benar.


"Mbak Misha, maaf mengganggu."

__ADS_1


"Kenapa mbok?"


"Sepertinya badan Enzio panas."


Kamisha segera masuk ke dalam kamar. Menggendong Enzio yang sedang rewel. "Benar mbok, badannya panas. Pantas saja hari ini ia malas untuk menyusu."


Kamisha memgambil termometer, tertera angka 38,5. Ia membuka baju Enzio untuk memeriksa tubuhnya. Ada beberapa ruam di tangan dan kakinya. Ia mencoba melihat mulut Enzio dan melihat warna kemerahan disana.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit, mbok."


"Kalau begitu saya bangunkan Axel dulu."


"Tidak perlu kasihan dia." Kamisha sebenarnya bingung, mbok Sri pasti akan menjaga Axel di rumah. Tapi jika ia tidak mengajak mbok Sri, siapa yang nanti menggendong Enzio ketika dia menyetir.


Tangan Kamisha bergetar, ya tuhan apa yang harus aku lakukan. Ia harus berpikir dengan cepat. Xander.. yah aku harus menghubungi Xander.


Dengan cepat ia menelepon Xander sambil menggendong Enzio, sedangkan mbok Sri menyiapkan keperluan Enzio yang akan di bawa ke rumah sakit.


"Halo, Xander."


"Ya."


"Zio sakit,bantu aku membawanya ke rumah sakit."


"Baik, tunggu aku. Jangan panik oke."


"Hmm."


Panggilan diakhiri. Tdak perlu membutuhkan waktu yang lama Xander datang bersama mama. Mereka berdua membawa Zio ke rumah sakit, sedangkan mama Attalia menjaga Axel.


Kamisha berjalan mondar mandir sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter, ia mendengar tangisan bayinya dan berusaha untuk masuk.


"Misha apa yang kamu lakukan?"


"Aku harus masuk, Zio membutuhkan aku."


"Baiklah kita masuk sama - sama oke."


Kamisha mengangguk. Mereka berdua masuk kedalam akan tetapi beberapa perawat menyuruhnya menunggu di luar.


"Maaf, bapak dan ibu kami mohon tidak mengganggu proses pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter."


"Ttapi anak sa__."


"Maaf ibu, tolong patuhi prosedur dari rumah sakit."


Kamisha hampir menangis.


"Sudahlah kita tunggu Zio disini, ia tidak akan apa - apa."


"Tapi aku khawatir Xander."


"Aku tahu.. mari kita berdoa disini untuk kesembuhan anak kita." Xander mengusap bahu Kamisha.


Kamisha dengan memeluk Xander sambil menangis ia membutuhkan dada dan pelukan hangat dari suaminya. Ia merasa bersalah kenapa bayinya bisa sakit. Dengan lembut Xander membelai rambut Kamisha dan memberinya pelukan yang hangat. Itu terjadi cukup lama hingga dokter datang untuk memberi keterangan tentang kondisi Zio.


"Bayi anda berdua terkena flu Singapore atau di kenal dengan KTM atau kaki tangan dan mulut. Saat ini kamu sudah memberikan obat, kita akan observasi lagi nanti apakah panas dan ruamnya sudah hilang.


"Terima kasih dokter, saya mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Pasti, pak. Anda berdua tidak perlu khawatir, penyakit ini juga sering menyerang anak kecil."


Setelah dipindah ke ruang rawat inap Kamisha dan Xander saling menjaga kondisi Enzio.


"Kamu tidak perlu khawatir, kata dokter Enzio akan baik - baik saja."


Kamisha mengangguk sambil membelai lembut putranya yang tertidur. "Badannya masih panas."


"Obatnya juga baru saja dimasukkan, semua itu proses." ucap Xander menenangkan. "Tidurlah, aku akan berjaga di sini."


"Aku tidak mengantuk."


"Berusahalah untuk tidur, malam ini biar aku yang jaga. Besok gantian denganmu."


"Aku ingin melihat perkembangannya Xander."


"Istirahatlah Misha. Percaya padaku, tidak akan terjadi apa - apa. Aku tidak mau kamu ikutan sakit." Xander mengusap lembut kepala Kamisha, yang membuatnya luluh hingga akhirnya mau tidur di Sofa.


Xander memperhatikan istrinya yang tak kunjung memejamkan mata. "Kenapa?"


"Aku tidak bisa tidur."


Xander menghampiri sambil tersenyum. Ia duduk di sebelah Kamisha. "Tidurlah." perintahnya sambil menepuk - nepuk bahunya.


Kamisha bersandar disana, entah karena nyaman atau lelah ia dengan cepat memejamkan mata. Xander tersenyum memandangj wajah istrinya yang tampak lelah, dan beberapa bercak merah dilehernya yang membuatnya ingat kembali pergulatan panas mereka kemarin malam. Xander mencium kening Kamisha. "Aku mencintaimu."


🌸🌸🌸🌸


Pagi ini Kamisha segera terbangun, ia melihat Xander yang sedang mengganti pampers Zio sambil mengajaknya bicara.


"Hei boy, anak kuat daddy. Cepat sembuh, oke."


"Bagaimana panasnya?"


"Sudah turun, tadi di cek perawat sudah 37,5."


"Oh syukurlah, mommy mengkhawatirkanmu sayang."


Karena mulut Enzio yang masih sedikit kemerahan sehingga Kamisha harus bersabar dalam memberikan Asi.


"Kau lapar sayang?" Kamisha menggendong Enzio dan segera mengeluarkan salah satu bukit kembarnya. Enzio dengan perlahan mulai mau meminumnya walaupun terkadang dilepas kemudian diminum lagi.


Xander mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau berpikir aneh - aneh, apalagi bercak merah itu juga ada di sana. Itu mengingatkannya kembali pada malam panas itu. Ia memutuskan untuk keluar ruangan mencari udara segar.


Setelah tidur kembali, Kamisha meletakkan Enzio di atas tempat tidur. Ia mengalihkan pandangan pada Xander yang baru saja masuk.


"Dari mana?"


"Membelikanmu sarapan."


"Kau sudah makan?"


"Sudah, tadi di cafe bawah."


"Baiklah aku akan makan, istirahatlah." Kamisha mulai menyuapkan nasi yang tadi dibeli oleh Xander.


Xander mengangguk sebelum ke sofa, ia melihat kondisi bayinya sebelum beranjak untuk istrahat. Semalam ia tidak tidur, ia sudah merasakan sakit yang hebat dikepalanya.


Dan bruukk!!.. Xander pingsan dilantai.


"Xander apa yang terjadi padamu!" teriak Kamisha.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2