
"Sore Kyara, kamu dimana? bisa aku dan om Dimas ketemu?"
"Hmm, aku pulang jam lima sore. Kita ketemu di cafe depan hotel saja."
"Oke, akan kami tunggu."
Panggilan diakhiri.
Ya tuhan apalagi ini. Sudah cukup aku berurusan dengan orang dari masa laluku.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Tina.
"Nggak apa - apa."
"Aku perhatikan sejak pulang dari makan siang tadi kau seperti orang kebingungan. Ada masalah?"
"Hmm, tidak ada. Aku baik - baik saja kok."
"Kalau soal pak Xander, tidak perlu kamu pikirkan. Berjalan dengan alami saja dan aku yakin rencana kita akan berhasil."
"Aku tahu, kamu pasti akan membantuku." ucap Kyara. "Aku ke kamar kecil dulu." pamitnya kemudian.
Sementara itu...
"Om sudah dengar sendiri kan?"
"Yah, setidaknya aku bisa bertemu dengannya."
"Dia hanya masa lalu, mau om apa sih?"
"Entahlah, dulu aku sangat mencintainya. Banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya."
"Dulu dia hanya memanfaatkan harta om saja. Kenapa harus dipikirkan terus."
"Sama dengan dirimu saat ini kan? dekat denganku hanya untuk memanfaatkan hartaku saja."
"Eh... hmm tidak seperti itu. Tujuanku murni berbisnis." Heny tiba - tiba saja menjadi kikuk.
"Kau sudah bertemu dengan Xander?"
"Belum, kita baru saja sampai. Aku masih memperlajari data pribadi tentang dirinya."
"Ingat, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan. Kita harus mendapatkan proyek ini. Kalau perlu berikan tubuhmu. Pria muda sepertinya pasti menyukai hal - hal seperti itu."
"Kenapa om begitu ngotot ingin proyek ini?"
"Jika aku bisa memenangkan proyek ini, aku akan mendapatkan pengakuan di dari perusahaan - perusahaan. Bisa bekerja sama dengan Hadid corporation merupakan hal yang diinginkan oleh para pengusaha."
"Bukankah mereka hanya membangun hotel saja?"
"Untuk yang di Jogja ini konsepnya berbeda. Mereka juga akan membangun pusat perbelanjaan terbesar di Jogja. Bayangkan berapa banyak uang yang akan kita dapatkan jika kita berhasil memenangkan proyek ini."
"Hmm, aku mengerti tugasku sekarang. Disamping itu aku bisa meminta bantuan Kyara nanti agar memudahkan jalanku."
"Bagus." puji om Dimas.
"Beri aku waktu untuk mengetahui Xander itu seperti apa, bagaimana pergaulan dan kebiasaannya agar aku dengan mudah mendekatinya."
"Aku beri waktu dua minggu, cukup?"
"Cukup, om." jawab Heny mantab.
"Sudah hampir jam lima ayo kita ke berangkat ke cafe."
"Baik, om."
Mereka berdua berangkat menuju cafe yang sudah ditentukan oleh Kyara.
"Tina, aku pulang dulu ya."
"Tumben jam segini sudah pulang."
"Aku kurang enak badan."
"Oke, istirahatlah. Karena besok masih banyak yang harus kita kerjakan."
Kyara mengangguk. Ia segera mengambil tas dan laptopnya kemudian pergi untuk bertemu dengan om Dimas dan Heny.
Ketika akan masuk dalam cafe, Kyara sedikit ragu. Tapi ini semua perlu di jelaskan. Hidupnya sudah baik - baik saja dan tidak mau di ganggu oleh masa lalu nya.
"Sore, om, Heny." sapa Kyara.
"Sore Kyara." ucap om Dimas sambil mendekati untuk memeluknya. Kyara mundur satu langkah menghindarinya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat. Om Dimas menjadi sedikit canggung dengan sikap Kyara yang dengan halus menolaknya. Akhirnya mau tidak mau ia membalas jabat tangan Kyara. "Duduklah."
"Terima kasih, om."
Setelah memesan minuman, suasana menjadi hening. Mereka semua dalam diam.
"Bagaimana kabarmu?" akhirnya om Dimas membuka pembicaraan.
"Baik, om."
"Yah, aku bisa melihat kamu yang sekarang lebih dewasa, lebih mapan dan tentu saja lebih cantik."
"Terima kasih."
Terjadi keheningan lagi. Mereka sama - sama terdiam. Hanya suara musik dari cafe yang membuat suasana lebih hidup.
"Sudah lama, kau bekerja disini?" tanya Heny memecah keheningan.
"Sudah."
"Kau pasti tahu kan tentang atasanmu?"
__ADS_1
"Tahu."
"Ayolah Kyara, kita jangan canggung seperti ini. Kita teman lama."
"Oke, ini juga yang ingin aku perjelas." ucap Kyara menarik napas panjang. "Aku sudah menutup masa lalu ku dan membuka lembaran baru. Jadi aku mohon ini yang terakhir kali kita ketemu."
"Kenapa kau bicara seperti itu Kyara? kau melupakan kenangan kita begitu saja."
"Om, itu masa lalu dan aku sudah melupakannya. Biarkan hidupku tenang sekarang tanpa kalian ganggu seperti ini."
"Kami tidak mengganggu mu Kyara! sombong sekali kau! jangan kau kira bisa lepas dari masa lalu. Itu akan selalu menjadi bagian dari hidupmu." ucap Heny setengah emosi.
"Sudah... sudah jangan bertengkar." lerai om Dimas. "Heny kita harus menghargai keputusan Kyara." ucap om Dimas. "Kyara, maafkan aku jika pertemuan ini mengganggumu. Aku sebenarnya hanya ingin meminta maaf atas nama istriku jika dia memiliki salah padamu."
"Tidak ada yang perlu di maafkan, om. Istri om sepenuhnya benar dalam hal ini. Aku justru yang bersalah. Maaf."
"Ya sudah, toh semuanya sudah berlalu. Aku harap hidupmu bahagia Kyara." ucap om Dimas. "Maaf aku ke kamar kecil dulu."
Kyara mengangguk, ia kemudian meminum minuman pesanannya.
"Gila kamu yah!"
"Apa sih?"
"Kamu menyakiti perasaan om Dimas."
"Aku tidak ada maksud menyakiti perasaannya, aku hanya menegaskan kalau aku tidak mau berhubungan lagi dengan masa lalu ku."
"Sudah berubah kau rupanya! mana Kyara yang dulu ku kenal."
"Kyara itu sudah mati bersamaan dengan kerasnya hidup!"
"Om Dimas itu juga andil dalam kesuksesanmu sekarang, jangan lupakan itu."
"Aku tidak melupakan, aku cuma tidak ingin diganggu. Jangan khawatir aku akan mengembalikan setiap uang yang dia keluarkan untukku."
"Ya tuhan Kyara. Aku sudah tidak mengenal dirimu lagi."
"Yah lebih baik seperti itu. Kita jalani hidup kita masing - masing dan jangan saling mengganggu." ucap Kyara. "Aku pergi, sampaikan pada om Dimas apa yang aku katakan tadi. Aku permisi." Kyara berdiri dan kemudian pergi meninggalkan Heny sendiri. Sebenarnya ia tidak tega berkata seperti itu untuk sahabatnya. Tapi apa boleh buat, ia tidak mau masa lalunya mempengaruhi rencananya untuk mendapatkan Xander kembali.
"Loh mana Kyara?" tanya om Dimas
"Dia pergi."
"Kenapa? kau bertengkar dengannya?"
"Sudahlah om, aku malas membahasnya. Dia sudah berubah. Kita kembali saja ke hotel dan fokus pada tender ini."
"Baiklah kalau itu maumu."
Sepasang mata dengan tatapan tajam menatap mereka. "Oh ternyata ini yang kau sembunyikan?" gumam Tina. "Ternyata kau juga bukan wanita baik - baik." Tina tersenyum menyeringai.
🍁🍁🍁🍁
"Nyonya Misha dimana?"
"Di dapur tuan."
"Jam segini sudah masak buat makan malam?"
"Bukan tuan, nyonya buat kue."
"Oh." jawab Xander. Ia segera menuju ke dapur. Dilihatnya Kamisha sedang sibuk memanggang kue. Entah apa yang dibuatnya, tapi ia tampak gembira. "Buat apa?"
"Eh, kaget aku." ucap Kamisha. "Ini buat kue kering." jawabnya. "Tumben jam segini sudah pulang. Perlengkapan mandinya belum aku siapkan."
"Nanti saja." jawab Xander sambil duduk di kursi. Ia menggulung lengan kemejanya sampai siku. "Kenapa buat kue kering?"
"Hmm, biar lebih awet, lebih bervariasi."
"Maksudmu?"
"Jadi gini, jarak rumah ini sama toko kue ku agak jauh. Kalau hampir setiap hari aku bolak balik ke sana pasti melelahkan. Jadi aku membuat kue kering sebagai varian baru untuk mengisi etalase toko. Kue kering ini lebih awet jadi aku tidak perlu bolak balik ke sana."
"Cerdas, terus kue yang lain bagaimana?"
"Aku sudah melatih Suci untuk membuat kue yang lainnya. Jadi aku hanya membuat sesekali saja."
"Atau aku carikan toko yang dekat dengan rumah dan pinggir jalan."
"Ah tidak usah, nanti malah merepotkanmu." tolak Kamisha. "Hmm, sebenarnya aku sudah ada rencana kesitu tapi tabunganku belum mencukupi."
"Baiklah kalau itu maumu."
"Mau coba?"
"Boleh."
Kamisha mengambil kue yang baru saja matang. "Aaaa.. ayo buka mulutmu."
Xander membuka mulutnya. "Aauuww..! panas."
"Ups, maaf aku lupa. Maaf ya." ucap Kamisha sambil membawakan Xander air putih.
Xander mengunyah kue itu. "Hmm, enak." pujinya.
"Benarkah?" tanya Kamisha tidak percaya.
"Kuenya lembut."
"Ah syukurlah kalau enak. Awalnya aku takut kalau gagal. Tapi karena kau yang mengatakannya berarti memang benar - benar enak."
"Harus dengan penilaianku ya?"
__ADS_1
"Ya soalnya ini lidah orang kaya, lidah mahal, lidah sultan."
"Kamu bisa saja." Xander tersipu dengan perkataan Kamisha.
"Oya coba aku lihat, lidahnya merah tidak. Tadi kuenya panas habis keluar dari pemanggangan." Kamisha mulai mendekati Xander. Dia meminta Xander untuk menjulurkan lidahnya. Kamisha meneliti dengan seksama lidah Xander. "Hmm, sepertinya tidak apa - apa." gumamnya.
Posisi mereka terlalu dekat. Membuat jantung Xander berdetak tak beraturan.
"Sudah aku tidak apa - apa." ucap Xander. "Aku ke atas dulu."
"Baiklah."
Kamisha melanjutkan kegiatannya. Tapi tak lupa ia menyiapkan semua kebutuhan Xander tanpa di minta. Ia seolah - olah bisa membaca pikiran Xander. Sehingga sebelum di minta sudah ia sediakan.
Makan malam tiba. Mereka mengobrolkan beberapa kegiatan hari ini. Kamisha optimis kue keringnya akan laku.
Setelah makan malam selesai. Kamisha mulai menemani Axel sebelum tidur kemudian baru ke kamar nya. Ia membawa tali yang sudah di belinya di supermaket tadi siang.
"Buat apa tali?"
"Oh, tidak buat apa - apa. Hanya untuk persediaan saja."
"Ya sudah, segera tidur."
"Ya, selamat malam Xander."
"Malam."
Kamisha mulai mengikat kakinya dengan kaki meja. Kemudian menutupinya dengan selimut. Tak butuh berapa lama, ia terlelap bersama mimpi - mimpinya.
Kira - kira satu jam sudah berlalu. Seseorang turun dari tempat tidurnya. Ia membuka selimut Kamisha dan tersenyum. Oh kau mengikat kakimu rupanya batin Xander. Percuma aku akan tetap membuatmu tidur di sampingku, siapa suruh tidur seperti kerbau. Xander melepas ikatan itu pelan - pelan dan membawa tubuh Kamisha ke atas tempat tidurnya.
Entah sejak kapan tepatnya Xander menjadi tergantung dengan kehadiran Kamisha. Ia tidak bisa tidur nyenyak jika Kamisha tidak di sampingnya. Apa mungkin ketika pertama kali mereka tidur bersama waktu di Bogor di curug cibulao. Entahlah Xander tidak mau memikirkan yang penting saat ini Kamisha tidur di sampingnya.
🍁🍁🍁🍁
Tak terasa sudah tiga minggu Xander dan Kamisha menjalani kehidupan rumah tangga. Misteri tidur berjalan pun sekarang tidak diambil pusing oleh Kamisha. Justru itu menguntungkannya, lama - lama menjadi terbiasa tidur di tempat tidur ternyata lebih nyaman dari pada sofa. Meskipun setiap pagi ia harus mengendap - endap, turun pelan - pelan agar tidak ketahuan Xander.
Kamisha juga sudah kembali bekerja di bagian marketing tim dua. Walaupun sering ketemu Kyara mereka jarang berbicara. Kamisha hanya menyapa karena lebih sering Kyara selalu menghindar bertemu dengannya.
Pagi itu mereka sarapan seperti biasa. Tiba - tiba mbok Sri datang membawa handphonenya.
"Maaf, mengganggu." ucapnya.
"Kenapa mbok?"
"Ada telepon dari Ajeng, katanya pak Amir masuk rumah sakit."
"Rumah sakit? kok bisa."
"Katanya jatuh dikamar mandi."
"Tenang Misha, lebih baik kamu kesana untuk memastikan kondisi bapak." ucap mama Attalia.
"Yang diucapkan mama benar. Cuma aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa - apa, aku bisa sendiri asalkan kamu mengijinkan."
"Pergilah."
"Terima kasih, aku berkemas dulu ke atas."
Kamisha beranjak menuju ke atas ia membawa beberapa pakaian.
"Biarlah Axel di rumah. Kau konsentrasi saja ke bapak."
"Terus urusan sekolah bagaimana?"
"Ada aku dan mama."
"Baiklah kalau begitu, aku titip Axel ya."
"Hmm, tenang saja. Telepon aku kalau sudah sampai."
"Oke."
Setelah mencium tangan Xander, berpamitan pada Axel dan mama Attalia, Kamisha segera pergi ke bandara diantar oleh sopir.
Xander segera ke kantor seperti biasa. Ia berjalan setengah melamun masuk ke dalam. Ia memikirkan bagaimana Kamisha sendirian ke Jogja, apa perlu ia mengundur semua jadwal rapat.
Tiba - tiba... braaakk...!!! praannkk..!!! ia menabrak sesuatu.
"Oh maaf, saya tidak melihat." ucap Xander sambil membantu wanita itu berdiri.
"It's okey, tidak masalah."
"Tapi barang anda pecah."
"Hmm, nanti saya bisa membelinya lagi."
"Ini kartu nama saya, dan saya berjanji akan mengganti barang anda yang pecah."
"Xander Alfero Hadid," gumam wanita itu sambil membaca apa yang ada di kartu nama. "Anda pemilik hotel ini?"
"Yah, anda benar. Tapi maaf karena saya terburu - buru harus rapat. Kita bisa bicara lain kali."
"Baiklah, oya perkenalkan saya Heny."
"Oh, oke Heny saya tinggal dulu."
Xander dengan tergesa - gesa berjalan menuju ruangannya.
Wanita itu tersenyum puas. "Langkah pertama berhasil. Tinggal menjalankan rencana berikutnya."
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁