Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Pasien yang Banyak Maunya


__ADS_3

Setelah mengantar Axel sekolah, Kamisha segera menuju ke rumah Xander untuk memenuhi tanggung jawabnya. Kyara masih belum mau pulang. Kamisha tidak bisa berbuat apa - apa lagi. Karena yang berhak menentukan kehidupan kita ya diri kita sendiri. Dan juga Kyara sudah besar ia berhak menentukan jalannya sendiri. Kamisha juga sudah menghubungi mbak Ayu dan menjelaskan kondisinya.


Awalnya mbak Ayu agak marah dengan Kamisha karena seperti lepas tanggung jawab. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Kyara sendiri ia akhirnya bisa menerima.


Kamisha sudah sampai di depan gerbang rumah Xander. Dengan satpam ia langsung diperbolehkan masuk.


"Pagi, Ma."


"Pagi Misha, mau ketemu Xander?"


"Iya, ma."


"Bik, tolong antar Kamisha ke kamar Xamder."


"Ka___kamar ma. Apa tidak disini saja, lebih leluasa?"


"Tadi aku sudah menyarankan seperti itu cuma dia bilang bekas jahitannya kalau di buat jalan masih sakit."


"Oh.. begitu."


"Kenapa? kamu keberatan?"


"Oh tidak, bukan seperti itu. Maksud saya apa tidak sopan kalau saya ke kamar pribadi atasan saya, ma."


"Eh ini kan beda, aku yang memintanya. Lagian di rumah ini banyak orang, kalian tidak hanya berdua. Tentu boleh donk."


"Baiklah kalau begitu."


"Bik, tolong antar Kamisha ke kamar Xander."


"Baik nyonya."


Kamisha mengikuti pelayan di rumah Xander naik ke atas. Mama Attalia memperhatikan Kamisha dengan sorot mata bahagia. "Heh calon menantu," gumamnya.


Setelah sampai di atas terdapat beberapa kamar dengan pintu masuk yang tebal dan lebar.


"Ini mbak, kamar pak Xander. Saya tinggal dulu," ucap pelayan itu.


"Terima kasih." Kamisha menarik napas sejenak sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu kamar.


Tok... tok... tok..


"Masuk."


Kamisha membuka pintu itu pelan - pelan. "Selamat pagi pak."


"Akhirnya kamu datang juga." ucap Xander kesal.


"Maaf saya tadi sempat berbincang dengan mama Attalia di bawah."


"Nggak usah terlalu formal. Ini di rumah bukan kantor."


"Tapi tetap saja, saya melakukan ini sebagai bawahan anda."


"Yah terserah kamu lah." jawab Xander. "Aku mau mandi."


"Apa! mandi pak?!"


"Iya, ada yang aneh?"


"Kata dokter, luka bapak tidak boleh kena air."


"Ya sudah di basuh saja pakai handuk basah, aku tidak terbiasa tidak mandi."


"Kalau begitu saya panggilkan pelayan."


"Untuk apa? kamu yang melakukannya."


"Loh kok saya? tugas saya kan hanya merawat luka saja."


"Aku tidak mandi karena luka ini, dan luka ini di dapat karena menyelamatkanmu jadi nyambung."


Kamisha menarik napas panjang, sabar Misha anggap saja ini Axel yang sedang manja dan merajuk batin Kamisha. Ia akhirnya enggan berdebat agar pekerjaannya di sini biar cepat selesai dan kembali ke hotel.


"Baiklah, saya ambilkan air hangat dan handuknya dulu."


Kamisha pergi ke kamar mandi dan mempersiapkan semuanua termasuk sikat gigi. Ia sudah mencampur air dengan essense minyak wangi sehingga tidak perlu memakai sabun. Ia segera keluar dari kamar mandi.


"Aacchhh...!" pekiknya tiba - tiba. Kamisha segera membalikkan badan.


"Jangan teriak - teriak, kenapa sih?"


"Kenapa bapak telanjang?"


"Siapa yang telanjang? aku masih pake celana. Toh kamu sudah sering melihat tubuh suami kamu. Jangan bereaksi berlebihan dong."


Suami apa, suami gundulmu itu umpat Kamisha. Lihat tubuh Rama saja aku belum pernah. Kamisha menarik napas, ia mengeratkan pegangannya pada baskom agar tangannya tidak terlihat gemetar.


Baru kali ini aku menyentuh tubuh pria asing selain bapak batin Kamisha. Berulang kali ia menarik napas dalam - dalam. Ia mulai menyeka lengan Xander dan berkonsentrasi melakukan tugas itu. Berlanjut ke punggung dan terakhir bagian dada depan. Coba kalau ini Laras atau Sofi pasti mereka sudah pingsan. Tubuhnya halus, keras padat, kekar, benar - benar tubuh yang diidamkan para wanita.


"Menikmati tubuhku ini tidak gratis." perkataan Xander membuyarkan lamunan Kamisha.


"Hah, maksud bapak?"


"Kau menikmatinya bukan?"


"Menikmati apa pak?"


"Tubuhku yang kekar ini."


"Hahahahhh.. aduh jangan narsis pak."


"Jangan bohong, aku perhatikan wajah kamut bersemu merah."


"Ah bapak jangan ngaco," ucap Kamisha sambil berdiri dan menaruh kembali baskom ke kamar mandi.


"Perban dan obat - obatanya di mana, pak?"


"Di sana," tunjuk Xander. "Aku belum makan."


"Kok bisa, minum obat harus makan dulu apalagi ini sudah jam delapan. Kalau kebiasaan makan telat bisa sakit maag nanti. Bapak jangan bandel seperti Axel ya. Sakit maag itu bahaya lo, kalau dibiarkan bisa jadi tukak lambung." Kamisha menggerutu tanpa henti.


"Sudah?"

__ADS_1


"Sudah apa pak?"


"Ngomelnya... aku ini pasien Misha. Bisakah kau sedikit lembut padaku. Kalau begini caranya aku bisa nggak sembuh - sembuh."


Waduh kalau nggak sembuh - sembuh bisa di sini terus aku, hidupku akan terganggu batin Misha. "Oh maaf pak Xander. Saat ini pak Xander ingin sarapan apa?"


"Sandwich saja dan segelas susu hangat."


"Baik akan saya buatkan. Permisi."


Kamisha keluar dan turun kebawah. Karena rumahnya sangat besar membuatnya sedikit kebingungan. Karena ini pertama kali ia sampai ke dapur.


Dengan segera Kamisha membuatkan sandwich untuk Xander, agar pekerjaannya cepat selesai dan kembali ke kantor.


"Maaf, menunggu lama. Ini sandwichnya pak."


"Bawa kemari." Kamisha menaruh tepat di depan Xander. "Awas kalau tidak enak." Xander mulai memakan. Ia tidak berkomemtar itu tandanya cocok di lidah. Hanya dalam hitungan menit ia menghabiskan dua buah sandwich dan segelas susu hangat


"Bagaimana pak?"


"Lumayan," jawabnya.


"Kalau begitu saya akan mengganti perbannya." Kamisha mulai mengambil perban, obat untuk luka. Dengan hati - hati ia membuka perban itu.


"Sakit pak?"


"Ya sakit, tapi apa perlu aku menangis seperti Axel."


"Ya tidak," jawab Kamisha. Ia meniup - niup luka itu dengan harapan akan mengurangi rasa sakit itu. Ia mengambil kapas dan menaruh obat sesuai yang diperintahkan oleh dokter. Dengan hati - hati ia mengoleskannya pada luka jahitan. Setelah dirasa obat sudah merata, Kamisha segera menutupnya dengan perban kembali.


"Nah sudah selesai, bapak tinggal minum obat saja, sebentar saya ambilkan air putih dulu."


Kamisha mengambil segelas air putih dan obat dari dokter kemudian menyerahkannya pada Xander.


"Terima kasih," ucap Xander.


"Hmm, karena pekerjaan saya disini sudah selesai maka saya akan kembali ke kantor pak."


"Baiklah,"


"Kalau begitu saya permisi."


Kamisha segera pamit dengan mama Attalia, kemudian kembali ke kantor.


🍁🍁🍁🍁


Setelah sampai di tempat parkir hotel, Kamisha segera keluar. Laras sudah menunggunya dari tadi. Karena berkat bantuan Sofi mereka bisa mendapat tamu yang berjumlah lumayan banyak. Rencananya mereka akan mengadakan acara seminar selama dua hari dan tour wisata.


"Semua kamar sudah semua, Ras."


"Sudah aku cek tadi dengan Norman. Hallroom untuk seminar juga sudah ready."


"Good job."


"Sha."


"Hmm," jawab Kamisha yang masih sibuk dengan berkas diatasnya.


"Gimana keadaan pak Xander?"


"Tapi kenapa sampai tidak masuk?"


"Capek kerja mungkin, boleh dong sekalian istirahat di rumah." jawab Kamisha tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas di depannya.


"Eh kamu tahu nggak keponakanmu dari tadi mencarimu terus. Heboh sendiri kesana kemari. Heh capek deh."


"Mau apa?"


"Ya, aku nggak tahu Sha. Anak - anak tim satu juga tanya kenapa kamu terlambat."


"Aku tadi ada urusan sebentar, ya sudah nanti kalau benar - benar penting dia pasti akan meneleponku."


"Eh sudah jam makan siang nich. Keluar cari makan yuk."


"Kamu duluan saja, masih banyak pekerjaanku yang belum selesai."


"Okelah kalau begitu, aku duluan ya." pamit Laras.


Kamisha melanjutkan pelerjaannya lagi. Ia memang tidak suka menunda pekerjaan. Semua gara - gara Xander membuat pekerjaannya menumpuk.


Hah akhirnya selesai juga batin Kamisha lega. Ia mengangkat tangannya tinggi - tinggi untuk peregangan ototnya. Wah sudah jam dua siang pantas saja perutku keroncongan pikir Kamisha. Ia segera keluar dari ruangan menuju kafe depan hotel. Baru sampai di samping lobby tiba - tiba ada seseorang yang memanggilnya.


"Mbak Misha."


"Rani?"


"Mbak Misha apa kabar?"


"Baik, kamu disini dengan siapa? Rama?"


"Enggak, aku disini dengan klien."


"Oh... mau menginap disini?"


"Iya, sekarang mbak Misha bekerja di sini?"


"Ya, kamu benar."


"Apa mbak Misha bisa menolong saya untuk booking kamar?"


"Bisa. Ayo aku antar ke dalam."


Mereka bertiga menuju ke dalam. Kamisha mempermudah Rani dalam melakukan transaksi. Awalnya Kamisha sempat curiga dengan Rani dan kliennya itu.


Kalau itu murni klien seharusnya Rani hanya mengantarnya sampai ke lobby, tidak perlu masuk ke dalam kamar. Tapi Kamisha tidak ambil pusing toh itu menjadi urusan masing - masing.


Sudah sangat lama mereka tidak bertemu dan tanpa kabar. Kamisha sudah mengubur dalam - dalam kejadian waktu lalu. Sekarang hidupnya sudah bahagia bersama Axel.


Tampak dari jauh Kyara datang bersama rombongan tim satu.


"Mbak bisa bicara sebentar."


"Bisa." Kamisha dan Kyara duduk di kursi sofa dekat dengan lobby.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Xansder?"


Wah pertanyaan menjebak ini batin Kamisha. "Kamu kan kekasihnya, justru lebih tahu kan di banding aku."


"Oh, aku kira setelah dari rumah sakit mbak datang menjenguknya."


"Tidak Kyara, kalau aku menjenguknya pasti aku akan datang bersamamu dan Axel."


"Hmm mbak, mungkin besok aku akan kembali ke rumah."


"Syukurlah kamu sudah tidak marah lagi padaku."


"Tidak mbak, aku sudah bisa menerima alasan mbak Misha."


Maaf Kyara, aku terpaksa tidak mengatakan yang sesungguhnya padamu, aku pikir lebih baik begini. Aku menjaga amanat dari ibu agar menjaga kerukunan keluarga batin Kamisha. "Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan aku akan pergi."


"Eh, tidak ada mbak."


Kamisha beranjak pergi dari lobby. Ia menuju ke kafe seberang hotel untuk makan siang.


🍁🍁🍁🍁


"Saya, tidak mau tahu! cepat katakan dimana istri saya berada!" teriak seorang pria dengan sorot mata berapi - api.


"Maaf pak, siapa nama istri bapak?"


"Rani Eka Putri!"


"Mohon maaf pak, di sini tidak ada tamu yang menginap dengan nama Rani Eka Putri."


"Jangan bohong! kalau tidak akan saya tuntut hotel ini karena menerima tamu yang bukan suami istri!"


"Mungkin bapak bisa memberitahu kami foto ibu Rani?"


Pria tadi membuka handphone nya dan memperlihatkan foto yang ada di galerinya. "Oh, saya ingat ibu ini. Sebentar pak."


Resepsionis tadi segera menelepon seseorang. Tak lama kemudian datanglah Kamisha.


"Ada apa?"


"Mbak Misha masih ingat teman mbak yang tadi siang menginap disini?"


"Oh tamu atas nama Rani."


"Iya betul mbak, sepertinya suaminya datang mencarinya dan membuat keributan disini."


"Suami?" tanya Kamisha. Itu artinya Rama disini batin Kamisha. "Mana orang yang mencari?"


"Itu mbak di sana."


Kamisha menarik napas panjang, malas dia harus berurusan sengan Rama.


"Selamat sore pak, ada yang bisa kami bantu."


"Misha." ucap Rama terkejut. "Jadi kamu yang mengurus booking kamar atas nama istriku! kamu mau balas dendam!"


"Tenangkan dirimu dulu. Memang betul aku tadi yang membantunya memesan kamar. Tapi itu bukan untuk dia tapi untuk kliennya."


"Jangan bohong!"


"Aku tidak bohong. Bisa kamu lihat di data tamu kami. Yang tertera di sana atas nama Baskara, bukan Rani. Dan Rani hanya mengantar saja"


"Di kamar berapa mereka!"


"Kamar 1204."


"Mana kuncinya?"


"Kunci biar petugas hotel yang pegang, karena kami sangat menghargai tamu yang datang."


"Jika benar mereka berselingkuh, akan aku tuntut hotel ini! dasar hotel mesum!"


Kamisha hanya diam melihat wajah Rama, dia sangat bersyukur sudah bebas darinya. Mereka bersama dua orang security ikut naik ke atas. Setelah sampai, Kamisha mulai menekan bel pintu.


"Selamat sore, maaf kami dari pihak hotel. Ada beberapa berkas yang kurang tanda tangan bapak."


Akhirnya pintu terbuka, keluarlah pria tadi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.


"Mengganggu saja."


"Maaf pak___" belum selesai Kamisha berbicara, Rama main nyelonong saja menghajar pria tadi. Terjafilah baku hantam. Rani yang saat itu hanya mengenakan baju tidur hanya bisa teriak dan menangis. Kamisha berusaha melerai akan tetapi malah terdorong hingga keningnya terantuk meja.


"Hentikan...!" teriak Alex yang sudah ada di lokasi. Hanya dengan beberapa gerakan ia berhasil melumpuhkan Rama dan Baskara.


"Lepaskan...!"


"Maaf anda tidak akan kami lepas sebelum anda tenang kembali."


Rama diam saja karena tubuhnya telah terkunci.


"Bawa mereka ke kantor," perintah Alex. Dua orang security langsung membawa mereka ke kantor.


"Mbak Misha nggak apa - apa?"


"Tidak, pak Alex. Terima kasih."


"Sudah tugas saya. Mari kita ke kantor."


"Baik pak."


Kamisha bersama Alex segera menuju ke kantor untuk menginterogasi mereka bertiga. Saat tiba di sana, Rama sudah ditemani dengan pengacara.


"Maaf pak, saya membawa pengacara untuk melindungi saya."


"Silahkan, kami tidak keberatan."


"Saya akan menuntut hotel ini karena membiarkan orang menginap, bukan suami istri dan tanpa buku nikah! Benar - benar hotel mesum! dan saya juga akan menuntut Saudara kamisha karena sudah mengijinkan istri saya menginap bukan dengan suaminya."


"Bapak yakin dengan tindakan bapak?"


"Yakin, sangat yakin bahkan saya akan memenjarakan wanita ini karena membiarkan hal yang tidak baik terjadi."


"Apa...! teriak Kamisha.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2