Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Meet You


__ADS_3

"Axel bisa mommy bicara sebentar?"


"Bisa mommy." Axel meletakkan buku yang baru saja ia baca di atas meja.


"Hmm, besok mommy akan ke Bandung. Ada masalah dengan Kyara."


"Apakah kak Kyara akan di penjara?"


"Kamu tahu semuanya?"


"Aku tahu tapi aku memilih diam." jawab Axel sambil menunduk.


Kamisha terdiam sejenak, ia tampak berpikir dan mencoba mengerti maksud dari jawaban Axel tadi. Ia menghela napas panjang. Apakah ini saatnya ia berterus terang mengenai Kyara. Ia tahu putranya itu pemikirannya sangat dewasa.


"Axel sayang, dari mana kamu tahu semuanya?"


"Terkadang aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan kalian." jawab Axel. "Maafkan aku mommy."


"Tidak sayang kamu tidak salah. Justru mommy yang minta maaf padamu. Mommy tidak berterus terang tentang semuanya."


"It's okey mommy aku bisa mengerti."


"Tapi mommy tetap akan bicara. Apapun yang akan mommy katakan kau tetaplah anak mommy yang paling mommy sayang." Kamisha membelai rambut Axel dengan lembut.


Ia menaruh Axel di atas pangkuannya. "Sebenarnya kak Kyara adalah mommy kandung mu. Saat ia mengandung dan melahirkanmu usianya masih sangat muda dan labil. Hingga akhirnya mommy yang merawatmu. Mommy sangat beruntung memiliki dirimu Axel."


"Kenapa sekarang pun kak Kyara tetap tidak mau mengakuiku sebagai anak mommy. Apakah aku anak yang tidak baik?"


"Jangan berprasangka seperti itu sayang. Kau anak yang sangat baik. Hanya saja kondisi kak Kyara yang tidak memungkinkan untuk merawatmu."


"Kondisi apa itu mommy?"


"Hmm sebentar." Kamisha kemudian memanggil mbok Sri.


"Njih mbak."


"Mbok Sri tolong ambilkan berkas yang aku taruh dalam laci almariku."


"Baik mbak."


Tak lama kemudian mbok Sri datang dengan membawa sebuah berkas di tangannya. Ia menyerahkan berkas itu pada Kamisha.


"Lihat ini Axel. Ini adalah riwayat kesehatan kak Kyara. Ia mengalami ganggungan kejiwaan sehingga akan sangat membahayakan keselamatanmu jika ia mengasuhmu. Kejiwaannya memang masih sangat labil."


Axel melihat riwayat kesehatan dari Kyara. "Artinya kak Kyara gila."


"Yah bisa dibilang seperti itu. Tapi yakinlah ia akan sembuh nanti. Jadi mommy mohon jadilah anak yang kuat."


"Aku akan berusaha kuat mommy, karena aku memiliki mommy, daddy dan adik bayi."


"Terima kasih sayang. Kau tidak marah dengan mommy kan yang sudah menyembunyikan ini darimu?"


"Tidak mommy, aku tahu mommy melakukan itu demi keselamatanku, demi masa depanku."


"Terima kasih sayang." ucap Kamisha sambil memeluk Axel dengan hangat.


"Mommy bolehkah aku tahu satu hal?"


"Apa itu sayang?"


"Siapakah daddyku?"


"Om Harvey." jawab Kamisha.


"Oh pantas dia baik kepadaku."


"Awalnya om Harvey akan berterus terang dan merawatmu, tapi mommy tidak mengijinkan. Mommy terlalu sayang, mommy terlalu egois dan tidak ingin kamu meninggalkan mommy, sayang."


"Lantas aku harus memanggil om Harvey dengan sebutan apa?"


"Terserah, kau nyaman memanggilnya apa."


"Bagaimana kalau tetap om saja. Panggilan daddy hanya untuk daddy Xander."


"Baiklah sayang kalau itu keputusanmu." Kamisha mengecup kepala Axel.


"Axel, mommy akan menjenguk kak Kyara. Jadi kau di rumah dengan mbok Sri. Kau tidak keberatan kan sayang?"


"Tidak apa - apa mommy. Aku dirumah saja."


Kamisha merasa lega karena Axel telah mengetahui semua tentang asal usulnya. Ia tahu anaknya itu anak yang kuat dan dewasa.


🌸🌸🌸🌸


Tak terasa Kamisha sudah sampai di Bandung. Ia menuju ke apartemen milik mama Attalia. Ia masih belum sanggup untuk bertemu dengan Xander. Walaupun kerinduannya yang membuncah.


"Istirahatlah dulu." ucap mama Attalia.


"Tidak ma, aku akan bertemu dengan Kyara dan memberi keterangan pada polisi. Aku tidak bisa lama - lama meninggalkan Axel di Jogja."


"Kau tidak ingin melihat Xander?"

__ADS_1


Kamisha terdiam cukup lama, hingga ia menghela napas panjang. "Apa dia ingin melihatku?"


Mama Attalia ganti terdiam dengan pertanyaan Kamisha.


"Aku rasa tidak bukan?" ucap Kamisha.


"Misha, maafkan mama. Xander sudah tahu kalau kamu di jebak oleh Kyara. Tapi entah kenapa dia masih belum ingin bertemu denganmu."


"Aku mengerti ma. Aku berusaha tidak memikirkan itu demi anak dalam kandunganku."


"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang."


Mama Attalia dan Kamisha segera berangkat ke kantor polisi memberi pernyataan. Saat mereka tiba Kamisha melihat mobil milik suaminya ada di sana.


Ia sedikit ragu untuk turun. Tapi akhirnya ia membulatkan tekad. Kalau bertemu ya sudahlah di hadapi saja.


Mereka segera masuk bertemu dengan petugas disana. Kamisha tidak lupa memberikan riwayat kesehatan Kyara pada petugas. Kamisha di berondong demgan beberapa pertanyaan terkait dengan Kyara dan Kamisha memberi keterangan yang ia tahu.


Setelah hampir tiga jam dia di sana, akhirnya semuanya sudah selesai tinggal di proses oleh polisi di pengadilan nanti.


"Maaf pak, bisa saya bertemu dengan keponakan saya?"


"Apakah kondisi ibu memungkinkan?"


"Tidak apa - apa ada mama yang menjaga saya."


"Baiklah silahkan anda duduk di ruang tunggu, petugas kami akan mengantarkan anda."


"Terima kasih."


Kamisha dan mama duduk di kursi tunggu sesuai dengan intruksi petugas tadi. Beberapa kali ia mengusap perutnya.


"Kenapa Misha?"


"Tidak apa - apa ma, hanya saja ia sedikit aktif hari ini."


"Cucu oma, sehat - sehat ya." mama Attalia ikut mengusap perut Kamisha dengan lembut.


Sayang apakah itu karena kamu tahu daddymu ada disini ucap Kamisha dalam hati. Jika memang kamu benar - benar disini dan menghindariku itu artinya kamu pengecut.


Tak lama kemudian petugas datang dan mengantar mereka ke ruang isolasi.


"Maaf, saudari Kyara kami taruh di ruang isolasi karena selalu histeris dan berteriak - teriak. Ia juga sering menyakiti dirinya sendiri. Kami takut tindakannya akan membahayakan narapidana yang lain."


"Apa Kyara tidak bisa di taruh dirumah sakit jiwa saja pak?"


"Itu masih dalam proses, kami juga menunggu surat resmi dari seorang psikiater yang memeriksanya."


"Aku hanya ingin tahu kondisinya, ma. Setelah itu aku keluar."


"Baiklah, kamu hati - hati. Mama tidak ingin kamu dan calon cucu mama kenapa - napa."


"Iya aku janji."


"Ibu berdua tenang saja ada jeruji yang akan menghalangi tindakan saudari Kyara jika sewaktu - waktu bertindak histeris."


"Oh syukurlah." ucap mama Attalia dan Kamisha sedikit merasa lega.


Kamisha segera mengikuti petugas, untuk sementara mama Attalia diluar karena hanya satu yang diperbolehkan masuk. Kamisha mempertimbangkan kesehatan jantung mama sehingga memutuskan untuk masuk sendiri.


"Itu saudari Kyara, waktu anda hanya sepuluh menit. Saya akan menunggu anda di luar. Jangan khawatir ruangan ini dilengkapi dengan CCTV."


"Terima kasih."


Petugas itu segera meninggalkan Kamisha sendiri. Dengan perlahan Kamisha mendekat. Sesuai dengan intruksi ia berdiri tiga langkah dari jeruji besi dan di belakang garis yang ditentukan. Tujuannya bila sewaktu - waktu tahanan emosi tidak akan membahayakan pengunjung.


"Kyara." panggil Kamisha tapi tidak ada respon sama sekali. Kamisha hanya melihat seorang wanita meringkuk di pojokan. "Kyara." panggilnya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras.


Dengan perlahan wanita itu mendongakkan kepala. Ia berdiri dan kemudian mendekati jeruji.


Kamisha tampak terkejut dengan kondisi Kyara yang sangat tidak terurus. Rambutnya acak - acakan, pakaiannya lusuh, wajahnya pucat.


"Mbak Misha?" sapanya lirih.


"Iya, ini aku." jawab Kamisha. "Bagaimana keadaanmu Kyara?"


"Mbak tolong aku mbak." pintanya memelas. Ia menitikkan air mata dan menangis. "Mbak, aku tidak betah disini, aku tersiksa."


Kamisha sedikit iba melihat kondisi Kamisha. "Kamu tenangkan diri ya."


"Mbak, apa mbak tidak kasihan melihatku." kata Kyara lagi. "Mbak aku minta maaf... aku minta maaf." ia mulai menangis lagi.


"Sabar Kyara, kita tunggu hasil dari rumah sakit. Mbak ingin kamu sembuh."


"Mbak, aku disini sendirian, aku rindu ibu, aku rindu Axel, aku rindu mbak Misha." Kyara menjulurkan kedua tangannya seakan meminta Kamisha untuk memeluknya.


Kamisha mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memeluk keponakannya itu tapi ia urungkan niatnya karena emosi Kyara sewaktu - waktu berubah. Petugas tadi juga mengatakan apapun yang terjadi jangan sampai mendekat ke jeruji apalagi melakukan sentuhan atau kontak fisik dengan narapidana.


"Mbak tahu kamu kesepian, mbak mohon bersabarlah." ucap Kamisha menahan diri untuk tidak mendekat. Ia berusaha mengukuhkan kakinya agar tidak melangkah mendekat.


Kyara tiba - tiba mengeratkan cengkeramannya pada jeruji besi. Matanya tiba - tiba saja berubah menjadi menatap tajam dan liar ke arah Kamisha, penuh dengan amarah. Sepertinya ia marah karena gagal membuat Kamisha mendekat padanya.

__ADS_1


"Dasar wanita munafik!" teriaknya tiba - tiba."Katanya kau peduli! tapi mendekat saja kau tidak mau!" teriak Kyara.


"Aku___ aku__." ucap Kamisha terbata - bata.


"Kesini kau! aku ingin mencekikmu sehingga kau mati dan membusuk di neraka seperti ibu"


Kamisha terkejut seketika dengan perubahan Kyara, ia bersyukur karena memutuskan untuk tidak mendekat padanya.


"Apa yang kau katakan Kyara? tenanglah."


"Aku tidak bisa tenang sebelum melihatmu tak bernyawa."


"Kenapa?"


"Kau satu - satunya orang yang menghalangi kebahagiaanku!" teriaknya.


"Yang membuatmu tidak bahagia adalah dirimu sendiri."


"Hahahahhh..!!!" Kyara tertawa terbahak - bahak. Suaranya membahana di seluruh ruangan. "Kau akan membusuk dengan anak dalam kandunganmu itu Kamisha! Hahahahhah!!!" Kyara tertawa sambil mengguncang - guncangkan jeruji besi. "Keluarkan aku! aku akan membunuhmu!"


Kamisha tergidik ngeri mendengar ancamannya. Ia sangat ketakutan dengan sikap Kyara saat ini. Keluar dari ruangan itu adalah keputusan yang tepat. Tapi tubuhnya serasa kaku untuk bergerak.


Kamisha berjalan mundur secara perlahan, ia merasakan mual dan pusing mendengar suara - suara Kyara yang terus berteriak histeris dan menjerit - jerit dengan memanggil namanya terus menerus.


Beruntung petugas mendengar kegaduhan itu dan menuntunnya untuk keluar.


"Anda tidak apa - apa?"


"Maaf saya mau muntah, bisa antar saya ke toilet."


Dari arah pintu mama Attalia tergopoh - gopoh menghampirinya. "Misha, kamu baik - baik saja. Wajahmu pucat."


"Aku mual ma, mau muntah."


"Ayo." mama beserta petugas tadi segera mengantar Kamisha ke toilet.


"Kita ke rumah sakit ya."


Kamisha mengangguk menyetujui saran mama. Ia tidak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya.


Setelah sampai dirumah sakit Kamisha segera mendapat penanganan dari dokter. Ia terpaksa harus menginap malam ini. Dokter sudah memberinya obat penenang.


Mama Attalia menyuruh salah satu pelayannya untuk menemani Kamisha. Sebenarnya Kamisha sudah meminta bantuan Sofi untuk menjaganya selama di rumah sakit tapi saat ini ia sedang dinas keluar kota.


"Aku akan pulang kerumah sebentar mengambil beberapa pakaian. Kau jaga menantuku dengan baik. Kalau ada apa - apa segera hubungi aku."


"Baik nyonya."


Mama Attalia segera meninggalkan ruangan Kamisha begitu tahu ia sudah tertidur karena pengaruh obat penenang.


Tak berapa lama datanglah seseorang yang sangat di kenal oleh pelayan itu hingga membuatnya terkejut.


"Ttuan muda."


"Diam jangan buat keributan, aku ingin melihat istriku."


"Bbaik tuan."


"Jangan ceritakan ke siapapun tentang kedatanganku."


"Baik tuan."


Dengan bantuan Alex, Xander segera masuk menemui istrinya yang tertidur sangat pulas.


"Tinggalkan aku sendiri Alex." perintahnya


"Baik pak, saya permisi."


Alex keluar dari ruangan. Xander dengan bantuan kursi rodanya mendekat ke tempat tidur Kamisha.


"Hai sayang." ucapnya bergetar, tangannya membelai lembut pipi Kamisha. "Aku sangat merindukanmu."


Xander menggenggam tangan Kamisha dengan erat, diciuminya tangan itu berulang kali. Air matanya menitik membasahi pipi.


"Maafkan aku, aku terlalu pengecut untuk bertemu denganmu. Aku merasa sangat bersalah telah meragukan kesetianmu." Xander mengusap air matanya.


"Terus terang aku malu dengan kondisiku yang cacat, sebagai seorang suami aku telah gagal melindungi keluarga ini. Maafkan aku sayang." Xander berusaha sekuat tenaga untuk mencium Kamisha. Tapi ia gagal karena terhalang oleh tiang infus dan alat medis lainnya. Apalagi kondisinya yang lumpuh membuatnya kesulitan untuk mendekat ke arah Kamisha.


Xander mengurungkan niatnya walaupun keinginan itu sangat menggebu. Ia beralih mengelus perut Kamisha yang membuncit.


"Hey boy, jangan menyusahkan mommy mu oke." Xander mencium perut Kamisha dan merasakan pergerakan baby nya yang sangat aktif. "Kau tahu kalau aku akan datang?" bisiknya di perut Kamisha. Xander merasakan baby boy bergerak seakan menjawab pertanyaan - pertanyaan dari daddy nya.


Xander tersenyum bahagia. Ia meletakkan telinganya di atas perut Kamisha, seolah - olah mereka mengobrol.


Tiba - tiba Alex masuk.


"Maaf pak, nyonya Attalia sedang dalam perjalanan menuju kesini."


"Oke sebentar lagi." jawab Xander. Ia mencium perut Kamisha seakan mencium putranya. "Jangan nakal boy, jaga mommy mu baik - baik. Kita akan bertemu lagi."


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2