
Xander tersenyum memandangi wajah polos istrinya. Kamisha tampak tertidur pulas dengan napasnya teratur naik turun. Dengan lembut Xander membelai lengan istrinya.
"Aku mencintaimu, Misha." Xander mengecup pundak Kamisha. Tubuhnya sudah penuh dengan jejak merah milik Xander. Xander puas melihat hasil karyanya.
"Hmmm."Kamisha bergumam. Pelan - pelan ia membuka matanya, mengerjap - erjap sebentar dan melihat ke sampingnya. "Kenapa kau memandangiku? wajahku jelek." Kamisha menutupi dengan kedua tangannya.
"Siapa bilang kamu jelek?"
"Aku belum mandi, aku juga baru bangun tidur."
"Aku tetap mencintaimu." Xander berusaha membuka tangan yang menutupi wajah istrinya itu. Dengan sikap malu - malu seperti itu membuat Xander semakin ingin memakannya. "Ayolah Misha aku ingin menciummu."
"Nggak, aku belum gosok gigi."
"Ayolah sayang, aku tidak peduli."
"Ijinkan aku ke kamar mandi dulu. Aku janji kau boleh menciumku sepuasnya."
"Janji?"
Kamisha mengangguk - angguk. Xander akhirnya melepas istrinya.
"Pakaianku mana?" Kamisha mengedarkan seluruh pandangannya tapi ia tak menemukan satu pun baju mereka.
"Mana aku tahu?"
"Ayolah Xander, dari kemarin aku hanya memakai selimut."
"Salah siapa kau selalu menggodaku."
"Aku tidak menggodamu."
"Tidak usah pakai baju. Ayo sana ke kamar mandi."
"Xander..!" teriak Kamisha gemas.
"Waktumu cuma lima menit sayang."
Kamisha bergegas bangkit dari tidur. Bodo amat ia tanpa sehelai benang pun, toh Xander sudah menjelajahi setiap inchi tubuhnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
"Waktumu tinggal empat menit lagi sayang."
"Iya.. iya." Kamisha mempercepat gerakannya walapun ia sudah tidak memiliki daya untuk bergerak. Bagaimana tidak Xander tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat.
"Plaakk..!" Xander menepuk bokong Kamisha. "Seksi sayang." ucapnya tersenyum nakal.
"Xander!" Kamisha melotot ke arah suaminya itu.
"Hei, waktumu tinggal tiga menit lagi."
Kamisha akhirnya bergegas masuk ke kamar mandi. Ia merasa lega karena bisa menyentuh kesegaran air. Tubuhnya terasa lengket karena penuh dengan keringat suaminya setiap kali mereka bercinta.
"Sayang." panggil Xander di depan pintu kamar mandi.
"Iya.. iya sebentar lagi Xander."
"Ayolah kau sudah melebihi waktu yang kuberikan."
Setelah selesai gosok gigi dan membasuh mukanya Kamisha segera membuka pintu. Tanpa aba - aba Xander langsung membawanya kembali ke tempat tidur.
"Aacchh..! Xander, kita istirahat dulu ya. Please.. aachh." mohon Kamisha pada Xander yang tangannya mulai memainkan pucuk bukit kembar miliknya.
"Kau tidak menginginkanku?" bisik Xander di telinga Kamisha yang membuatnya tergidik.
"Tentu saja aku menginginkanmu, tapi kita istirahat sebentar saja, oke?"
Xander tidak menjawab. Tangannya bergerilya di mana - mana. "Aku tidak bisa berhenti, Misha."
"Sayang." tangan Kamisha membelai lembut wajah Xander. Ia mengecup bibirnya singkat. "Aku juga sangat menginginkanmu Xander. Tapi bisakah kita istirahat sebentar."
"Baiklah." ucap Xander. Ia berbaring di sebelah Kamisha. Tangannya ia jadikan alas kepala, sambil memandang ke langit - langit kamar hotel.
Kamisha tahu suaminya itu sedikit kecewa. Dengan berlahan ia memeluk dan menaruh kepalanya di dada Xander. Tangannya membelai lembut dada Xander yang padat dan ditumbuhi bulu - bulu halus. "Kita sudah dua hari di sini, terus terang aku merindukan mama dan Axel. Kau tidak merindukan mereka?"
"Aku rindu, tapi aku tidak mau berpisah denganmu Misha. Sedetikpun."
"Aku juga tidak mau berpisah denganmu Xander. Kau tahu kan aku sangat mencintaimu." Kamisha mengecup lembut dada Xander. "Tapi apa kita akan seperti ini terus? kamu ada tanggung jawab terhadap hotel, aku juga sama ada mama dan Axel yang harus aku urus."
Xander terdiam mendengarkan penjelasan istrinya. Dalam hati ia membenarkan tidak mungkin mereka akan bercinta terus menerus. Tapi mau bagaimana lagi, keinginannya bercinta dengan Kamisha sudah lama ia pendam. "Ya kamu benar."
"Xander." panggil Kamisha manja. "Sejak kapan kau mencintaiku?" tangannya memainkan bulu dada Xander dengan lembut.
Xander menoleh ke arah Kamisha ia menatap tajam jauh ke dalam mata istrinya. "Kalau kamu?"
"Ah curang."
__ADS_1
"Ayolah jawab pertanyaanku dulu."
"Oke, pastinya aku tidak tahu. Tapi pertama kali hatiku berdebar - debar melihatmu saat pertama kali kita ciuman di tempat parkir. Itu ciuman pertamaku." jawab Kamisha malu.
"Benarkah? bagaimana dengan kekasihmu yang dulu."
"Tidak pernah, kami hanya perpegangan tangan, makan, jalan - jalan itu saja."
"Hmm kalau itu aku percaya." Kamisha mengerutkan alisnya sambil memandang Xander. Dengan lembut Xander mencubit hidungnya. "Sikapmu yang malu - malu saat kita bercinta dan juga karena kamu masih perawan." goda Xander.
"Xander." Kamisha menutupi wajah dengan kedua tangannya karena malu.
"Terima kasih sayang, suatu kehormatan bagiku mendapatkan sesuatu yang paling berharga yang sudah kamu jaga selama ini untukku."
"Karena semua sudah aku berikan padamu, janji untuk tidak meninggalkanku." pinta Kamisha.
"Ssstt... ngomong apa sih. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Sekarang giliranmu, sejak kapan kau mencintaiku?" desak Kamisha.
"Hmm.. kapan ya? aku lupa."
"Xander! jangan menggodaku terus." ucap Kamisha sambil memukul pelan dada suaminya.
"Maaf sayang, aku suka melihatmu kalau sedang cemberut." Xander mencium pucuk kepala istrinya. "Entah kau percaya atau tidak. Aku tertarik padamu sejak lima tahun yang lalu."
"Bohong."
"Aku berani bersumpah, Misha. Aku sudah suka denganmu saat kau sedang bertengkar dan dianiaya oleh pacar brengsekmu itu. Awalnya aku tidak tahu, tapi ketika kau mengucapkan terima kasih karena pertolongan kami aku mengagumimu sebagai sosok perempuan yang cantik dan tegar."
"Kenapa kau tidak mencari tahu tentangku?"
"Sudah tapi hasilnya nihil. Apalagi saat itu papa ku baru saja meninggal. Aku harus mengurus beberapa perusahaan dan menemani mama. Rasa penasaran itu akhirnya aku kesampingkan hingga akhirnya kita bertemu lagi pada saat anniversary hotel."
"Jadi saat itu kau mengenalku?"
"Aku ingat kamu, tapi tidak tahu namamu. Dan soal aku menciummu dengan paksa itu aku juga sengaja." Xander tersenyum mengingat kejadian itu.
"Oh.. jadi kamu sengaja." Kamisha pura - pura marah.
"Tapi kamu suka kan?"
"Dasar mesum!" Kamisha mencubit lengan suaminya yang kekar. "Yah saat itu juga masa - masa sulitku. Aku harus merawat Axel sendiri. Di dalam otakku hanya bekerja dan Axel, hampir aku tidak pernah bersenang - senang. Beruntung aku punya sahabat Sofi, ia selalu ada di sampingku." mata Kamisha berkaca - kaca mengingat masa - masa sulitnya membesarkan Axel sendiri. "Hmm kita pulang yuk. Aku kangen Axel."
"Boleh. Tapi ada syaratnya."
"Bercinta sekali lagi denganku." ucap Xander sambil tiba - tiba menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Aaaa..! Xander!" teriak Kamisha. Xander membopong tubuh Kamisha. "Mau kemana?"
"Ke kamar mandi sayang, kita bercinta disana."
Xander membawa tubuh Kamisha ke dalam kamar mandi dan meletakkannya di atas meja wastafel. Dengan lembut Xander menciumnya. Tangannya memegang perut Kamisha membelainya sehingga memberi rasa geli tapi menyenangkan. "Kau capek?" tanya Xander setengah berbisik. Kamisha menggeleng - geleng sambil tersenyum.
Xander kembali menciumi tubuh Kamisha. Ia begitu mendamba tubuh istrinya. Mereka melakukan pergulatan yang cukup panjang tapi anehnya Kamisha tidak pernah bosan dengan apa yang dilakukan suaminya. Walau tubuhnya lelah tapi selalu kembali bersemangat ketika Xander bercinta dengannya. Lenguhan demi lenguhan terdengar menggema di dalam kamar mandi sebagai bukti betapa hebatnya penyatuan mereka.
🌸🌸🌸🌸
"Ra, dua hari ini aku tidak melihat pak bos."
"Maksudmu Xander?"
"Ya dia siapa lagi."
"Sibuk kali." jawab Kyara sambil menatap layar komputer di depannya.
"Kau tidak ada rencana baru untuk merebutnya kembali dari bulikmu itu?"
"Belum." jawab Kyara singkat.
Merasa tidak di respon dengan baik Tina agak marah. "Sedang apa sih?" Tina penasaran dengan apa yang dilakukan Kyara. Ia ikut bergabung bersama dengan Kyara.
"Sssttt.. diam jangan keras - keras." Kyara memperingatkan.
Tina melihat sebuah laporan yang seperti laporan keuangan di laptop Kyara. "Gila! kau korupsi."
"Sssttt! diam. Kalau sampai ketahuan kau juga akan ikut terseret."
"Nggak.. nggak.. ini sudah keterlaluan. Kau terlalu berani, Ra."
"Kalau kita tidak melakukan ini sampai tua kita tidak akan kaya."
"Tapi__ tapi__ kau kan akan menikah dengan pak Xander. Apa yang kau khawatirkan?"
"Aku hanya berjaga - jaga seandainya Xander tidak jadi milikku."
__ADS_1
"Seharusnya kau fokus."
"Kau kira gampang membuat orang jatuh cinta. Tidak hanya modal cantik tapi juga ini." ucap Kyara sambil menunjuk kepalanya.
Tiba - tiba terjadi keributan di luar. Ada seseorang yang berusaha ingin masuk ke dalam kantor. Buru - buru Kyara menutup laptopnya.
Tina dan Kyara keluar untuk melihat siapa yang berteriak - teriak membuat keributan. Beberapa security sudah menghalau agar dia tidak masuk.
"Heny?" Tina terkejut.
"Berani keluar juga kalian!"
"Kenapa kau membuat keributan disini?"
"Om Dimas meninggal, Ra. Kau dengar itu! om Dimas sudah meninggal!"
Kyara terdiam mendengar berita kalau om Dimas meninggal.
"Hei! itu sudah takdir tuhan." jawab Tina.
"Kau tidak merasa bersalah, Ra?"
"Untuk apa aku merasa bersalah?"
"Ya tuhan. Siapa kau sebenarnya? inikah sahabat yang dulu ku kenal? kau sungguh menakutkan, Ra." Heny tak habis pikir Kyara bisa berubah seperti itu.
"Aku masih orang yang sama, kau sendiri yang sudah berubah, Heny."
Tina ketakutan kalau Heny akan mengucapkan hal yang tidak - tidak membuat orang semakin curiga dengan mereka "Pak Satpam! bawa perempuan ini keluar!"
"Baik bu."
Dua orang satpam segera memegang tangan Heny dan menyeretnya keluar.
"Lepaskan! lepaskan!" Heny meronta - ronta sambil berteriak. "Kau akan menanggung dosa ini Kyara. Hidupmu tidak akan tenang!"
Kyara mengepalkan tangannya. Heny tidak bisa aku pandang remeh. Dia terlalu mencampuri hidupku. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk menutup mulutnya pikir Kyara.
"Ra." panggil Tina.
Seakan membuyarkan lamunannya. "Ya."
"Kau tidak berpikiran menyingkirkan Heny, kan?" tanya Tina seolah - olah tahu apa yang ada dalam pikiran Kyara.
"Tidak, kau jangan khawatir." jawab Kyara sambil tersenyum. "Heny bukan orang yang berbahaya, biarkan saja nanti dia jenuh sendiri." Kyara masuk kembali ke dalam ruangannya. Ada sedikit rona ketakutan pada wajah Tina. Ia merasa ada sesuatu dengan Kyara.
🌸🌸🌸🌸
Setelah melalui pergulatan yang panjang dan lama akhirnya Kamisha bisa mandi sepuasnya. Hari ini mereka akan pulang ke rumah. Xander sudah berjanji, mereka akan melakukan aktivitas seperti biasa.
"Kau sudah selesai."
"Sudah."
"Hmmm.. tubuhmu wangi. Pakai sabun apa?" Xander memeluk Kamisha dari belakang. Bibirnya mulai tidak bisa dikondisikan. Ia menggigit kecil leher istrinya.
"Xander kau sudah janji padaku hari ini kita akan pulang."
"Iya.. iya.." Xander melepaskan pelukannya. Ia mendengus kesal. Kamisha tahu Xander kesal dengannya segera ia mendekatinya. "Di rumah lebih asyik kita bisa mengeksplor segala tempat, di dapur, di ruang TV, di taman samping atau diruang kerjamu, mau in door atau out door, bagaimana?" bisik Kamisha menggoda.
"Baiklah ayo kita pulang." Xander mengembangkan senyumnya. Kamisha lega ia berhasil membujuk suaminya pulang. Terus terang ia membutuhkan waktu sejenak untuk beristirahat. Tenaga Xander yang luar biasa membuat Kamisha kewalahan. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya. Terkadang ia masih malu - malu jika tubuhnya tanpa sehelai benang pun di hadapan Xander. Ukuran Xander memang berbeda karena ia bukan orang Indonesia asli terkadang membuat Kamisha ngeri.
Mereka berdua menuju mobil. Tersungging senyum di wajah Xander selama perjalanan. Kamisha sedikit bernapas lega. Ia bersandar pada kursi dengan nyaman, terkadang bersenandung mengikuti lagu yang ada di mobil.
"Xander." panggilnya.
"Hmmm.." hanya itu yang keluar dari mulut Xander, ia sedang konsentrasi menyetir.
"Terima kasih sudah mencintaiku selama itu." Kamisha menggenggam tangan kiri Xander, dan mencium pipi suaminya itu.
Xander hanya mengangguk - angguk dan tiba - tiba ia menepikan mobilnya di sebuah tanah kosong yang sepi.
"Ada apa? ada yang ketinggalan?" tanya Kamisha keheranan.
Xander hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh arti. Ia mulai mencium tangan Kamisha. Sepertinya Kamisha tahu arti tatapan itu. Ah menyesal aku, kenapa mengatakan cinta dan mencium pipinya batin Kamisha.
"Aku hanya meminta hadiah atas kerja kerasku mencintaimu selama ini." tuntut Xander.
"Disini?"
"Ya disini. Bukankah kau ingin mengeksplor semua tempat. Bagaimana kalau kita mulai di mobil." usul Xander tersenyum nakal.
Ya.. ya.. terserah padamu tuan Xander. Mau melakukan apapun pada tubuhku terserah padamu. Kamisha pasrah dan menyerah.
Xander sudah mulai melucuti pakaian istrinya sambil terus memberondonginya dengan ciuman - ciuman panas. Kamisha mulai mengikuti permainan suaminya. Perjalanan pulang ke rumah menjadi perjalanan yang terpanjang yang pernah ada.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸