Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
One by One


__ADS_3

Pagi itu seperti rutinitas biasa, Xander berada di ruang gym. Ia lakukan untuk menjaga agar tubuhnya tetap bugar. Ia tidak mau lelihatan loyo di hadapan istrinya.


Xander saat itu hanya mengenakan tank top fitness warna hitam berbahan polyster dan celana pendek. Ia menggunakan alat treadmil. Kira - kira baru sepuluh menit, tiba tiba saja ada yang memanggilnya."


"Om Xander."


Xander menoleh dan segera mematikan alat treadmill nya. "Ada apa?"


"Aku membawakanmu handuk."


"Buat apa?"


"Siapa tahu kau membutuhkannya, bukankah kau berkeringat?"


Xander menghela napas. "Kau tidak perlu repot sudah ada Kamisha yang mengurus semua keperluanku."


"Aku hanya ingin membantu tugas mbak Misha."


"Apa Misha seperti membutuhkan bantuanmu dalam melayaniku?" tanya Xander


"Tidak." jawab Kyara lirih.


"Misha itu wanita mandiri, dulu sebelum ada kamu, ia sendiri yang menjaga Axel." sindir Xander.


"Aku tahu, tapi inikah perlakuanmu padaku. Acuh seperti ini."


"Terus kamu maunya aku bagaimana dalam bersikap?"


"Kita seperti dulu lagi."


"Tidak! itu jelas tidak bisa." ucap Xander tegas.


"Minimal kita bisa sebagai teman."


"Dulu aku sudah berusaha menganggapmu sebagai teman. Tapi sikapmu pada istriku yang membuat ku menjadi ragu untuk menganggapmu sebagai teman. Mana ada teman yang tega memberinya obat perangsang?"


"Itu.. itu.. karena hasutan dari temanku?"


"Temanmu yang mana? Kamisha mungkin bisa kau kelabui karena hatinya terlalu baik. Tapi aku tidak."


"Xan__."


"Loh Kyara, mau ikut gym juga? " tiba - tiba Kamisha datang sebelum Kyara melanjutkan perkataannya.


"Nggak mbak."


"Itu bawa handuk?" tanya Kamisha sambil memberikan handuk yang ia bawa untuk suaminya.


"Ehmm, awalnya memang mau gym tapi karena sudah ada om Xander jadi lebih baik aku nanti sore saja."


"Oh ya sudah."


"Kalau kamu tidak jadi gym lebih baik keluar, aku mau bicara penting dengan istriku."


"Oh, baiklah. Aku permisi." pamit Kyara.


Kyara meninggalkan mereka berdua di ruang gym.


"Sayang, kenapa kau mengusir Kyara? tidak seharusnya kau berbuat seperti itu"


"Itu salahmu."


"Loh kok salahku?" Kamisha mengerutkan kedua alisnya tanda tidak mengerti.


"Siapa suruh pakai baju minim begini, aku jadi ingin memakanmu." Xander segera menurunkan tirai dengan menggunakan remote.


"Aaacchh." teriak Kamisha yang sudah ditarik dan jatuh di pangkuan Xander.


Setelah itu mereka melakukan olah raga penyatuan cinta yang membara.


Sementara itu..


"Sial kamu Xander." Kyara membanting pintunya dengan keras. Ia mengambil gunting dalam lacinya dan mulai mencabik - cabik handuk yang awalnya akan dia berikan pada Xander.


"Kamisha! Kamisha! kenapa selalu Kamisha! sialan!" umpat Kyara berulang kali hingga handuk itu terkoyak menjadi potongan kecil. Napasnya terengah - engah, kemudian ia duduk bersimpuh. Airmatanya keluar dan tangannya masih dengan erat mengenggam gunting.


Lama - lama napasnya mulai teratur. Genggangmannya mulai mengendur dan gunting itu akhirnya lepas dari tangannya. Ia segera berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam lacinya. Semacam obat, entah itu obat apa. Dan meminumnya.


"Tenangkan dirimu Kyara, kau mampu bertahan dan pasti akan mendapat kebahagiaan. Pada waktunya semua akan menjadi milikmu." ia berbicara pada dirinya sendiri.


Sambil terus tersenyum ia membereskan handuk yang sudah terpotong - potong ke dalam plastik dan segera keluar menuju meja makan.


"Pagi Axel."


"Pagi, kak."


"Pagi tante."


"Pagi juga Kyara."


"Hmm.. mbak Misha belum turun?"


"Sudah tinggalkan saja mereka berdua. Daripada kita mati kelaparan."


"Hahahh.. oma ada - ada saja." ucap Axel.


"Oya Kyara nanti tante minta tolong kamu antar Axel sekolah, biar nanti sopir yang antar kalian."


"Baiklah tante, nanti sekalian aku berangkat ke hotel."


"Ayo kita sarapan dulu." ajak mama Attalia.


🌸🌸🌸🌸


Sore ini sedikit mendung, Tina memakirkan mobilnya di depan sebuah gang sempit. Ia berjalan menuju sebuah rumah yang tetdapat beberapa kamar.


"Kenapa kau mencariku?"

__ADS_1


"Aku butuh uang Tina."


"Kan sudah ada Kyara yang berjanji membantumu."


"Mana? mana? dasar pembohong!"


"Hei kenapa kau marah padaku Norman. Kalau kamu tidak bekerja sama dengannya tentu saja tidak akan ada kejadian seperti ini."


"Oh, jadi kamu menyalahkanku?!" teriak Norman. "Aku berbuat seperti ini karena siapa heh!" Norman mencekik leher Tina karena jengkel.


"Heghh.. hegghh.. lllepas Norman." mohon Tina.


Mata Norman yang merah menyala dan eratnya cekikan mulai mengendor kemudian ia menghempaskan tubuh Tina.


"Uhuk.. uhuk.. kau mau membunuhku?"


"Kau yang memaksaku melakukan itu semua. Sekarang istriku menelepon mengatakan kalau anakku lagi sakit. Aku butuh uang." teriak Norman frustasi.


"Aku punya sedikit uang, mungkin itu bisa membantumu." Tina menawarkan bantuan. "Tapi tolong jangan sangkut pautkan aku dengan masalah kalian. Pulanglah ke Medan."


"Bagaimana mungkin aku pulang sebelum mendapat pekerjaan lain seperti yang Kyara janjikan? Bagaimana aku harus menjelaskan pada istriku?"


"Maaf Norman aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Selebihnya aku tidak bisa."


Tina meninggalkan uang dua puluh juta di meja dan segera meninggalkan tempat kos - kosan Norman.


Selang beberapa waktu kepergian Tina. Pintu kamar Norman di ketuk tok.. tok.. tok..


"Aneh bukankah tadi Tina sudah keluar, apa ada barangnya yang ketinggalan." pikirnya.


"Ya sebentar Tina."


Pintu terbuka dan alangkah terkejutnya Norman melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Ssi.. ssiapa anda?"


"Kau lupa padaku? baiklah akan aku ingatkan kembali amnesiamu itu." ucap wanita di hadapannya. Dia tampak mengambil sebuah foto. "Masih ingat pria tua ini?"


Melihat foto itu seketika membuat wajah Norman menjadi pucat.


"Bagaimana, sudah ingat?"


"Kkau wanita yang bersama om Dimas, temannya Kyara."


"Kamu benar, bisa aku masuk?"


"Sssilahkan."


Norman mempersilahkan wanita itu duduk di lantai yang hanya beralaskan tikar.


"Perkenalkan namaku Heny."


"Norman." jawab Norman


"Aku tahu kamu sedang mengalami kesulitan sekaligus pengkhianatan."


"Aku pernah berada di posisimu, di khianati oleh seorang teman sekaligus sahabat. Dan aku rasa orang itu sama. Yaitu Kyara." Heny mulai bercerita panjang lebar dan menjaskan siapa Kyara itu sebenarnya.


"Aku tidak menyangka dia bisa sejahat itu."


"Norman aku tahu kamu kesulitan uang, dan aku akan membantumu."


"Kau ingin apa?"


"Heheehhh.. cerdas kamu bisa membaca apa yang aku pikirkan." ucap Heny sambil tersenyum. "Aku tahu kamu orang yang sudah menyerempet om Dimas bukan?"


"Kkau tahu hal itu."


"Aku tahu, jadi aku mohon bekerja samalah denganku untuk membongkar kejahatan Kyara."


"Tidak.. tidak.. yang ada aku akan masuk penjara."


"Tenang aku akan melindungimu, kamu hanya perlu mengaku saja kalau kamu yang sudah menyerempet om Dimas atas suruhan Kyara. Setelah pengakuanmu itu aku akan menyembunyikanmu dan memberimu banyak uang." Heny menghela napas sebentar. "Bagaimana? kau mau?"


Norman tampak berpikir sangat lama. Ia masih ragu - ragu dengan apa yang di sampaikan oleh Heny.


"Tampaknya kau masih ragu - ragu. Baiklah akan aku buktikan." Heny mengeluarkan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal. "Ini uang seratus juta dan tiket kau pulang ke Medan." Heny menyodorkan amplop itu.


Norman terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Uang segitu banyak bisa untuk modal dia di kampung.


"Itu baru uang muka, kalau kau mau bersaksi dan berterus terang tentang apa yang sudah terjadi dan serahkan semua bukti - bukti, aku akan memberimu dua kali lipat lagi."


Iming - iming Heny memang sangat menggiurkan. Dan ternyata usahanya berhasil.


"Baiklah aku setuju."


"Bagus, sekarang ceritalah."


"Saat itu Kyara tahu aku kesulitan keuangan karena hutang keluargaku di kampung sangat banyak. Apalagi hidup di kita besar seperti ini pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia hanya menyuruhku untuk menyerempet orang yang setelah itu aku ketahui namanya Dimas. Melukai orang itu hanya sebagai peringatan saja agar menjauh dari hidup Kyara karena menurut Kyara orang itu sudah menterornya."


"Dia berkata seperti itu?"


"Yah benar, jadi disamping aku kasihan aku juga akan menerima upah yang cukup besar aku setuju saja. Toh itu hanya menyerempet, mungkin hanya akan membuatnya luka lecet saja."


"Tapi justru itu malah membunuh om Dimas."


"Itu di luar dugaan, kepalanya terantuk batu besar."


"Kau tahu apa yang kamu perbuat itu sangat kejam. Kau telah menghilangkan nyawa seorang tulang punggung keluarga."


"Aku tahu aku sangat menyesal. Itu semua diluar perkiraanku."


"Apakah kau punya bukti Kyara yang menyuruhmu?"


"Aku masih menyimpan chat antara aku dan Kyara. Tapi sekarang no itu sudah tidak di pergunakan lagi. Mungkin sudah dimusnahkan olehnya."


"Tenang saja tehnologi sekarang sudah canggih."

__ADS_1


"Setelah dia memberiku uang banyak, dia juga memberiku saran untuk melakukan penggelapan uang di hotel. Karena___."


"Karena apa?" tanya Heny.


"Karena ia tahu aku berselingkuh dengan Tina. Pasti aku membutuhkan uang banyak untuk membelikan Tina berbagai macam pakaian, tas dan juga perhiasan."


"Jadi kau membantunya?"


"Yah dia memegang semua kartuku, dia memiliki bukti video perselingkuhanku dengan Tina. Aku tidak ingin istriku tahu. Aku masih mencintainya tapi aku terjerumus dalam pergaulan yang salah. Dan sekarang aku sangat menyesal."


"Kau juga ada bukti - buktinya?"


"Ada. Aku masih menyimpan berkas penggelapan dana yang kami lakukan dan ada bukti chatnya di nomor yang lama yang sudah tidak dia pergunakan lagi."


"Benar - benar sudah gila, apa yang dilakukan oleh Kyara." Heny sama sekali tidak menduga sahabat dari desa nya dulu sekarang sudah menjadi orang yang kejam. "Baiklah berikan semua bukti itu padaku. Dan aku akan segera memberikan sisa uangnya sesuai perjanjian."


Norman memberikan handphone yang berisi semua percakapannya dengan Kyara, berkas penggelapan uang, kunci motor yang dia gunakan untuk menyerempet om dimas hingga meninggal.


Bagus, aku sudah banyak memiliki bukti kejahatan Kyara. Aku harus menemui Xander dan Kamisha. Aku harus memberitahu mereka bahwa orang yang selama ini dikenal sebagai keponakan yang baik ternyata seorang psikopat pikir Heny.


"Ini sisa uangnya, dua ratus juta. Pergunakanlah baik - baik. Bertobatlah dan kembalilah ke keluargamu."


"Thank's Heny."


🌸🌸🌸🌸


Malam itu Kyara sedang duduk di tepi kolam renang. Ia tampak termenung memikirkan sesuatu.


Tiba - tiba handphonenya berbunyi.


"Halo, mbah Yanti."


"Piye kabarmu nduk?"


"Baik mbah."


"Syukurlah kalau kamu betah tinggal bersama Kamisha. Kau tahu sendiri kan sampai kapan pun bulikmu itu tidak akan memaafkan aku."


"Jangan diambil hati mbah, mbak Misha masih belum bisa melupakan masa lalu. Mungkin itu terlalu menyakitkan buatnya."


"Oya, kemarin mbah menemukan berkas kesehatanmu di kamar."


Deg.. deg.. Kyara diam sesaat. Bagaimana bisa berkas itu ketinggalan di sana pikirnya.


"Jangan khawatir, mbah tidak akan mengatakan pada siapa - siapa soal kondisimu." janji mbah Yanti seperti tahu apa yang sedang dipikirkan cucunya itu


"Mbah kakung?"


"Awalnya dia mau cerita ke Kamisha anak kesayangannya tapi sudah mbah cegah karena kamu sudah sembuh. Ya kan?"


"Eh iya mbah, aku sudah sembuh. Bukankah sudah ada surat keterangan uang menyatakan kalau aku sudah sembuh. "


"Syukurlah, kamu sudah sembuh. Kamu itu cucu kesayangan mbah, jadi mbah minta jangan terlalu banyak pikiran."


"Ya mbah terima kasih perhatiannya."


"Eh ada satu lagi, kemarin teman sekolahmu yang dulu itu yang pindah ke Jakarta datang kemari."


"Maksud mbah, Heny?"


"Yo bener, jenenge Heny."


"Buat apa dia kesana?"


"Katanya melayat ibumu, dia itu orangnya baik. Dia membawa beras, gula dan juga uang."


Kyara terdiam, ia cemas dengan kedatangan Heny ke Jogja. " Mbah tidak cerita soal kesehatanku kan?"


"Ya enggak to. Buat apa mbah cerita."


"Oh syukurlah."


"Sudah nggak usah banyak pikiran. Tenang saja mbah akan tutup mulut soal kesehatanmu."


"Terima kasih mbah."


Panggilan diakhiri.


Apa yang Heny lakukan di Jogja, apa dia mencari informasi tentang masa lalu ku. Sepertinya dia tidak bisa aku anggap remeh. Aku harus mengawasinya pikir Kyara.


Ia memutuskan untuk tidur dan menyusun strategi. Ketika ia berjalan melewati ruang tengah ia mendengar suara handphone berdering.


"Handphone siapa itu." gumamnya.


Ia memutuskan mencari sumber suara. Dan tampaklah sebuah handphone yang ia tahu milik Kamisha.


"Handphonenya mbak Misha." gumamnya lagi. Ia mengambil handphone itu dan melihat siapa yang sudah meneleponya malam - malam begini. Ternyata terdapat nama Heny pada layar.


Deg.. deg.. deg.. Sialan apa yang dilakukan Heny dengan menelepon mbak Misha. Dengan cepat Kyara me reject panggilan itu.


Heny menelepon kembali dan dengan cepat juga Kyara merejectnya. Seperti itu hingga tiga kali.


Tiba - tiba..


"Mbak Kyara."


"Eh mbok Sri bikin kaget, ada apa mbok?"


"Itu disuruh cari handphone mbak Misha yang ketinggalan disini."


"Oh, ini. Tadi niatnya mau aku bawa ke atas. Tapi karena sudah ada mbok Sri ya aku titipkan mbok Sri saja."


"Eh.. iya mbak."


"Ya sudah aku ke atas mau istirajat ya mbok."


Kyara menaiki tangga naik ke dalam kamarnya. Aku hatus lebih hati - hatk. Teturama dengan Heny. Jangan sampai dia menggagalkan rencanaku. Tidak boleh ada orang ikut campur dalam urusanku terutama menyangkut Xander. Atau dia akan terima akibatnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2