Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Kejujuran


__ADS_3

"Kau sedang apa sayang?" Xander pulang malam itu dan mendapati istrinya sibuk dengan setumpuk berkas - berkas.


"Aku sedang memeriksa sesuatu. Kau sudah pulang. Maaf aku tidak menyambutmu." Kamisha menghentikan kegiatannya dan memeluk Xander.


"Kau sudah makan?"


"Sudah, tadi bersama dengan Harvey." jawab Xander. "Yang belum, makan kamu." bisik Xander di telinga istrinya.


"Aaacchh.. geli." Kamisha senang digoda oleh suaminya itu. "Kau mau mandi?"


"Yah, tubuhku rasanya lengket semua." jawab Xander sambil melakukan peregangan otot. "Tapi ada syaratnya."


"Apa? kenapa semakin lama kau semakin manja mirip dengan Axel? mau mandi pake syarat segala."


"Karena aku daddynya." Xander masih menggelayut pada istrinya. "Ayolah setuju dulu."


"Baiklah Daddy Xander, syarat apa?"


"Kau harus menggosok punggungku."


Kamisha tersenyum "Baiklah, aku siapkan dulu airnya."


Kamisha bergegas ke kamar mandi, ia mengisi bathtub dengan air hangat sesuai selera suaminya, dengan sedikit aroma therapy yang menenangkan akan membuat tubuh Xander segar kembali.


"Airnya sudah siap, mandi sekarang?"


Xander segera masuk ke kamar mandi, melepas pakaiannya satu demi satu hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Kamisha tertunduk berusaha menghindari pandangannya dari tubuh suaminya. Setiap kali ia melihat tubuh suaminya jantungnya menjadi tidak beraturan, memang ia masih malu - malu untuk melihatnya apalagi senjata Xander yang selalu berdiri tegak ketika mereka bersatu. Tapi Xander suka dengan sikap istrinya.


"Kenapa menunduk? kalau menunduk bagaimana bisa kamu menggosok punggungku."


"Eh.. iya."


Xander sudah masuk ke dalam bathtub, dengan lembut Kamisha mulai menggosok dan memijat tubuh suaminya. Xander memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh istrinya.


"Pijatanmu menenangkanku Misha."


"Benarkah? aku senang kalau kau menyukainya."


Suasana hening sesaat hanya ada suara percikan air akibat gosokan Kamisha, hingga Xander berbicara.


"Harvey sedang di jebak." Xander mulai bercerita.


"Harvey? dijebak oleh siapa?"


"Kau pasti akan terkejut kalau aku menyebutkan namanya."


"Hmm.. Pria atau wanita?"


"Wanita."


"Siapa?"


"Rani."


"Apa! Rani? Kok bisa?"


"Jadi pagi tadi dia kemari karena di jebak oleh Rani. Malamnya Harvey habis bertengkar hebat dengan Zeline. Dia datang ke klub malam dan mabuk. Kesempatan itu digunakan Rani untuk menjebaknya. Dia buat seolah - olah mereka telah tidur bersama. Rani mengancam dengan menggunakan foto maupun video dan akan dikirim pada Zeline."


"Aku benar - benar tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu."


"Kau kenal Rani sudah lama?"


"Dia memang baru beberapa bulan menjadi karyawanku. Awalnya dia gadis yang manis, kalem, nurut dan tidak neko - neko. Tapi setelah dia merebut___." Kamisha tidak meneruskan kalimatnya, ia merasa tidak enak menyebut pria lain di hadapan suamnya.


"Rama?"


"Eh iya."


"Aku tidak apa - apa. Teruskan saja ceritamu."


"Jadi sejak dia merebut Rama, lama - lama aku tahu pribadinya. Ternyata ia bersembunyi di balik wajah manisnya itu. Ternyata ia serigala berbulu domba."


"Kau mengenal keluarganya?"


"Aku mengenal Rani dari temannya sofi, ia kebetulan saudara jauhnya Rani." jawab Kamisha. "Apa Zeline tahu masalah ini?"


"Aku sudah menyuruh Harvey untuk berterus terang toh dia tidak melakukan apa - apa. Dalam suatu rumah tangga harus ada kejujuran dan komunikasi yang baik." Xander menjelaskan panjang lebar. "Bisakah kau membantuku?"


"Dengan senang hati sayang."


"Aku ingin tahu alamat rumah Rani, agar dia tidak melakukan penipuan lagi."


"Besok pagi aku akan tanyakan pada temannya Sofi."


"Terima kasih sayang." Xander mencium punggung tangan Kamisha. "Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu." Kamisha mencium pucuk kepala Xander dengan lembut.


"Sayang." panggil Xander


"Ya."


"Sepertinya kau juga harus mandi bersamaku." Xander menarik tangan istrinya hingga masuk ke dalam bathtub bersamanya.


"Aaaccchh Xander aku jadi basah!" teriak Kamisha kesal.


"Aku menagih janjimu."


"Janji apa?"

__ADS_1


"Mengeksplor semua tempat saat kita bercinta." Xander mulai melancarkan ciumannya pada tubuh Kamisha. Melihat istrinya dalam keadaan basah membuat gairah Xander memuncak. Ia menjelajahi tubuh istrinya inchi demi inchi.


Memang selama ini kita tidak mengeksplor semua tempat batin Kamisha ketika mendengar alasan klise suaminya. Ya sudah lanjutkan sayang, toh aku menyukainya. Kamisha mulai membalas apa yang dilakukan suaminya pada tubuhnya.


🌸🌸🌸🌸


"Zeline sayang, bisa kita bicara sebentar."


"Kalau soal kemarin malam aku malas membicarakannya, Harvey."


"Tapi aku harus bicara padamu."


"Baiklah aku akan mendengarkannya."


Zeline duduk di sofa dalam kamarnya sambil menunggu suaminya untuk mulai bercerita. Harvey menarik napas panjang.


"Berat dan terus terang aku harus mulai dari mana?"


"Aku akan menunggu."


"Sebelum kita menikah, aku mengenal beberapa gadis. Terus terang saat itu aku belum memiliki tujuan hidup, masih suka berfoya - foya dan pesta. Beberapa gadis yang dekat denganku dengan sukarela menyerahkan dirinya padaku. Dan salah satu dari mereka ada yang hamil."


"Hamil?"


"Iya hamil. Saat itu aku tidak tahu, karena aku pergi begitu saja dan kami tidak pernah berkomunikasi sekalipun. Sampai akhirnya aku mulai mengenalmu dan menata hidupku." Harvey mengambil napas sejenak sebelum meneruskan ceritanya.


"Kalau itu menyangkut masa lalu aku bisa mengerti, setiap orang punya masa lalu." ucap Zeline yang masih berusaha tenang mendengar cerita suaminya itu.


"Setelah kita menikah ada beberapa keluargaku yang memberi tahu tentang kehamilan gadis itu dan aku___ aku berusaha mencari tahu. Aku kembali ke Indonesia dan itu bertepatan dengan kau keguguran." tangan Harvey gemetar, suaranya tercekik dan matanya berkaca - kaca.


"Apa! jadi kau meninggalkan aku demi gadis yang hamil itu." Zeline mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya.


"Bukan sayang, bukan demi gadis itu. Terus terang aku sangat ketakutan jika memang itu benar, dia akan menuntut tanggung jawabku padahal aku sudah memilikimu. Aku bersumpah aku sangat mencintaimu Zeline."


"Kau menyimpan terlalu banyak rahasia denganku Harvey. Inikah yang disebut rumah tangga?"


"Zeline tolonglah, aku sudah mau jujur padamu. Aku tidak ingin berpisah denganmu."


"Lantas bagaimana nasib gadis itu?"


"Aku tidak menemuinya, begitu sampai di Indonesia aku mendengar kabar kau keguguran dan aku langsung kembali menemuimu. Aku tidak pernah tahu gadis itu hingga sampai kita kembali ke Indonesia."


"Maksudmu kau bertemu dengannya saat ini?"


"Ya, ternyata anakku dia tinggalkan dan dirawat oleh orang lain. Kamu mengenalnya."


"Siapa?"


"Gadis itu Kyara."


"Kyara? keponakannya Kamisha? dia tidak punya anak Harvey."


"Tunggu, jadi Axel adalah anakmu?"


Harvey mengangguk.


"Pantas saja wajahnya mirip sekali denganmu."


"Aku baru mengetahuinya saat Xander dan Misha mau menikah."


"Anak itu tahu kalau kamu ayahnya?"


"Sama sekali tidak sayang. Kamisha sangat menyayangi Axel berbeda dengan Kyara. Bahkan Axel pernah mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Kyara. Oleh sebab itu Kamisha tidak akan membiarkan siapapun mengambil Axel dari tangannya."


"Aku benar - benar terkejut Harvey. Aku tidak menyangka kau begitu lama menyembunyikan hal ini dariku."


"Maafkan aku yang pengecut ini." air mata Harvey menetes di pipi.


"Apakah ada lagi yang belum kau ceritakan?"


"Ada."


"Ya tuhan apalagi ini."


"Aku mohon percaya denganku Zeline." Harvey mengatur napasnya untuk mulai menceritakan soal ini. "Kemarin malam setelah kita bertengkar, aku datang ke sebuah klub malam hingga mabuk. Dan ketidak sadaran itu dimanfaatkan oleh seseorang yang licik bernama Rani. Dia membuat foto seolah - olah kami telah tidur bersama."


"Apa! tunggu__ tunggu__! Ini hanya akal - akalanmu saja kan. Sebenarnya kau memang telah tidur dengan perempuan itu. Kau belum berubah Harvey!" Zeline membelalakkan mata tidak percaya jika suaminya tega berbuat seperti itu padanya.


"Tidak sayang! aku bersumpah aku tidak melakukannya."


"Pembohong! cukup! cukup Harvey! aku tidak mau mendengar kebohongan ini lagi." teriak Zeline.


"Sayang percaya padaku."


"Tidak! aku tidak percaya."


"Tanyalah pada Xander, ia tahu segalanya dan akan mengungkapkan kejahatan Rani."


"Tidak! aku tidak mau mendengar apa - apa lagi Harvey! keluar! aku mohon keluar dan tinggalkan aku sendiri!" teriak Zeline. Ia menangis sejadi - jadinya. Semuanya terasa tiba - tiba. Seperti sebuah batu berton - ton yang dijatuhkan dari atas.


Harvey bersimpuh di hadapan Zeline. "Please honey. I'm so sorry. Please forgive me."


"Get out Harvey! let me alone!"


Harvey berdiri sambil mengusap air matanya. Ia tahu istrinya butuh waktu sendiri. "Setelah kamu tenang, kita akan bicara lagi." ucapnya sambil meninggalkan kamar. Harvey pergi agar Zeline bisa lebih tenang.


Setelah kepergian Harvey, Zeline menangis sejadi jadinya. Ia meluapkan semua emosinya disini. Ia sakit, ia merasa di bohongi. Pernikahan yang sudah terjalin selama beberapa tahun ternyata dilandasi dengan kebohongan.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


"Gimana Sha hasil penyelidikanmu semalam?"


"Sepertinya ada yang salah."


"Maksudmu?"


"Ada beberapa bukti nota dan faktur yang memang tidak masuk akal tapi itu asli. Kebetulan tanggal yang tertera itu satu bulan yang lalu, seingatku tim kita tidak ada pengeluaran." jelas Kamisha. "Dan justru aku melihat tim satu yang membeli barang ini. Tapi kenapa malah masuk pengeluaran kita dan itu tanda tanganmu."


"Hah yang benar saja."


"Iya dan aku menemukan beberapa, nilainya juga besar diatas dua puluh juta."


"Nggak__ nggak__ aku nggak melakukan korupsi Sha."


"Iya aku percaya tapi semua bukti mengarah padamu, pada tim kita."


Kamisha dan Laras sama - sama terdiam.


"Hei kenapa melamun?"


"Eh Norman bikin kaget saja." ucap Laras.


"Ngelamunin apa sih?"


"Ini lo bagaimana caranya kita bisa mendapat banyak tamu lagi." sahut Kamisha cepat. Takutnya Laras keceplosan.


"Bukankah bulan ini tamu kita banyak."


"Iya sih, cuma dibandingkan dengan yang lalu kita stagnan. Seharusnya ada peningkatan."


"Yah namanya juga usaha pasti ada pasang surutnya." jawab Norman sambil mengambil kursi dan bergabung dengan mereka. Ia tampak menulis - nulis sesuatu. Walaupun ia seorang pria tulisannya sangat rajin dan rapi. Oleh sebab itu terkadang Kamisha meminta bantuan untuk menulis ketika rapat.


"Ngapain?" tanya Laras.


"Gambar."


"Heh, kurang kerjaan."


"Oya katanya kemarin kau mengajukan pinjaman ke pihak kantor?" tanya Laras.


"Ya benar."


"Istrimu tidak kau ajak kemari, bukankah pengajuan pinjaman harus ada tanda tangan kalian berdua."


"Hehehehh.. tenang saja aku bisa tanda tangan istriku."


Di tengah - tengah mereka mengobrol tiba - tiba Alex datang.


"Maaf bu Misha, anda di panggil pak Xander ke ruang rapat bersama dengan anggota tim dua."


"Oh baik pak Alex, terima kasih." ucap Kamisha. "Yuk kita kesana, Norman kamu bawa buku, Laras kamu bawa laptop."


"Oke siap." jawab mereka bersamaan.


Mereka bertiga menuju ruang rapat. Alangkah terkejutnya Kamisha ketika masuk ke dalam disana sudah ada Nita bagian keuangan, anggota tim satu termasuk Kyara dan Tina dan tim tiga.


Ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak jangan - jangan__ batin Kamisha.


"Silahkan duduk semua." perintah Xander.


Kamisha melihat suaminya sangat serius dan tegang. Padahal tadi pagi ia baik - baik saja, bahkan mereka sempat bercinta sebelum berangkat ke hotel.


"Aku sudah membaca laporan keuangan masing - masing tim. Dan aku melihat ada sesuatu yang janggal dengan laporan dari salah satu tim." Xander menghela napas sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Tim satu laparon keuangan kalian bagus, walaupun ada beberapa biaya yang harus di pangkas."


"Terima kasih pak." jawab Kyara


"Tim tiga laporan keuangan kalian juga bagus walaupun pendapatan kalian masih jauh di bawah rata - rata. Tapi kalian bisa meminimalkan pengeluaran."


"Terima kasih pak, kami akan berusaha untuk mencapai target bulan ini." jawab ketua tim tiga.


"Dan yang sangat membuat saya kecewa adalah tim dua!" nada Xander mulai tinggi dan menatap tajam ke arah Kamisha. "Tim kalian yang kemarin dinyatakan sebagai tim terbaik ternyata kinerja kalian malah menurun!"


"Apa yang membuat bapak kecewa?"


"Nita kamu tampilkan laporan keuangan tim dua."


"Baik pak."


Benar dugaanku, Nita memang sengaja ingin membuat namaku tampak buruk di depan Xander suamiku sendiri. Padahal aku sudah meminta waktu dua hari untuk pembuktian tapi kenapa sebelum jatuh tempo dia sudah melaporkannya pada Xander. Aku belum memiliki bukti kuat ucap Kamisha dalam hati.


"Coba kalian lihat." Xander menunjuk ke layar. "Banyak biaya yang sangat besar yang seharusnya tidak mencapai angka segitu. Biaya tranport, akomodasi, beberapa barang seperti laptop, komputer, mobil dinas yang harganya diluar nalar!"


"Maaf, saya bisa meluruskan hal ini pak. Saya merasa ada yang bermain angka disini."


"Jangan menuduh jika tidak punya bukti!"


Oh, kau berani membentakku. Baiklah jangan harap kita bercinta nanti malam, aku tidak akan mengijinkan tubuhku untuk kau sentuh ucap Kamisha dalam hati. Tapi sebenarnya ia tahu kalau suaminya tidak sungguh - sungguh melakukan itu. Ia hanya menerapkan profesional dalam bekerja.


"Memang saat ini saya belum cukup bukti pak. Kemarin memang saya diberitahu bagian keuangan untuk membenahi laporan jika ada kekeliruan. Saya meminta waktu dua hari sebelum laporan sampai ke tangan bapak. Akan tetapi diluar dugaan laporan itu sudah ada di meja bapak."


"Kau tahu bahwa pengeluaran ini di buat oleh Laras anggota tim mu dan otomatis itu semuanya atas seijinmu."


"Ya benar, tetapi ada beberapa nota dan faktur yang tidak sesuai. Oleh sebab itu saya mohon beri saya waktu dua hari untuk membuktikan bahwa tim saya tidak bersalah."


"Baiklah aku beri waktu kalian dua hari, jika sampai dengan jatuh tempo aku tidak menerima laporan maka kamu dan Laras akan aku pecat!"


Kyara dan Tina tersenyum penuh kemenangan, pertunjukkan inilah yang ingin mereka lihat. Kamisha yang tampak pucat dan direndahkan oleh suaminya di depan orang lain. Sekilas Kyara menatap Nita dengan tatapan penuh arti.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2