
Kamisha memakirkan mobilnya di depan rumah. Ia menarik napas panjang sebelum keluar dari mobil. Setelah di rasa emosinya mereda ia segera keluar. Ia menutup pintu mobil agak keras.
"Mbak Misha, sampai kaget saya." ucap mbok Sri.
"Maaf ya mbok."
Beberapa karyawan di toko kuenya membantu membawa barang - barang ke dalam toko.
"Yang ini di simpan di kulkas ya."
"Baik mbak." ucap salah satu karyawannya.
Setelah menutup bagasi mobilnya, kamisha melihat Enzio dalam gendongan mbok Sri yang bergerak - gerak menyambut kedatangannya.
"Sabar ya sayang, mommy ganti baju dulu oke."
Kamisha masuk ke dalam rumah dan segera membersihkan diri dengan air. Menyegarkan pikirannya kembali. Setelah selesai ia segera menemui mbok Sri.
Tampak Enzio yang sudah tidak sabar ingin di gendong oleh Kamisha.
"Hmm, mommy kangen padamu Enzio." ucapnya sambil mencium pipi bayinya yang gembul. "Kau haus nak?"
Kamisha tersenyum dan bersiap membuka kancing bajunya mengeluarkan bukit kembarnya yang siap diminum oleh Enzio.
Kamisha membelai putranya yang sedang menikmati Asi. Beberapa kali ia mencium tangan mungil Enzio.
Tunggu kenapa aku seperti tidak asing dengan aroma ini pikir Kamisha. Ia membungkukkan badannya untuk mencium lagi badan putranya. Memastikan apa yang ia pikir itu salah.
Ini aroma tubuh Xander, yah aku tidak salah. Kenapa bisa menempel pada tubuh Enzio pikir Kamisha.
"Mbok Sri." panggilnya.
"Nggih, mbak."
"Apa tadi ada orang datang kesini?"
"Tidak ada mbak." jawab mbok Sri berbohong. Ia berusaha tenang agar tidak ketahuan. Toh ia lakukan itu demi Kamisha juga.
"Aneh, kenapa aku merasa seperti ada yang datang kesini ya."
"Yang mbak maksud siapa?"
"Xander." jawabnya spontan
"Loh bukankah tuan Xander ada di Singapore?"
"Dia sudah pulang mbok." Kamisha menaruh Enzio dalam box. Bayi lucu itu tertidur setelah kekenyangan.
Kamisha berjalan ke dapur diikuti mbok Sri di belakang. Ia mengambil tepung, telur dan mentega. Ia mulai membuat adonan.
"Kamu tahu mbok dia sudah bisa jalan."
"Siapa mbak?"
"Tentu saja Xander." Kamisha mulai mencampurkan bahan - bahan. Dengan penuh emosi ia menguleni adonan. "Kamu tahu mbok, dia datang begitu saja tanpa minta maaf padaku!" Kamisha beberapa kali membanting adonan itu di talenan. "Dasar pria semua sama saja! dulu dia mengusirku! meninggalkanku!"
"Sabar mbak." ucap mbok Sri lirih.
"Dan juga, dia sudah berani - berani merayu wanita - wanita ditempat kerja."
"Sepertinya tuan Xander tidak seperti itu mbak."
Braakk..! Kamisha membanting lagi adonan donat ke atas talenan. "Dewi yang bilang! itu lo temanku waktu SMP yang kerja di perusahaan properti." cerita Kamisha berapi - api.
"Mbak Dewi yang sering pesan kue disini?"
"Iya Dewi yang itu, dia cerita kalau di rayu Xander! benar - benar keterlaluan!" Kamisha masih ngomel - ngomel sambil tangannya terus menguleni adonan. "Harusnya dia sadar kalau sudah punya anak istri!"
Braak..! lagi - lagi Kamisha membanting adonannya ke atas talenan.
"Mbak Misha pelan - pelan, nanti Zio nya bangun." mbok Sri memperingatkan karena khawatir.
"Aku masih emosi mbok." ucap Kamisha. Ia mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan. Peluhnya membasahi dahi. Emosinya sedikit berkurang karena sudah tersalurkan pada adonan tadi.
Mbok Sri mengambilkan minum untuk Kamisha.
"Mbak Misha cemburu?"
Uhuk... uhuk.. uhuk.. ia kaget mendengar pertanyaan mbok Sri yang spontan tapi mengena.
"Siapa yang cemburu?" elak Kamisha.
"La itu tadi marah - marah. Lihat itu mbak." mbok Sri menunjuk dapur. "Berantakan semua."
Kamisha juga heran kenapa dapurnya seperti kapal pecah. Padahal ia suka dengan kerapian.
"Itu tandanya mbak Misha masih cinta dengan tuan."
"Nggak.. nggak mbok. Itu tidak benar. Aku hanya tidak suka dengan pria genit." Kamisha masih saja terus mengelak.
"Kalau misalnya pak Harvey yang menggoda wanita bagaimana? mbak Misha emosi juga?"
"Ya nggak, itu terserah Zelina lah. Apa urusannya denganku mbok."
"Tadi katanya nggak suka semua pria yang genit."
Kamisha diam dia sepertinya terjebak dengan pertanyaan mbok Sri. Tak di sangka cuma lulusan SD bisa membuat Kamisha mati kutu.
"Sudahlah mbak, kalau memang masih cinta dengan tuan lebih baik kembali saja. Kasihan anak - anak. Saya juga ingin mbak Misha bahagia."
__ADS_1
Kamisha menggeleng - gelengkan kepala. "Nggak mbok. Dia sudah meninggalkan aku." ucapnya sambil keluar dari dapur. "Aku mau jemput Axel." pamitnya kemudian.
🌸🌸🌸🌸
Setelah menemui Axel saat jam istirahat. Xander kembali ke perusahaan untuk menanda tangani beberapa berkas.
"Maaf pak, ini berkas yang perlu ditanda tangani." ucap Dewi.
"Taruh saja disana."
"Tapi pak, saya butuh tanda tangan itu sekarang."
Xander memandang ke arah Dewi. Ia meletakkan tabletnya di atas meja. Dewi yang melihat tatapan tajam Xander berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Siapa kau berani memerintahku?"
"Mmmaaf pak, saya kira__."
"Kamu kira apa?"
"Ssaya kira, bapak tidak sibuk."
"Entah saya sibuk atau tidak, kamu juga tidak berhak mengatur saya. Mengerti?"
"Mengerti pak." jawab Dewi menunduk. "Saya permisi dulu." Dewi bergegas meninggalkan ruangan Xander. Tangannya gemetar, matanya berkaca - kaca.
Alex masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa Alex, kau mau aku marahi juga seperti gadis tadi?"
"Tidak saya tidak berani mengganggu keasyikan bapak."
"Bagus kalau kamu tahu. Aku sedang memvideokan Enzio, lihat ini. Lucu kan dia?"
"Ya pak, wajahnya mirip sekali dengan anda."
"Tentu saja, dia anakku."
"Lihat juga ini, Axel mengirimiku video ketika mereka bermain bersama." tersirat kebahagiaan di mata Xander. "Seandainya aku ada disana?"
"Bapak sudah minta maaf ke mbak Misha?"
"Haruskah? aku sudah memeluknya dan memohon kembali padanya. Perlukah aku minta maaf?"
"Pak, wanita itu susah di tebak. Dengan hanya memeluk dan memohon agar kembali saja tidak cukup. Bapak perlu minta maaf dan juga perlu memberi ruang waktu untuk mbak Misha berpikir kembali mengenai hubungan anda."
Xander terdiam sejenak. "Perlukah aku membawa bunga? berlian, tas mahal atau mobil?"
"Mbak Misha bukan tipe yang seperti itu. Cukup dengan kegigihan anda mengambil hatinya."
Sementara itu..
"Aku baru jemput Axel di sekolah dan aku nggak bisa terlalu lama meninggalkan Zio sendiri di rumah."
"Aduh, sebentar saja. please.." mohon Dewi di telepon.
Gimana nih, sebenarnya aku malas bertemu Dewi. Aku masih emosi dengan sikap dia yang ganjen dengan suami orang.
"Sha.. Sha.. halo Sha.. kamu masih disana kan?"
"Eh iya."
"Gimana, bisa kan?"
"Baiklah, tapi sebentar saja ya."
"Oke aku meluncur ke sekolahannya Axel."
Panggilan diakhiri.
Sepertinya aku harus menyiapkan mental mendengar ceritanya nih. Sabar.. sabar.. Kamisha membesarkan hatinya sendiri.
Tak berapa lama Kamisha sudah sampai di sekolah Axel. Sebelum keluar dari mobil ia melihat sekeliling apakah Dewi sudah datang. Dan tampak seorang wanita melambaikan tangannya dari kejauhan.
Dengan terpaksa Kamisha turun dan menghampiri Dewi. tapi kali ini ada yang aneh, wajahnya terlihat murung. Mereka berdua duduk di cafe depan sekolahannya Axel. Kamisha memesan Vanilla Latte.
"Aku galau, Sha."
"Kenapa?"
"Aku habis dimarahi sama si bos."
"Xander?"
"Iya, siapa lagi."
"Kamu tidak disiplin?" tanya Kamisha. Karena ia tahu suaminya itu paling tidak suka dengan orang yang tidak disiplin.
"Bukan. Jadi gini ceritanya." Dewi menyeruput kopi di depannya. "Aku dengan percaya diri datang ke ruangannya, karena memang sikapnya yang lain padaku dibanding karyawan yang lain. Saat itu aku memberikan penampilan terbaikku, aku beri dia senyuman yang paling manis tapi ia sama sekali tidak melirikku malah menegur karena bersikap lancang."
Dewi bercerita dengan raut muka sedih seperti orang sedang patah hati. Berbeda dengan Kamisha yang tampak sekali bahagia mendengar cerita Dewi.
That's my husband teriaknya dalam hati. Bagus sayang hempaskan semua wanita penggoda disekelilingmu.
Dewi memperhatikan Kamisha yang tersenyum ketika dia sedang bersedih. "Kau tidak sedih mendengar ceritaku, Sha?"
"Hah.." Kamisha gelagapan. "Tentu aku sedih dong." jawabnya pura - pura.
"Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Menjauh." Kamisha menjawab dengan cepat.
"Kok menjauh, aku belum juga mulai berjuang malah sudah kau suruh menjauh."
"Ingat dia sudah punya istri dan anak kan. Kau mau jadi pelakor."
"Nggaklah, amit - amit."
"Makanya jauhi saja dia, dia kan suami orang."
"Sepertinya benar juga saranmu. Apalagi saat itu ia sedang melihat sebuah video anak kecil. Apa itu anaknya ya."
"Bisa jadi." Kamisha menjawab asal sambil menyeruput kopinya.
"Setelah bertemu denganmu perasaanku menjadi lega, Sha."
"Ia aku juga lega mendengarnya."
"Ya sudah aku kembali.ke kantor dulu."
"Oke, hati - hati. Axel juga sudah pulang."
Mereka berpisah. Kamish dengan perasaan berbunga - bunga menyambut kedatangan Axel. Kamisha memeluk dan mencium putranya.
"Hmmm, anak mommy bau__." Kamisha tidak meneruskan ucapannya. Aneh ini aroma Xander sama seperti Enzio tadi pagi pikir Kamisha.
"Bau apa mommy? bau asem ya?"
"Oh, nggak sayang." Kamisha memandangi putranya. "Apa tadi ada orang yang menemuimu di sekolah?"
Axel menggelengkan kepalanya.
"Oh, ya sudah mungkin hanya perasaan mommy saja." Kamisha menggandeng tangan putra."Ayo kita pulang, adikmu pasti sudah bangun."
Mereka berdua pulang, di dalam mobil Kamisha tampak sangat bahagia, mood nya sangat baik setelah bertemu Dewi.
🌸🌸🌸🌸
Setelah makan malam, Kamisha menidurkan Enzio dan menemani Axel belajar sebelum ia melanjutkan membuat kue untuk pesanan besok pagi.
Hanya dengan menyusu Enzio langsung tertidur. Kamisha sudah menaruhnya di box bayi.
"Mommy aku mengantuk." ucap Axel.
"Tidurlah sayang."
"Baiklah, aku tidur dulu." Axel mencium pipi Kamisha.
Setelah melihat putra masuk kamar, Kamisha mulai membuat adonan kue. Pelanggan kali ini memesan kue marmer sebanyak tiga puluh buah.
"Mbak Misha tidak tidur?"
"Sebentar lagi mbok, tinggal satu kue yang di dalam oven itu."
"Mbak Misha langsung istirahat saja dikamar, biar dapur saya bereskan.
"Terima kasih mbok, entah kenapa badan ku ini terasa lelah." Kamisha segera melepas celemek dan segera masuk kamar. Dengan mandi air hangat akan membuat tubuhnya segar kembali.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama, Kamisha sudah terlelap.
Mbok Sri menuju ke pintu depan dan mempersilahkan seseorang masuk.
"Silahkan tuan."
"Mana Misha?"
"Sudah tidur dikamar."
"Bagus, terima kasih ya mbok." Xander berkata dengan berbisik.
Xander segera memasuki kamar Kamisha. Ia tampak tertegun dengan apa yang dikenakan Kamisha. Baju tidur two piece celana pendek berbahan satin. Walaupun itu baju tidur biasa tapi sudah bisa membangkitkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Xander menghampiri istrinya. Maaf sayang aku datang dengan cara seperti ini. Aku sangat rindu denganmu, hanya dengan tidur kau lebih tenang dan aku bisa memandangimu lebih lama, Xander membelai lembut rambut Kamisha. Ia mulai mengecup satu persatu bagian tubuh Kamisha tanpa terlewatkan satu pun.
Xander hendak naik ke atas tempat tidur untuk memeluk istrinya hingga. Oek.. oek.. oek.. tangis Enzio membuatnya kaget.
Xander bergegas menghampiri Enzio sebelum tangisnya membangunkan Kamisha. "Hai, boy. Kau haus sayang?" Xander menggendong putranya itu keluar.
"Wow.. wow.. kau benar - benar haus rupanya." Xander tersenyum melihat putranya yang berusaha memakan dadanya.
Xander menggendongnya menuju dapur. Ia mencari botol susu dan stok Asi yang sudah di simpan dalam freezer oleh Kamisha. Beruntung ia telah banyak belajar bagaimana cara mengurus bayi.
"Sabar boy, sebentar lagi kamu akan minum susu." dengan cekatan Xander menyiapkan itu semua. Ia menjadi ayah dan suami siaga. Setelah selesai ia segera memberikannya pada Enzio dan duduk di sofa sambil bersenandung agar putranya segera tidur.
Enzio sangat tenang dalam gendongan Xander. Hanya dengan dekapan dan suaranya, Enzio segera tidur.
Mata Xander pun sudah mengantuk ia menaruh Enzio yang tertidur di dadanya. Sambil memejamkan mata Xander tertidur di atas sofa di ruang tengah.
"Tuan.. tuan.. tuan.."
Seseorang memanggil dan mengguncang tubuhnya. Dengan enggan ia membuka mata.
"Mbok Sri." ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tkdur. "Ada apa?"
"Sudah jam empat tuan. Sebentar lagi mbak Misha bangun."
Xander melihat jam di tangannya. Benar ini sudah pukul empat pagi. Dengan perlahan Xander memindahkan Enzio ke dalam box bayi di kamar Kamisha.
Sebelum pergi, ia mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku mencintaimu Misha."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸