Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Jebakan Rani


__ADS_3

"Malam, ma." sapa Kamisha sambil memeluk mama Attalia. "Malam Axel sayang." Kamisha memeluk Axel, tapi wajahnya cemberut. "Hei, kenapa jagoan mommy cemberut."


"Kalian jahat, kenapa liburan tidak mengajakku."


"Maaf sayang, kami tidak liburan tapi kami bekerja." sahut Xander. Ia menggendong putranya "Nanti kalau daddy ada waktu kita akan liburan bersama, oke?"


"Really?" mata Axel tampak berbinar.


"Kau mau liburan kemana boy?"


"Hmm aku mau ke Disneyland, boleh?"


"Tentu saja boleh?"


"Yeay." Axel bersorak kegirangan.


Kamisha tersenyum bahagia melihat interaksi mereka berdua. Dulu mereka hanya hidup berdua sekarang banyak orang di sekelilingnya yang mencintai mereka.


"Sudah.. sudah.. ini sudah malam. Lihat itu mommy mu tampak lelah." kata mama Attalia.


Kamisha tersenyum, ia mengajak Axel masuk ke dalam kamar sekaligus melepas rindu dengan putra semata wayangnya. Xander yang melihat istrinya mau naik ke atas segera beranjak mengikutinya.


"Mau kemana kamu?"


"Tidur ma."


"Biarkan Kamisha menidurkan Axel dulu, duduk sini. Mama mau bicara sebentar."


Xander menarik napas panjang dan akhirnya ia menuruti perkataan mama. "Ada apa, ma?"


"Berikan waktu untuk istrimu beristirahat sejenak."


"Maksud mama?"


"Kau kira mama tidak tahu apa yang kau lakukan pada istrimu."


Xander tersenyum malu.


"Kau dan papamu mirip sekali. Huh buah jatuh tak jauh dari pohonnya." ucap mama Attalia.


"Aku sangat mencintainya, ma."


"Mama tahu tapi beri waktu istrimu beristirahat. Ingat ini pengalaman pertama baginya."


"Ini juga pengalaman pertama bagiku, ma."


"Tenaga pria dan wanita berbeda Xander. Aku lihat Kamisha tampak kelelahan. Apa kau mau istrimu sakit?"


"Tentu saja tidak. Dan perlu mama ingat aku melakukan ini juga agar mama cepat dapat cucu." jawab Xander. Sikapnya sudah tidak bisa tenang. Saat ini ia tidak bisa jauh dari istrinya.


"Iya.. iya.. dasar anak muda. Sudah sana susul istrimu, melihat gelagatmu yang tidak tenang membuatku kasihan."


"Terima kasih, ma." Xander mencium kening mama Attalia.


"Ingat, beri waktu istrimu beristirahat juga."


"Iya ma. Aku istirahat dulu." Xander segera naik ke atas menuju ke kamarnya.


Huh, istirahat apa? aku jamin kau tidak ingin beristirahat batin mama Attalia.


Xander masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kamisha sudah tidur di kasurnya. Sebelum mereka bersatu, setiap malam ia akan sibuk menunggu Kamisha tertidur pulas baru memindahkan istrinya itu di tempat tidur.


Setelah mandi dan mengenakan baju tidur. Xander berbaring di sebelah Kamisha. Dipandangi wajah istrinya yang memang tampak kelelahan. Tidak bisa ia pungkiri selama mereka di hotel kegiatannya hanya makan, tidur dan bercinta. Benar yang dikatakan mama, ia harus mengesampingkan egonya agar istrinya tidak jatuh sakit. Kamisha butuh waktu menyesuaikan diri untuk mengimbangi hasratnya.


Perlahan ia mengecup kening Kamisha. "Hmm sayang." gumam Kamisha masih dengan mata terpejam. Sepertinya ia tahu suaminya sudah ada di sebelahnya.


"Tidurlah, aku ada disini."


"Peluk." Kamisha menaruh kepalanya di dada Xander. Ia menyusupkan tangannya ke pingggang Xander.


"Oh sayang, sikapmu yang manja ini membuatku menginginkanmu setiap malam." Xander berusaha menenangkan sesuatu di bawah sana. Ia memejamkan mata untuk tertidur bersama Kamisha.


🌸🌸🌸🌸


"Sayang aku mau bicara padamu"


"Apalagi sih, Harvey. Kalau soal anak aku malas membahasnya denganmu."


"Ayolah sayang. Terus terang aku sudah lama berkeinginan untuk memiliki momongan."


Zeline membalikkan badannya, ia menatap ke arah Harvey. "Kau kan tahu, aku belum siap."


"Sampai kapan?"


"Ayolah Harvey, kau tahu aku belum bisa menghilangkan rasa trauma atas keguguranku dulu."


"Zeline, kita sebagai manusia memang di hadapkan dengan kehilangan, dengan kesedihan, dengan cobaan. Tapi itu tidak menjadikan kita mundur dan patah semangat."


"Harvey, dimana kau saat aku keguguran. Kau tidak tahu betapa sakitnya itu, baik lahir maupun batinku. Aku sangat menginginkan anak itu dan tiba - tiba saja harus diambil lagi."


"Aku minta maaf sayang, jika saat itu aku tidak bersamamu."


"Kau tahu berapa psikiater yang harus aku datangi untuk menghilangkan rasa traumaku, berapa obat yang harus aku minum untuk menenangkan hatiku." Zeline mulai terisak. "Terus terang aku sudah jenuh Harvey."


"Sayang jangan berkata seperti itu." Harvey memeluk istrinya. "Bagaimana kalau kita coba dengan bayi tabung, sewa rahim atau adopsi?"


"Kau gila, orang tuaku pasti tidak setuju. Jika media tahu, mereka pasti akan malu."


"Kenapa kau selalu memikirkan orang tuamu? bagaimana denganku? kau tidak memikirkan perasaanku?" Harvey mulai berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kalau kau benar - benar mencintaiku, tentu kau akan bersabar dan mau menunggu sampai aku siap."


"Aku bersabar, sudah hampir empat tahun aku bersabar. Kau lihatlah Xander, dia sangat bahagia memiliki seorang anak walaupun bukan darah dagingnya."


"Harvey sayang, jika kau mendesakku untuk melakukan itu, maaf aku belum bisa."


"Baiklah, sepertinya pembicaraan ini tidak bisa kita lanjutkan. Aku pergi!"


"Harvey! Harvey!" teriak Zeline memanggil suaminya. Ia menangis sejadi - jadinya. Selalu berakhir seperti itu setiap mereka membicarakan masalah anak.


Sementara itu Harvey mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kota Bandung yang tak pernah sepi. Ia berhenti di sebuah klub malam. Hingar bingar lampu dan dentuman musik yang keras membuatnya lupa sejenak dengan masalah rumah tangganya.


Ia memesan sebuah meja dan beberapa botol minuman. Ia tidak habis pikir sampai kapan Zeline bisa menghilangkan rasa trauma itu. Saat Zeline keguguran anak pertama mereka, Harvey sedang perjalanan kembali ke Indonesia. Ia mendengar kabar bahwa seorang gadis yang dulu sempat dekat dengannya waktu di Jogja sedang hamil anaknya. Ia ingin memastikan sendiri kebenaran berita itu. Walaupun sejatinya ia lupa, terlalu banyak wanita dalam hidupnya sebelum ia menikah dengan Zeline. Setelah menikah ia mulai menata hidupnya menjadi pria yang lebih baik dan bertanggung jawab. Sampai sekarang jauh di lubuk hati Harvey ia masih merasa bersalah dengan peristiwa kegugurannya Zeline. Harvey kembali menegak minuman di depannya.


"Hei, sendirian?"


"Siapa?"


"Aku Rani."


"Pergi! aku ingin sendiri."


"Oh common, aku rasa kau butuh seorang teman."


"Pergi!"


"Hei, kau sudah mabuk. Tenangkan dirimu." Rani tetap bersikukuh duduk satu meja dengan Harvey. Ia tidak akan melewatkan kesempatan bersama dengan pria tampan dan juga mapan. "Ayo, aku bantu membawamu ke hotel, kau sudah mabuk berat."


"Zeline! Zeline! kau dimana sayang!" Harvey mulai berteriak - teriak memanggil nama istrinya.


Oh dia sedang ada masalah dengan istrinya. Kesempatan bagus yang tidak mungkin aku lewatkan. "Ayo." Rani berusaha menegakkan tubuh Harvey yang sudah mabuk berat. Dengan susah payah ia membawanya keluar dari klub malam.


Dengan menggunakan taxi Rani membawa Harvey ke sebuah hotel bintang tiga. Setelah memesan sebuah kamar ia meletakkan Harvey di atas tempat tidur. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri.


Rani mulai membuka dompet Harvey untuk melihat siapa orang yang di bawanya.


"Harvey.. oh ternyata dia seorang arsitek. Sudah menikah rupanya. Lumayan lah untuk memeras orang sepertimu." gumam Rani. "Dasar laki - laki cengeng, minum sedikit saja sudah mabuk."


Rani segera melancarkan aksinya. Ia melucuti pakaian Harvey dan juga pakaiannya. Ia mengambil beberapa foto saat tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun.


"Sepertinya ini sudah cukup." Rani puas dengan hasil jepretannya. Ia yakin akan mendapat banyak uang dari sana. "Terima kasih Harvey kau sudah menjadi lumbung uang buatku." Rani mengecup kening Harvey yang masih belum sadarkan diri.


Ia kemudian tertidur di samping Harvey agar setelah Harvey sadar yang ia tahu mereka telah melakukan hubungan suami istri.


Keesokan paginya..


"Aauuww! kepalaku pusing." gumam Harvey setelah sadar dari mabuknya. "Zeline sayang tolong ambilkan aku minum."


Setelah beberapa saat tidak mendapatkan respon dari Zeline, Harvey berniat membangunkan istrinya tapi alangkah terkejutnya ketika tahu siapa yang tidur di sampingnya.


"Ssi__ssi__ssiapa kau?"


"Tidak__ tidak__ ini tidak benar." Harvey pucat dan tampak tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Siapa kau!" teriaknya.


"Aku Rani, kau lupa?"


"Rani? aku tidak mengenalmu!"


"Tapi semalam kau tidak berhenti meneriakkan namaku." ucap Rani manja. Ia memeluk Harvey. Dengan sigap Harvey mendorongnya.


Ya tuhan apa yang telah aku lakukan, Harvey tampak frustasi. Ia kembali mengingat - ingat kejadian malam itu. Aku ke sebuah klub dan memesan beberapa botol minuman. Setelah itu aku tidak ingat apa - apa.


"Sayang." suara Rani membuyarkan lamunan Harvey.


"Sorry aku sama sekali tidak mengingatmu. Anggap saja ini sebuah kesalahan."


"Tega kau berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan!"


"Stopped! stopped! Aku sudah memiliki istri dan aku setia padanya."


"Setia? terus ini apa."


"Ini kesalahan, toh kalau kita melakukan itu karena aku tidak sadarkan diri. Mengerti!" Harvey segera mengenakan baju. Ia mengambil dompet dan beberapa lembar uang seratus ribu. "Ini untukmu. Aku pergi." Harvey bergegas meninggalkan kamar hotel. Ia keluar dan kembali ke klub malam untuk mengambil mobilnya.


Setelah berhasil mendapatkan mobilnya Harvey bergegas untuk pulang. Tiba - tiba drrt.. drrt. sebuah pesan masuk ke dalam handphonenya. Harvey segera membukanya. Seketika tangannya gemetar, jantungnya berdetak tak karuan begitu membuka pesan yang ada di handphone nya.


Tak lama kemudian handphonenya berdering tertera sebuah nomor tak dikenal. Dengan ragu Harvey mengangkatnya.


"Halo."


"Sudah terima pesanku?"


"Ini siapa?"


"Baru saja tadi pagi kita bertemu kau sudah lupa."


"Rani."


"Hapalkan nama itu karena mulai sekarang aku akan menghubungimu setiap waktu."


"Brengsek! dasar wanita murahan!"


"Hahahhah.. aku ingin tahu bagaimana reaksi istrimu kalau tahu kita tidur bersama."


"Kau mengancamku?!"


"Aku ingin kau tahu aku bukan wanita murahan."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Nilaiku mahal Harvey. Aku pastikan itu." klik.. panggilan diakhiri.


"Halo! halo! halo! sial!" teriak Harvey di dalam mobil. Ia memukul - mukul setir mobil meluapkan emosinya. Aku di jebak. Aku harus bertemu dengan Xander.


🌸🌸🌸🌸


"Sayang." Kamisha mencari - cari suaminya. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Disampingnya sudah kosong tidak ada siapa - siapa.


Ia melihat ini sudah pukul enam pagi. Ia bangun sangat terlambat. "Semalam tidurku benar - benar nyenyak." gumamnya.


Ia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. "Xander kau di dalam?" tanya Kamisha. Ia membuka pintu kamar mandi dan sama sekali tidak menemukan suaminya di sana.


"Jangan - jangan dia marah padaku, semalam aku tinggal tidur." gumam Kamisha cemas. Semalam setelah menidurkan Axel, ia menunggu Xander di tempat tidur. Mungkin karena capek ia tertidur pulas hingga pagi. Dan sekarang ia tidak mendapati suaminya berada di sampingnya seperti malam - malam biasanya.


Kamisha bergegas membersihkan diri dan hanya mengenakan kaos kebesaran yang seperti daster. Itu baju andalannya kalau di rumah dengan rambut di sanggul asal sehingga tampak lehernya yang putih. Ia keluar kamar dan menebak kalau suaminya mungkin sedang di ruang gym. Dan benar dugaannya, Ia melihat Xander sedang latihan barbel.


Hmm pantas saja tubuhnya padat tenaganya kuat, ternyata suaminya itu rajin berolah raga. Kamisha melihat keringat yang membasahi tubuh Xander, entah kenapa tiba - tiba ia ingin sentuhan dari suaminya.


"Xander." panggilnya.


"Huff.. huff.. kau sudah bangun." ucap Xander sambil terus mengangkat barbel


"Kenapa tidak membangunkanku?"


"Huff.. huff tidurmu nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu." Xander masih konsentrasi dengan latihan otot lengannya tanpa mempedulikan kehadiran Kamisha.


"Kau marah padaku sayang?" bisik Kamisha dari belakang telinganya. Tangannya membelai lengan Xander yang berotot penuh dengan keringat. Xander menghentikan kegiatannya dan fokus melihat Kamisha.


Yes berhasil.. Rencana merayu suaminya berhasil membuat Kamisha senang. Dengan malu - malu di duduk di atas pangkuan Xander.


"Misha." suara Xander lirih dan parau.


"Kau mengabaikanku sayang." ucap Kamisha sambil mengelap keringat yang ada di dahi suaminya.


"Aku__ aku__ belum mandi, tubuhku penuh keringat."


Kamisha menggeleng - geleng kemudian mengalungkan tangannya ke leher Xander. "Aku suka melihatmu yang penuh keringat ketika bersamaku."


Tangan Xander memegang pinggul Kamisha, mengangkatnya agar lebih dekat dengannya. "Kau capek?"


"Tidak, jika itu denganmu."


"Aku takut membuatmu sakit. Dan olah raga adalah cara terbaik mengalihkan pikiranku darimu."


"Xander sayang, aku selalu senang bersamamu, melayanimu setiap saat kamu meminta."


"Benarkah?"


Kamisha mengangguk dan mencium kening, kedua mata Xander, hidung dan terakhir bibir. "Aku menginginkanmu sayang." bisiknya di telinga Xander. Ia memberi gigitan kecil disana.


Xander tersenyum senang. "Nakal."


"Pindah ke kamar?"


Xander menggeleng - geleng. "Disini."


"Disini?" tanya Kamisha tampak bingung.


Xander menekan remote dan seketika ruangan itu telah tertutup tirai. Kamisha tampak terkejut dengan semua itu. Dengan sekali gerakan Xander berhasil menyingkap kaos yang di kenakan Kamisha. "Aku mencintaimu Misha."


"Aacchh hmmm.." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kamisha karena Xander telah menghujaninya dengan belaian, sentuhan, ciuman bahkan hujaman demi hujaman ia berikan untuk tubuh Kamisha. Demi kepuasan bersama.


Setelah melalui peperangan hebat mereka bergabung dengan mama Attalia dan Axel di meja makan.


"Kenapa cemberut Axel? kau marah dengan mommy?"


"Kenapa mommy bangunnya terlambat? aku sarapan masakannya mbok Sri yang hambar."


"Maaf sayang, semalam mommy mu tidurnya pulas dan daddy tidak tega membangunkannya." jawab Xander. Ia melirik ke arah istrinya. Kamisha hanya tersenyum penuh arti. Hmm semakin pintar membuat alasan batinnya.


Tiba - tiba tangan Xander sudah mulai bergerilya lagi. Ia membelai lembut paha istrinya. Awalnya Kamisha terkejut tapi beberapa detik kemudian menikmatinya.


"Xander, sarapan dulu. Lanjutkan saja nanti di kamar." mama Attalia sepertinya tahu apa yang diakukan anak semata wayangnya itu.


Kamisha hanya tertunduk malu.


"Apa yang di lanjutkan mommy?" tanya Axel.


"Jangan bicara ketika makan Axel." Kamisha memperingatkan.


"Mommy dan daddy mu mau membahas soal adik buatmu Axel." ucap mama Attalia


"Yeayy." Axel bersorak gembira.


Tiba - tiba seorang pelayan masuk. "Maaf tuan Xander, ada tuan Harvey di luar."


"Harvey? kenapa pagi - pagi dia kesini?"


"Sudah kau temui dia dulu." ucap Kamisha.


Xander beranjak dari tempat duduknya menuju ruang depan. Tampak Harvey berjalan mondar - mandir seperti orang kebingungan.


"Hai bro." sapa Xander. Harvey menoleh dan setengah berlari menghampirinya.


"Kau harus menolongku Xander, aku di jebak__ di jebak. Tolong__ tolong aku."


"Dijebak?"


Apa yang sesungguhnya terjadi Harvey ucap Xander dalam hati.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2