
Sudah satu minggu ini Kamisha tinggal di apartemen milik mama Attalia. Ia tidak bekerja lagi di hotel karena sebelumnya mengajukan cuti untuk merawat Xander. Rencananya hari ini ia akan mengambil barang - barangnya yang masih tertinggal di kantor. Beruntung letak apartemen dekat dengan sekolah Axel. Jadi ia tidak terlalu sibuk.
"Kau sudah siap sayang?"
"Sebentar lagi mommy." teriak Axel dari dalam kamar.
"Ayo cepat sedikit, kau juga belum sarapan."
Axel keluar dari kamar dengan mengenakan seragam.
"Aku kangen dengan daddy." ucap Axel dengan wajah sedih. "Kenapa kita tidak tinggal disana?"
"Daddy mu sedang menjalani pengobatan sayang, ia tidak ingin merepotkan kita."
"Berapa lama?"
"Mommy tidak tahu, kalau sudah sembuh ia pasti akan menjemput kita." mata Kamisha berkaca - kaca, ia segera berpaling agar putranya itu tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.
Ting.. tong.. ting.. tong..
"Sepertinya ada tamu, kau teruskan sarapan dulu mommy akan buka pintu."
Kamisha berjalan ke arah pintu depan, tapi baru beberapa langkah ia berhenti karena kepalanya pusing. "Axel, mommy pusing bisakah kau buka pintunya?"
"Baik, mommy."
Kamisha duduk di sofa agar tidak terjatuh.
"Oma." teriak Axel.
"Kau mau sekolah?"
"Iya oma."
"Mana mommy mu?"
"Ada di dalam." jawab Axel. "Adik bayi nakal, ia membuat mommy pusing dan muntah."
"Adik bayi?"
"Iya adik bayi dalam perut mommy."
Mama Attalia terkejut mendengarnya. "Ayo kita temui mommy mu."
Mereka berdua masuk ke dalam menemui Kamisha yang masih memijit - mijit kepalanya. Di sebelahnya ada sebuah baju milik Xander. Ia tidak akan muntah dan pusing bila sudah mencium aroma tubuh Xander. Maka dari itu ia membawa satu baju Xander bersamanya.
"Misha."
"Mama." Kamisha berusaha beranjak dari duduknya pelan - pelan.
"Sudah kamu duduk saja." perintah mama Attalia. "Axel kau berangkat ke sekolah di antar sopir oma, mommy mu harus istirahat."
"Baiklah, aku berangkat dulu." Setelah berpamitan Axel berangkat ke sekolah dengan sopir.
"Mama mau minum apa? aku buatkan."
"Kamu duduk saja, banyak hal yang ingin mama sampaikan."
Kamisha terdiam. Ia menarik baju Xander dan menyembunyikannya di bawah sofa bantal. Tapi terlambat, sepertinya mama Attalia menyadarinya.
"Kamu hamil? kenapa tidak cerita ke mama? kamu masih menganggap aku sebagai mama mu kan. Ya tuhan Misha anak dalam kandunganmu itu anak Xander, cucuku."
"Maaf ma, awalnya aku ingin memberitahu kalian. Tapi terburu ada kejadian kemarin itu. Xander marah - marah dan mengusirku."
"Sudah berapa bulan?"
"Hampir empat bulan."
"Empat bulan? selama itu kau menyembunyikannya dari kami?"
"Tidak, aku juga baru tahu kemarin itu. Awalnya aku dan Xander akan periksa ke dokter karena aku sering pingsan dan pusing. Tragedi kecelakaan itu menunda aku periksa ke dokter. Ditambah lagi aku konsentrasi terhadap kesembuhan Xander."
Mama memeluk Kamisha dengan erat. "Maafkan mama, maafkan Xander."
"Tidak apa - apa, ma. Aku tahu Xander saat ini sedang labil."
"Sha, ada beberapa hal juga yang harus mama beritahukan padamu."
"Apa itu ma?"
"Orang yang telah mengirim fotomu dengan Agung adalah Kyara."
"Apa! Kyara?!"
"Yah, Kyara keponakanmu itu. Kemarin aku telah mengusir dan memecatnya. Kamu tidak memberitahu dia kan kalau kalian tinggal disini?"
"Tidak, sejak Xander mengusirku dia tidak pernah menghubungiku."
"Baguslah kalau begitu." ucap mama Attalia lega. "Maaf mama harus mengambil tindakan ini karena Kyara adalah serigala berbulu domba, dia tega menghancurkan rumah tanggamu."
"Aku juga tidak menyangka dia akan tega seperti itu padaku. Ternyata selama ini ia hanya pura - pura sudah baik denganku." Kamisha masih tidak percaya. "Hmm bagaimana dengan Xander ma? apa mama sudah memberitahunya?"
"Sejak kepergianmu Xander mengurung diri dikamar dia tidak mau keluar. Begitu mama menyebut namamu dia langsung marah dan akan melempar semua barang."
"Sebegitukah bencinya ia padaku."
"Dia tidak membencimu, Misha. Kalau dia tahu kebenarannya dia pasti akan memintamu kembali."
Drrtt.. drrtt.. drrtt.. handphone mama berdering.
"Sebentar mama terima telepon dulu."
"Halo."
"Maaf nyonya, tuan muda tadi mengamuk dan sekarang terjatuh dari kursi roda."
"Baik aku akan pulang." jawab mama Attalia. "Maaf Misha mama harus segera pulang, Xander histeris lagi."
"Hati - hati, ma."
"Kalau ada apa - apa kamu telepon mama. Istirahatlah di sini dulu, biar setiap harinya Axel diantar oleh sopir."
Kamisha menjawab dengan anggukan. Dan melihat mama Attalia pergi.
Aku harus menghubungi Kyara. Aku benar - benar tidak menyangka. Maafkan aku mbak Ayu, aku harus mengabaikan pesan darimu karena Kyara sudah bertindak terlalu jauh. Aku harus menghentikannya.
Kamisha mengirimkan pesan pada seseorang. Setelah mendapat balasan ia segera berganti baju dan pergi.
Ia menuju ke sebuah kafe dan menunggu seseorang sambil bermain handphone.
__ADS_1
"Mbak Misha."
Kamisha menoleh. "Duduk." perintah Kamisha sambil meletakkan handphonenya diatas meja.
Kyara duduk berhadapan dengan Kamisha. "Bagaimana kabar mbak Misha? bagaimana rasanya hidup tanpa seorang suami dan dalam kondisi hamil?"
Kamisha mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya. "Kau lihat sendiri kan, aku baik - baik saja. Sehat dan masih menikmati hidup." jawab Kamisha sambil tersenyum. "Tidak seperti seseorang yang hamil diluar nikah dan depresi."
"Apa maksud mbak berkata seperti itu!"
"Itu kenyataan bukan?"
"Apa mau mbak sekarang?"
"Aku mau kau minta maaf padaku dan mengakui perbuatanmu."
"Perbuatan apa?"
"Kau sudah merusak rumah tanggaku, Ra. Tega kamu ya."
"Tega? mbak yang tega padaku. Mengambil calon suamiku! mengambil kebahagiaanku."
"Aku tidak mengambil Xander darimu, saat itu kalian sama sekali tidak ada hubungan. Dia tidak mencintaimu, Ra."
"Tapi kau mengambil perhatiannya dariku. Itu adalah kelakuanmu sejak lama!"
"Apa maksudmu?"
"Waktu kita masih di Jogja semua perhatian tercurah untukmu, mereka menganggapmu sebagai anak yang pintar,cantik dan penurut. Bahkan disekolah teman dan guru sering membandingkanku denganmu!" wajah Kyara memerah, ia sangat menaruh dendam pada Kamisha.
"Bukankah kau menjadi cucu kesayangan mereka? mbak Ayu juga mencurahkan perhatiannya padamu?"
"Heh, itu yang kamu tahu. Sejak kepergianmu setiap hari yang ada hanya membicarakanmu. Ingin rasanya aku membunuhmu. mencabik dan memotong - motong tubuhmu."
"Ya tuhan Kyara. Kau sadar apa yang telah kau ucapkan! mbak Ayu pasti akan sedih melihat kau seperti ini." Kamisha tergidik ngeri mendengar perkataan yang keluar begitu saja dari mulut Kyara.
"Persetan dengan itu semua! aku sudah muak hidup dalam kepura - puraan. Menjadi Kyara yang baik!"
"Jadi memang benar kau yang telah mengambil foto itu dan mengirimnya ke Xander?"
"Benar.. hahahahhah dan bodohnya dia percaya. Tuhan telah berpihak padaku, disaat perasaannya labil disitulah aku memainkan peran.. hahahahhh..!!" Kyara tertawa dengan lepas.
"Kau gila Kyara.. kau benar - benar gila."
"Yah aku memang gila dan penyebabnya adalah kau!"
Kamisha terdiam, ia harus pergi dari tempat ini. Melihat Kyara yang emosinya tampak labil membuatnya takut akan keselamatan kandungannya. Apalagi kehamilannya telah diketahui oleh Kyara.
"Sepertinya pembicaraan ini tidak bisa di teruskan lebih baik aku pergi. Toh kamu juga tidak berkeinginan minta maaf bukan?" Kamisha beranjak dari tempat duduknya, mengambil tas dan handphone yang dia letakkan diatas meja.
"Tunggu!" cegahnya.
Kamisha menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah Kyara. Kyara tampak menghampirinya. Dengan cepat ia merampas handphone dari tangan Kamisha.
"Hei! kembalikan handphone ku."
"Kembalikan? Hahahahh..!" Kyara tertawa terbahak - bahak. "Tidak semudah itu bulikku sayang." ia tersenyum smirk. Kyara segera membanting dan menginjak - injak handphone milik Kamisha hingga hancur.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Jangan harap kau dengan mudah menjebakku! sekarang rekaman itu telah hancur. Ups.. maaf." ucap Kyara sambil pergi meninggalkan Kamisha yang terdiam dengan wajah pucat.
Kamisha segera memungut handphonenya yang telah hancur, terpaksa ia harus berganti handphone lagi. Ia segera pergi.
Sementara itu...
Sofi yang tampak berada di depan sekolah Axel berjalan mondar - mandir tidak tenang. Ia berulang kali menelepon seseorang tapi tidak berhasil.
"Onty Sofi, aku pusing."
"Hah, pusing. Kamu sakit?"
"Aku tidak sakit, tapi aku pusing karena melihat onty mondar mandir di depanku."
"Maaf Axel, ini karena mommy mu tidak mengangkat telepon dariku. Kau tahu kan kalau onty cemas."
"Heh, aku mengerti." Axel menghela napas.
Sebuah taxi berhenti di depan mereka. Turunlah Kamisha dari taxi dan menghampiri mereka.
"Dari mana saja kamu? aku telepon kenapa tidak diangkat? aku cemas tau." Sofi memberondong sahabatnya itu dengan berbagai macam pertanyaan.
"Handphoneku rusak."
"Kok bisa?"
"Kyara membantingnya."
"Gila itu anak ya! kamu harus berhati - hati dengannya." Sofi memperingatkan. "Oya, tadi bulik Yanti telepon ke handphonemu tapi tidak bisa."
"Ada apa?"
"Katanya bapakmu masuk rumah sakit."
"Ya tuhan, cobaan apalagi ini." mata Kamisha berkaca - kaca. "Antar aku pulang Sof."
"Baiklah ayo."
Kamisha bergegas untuk pulang ke Jogja. Tak lupa ia berpamitan dengan mama Attalia. Karena ia akan berada di Jogja sampai bapak sembuh. Ia mengesampingkan masalahnya sendiri karena bapak tidak ada yang merawat. Untuk sementara usaha toko kuenya ia serahkan sepenuhnya pada Suci yang sudah bisa membuat kue sendiri.
🌸🌸🌸🌸
Sudah hampir satu bulan ini Alex terus menyelidiki Kyara, mengumpul berbagai data dan informasi. Semakin diselidiki ternyata Kyara tidak sesederhana yang di kira. Ada suatu yang aneh dengan dirinya.
"Pak Alex ada orang yang ingin bertemu dengan pak Xander."
"Siapa?"
"Seorang wanita dari Jakarta kira - kira berumur lima puluh tahun, namanya Sukma."
"Baiklah suruh dia menemuiku, antar ke ruang rapat."
"Baik pak."
Siapa Sukma, kenapa dia ingin menemui pak Xander pikir Alex dalam hati. Ia bergegas menuju keruang rapat.
"Bu Sukma." sapa Alex
"Oh pak Xander."
__ADS_1
"Bukan, saya bukan pak Xander. Nama saya Alex, kebetulan saat ini pak Xander sedang sakit dan belum bisa untuk di temui."
"Oh, padahal saya ingin sekali bertemu beliau, ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Kebetulan saya asisten pribadi beliau. Anda bisa menyampaikannya dengan saya."
"Perkenalkan saya istri dari pak Dimas. Terus terang sudah lama saya ingin bertemu dengan pak Xander. Tapi karena kondisi saya yang sakit - sakitan dan minim informasi jadi baru sekarang saya berkesempatan datang ke Bandung." Sukma menghela napas. "Saya akan mulai bercerita."
"Silahkan bu." ucap Alex.
"Suami saya adalah orang yang membiayai hidup Kyara dan Heny waktu di mereka hidup di Jakarta. Suami saya sangat menyukai Kyara karena anaknya memang cantik. Hingga akhirnya Kyara meninggalkannya untuk bekerja di Bandung. Hubungan baik suami saya berlanjut ke Heny, mereka memiliki bisnis bersama. Hubungan Heny dengan saya juga terjalin sangat baik. Sampai dengan suami saya meninggal. Dia yang mencari informasi karena ia merasa ada kejanggalan dengan kecelakaan yang menimpa suami saya. Ia menduga ini pembunuhan."
"Korban pembunuhan? pak Dimas meninggal karena kecelakaan."
"Itu memang betul. Tapi itu kecelakaan yang memang terencana." mata Sukma tampak berkaca - kaca ketika mengenang suaminya.
Alex memberikan tisu untuk Sukma.
"Akhirnya dengan kegigihannya, Heny berhasil mengetahui siapa pembunuh dari suami saya."
"Siapa bu?"
"Norman."
"Norman? mantan karyawan hotel ini?"
"Ya benar." Sukma mengambil sebuah kotak dan meletakkannya di atas meja. "Ini ada rekaman pengakuan dari Norman dan beberapa chat jika memang Norman pembunuh suami saya. Tapi dia hanya orang suruhan saja."
"Maksud ibu, masih ada dalang di balik pembunuhan ini?"
"Benar, dan otak dari semua itu adalah Kyara."
"Kyara?" Alex tampak shock mendengarnya. "Ini tidak bisa dipercaya."
Sukma mengangguk membenarkan. "Ada bukti juga dia telah menggelapkan uang perusahaan dengan Norman."
"Gila! ini benar - benar gila!"
"Sebelum meninggal Heny menitipkan kotak ini dengan saya. Ia sepertinya sudah tahu akan meninggal. Ia sempat bercerita kalau akhir - akhir ini ada beberapa orang telah mengikutinya." Sukma menyodorkan kotak itu. "Mungkin saja Heny juga di bunuh oleh Kyara."
Dengan perlahan Alex membukanya. Di dalamnya ada handphone dan beberapa berkas. Tangannya gemetar seketika tahu itu apa. Ternyata benar dugaannya, Kyara tidak sesederhana yang ia kira.
"Saya atas nama pak Xander mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan bu Sukma. Kami akan segera menghubungi pihak yang berwajib. Karena setelah kami pecat Kyara seperti menghilang ditelan bumi."
"Sama - sama pak Alex. Saya akan sangat senang jika pembunuh suami saya akan dihukum seberat - beratnya." ucap Sukma. "Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan menantikan Kyara masuk ke dalam penjara."
"Bu Sukma tenang saja, akan saya pastikan Kyara masuk ke dalam penjara."
Setelah Sukma pulang Alex segera memberitahukan hal ini pada mama Attalia.
"Jangan sampai Xander tahu apalagi Kamisha, saat ini bebannya sudah banyak. Aku gakut stres akan berpengaruh pada kandungannya."
"Baik nyonya."
"Segera temukan Norman bagaimana pun caranya. Kyara harus masuk ke dalam penjara!"
"Baik nyonya."
🌸🌸🌸🌸
Kamisha dengan telaten merawat bapak yang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Hubungannya dengan bulik Yanti semakin membaik. Saat ini Axel sudah pindah sekolah di Jogja, mbak Ajeng yang bertanggung jawab mengantar dan menjemputnya bila Kamisha sibuk di rumah sakit. Apalagi perutnya yang semakin membesar.
"Sha."
"Ya bulik."
"Ada yang mau bulik bicarakan?"
"Soal apa bulik?"
"Soal Kyara."
"Kita bicara di luar saja, takut ganggu istirahatnya bapak."
Kamisha dan bulik Yanti keluar dan duduk di kursi tunggu.
"Aku tahu kamu sedang ada masalah dengan suamimu, walaupun selama merawat bapak kamu hanya diam saja."
"Dari mana bulik tahu?"
"Tidak sulit menebaknya. Dulu kamu pergi sebentar saja suamimu pasti sudah bolak balik Bandung Jogja, tapi ini dia sama sekali tidak kelihatan, tidak menelepon dan juga Axel kau sekolahkan disini."
Kamisha hanya menunduk. Matanya berkaca - kasa dan berulang kali mengambil napas panjang.
"Maafkan aku Misha. Dulu aku orang yang merenggut kebahagiaanmu, merenggut keutuhan rumah tangga ibu dan bapakmu."
"Sudahlah bulik, semuanya sudah berlalu. Aku sudah memaafkan. Apalagi bulik sudah mau merawat bapak."
"Aku sangat menghormati dan mencintai bapakmu. Mungkin dulu caraku yang salah. Ini merupakan penyesalan terbesar dalam hidupku." bulik Yanti menangis tersedu - sedu. Kamisha menepuk - nepuk pundaknya berusaha menenangkan.
"Sha."
"Ya bulik."
"Ada rahasia yang harus kamu ketahui."
"Apa itu?"
"Setelah acara pemakaman Ayu selesai, aku dan bapak menemukan berkas tentang kesehatan Kyara."
"Kesehatan Kyara? Kyara sakit?"
"Ya, dia sakit."
"Sakit apa bulik?"
"Dia sakit jiwa."
"Ya tuhan." Kamisha seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Dulu waktu SMA dia sudah pernah berobat dengan Ayu di sebuah rumah sakit jiwa di Jogja dan di nyatakan sembuh. Dia menderita kontrol impuls."
"Penyakit jiwa memang bisa sembuh asalkan mendapat dukungan dan perhatian dari keluarga, penyakit itu sewaktu - waktu bisa kambuh bila ada pemicunya. Pantas saja sikapnya sangat aneh dan tindakannya tidak rasional."
"Awalnya bapak ingin memberitahumu, tapi aku cegah karena tidak mau membebani pikiranmu. Apalagi Kyara sudah di nyatakan sembuh."
"Terima kasih bulik mau menceritakan hal ini padaku. Sepertinya penyakitnya kambuh dan aku rasa dia harus segera melakukan pengobatan dengan seorang psikiater."
Setelah Kamisha mengetahui informasi tentang ganggungan mental yang diderita oleh Kyara. Ia segera memberitahukan hal itu pada Alex, dengan tujuan untuk melihat lebih lanjut apakah dimasa sekarang Kyara masih mendapat perawatan atau tidak. Semoga masalah ini segera terpecahkan doa Kamisha.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸