Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Hamil


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Xander menjalani terapi akan tetapi belum ada perkembangan apakah ia akan bisa berjalan lagi atau tidak.


Selama itu pula ia hanya bisa memimpin perusahaan di rumah. Sedangkan Kamisha sementara ini tidak bekerja lagi di hotel karena fokus mengurusnya


"Dari mana kamu?" tanyanya saat Kamisha masuk ke dalam kamar.


"Tadi bantu mama mengurus taman di samping." jawab Kamisha. "Kau menginginkan sesuatu?"


"Tidak."


"Baiklah kalau begitu aku mandi dulu." pamit Kamisha.


Sejak Xander sakit Kamisha tidak bisa berlama - lama jika ingin keluar. Ada Xander yang setiap waktu membutuhkan bantuan. Untuk sementara ini ia tidak menginginkan orang lain mengurusnya kecuali Kamisha.


Tak berapa lama Kamisha keluar hanya menggunakan handuk saja. Kebetulan ia tadi memang lupa membawa pakaian ke dalam kamar mandi.


"Misha."


"Oh ya sayang. Kau membutuhkan bantuanku?"


"Kemarilah."


Tanpa menunggu lama Kamisha segera menghampiri Xander. Dengan tiba - tiba tangannya di tarik hingga tubuhnya jatuh menimpa tubuh Xander.


"Kenapa kau menggodaku?" tanya Xander sambil membelai pipi Kamisha dengan lembut.


"Aaku tidak menggodamu."


"Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Xander. Dengan sekali tarikan handuk itu lepas dari tubuh Kamisha.


"Ssayang aapa yang kau lakukan?" dengan spontan kedua tangan Kamisha menutupi kedua bukit kembarnya yang terpampang nyata.


Xander mulai mencium bibir Kamisha dengan perlahan tapi sangat mendalam, itu ciuman terpanas yang pernah Kamisha rasakan selama menikah, bahkan ia kewalahan mengimbangi permainan Xander. Apalagi mereka hampir dua minggu tidak berhubungan.


"Aku merindukanmu, Misha." bisiknya terengah - engah di sela ciumannya. Kedua tangannya sudah memainkan kedua bukit kembar hingga Kamisha setengah sadar merasakan nikmatnya sentuhan yang memang ia rindukan. Tapi apa boleh buat semua harus ia tahan, suaminya saat ini sedang sakit.


Hanya lenguhan panas yang keluar dari mulut Kamisha. Akhirnya dengan sedikit memberanikan diri Kamisha mengambil alih permainan. Ia mulai naik ke atas tubuh Xander. Membuka kaos yang dipakainya. Ia mengambil inisiatif untuk memulai permainan.


Akhirnya dua insan yang sudah lama saling merindukan itu polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Kamisha turun ke bawah dan bermain - main dengan milik Xander yang tegak gagah perkasa, seperti anak kecil yang mendapat permen lolipop.


"Terus sayang."


Kamisha bisa merasakan suaminya itu sangat menikmati permainan. Hal itu membuatnya semakin bersemangat.


Tiba - tiba..


"Stop Misha!" perintah Xander.


Kamisha yang sudah hanyut dalam permainannya sendiri tidak mengindahkan perintah Xander.


"Stop Misha! aku bilang stop!" perintah Xander. Kali ini suaranya lebih keras. Kamisha segera menghentikan permainannya. Ia memandang Xander seolah tidak percaya. Dulu jika sudah seperti itu tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Sayang." gumam Kamisha.


"Stop! stop!"


"Ttapi kenapa?"


"Aku tidak menginginkannya."


"Kkau tidak menginginkanku?" Kamisha kembali duduk di pangkuan Xander. Ia kembali mencoba membangkitkan keinginan Xander untuk bercinta. Ia bahkan menggesek - gesekkan miliknya dengan milik Xander. "Aku menginginkanmu sayang, please jangan menolakku." Kamisha memohon.


"Aku cacat Misha, aku tidak bisa membahagiakanmu!" Xander memalingkan muka.


"Biar aku, biar aku yang membahagiakanmu, ijinkan aku mengendalikan permainan ini sayang." Kamisha menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Xander.


"Tidak, aku tidak suka permainan seperti itu. Kau akan semakin menyakitiku. Aku orang yang suka mengendalikan semuanya, suka menguasai permainan. Dan sekarang lihat kondisiku terbaring kaku tidak bisa melakukan apa - apa. Coba kau pikirkan bagaimana perasaanku."


Kamisha turun dari pangkuan Xander. Ia segera memungut handuk yang telah jatuh di lantai dan mengenakannya kembali. Ia sangat mengerti kondisi kondisi Xander saat ini dan sabar untuk menghadapinya. Ia segera berpakaian.


"Maafkan aku sayang, aku egois." ucap Kamisha. Ia mengambil kaos dan celana yang baru untuk Xander. "Ayo pakai baju dulu."


Dengan pasrah Xander mengikuti perintah Kamisha.


"Mau aku kupaskan buah? atau kau ingin camilan yang lain? akan aku buatkan."


"Buah saja."


"Baiklah, buah dan segelas susu hangat." Kamisha mengecup kening Xander dengan lembut sebelum pergi menuju ke dapur.


🌸🌸🌸🌸


Sudah satu bulan ini Xander mengalami kelumpuhan. Ia sudah melakukan terapi dan semua saran dari dokter akan tetapi hasilnya sama saja.


Dan selama itu pula Kamisha selalu mendampingi Xander. Terkadang emosi Xander yang tiba - tiba meluap sehingga sering marah diterima Kamisha dengan penuh kesabaran. Tubuh Kamisha akhir - akhir ini sering lelah karena harus mengurus Xander dan Axel. Ia berusaha untuk bertahan. Ia kesampingkan rasa lelah itu.


Ia memandikan tubuh Xander di dalam kamar mandi. Di bawah guyuran shower agar tubuh suaminya itu segar kembali.


"Sayang bagaimana kalau kita periksa keluar negeri?"


"Aku juga berpikir seperti itu."


"Minggu depan kamu kontrol ke rumah sakit. Bagaimana kalau kita sekalian konsultasi aoakah kondisimu memungkinkan untuk oeriksa keluar negeri."


"Yah, kamu benar." jawab Xander.


"Xander sayang, hari ini Kyara tidak bisa menjemput Axel." ucap Kamisha sambil menggosok punggung Xander.


"Seharusnya itu tugasnya."


"Iya aku tahu. Tadi dia ijin karena ada rapat dengan klien di hotel."


"Kau mau menjemput Axel?"


"Kalau kau mengijinkan aku keluar. Kalau tidak biar sopir yang menjemputnya."


Xander hanya diam sambil menikmati guyuran air dari shower.


"Maafkan aku." ucapnya tiba - tiba.


"Untuk apa?"


"Menyusahkanmu."


"Tidak sayang, aku senang merawatmu. Aku merasa menjadi orang paling penting di hidupmu."


"Terima kasih Misha."


Kamisha memeluk Xander dan memberinya senyuman yang paling manis.


"Oya Sofi juga beberapa kali kemari tapi saat itu kamu sedang istirahat. Jadi dia hanya titip salam." Kamisha bercerita sambil mengeringkan tubuh Xander.


"Misha."


"Ya sayang."


"Keluarlah menjemput Axel. Jika kamu ingin bertemu dengan Sofi , aku juga mengijinkan."


"Benarkah? kau tahu kan kalau sudah bertemu dengan Sofi tidak bisa hanya sebentar. Ia tukang cerita." ucap Kamisha. "Lain kali saja, aku menunggumu sembuh."


"Aku tidak apa - apa. Keluarlah untuk mencari hiburan. Kau pasti jenuh di sini."


"Tidak sayang, kau hiburanku. Dan aku tidak suka kau menganggapku jenuh."


"Iya.. iya.. aku tahu kau yang paling mencintaiku." Xander tersenyum sambil menarik Kanisha untuk duduk dipangkuannya. "Jemputlah Axel, ajak dia jalan - jalan sebentar bersama Sofi."


"Baiklah kalau kau memaksa." Kamisha segera memakaikan baju Xander dan membawanya kembali ke tempat tidur. Ia segera berganti pakaian untuk menjemput Axel.


🌸🌸🌸🌸


"Ah akhirnya kita bisa ketemu." ucap Sofi.


"Ya tapi aku tidak bisa lama - lama."


"Dasar bucin."


"Sekarang suamiku itu butuh dukunganku."

__ADS_1


"Ini kamu bisa keluar?"


"Itu karena dia tidak tega padaku dan Axel yang harus di rumah terus merawatnya. Dia takut aku jenuh. Padahal sama sekali tidak." jawab Kamisha sambil menghela napas. "Aku berusaha menghargai usahanya untuk membahagiakan aku."


"Bagaimana dengan keponakanmu itu? sudah pindah dia?"


"Dia masih di rumahku."


"Gila! kenapa kau masih bersimpati dengannya?"


"Saat ini aku butuh tenaganya untuk membantuku mengurus Axel. Kau kan tahu Xander tidak mau diurus siapa - siapa selain aku."


"Rumah kontrakan?"


"Kebetulan yang di cari oleh Alex tidak jadi pindah bulan ini, bulan depan baru kosong."


"Ya sudah aku doakan biar ia cepat pindah."


"Awalnya aku juga merasa tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi aku butuh tenaganya. Apalagi aku teringat pesan mbak Ayu dan ibu. Keluarga jangan terpecah, harus dijaga keutuhannya."


Kamisha terdiam matanya menerawang mengingat orang - orang terdekat yang sudah meninggalkannya.


"Ya sudahlah kalau itu keputusan kalian. Oya aku lihat kamu sedikit lebih berisi, padahal kalau orang yang suaminya sakit akan tambah kurus karena sibuk mengurusnya."


"Jadi kau mengatakan aku tidak mengurus suamiku dengan baik."


"Nggak, cuma aku lihat kamu lebih berisi." sahut Sofi. "Lihat itu baju yang kau pakai sudah pres body semua, eh kamu sudah datang bulan?" tanya Sofi tiba - tiba.


"Apa hubungannya?"


"Ya ada dong. Kamu kan tambah gemuk siapa tahu aja itu perut sudah ada isinya."


Kamisha tampak terdiam. Memang akhir - akhir ini ia jarang mengecek sirklus datang bulannya. Terakhir datang saja ia sudah lupa kapan.


"Mommy!" panggil Axel.


"Eh ya sayang."


"Mommy melamun."


"Maaf sayang. Ada apa?"


"Aku mau main disana?"


"Boleh, tapi jangan lama - lama. Sebentar lagi mommy pulang."


"Iya aku tahu." ucap Axel sambil berlari menuju taman bermain.


"Hei kok terdiam?" tanya Sofi. "Jangan - jangan benar."


"Aku belum tahu. Beberapa kali aku memang merasakan mual dan pusing tapi karena berbagai masalah yang ada, aku tidak begitu memperhatikan."


"Sudah periksa saja."


"Baiklah aku akan memanggil Axel."


"Oke aku bayar ke kasir dulu."


Kamisha berjalan menghampiti Axel yang masih asyik bermain. Di tengah perjalanan tiba - tiba saja kepalanya kembali pusing. Ia berpegangan pada kursi dan hampir terjatuh. Beruntung saja ada orang yang membantunya.


"Kamu baik - baik saja?"


Kamisha mengangguk. Orang tadi membantunya duduk. Baru sepersekian detik Kamisha menyadari. "Agung?"


"Yah, kita ketemu lagi."


"Sama siapa di sini?"


"Tuh istri dan mertuaku duduk disana." tunjuk Agung.


Tampak seorang wanita muda melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Kamu kenapa Sha?" tanya Sofi panik. "Aku ambilkan minum dulu."


Sofi dengan segera mengambil minuman untuk Kamisha. Tak berapa lama dia kembali dengan segelas teh hangat di tangannya.


Kamisha meminum beberapa teguk. "Sudah."


"Sha, lebih baik kamu periksa. Ini tidak hanya satu atau dua kali terjadi padamu."


"Yah.. rencananya aku memang akan periksa dengan Sofi hari ini." jawab Kamisha."Oya ini Sofi sahabatku." Kamisha memperkenalkan Sofi. "Sof, ini Agung teman sekolahku waktu di Jogja."


Mereka saling berjabat tangan.


"Ya sudah kalau kamu akan periksa hari ini. Aku akan kembali ke mejaku, istriku sudah menunggu."


"Ya terima kasih. Salam buat istri dan orang tuamu."


Agung kembali ke mejanya.


"Ayo kamu harus periksa ke dokter hari ini."


"Tapi Sof, aku sudah lama meninggalkan Xander."


"Cuma sebentar, setengah jam juga nggak ada. Kalau memang kamu hamil, ini akan jadi penyemangat buat Xander sembuh."


"Baiklah, ayo."


Mereka bertiga segera menuju ke rumah sakit ke spesialis obgyn. Setelah mengantri dua orang giliran Kamisha masuk. Ia segera di tes menggunakan test pack.


"Selamat ibu Kamisha, anda positif hamil."


"Ssaya hamil dok?" tanya Kamisha tidak percaya, matanya berkaca - kaca mendengar perkataan dokter. Sofi menggengggam tangan sahabatnya.


"Lihat ini." dokter memperlihatkan hasil testpack. "Garis dua. Tapi untuk memastikan lagi kita akan periksa dengan USG. Silahkan ke tempat tidur."


Tangan Kamisha gemetar, ia seakan tidak percaya bahwa di dalam perutnya ada kehidupan.


"Kandungan ibu sangat sehat, untuk trisemester pertama memang wajar jika anda sering mengalami mual atau pusing."


"Kira - kira kandungan saya sudah berusia berapa dok?"


"Hmm, sekitar dua belas minggu."


"Ya tuhan kenapa saya hampir tidak menyadari kalau saya hamil, maafkan ibu nak." ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Itu wajar, apalagi sang ibu mungkin saja sibuk sehingga tidak memperhatikan siklus datang bulannya." dokter memberi penjelasan. "Kandungan ibu sehat dan kuat. Jadi nanti akan saya beri vitamin saja. Perbanyak makan sayur dan buah."


"Terima kasih dokter."


Kamisha keluar dari ruangan dokter masih juga tidak percaya bahwa ia sudah mengandung buah cinta kasihnya bersama dengan Xander. Ia yakin Xander pasti akan senang mendengar berits ini.


🌸🌸🌸🌸


Drrrtt.. drrtt.. drrtt.. sebuah pesan masuk dalam handphone Xander. Ia berusaha meraihnya. Tangannya gemetar begitu melihat isi pesan yang dikirim kepadanya.


"Pelayan!!! pelayan!!!" teriaknya.


Dengan tergopoh - gopoh pelayan datang ke kamar Xander.


"Saya tuan."


"Mana istriku?!!"


"Belum pulang tuan."


"Kurang ajar!! bantu aku keluar!!"


"Baik tuan."


Pelayan membantu Xander ke kursi rodanya. Tiba - tiba dari arah luar datanglah Kyara. "Ada apa ribut - ribut?"


"Sudah diam itu bukan urusanmu!"


Kyara hanya diam melihat Xander yang tampak murka.


"Lihat di luar apakah Kamisha sudah pulang." perintahnya pada pelayan.

__ADS_1


"Baik tuan."


"Oh kau menunggu mbak Misha." ucap Kyara. "Heh dasar cacat, tidak bisa apa - apa."


"Diam kau!!!"


"Sekarang kau tidak bisa sombong lagi. Kau orang yang cacat dan tidak berguna. Pantas saja mbak Misha bosan denganmu."


"Apa maksudmu? kau jangan menuduh orang tanpa bukti."


"Tanpa bukti? aku ada buktinya." ucap Kyara meyakinkan.


"Mana buktinya?"


"Heh, sekarang kau mau percaya denganku." Kyara tersenyum smirk. "Lihat ini." Kyara memperlihatkan beberapa foto Kamisha sedang di rangkul oleh seorang pria yang ia kenal. Yah itu Agung, teman dekat Kamisha waktu di Jogja.


"Agung itu cinta pertama mbak Misha." ucap Kyara.


"Tidak itu tidak benar! aku percaya istriku! aku harus mendengarnya sendiri dari mulutnya!"


"Hahahahhh.. mana ada maling yang mengaku. Yang ada penjara penuh." ucap Kyara. "Xander.. Xander.. aku tidak habis pikir, bukti sudah ada di depan mata masih saja kau mengelak. Foto yang aku berikan itu sudah lama sebelum kamu kecelakaan. Lihat saja tanggalnya."


Xander melihat kembali handphone Kyara.


"Ini tidak mungkin, dia mencintaiku."


"Dulu, tapi sekarang lihatlah dirimu yang cacat dan hanya bergantung pada orang lain. Kau adalah beban untuknya." Kyara memandang Xander dengan tajam. Ia terus memprovokasi. "Kau sekarang bisa apa Xander, dasar cacat, lumpuh."


"Misha bersedia merawatku."


"Itu hanya tampak di depan saja. Kalau kamu tidur dia akan pergi menemui Agung, pria yang gagah dan tidak cacat sepertimu."


"Diam! tutup mulutmu!"


"Aku akan terus menyatakan kebenaran. Buka matamu itu, jangan tertipu dengan sikapnya yang begitul mendewakanmu. Mbak Misha itu main belakang. Dan caranya sangat halus."


Mata Xander merah menyala, tangannya mencengkeram pegangan kursi roda hingga kuat. Ia dibutakan oleh amarah.


Sementara itu...


"Makasih, Sof kau sudah mengantarku pulang."


"Iya sama - sama. Aku doakan kau akan mendapat kebehagiaan setelah ini, Sha."


Kamisha segera masuk ke dalam rumah. "Axel istirahatlah di kamar, mommy mau menemui daddymu."


"Baik mommy."


Setelah melihat putra semata wayangnya masuk ke dalam kamar. Kamisha segera melangkah ke dalam kamarnya. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahu suaminya tentang kehamilannya.


Begitu membuka pintu, ia tampak heran kenapa kamar dalam keadaan gelap. Ia segera menyalakan saklarnya. Terkejutlah ia dengan keberadaan Xander di kursi roda. Dan sebuah koper di sampingnya.


"Sayang." sapanya sambil mendekat ke arah Xander.


"Jangan mendekat!"


Kamisha tampak terkejut dengan sikap dingin suaminya.


"Dari mana saja kau?"


"Aku dari menjemput Axel, terus ketemu Sofi di cafe."


"Jangan bohong! Kenapa jam segini baru pulang?"


"Itu karena___." belum selesai Kamisha menjawab sudah dipotong oleh Xander.


"Karena kau bertemu dengan kekasihmu bukan?"


"Kekasih? kekasih apa? aku tidak mengerti arah pembicaraanmu sayang?"


"Tidak mengerti atau pura - pura tidak mengerti. Kau berselingkuh di belakangku Misha!"


"Aaku berselingkuh? berselingkuh apa?"


"Tidak usah mengelak! ini buktinya!" Xander melempar handphone itu ke bawah. Dengan cepat Kamisha memgambilnya. Ia melihat di dalam galeri ada foto - fotonya sedang di rangkul oleh Agung dalam berbagai pose. Ia menjadi ingat, itu adalah foto - foto ketika ia hampir saja pingsan yang ditolong oleh Agung.


"Aku bisa jelaskan ini sayang."


"Tidak perlu kau jelaskan! aku sudah muak dengan melihatmu! dasar wanita bermuka dua!" ucap Xander yang tersulut emosi


"Sayang__." Kamisha mulai terisak. "Jangan menuduhku seperti itu."


"Aku tidak.menuduhmu, itu semua benar! Kau senang kan aku lumpuh dan cacat seperti ini! kau mentertawakan aku dari belakang!"


"Tidak sayang itu tidak benar." Kamisha mendekat dan memegang tangan XNder. "Aku mencintaimu."


Xander menepis tangan Kamisha dengan kasar. "Aku haramkan tanganmu untuk menyentuh tubuhku! dasar pengkhianat!"


"Xander dengarka___."


"Aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu yang berbisa! aku muak melihat wajahmu! keluar dari rumah ini"


"Sayang___." Kamisha terisak hingga is bersimpuh di depan Xander.


"Keluar! keluar! atau aku suruh pelayan menyeretmu keluar!"


Kamisha masih tetap bersimpuh, ia tidak mau keluar.


"Pelayan! pelayan!"


"Iya tuan." datang pelayan dengan tergopoh - gopoh.


"Bawa perempuan ini keluar! aku tidak sudi melihatnya!"


"Jangan! jangan usir aku sayang! aku bisa jelaskan ini, kamu jangan emosi."


"Cepat bawa dia keluar dari rumah ini! atau kalian akan aku pecat!"


Dari atas mama Attalia turun dengan cepat. "Ada apa ini kok ribut - ribut?"


"Mama tidak usah ikut campur masalahku!"


"Xander tenang dulu."


"Lihat itu menanyu mama yang selama ini terlihat alim ternyata dia berselingkuh di belakangku!"


"Kau salah paham Xander."


"Aku tidak salah paham! cepat bawa dia keluar!"


Pelayan itu akhirnya memegang tangan Kamisha dan menatiknya keluar. "Maaf nyonya Kamisha, saya hanya melaksanakan tugas."


"Xander tolong jangan usir aku." Kamisha terus menangis memohon. "Kau salah paham sayang."


"Keluar! keluar!" Xander histeris hingga melempar dan membanting beberapa barang.


Mama yang melihat situasi yang tidak kondusif berusaha melindunhi Kamisha. Ia membawa Kamisha keluar.


"Itu tidak benar, ma. Ada yang memfitnahku."


"Mama tahu, mama percaya padamu. Tapi Xander telah eìmosi seperti itu." ucap mama. "Untuk sementara malam ini pergilah ke apartemen mama bersama Axel. Kalian tinggal di sana dulu."


"Tapi ma__."


"Misha saat ini emosi suamimu tidak terbendung lagi bagai api yang menyalan panas. Menghindarlah sebentar hingga situasi mereda. Mama akan membujuknya dan menyelidiki masalah ini sampai tuntas." ucap mama. "Demi kesehatan suamimu, jika dia emosi terus dalam situasi seperti ini mama takut kesehatannya akan memburuk."


Kamisha memeluk mama dengan erat. "Aku tidak selingkuh ma. Aku sangat mencintai Xander."


"Mama tahu, mama percaya padamu." dengan hangat mama memepuk - mepuk punggung Kamisha untuk menenangkannya. "Sopir akan mengantarmu, bersabarlah Misha."


"Baik ma."


Kamisha dan Axel meninggalkan rumah Xander untuk menuju apartemen mama. Sepasang mata dari lantai dua melihatnya kepergiannya dengan puas.


Mama Attalia tampak sedang menelepon seseorang. "Alex, aku ingin kau kesini malam ini juga." perintahnya.di telepon.


Aku harus mengetahui kebenarannya, jika memang benar masalah ini melibatkan Kyara aku tidak akan segan memasukkannya ke dalam penjara. Aku sudah mencurigainya sejak lama. Ia telah menghancurkan lebahagiaan anak dan menamtuku.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2