
Pagi itu Kamisha melakukan aktifitas seperti biasa Laras hari ini tidak masuk karena ia masih shock dengan Norman yang begitu tega memfitnahnya.
Semua perbuatan jahat Norman sudah terbayar dengan pemecatan. Untuk uang yang sudah dia gelapkan tetap harus dia ganti.
Kamisha berada di ruangannya sendiri. Ia masih di sibukkan dengan pekerjaan di depan komputer. Karena hari ini ia kerja sendiri.
"Mbak." panggil seseorang.
"Kyara?" Kamisha tampak terkejut dengan siapa yang ada di depannya.
"Aku mau bicara, bisa?"
"Bisa." Kamisha menghentikan pekerjaannya. Ia mematikan komputer, menata berkas kemudian beranjak dari duduknya. "Ayo kita kesana." Kamisha mengajak Kyara duduk di sofa dekat ruangannya. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Kamisha merasa canggung.
"Hmm mbak."
"Ya."
"Aku mau minta maaf."
"Soal apa? soal Xander? atau soal Axel?"
"Semuanya mbak. Setelah beberapa hari ini aku berpikir dengan jernih, ternyata banyak kesalahan yang sudah aku buat. Baik pada mbak Misha dan Xander ataupun dengan Axel."
"Yakin kesalahanmu hanya dengan kami saja?"
"Aaku.. aku juga merasa bersalah sama ibu juga."
"Banyak sekali sikap yang harus kamu perbaiki, Ra. Aku sering menasihati itu juga demi masa depanmu."
"Awalnya aku sakit hati karena mbak Misha menikah dengan Xander. Aku gelap mata sehingga atas saran dari temanku, aku memberi Xander obat perangsang. Aku mohon mbak Misha jangan mengatakan apa - apa pada Xander."
"Dia sudah tahu. Ada rekaman CCTV yang menangkap kalian sedang berebut Xander denganku."
"Lllantas aapa yang dia katakan?" wajah Kyara tampak pucat dan tegang.
"Aku yang memintanya tidak memperpanjang masalah ini. Karena aku masih menganggapmu sebagai keluarga."
"Bbenarkah?"
"Benar, apa alasanmu melakukan itu?"
"Aku masih tidak terima di campakkan oleh Xander, mbak."
"Saat itu kamu dan Xander tidak pacaran bukan, tidak saling mengungkapkan perasaan hanya karena desakan orang tua maka Xander memilih dekat denganmu." ucap Kamisha. "Memang terkadang ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi itu semua karena ada suatu pelajaran yang bisa kita ambil."
"Ya mbak aku mengerti."
"Oya siapa teman yang sudah membawa pengaruh buruk terhadapmu?"
"Dia.. dia teman kuliahku dulu."
"Lebih baik kau jauhi orang seperti itu. Dia bukan teman yang baik. Dia menjerumuskanmu dalam dosa. Hanya karena masukan dan saran yang menyesatkan hubungan persaudaraan kita bisa rusak."
"Ya mbak."
"Mbak hanya ingin melihat ketulusanmu, apakah kamu benar - benar berubah atau tidak?"
"Maksud mbak?"
"Kau punya anak Kyara, aku ingin kau bisa dekat dan memberi perhatian untuk Axel."
Kyara tertunduk, wajahnya sedih."
"Mbak tidak mau memaafkan aku?"
"Bukan masalah memaafkan, Ra. Tapi apakah kau mau berubah menjadi baik atau tidak."
"Baiklah, beri aku waktu mbak, aku akan berusaha memperlihatkan bahwa aku tulus dan mau berubah menjadi lebih baik."
"Tunjukkan pada Axel. Dia butuh kasih sayangmu, Ra."
"Bukankah dia lebih menyayangi mbak Misha daripada aku."
"Itu karena kamu tidak mau mendekatkan diri padanya. Kamu seperti membuat jarak dengannya. Axel itu anak yang manis, mandiri, pengertian dan bahkan selalu bisa menghibur di saat kita sedih. Alangkah baiknya jika kita berdua bisa saling menyayangi, dia akan menjadi anak yang dipenuhi dengan kasih sayang."
Kyara menitikkan airmata. "Apakah dia mau menerimaku mbak?"
"Tentu saja mau, jika kamu benar - benar berubah. Tunjukkan ketulusan hatimu pada Axel, pada kami."
"Mbak, aku merasa malu karena sudah banyak menyakiti perasaan kalian. Aku benar - benar jahat."
"Sudahlah, Ra. Yang penting sekarang kau berjanji akan berubah menjadi lebih baik. Tuhan masih menyayangimu dengan memberimu kesempatan untuk bertaubat."
"Terima kasih mbak." Kyara memeluk Kamisha dengan erat. Dia menangis sejadi - jadinya.
"Sudah.. sudah.." Kamisha menepuk - nepuk pundak Kyara. "Usap air matamu, malu kalau ada teman yang melihat." Kamisha tersenyum sangat bahagia, matanya berbinar karena melihat keponakannya itu mau bertobat, mau berubah.
Kyara segera menghapus airmatanya. "Mbak aku kembali ke ruangan ya."
"Iya." Kamisha mengangguk.
Sepeninggal Kyara, Kamisha datang ke ruang kerja suaminya.
"Sayang, aku ada kabar gembira."
"Apa itu?"
Kamisha duduk dipangkuan Xander. Dengan lembut Xander melingkarkan tangannya pada pinggang Kamisha.
"Kyara meminta maaf padaku."
"Kyara? minta maaf?" tanya Xander mengernyitkan kedua alisnya seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
__ADS_1
Kamisha mengangguk. "Sepertinya kau tidak percaya ceritaku?"
"Bukan begitu sayang, aku hanya heran saja kenapa tiba - tiba ia minta maaf. Apakah menurutmu tidak aneh?"
"Tidak, yang aneh itu justru kamu. Orang minta maaf kok di bilang aneh." Kamisha memanyunkan bibirnya.
Xander yang melihatnya langsung menyambar bibir itu.
"Ah Xander, kau selalu begitu. Seriuslah sedikit."
"Iya.. iya.. ya sudah kalau kamu percaya padanya aku juga akan berusaha percaya."
"Terima kasih sayang. Aku juga menyarankan kalau dia harus mendekatkan diri dengan Axel."
"Apa dia mau?"
"Mau, dia akan berusaha. Yah kita lihat saja nanti usahanya." Kamisha kembali memeluk suaminya. Ia tampak sangat senang karena Kyara mau berubah.
Xander membalas pelukan Kamisha dengan erat walaupun jujur dalam hatinya ia kurang yakin dengan apa yang dikatakan Kyara. Wanita itu penuh dengan trik. Tapi apa boleh buat, karena susana hati istrinya sedang senang ia tidak mau merusaknya.
Tiba - tiba Xander mengangkat Kamisha dan mendudukkannya di meja kerjanya.
"Apa yang kau lakukan? aku harus kembali ke ruangan."
"Nanti." jawab Xander yang mulai membuka kancing bajunya.
"Tapi___."
"Ini perintah Misha. Aku dikantor adalah atasanmu." potong Xander sambil tersenyum nakal.
Aaahh baiklah.
🌸🌸🌸🌸
Sudah dua minggu ini Kyara menunjukkan sikap baiknya pada Kamisha. Hal itu membuat Kamisha semakin yakin dengan janji Kyara untuk mau berubah. Ia sudah mau menjemput bahkan mengajak Axel jalan - jalan ketika Kamisha sedang sibuk. Axel juga sering bercerita tentang kebaikan - kebaikan Kyara.
"Mbak, hari ini Axel minta di temani menggambar."
"Yah temani saja."
"Nggak apa - apa kalau aku ke rumah mbak Misha."
"Nggak apa - apa. Ada mama kok, kalau kamu dekat dengan mama pasti suka. Mama itu orangnya baik."
"Bagaimana dengan Xander?"
"Tidak masalah."
"Baiklah kalau begitu."
"Oya nanti kamu kalau pulangnya kemalaman biar diantar sopir saja. Malam nanti aku menemani Xander makan malam dengan klien."
"Oh Xander tidak ada di rumah. Aku malah lega. Maaf mbak terkadang aku masih canggung."
"Pelan - pelan, Ra."
"Aku pergi dulu ya, kerjaanku masih banyak."
"Ya mbak."
Kamisha meninggalkan Kyara menuju ke ruangannya. Ia harus bersiap untuk makan malam menemani suaminya. Ia pergi ke salon sebentar agar tidak memalukan di depan klien.
Drrrtt.. drrrtt.. handphone Kamisha berdering.
"Ya halo."
"Cepat pulang nduk. Mbakyu mu kecelakaan dan kritis di rumah sakit."
"Pak, bapak ngomong apa? mbak Ayu kecelakaan?"
"Iya, sekarang kritis. Cepatlah kemari. Ajak Kyara sekalian."
"Bbaik pak, aku dan Kyara akan pulang ke Jogja.
Setelah panggilan di tutup. Kamisha menelepon Xander.
"Ada apa sayang?"
"Mbak Ayu kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis. Aku harus pulang ke Jogja bersama Kyara. Maafkan aku Xander, aku tidak bisa menemanimu makan malam."
"Tidak apa - apa. Makan malam aku batalkan saja. Aku akan mengantarmu ke Jogja."
"Tidak Xander, ini klien yang sangat menjanjikan. Aku dan Kyara akan pukang sendiri saja. Nanti setelah mbak Ayu lewat masa kritis aku akan pulang."
"Tapi aku mengkhawatirkanmu, Misha."
"Ayolah sayang, aku tidak apa - apa. Ada Kyara, kami akan saling menjaga."
"Baiklah kalau itu maumu. Nanti kalian diantar sopir."
Telepon terputus. Kamisha bergegas menelepon Kyara. Dan mereka bersiap berangkat ke Jogja malam ini juga.
Selama perjalanan hanya keheningan yanga ada. Kyara masih terisak dan banjir airmata. Kamisha merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Di dalam benaknya ia berdoa untuk kesembuhan mbak Ayu.
Tengah malam mereka sampai di Jogja dan langsung menuju ke rumah sakit. Kondisi mbak Ayu memang kritis. Banyak alat yang terpasang di tubuhnya dan ia tidak sadarkan diri.
"Bagaimana mbak Ayu pak, sudah ada perkembangan?"
"Belum, kata dokter kalau tiga hari ia bertahan berarti akan lewat masa kritisnya." tampak wajah lelah bapak dengan mata yang basah.
Kyara duduk di sebelah pak Amir dan merangkul pundaknya.
"Kamu yang sabar ya nduk."
__ADS_1
"Nggih mbah."
"Bapak sudah makan?"
"Belum."
"Aku belikan makan dulu ya." Kamish bergegas keluar rumah sakit membeli makanan. Karena ini sudah malam pasti kantin sudah tutup. Beruntung depan rumah sakit ada yang jual nasi rames.
Kamisha melangkah tapi tiba - tiba pandangannya kabur dan terasa berputar -putar.
Aduh kenapa kepalaku ini pikir Kamisha. Ya tuhan aku jangan sampai sakit, bagaimana nanti bapak mengurus mbak Ayu batin Kamisha. Dan.. bruukk!! Kamisha jatuh pingsan. Beberapa security membawanya masuk ke dalam IGD.
Hampir tiga puluh menit Kamisha tak sadarkan diri dan berbaring di ruang IGD. Ia membuka matanya perlahan dengan sedikit mengerjap - erjab sebagai bentuk respon atas masuknya cahaya yang terang.
"Ibu sudah bangun?" tanya salah seorang perawat.
"Dimana saya?"
"Ibu di ruang IGD, tadi security menemukan ibu pingsan di jalan."
"Saya sakit apa?"
"Dokter belum datang ke sini. Hari ini kami baru banyak pasien yang perlu penanganan serius. Kami mohon ibu sabar dulu."
"Maaf, saya tidak bisa berlama - lama disini. Saudara saya di rawat di ryang ICU."
"Oh baiklah kalau begitu. Silahkan tanda tangan beberapa berkas disana." tunjuk perawat itu.
Kamisha berjalan perlahan menuju meja administrasi. Ia segera mengurusnya. Ia sangat menyesal kenapa tadi pingsan. Ia ingin mengetahui bagaimana perkembangan mbak Ayu.
"Bagaimana pak?"
"Masih sama."
"Dokter sudah ke sini?"
"Belum mbak apalagi ini menjelang pagi, dokter mungkin sudah pulang."
"Benar juga katamu."
Kamisha duduk di sebelah Kyara. Mereka bertiga menunggu hingga hampir dua jam.
"Misha sayang." sapa seseorang. Kamisha mendongak dan mendapati Xander sudah berdiri di hadapannya.
Dengan spontan Kamish memeluknya. Pelukan hangat dari suami Inilah yang ia butuhkan.
"Kamu tidak apa - apa kan? wajahmu pucat."
"Aku tidak apa - apa Xander. Please peluk aku dengan erat. Aku membutuhkanmu saat ini."
Xander mempererat pelukannya dan mencium pucuk kepala Kamisha berulang kali. Kyara hanya menunduk melihat pemandangan itu.
Tiba - tiba ada perawat yang datang
"Keluarga ibu Ayu."
"Ya saya." Kamisha melepas pelukannya dan bergegas menghampiri perawat itu diikuti Kyara dan Xander.
"Ibu Ayu sudah sadar, ia memanggil Kamisha apakah orangnya ada sini."
"Itu saya."
"Baiklah ibu dipersilahkan masuk ke dalam ruang ICU."
"Apa saya boleh masuk?" saya anaknya."
"Baiklah, hanya dua orang saja." ucap perawat. "Silahkan pakai baju steril terlebih dulu."
Kamisha dan Kyara segera mengenakan baju steril dari rumah sakit. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan sesuai arahan perawat tadi. Xander hanya melihat dari kaca.
"Mbak." ucap Kamisha lirih.
"Sha, kemarilah." ucap mbak Ayu lemah.
"Bu, aku ada disini."
"Kyara, kau datang?"
"Iya bu."
Kyara menggenggam tangan ibunya. Ibu yang pernah tidak dia akui, ibu yang pernah dia campakkan.
"Sha."
"Ya mbak." Kamish mendekat ke mbak Ayu yang sedang berbaring.
"Hidupku mungkin tak akan lama lagi."
"Ssstt.. mbak Ayu ini ngomong apa? kita akan kembali seperti dulu lagi. Mbak Ayu akan sehat."
Tidak, Sha. Aku rasa hidupku tidak akan lama lagi. Mbak ada permintaan terakhir."
"Apa itu mbak? aku mohon jangan berkata seperti itu lagi."
"Mbak minta jaga bapak dengan baik."
"Baik mbak."
"Jaga juga Kyara, hidupnya selalu sendiri sejak dulu. Aku ingin di merasakan sebuah keluarga yang bahagia."
"Baik mbak, aku akan jaga bapak dan juga Kyara. Sekarang istirahatlah, besok kita berbincang kembali."
Selang beberapa detik setelah percakapan itu, Alat jantung berbunyi tanda bahwa jantung pasien sudah berhenti.
__ADS_1
"Mbak Ayu!" teriak Kamisha sambil menangis.
🌸🌸🌸🌸