
Hari berganti hari, tanpa terasa sudah mendekati waktu Kamisha untuk melahirkan. Tapi beberapa bulan ini ia harus bolak balik dari Jogja Bandung untuk menghadiri sidang Kyara.
Memang dari dokter jiwa menyatakan bahwa Kyara mengidap gangguan mental akan tetapi dari keluarga para korban meminta ia tidak di masukkan dalam rumah sakit jiwa tapi di penjara selama - lamanya.
Hari ini Kamisha ke Bandung. Karena sudah memasuki libur sekolah ia mengajak Axel untuk ikut serta.
Perjalanan kali ini mereka naik kendaraan pribadi yang sudah dikirim oleh mama Attalia. Dari mama Attalia ia tahu kalau Xander menjalankan pengobatan di Singapore. Yang sangat ia sesalkan kenapa Xander tidak pamitan kepadanya. Minimal memberitahu atau hanya sekedar menyapa.
"Kita akan tidur di rumah oma?" pertanyaan Axel membuyarkan lamunan Kamisha.
"Eh ya sayang."
"Aku sudah rindu dengan daddy. Apakah daddy sudah sembuh?"
"Belum Axel. Daddy mu berobat ke Singapore."
"Jauh sekali, bagaimana jika mommy melahirkan nanti?"
"Hahahahh.. kamu tidak perlu khawatir. Ada oma, ada mbok Sri dan juga ada dokter."
Axel kembali melihat pemandangan di luar. Mereka sudah sampai di Bandung. Suasana kota ini membuat Kamisha merindukan banyak hal, terutama kenangannya dengan Xander. Ia bingung dengan status pernikahannya. Sampai sekarang pun Xander belum bisa di ajak bicara baik - baik. Mereka terus lanjut atau mengakhiri pernikahan ini.
"Mbak Misha, kita sudah sampai." ucap mbok Sri.
"Oh iya mbok."
"Mbak Misha sakit?"
"Tidak, aku hanya lelah."
"Mari mbak." mbok Sri membuka pintu mobil dan membantu Kamisha turun. Sedangkan Axel sudah lari ke sana kemari.
"Kamu capek sayang." sambut mama.
"Sedikit ma."
"Istirahat saja dulu. Mama sudah menyiapkan kamar di bawah agar kamu tidak naik turun tangga."
"Dimana, ma?"
"Di kamar kalian yang dulu, waktu Xander sakit. Tidak apa - apa kan?"
Kamisha terdiam cukup lama, kalau seandainya dia meminta ganti kamar tentu akan merepotkan mama Attalia. "Tidak apa - apa." jawab Kamisha sambil tersenyum.
Mereka segera masuk dan menaruh koper disana. Kamisha duduk di pinggir tempat tidur. Perutnya yang sudah besar terkadang membuatnya tidak leluasa bergerak.
"Mbok taruh situ saja."
"Baik mbak. Kalau begitu saya permisi dulu karena mau membereskan kamar Axel."
Kamisha mengangguk. Setelah kepergian mbok Sri. Kamisha mulai menata pakaiannya di almari. Ia tidak banyak membawa baju karena ia hanya akan tinggal selama empat hari. Begitu sidang selesai ia akan segera pulang. Terlalu banyak kenangan di kota itu. Ia hanya ingin fokus pada kelahirannya.
Banyak baju Xander yang masih tertinggal. Aroma badan Xander masih melekat disana. Tapi entah kenapa ia justru merasa lebih tenang. Di hirupnya dalam - dalam aroma yang masih tertinggal itu.
Tiba - tiba..
"Misha." panggil mama yang membuatnya salah tingkah.
"Ya ma."
"Ada Harvey dan Zeline di taman belakang."
"Oya." mata Kamisha membelalak. "Apa Harvey sudah bertemu Axel?"
"Sudah, mereka mengobrol bersama." jawab mama. "Mama bangga padamu Misha, karena kau membesarkan Axel sehingga dia menjadi anak yang memiliki mental yang tangguh."
"Itu semua karena aku banyak belajar bahwa hidup itu tidak mudah, ma. Butuh perjuangan, rasa sakit bahkan rasa kehilangan. Aku ingin Axel menjadi anak yang bertanggung jawab." jawab Kamisha.
"Ya sudah ayo kita temui mereka."
"Baik ma."
Kamisha dan mama Attalia segera bergabung bersama mereka di taman belakang. Kamisha melihat Harvey dan Axel bersendau gurau.
"Hai."
"Hai, Misha aku kangen padamu." Zeline yang juga berperut besar menghampiri Kamisha.
"Hahahah.. kita sampai tidak bisa berpelukan." Kamisha geli dengan perut mereka masing - masing. "Kapan lahir?"
"Perkiraan dokter minggu depan." jawab Zeline. "Kalau kamu?"
"Masih tiga minggu lagi."
"Ayo kita duduk di sana. Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."
Zeline mengajak Kamisha duduk bersama Harvey.
__ADS_1
"Hmmm, kalau sudah sama om Harvey kau jadi melupakan mommy." goda Kamisha.
"Tidak, kau tetap nomor satu mommy." ucap Axel. "Oya mommy lihatlah ini." Axel menunjukkan sesuatu di handphone milik Harvey. Sebuah rekaman video tentang pengobatan yang dilakukan Xander di Singapore.
Kamisha melihat pria yang selalu dia rindukan itu sedang berlatih dengan berbagai alat. Matanya berkaca - kaca antara bahagia, rindu dan kecewa karena merasa tidak dibutuhkan.
"Maaf, karena tadi Axel kangen dengan Xander jadi aku memperlihatkan video itu."
"Kau menemuinya?"
"Waktu itu aku ada perjalanan bisnis di sana, jadi sekalian aku mampir." jawab Harvey.
"Syukurlah kalau dia sehat." gumam Kamisha lirih.
"Kau tidak apa - apa?" tanya mama.
"Aku tidak apa - apa."
"Akan aku kirim video itu ke handphone mu, siapa tahu Axel tiba - tiba saja kangen."
"Tidak perlu. Itu saja sudah cukup." tolak Kamisha.
Harvey terdiam karena merasa bersalah, ia merasa tidak bisa membaca situasi saat ini. Selama beberapa waktu kecanggungan terjadi hingga pelayan datang mengatakan makan malam sudah siap.
Setelah makan malam Harvey dan Zeline pamit pulang sedangkan Kamisha memutuskan untuk istirahat lebih cepat. Ia harus mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi persidangan besuk. Ia akan menjadi saksi di persidangan keponakannya itu. Ia berusaha menyingkirkan pikirannya dari Xander.
🌸🌸🌸🌸
Pagi ini Kamisha sudah bersiap. Axel berada di rumah. Kamisha, mama dan mbok Sri pergi bersama menuju pengadilan.
Mereka memasuki ruang persidangan. Setelah bersalaman dengan keluarga om Dimas, keluarg Heny dan Keluarga Norman, Kamisha duduk di bangku pengunjung nomor dua.
Dua orang petugas membawa Kyara memasuki persidangan dengan tangan terborgol. Wajahnya tampak putih pucat dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian datanglah hakim dan persidangan segera dimulai.
Yang pertama adalah kesaksian dari keluarga om Dimas. Jaksa penuntut hanya memberi beberapa pertanyaan dilanjutkan dengan pengacara Kyara yang ditunjuk oleh pengadilan. Setelah saksi dari pihak keluarga om Dimas, sekarang giliran Kamisha.
Perlahan ia berjalan menuju ke kursi. Begitu Kyara mendengar nama Kamisha dipanggil, ia yang semula menunduk dan memainkan tangannya dengan perlahan mendongakkan kepala. Ia menatap Kamisha dengan tajam, dingin hingga terasa menusuk jauh kedalam tubuh Kamisha.
Kamisha sempat melihat tatapan itu kemudian mengalihkan pandangannya. Ia masih merasa ngeri dengan sikap Kyara waktu terakhir ia menjenguknya.
Ada senyum licik disudut bibir Kyara. Kamisha segera di sumpah setelah itu kemudian duduk. Jaksa penuntut memberinya beberapa pertanyaan.
Setelah selesai menjawab setiap pertanyaan, Kamisha akan melihat Kyara. Tampak mulut Kyara komat kamit, ia seperti berbicara sendiri. Tapi entah apa yang dibicarakan, Kamisha tidak mengerti.
"Hahahahhahhh..." tiba - tiba tawanya meledak. "Anak dalam kandunganmu akan mati! akan mati!" teriaknya histeris.
"Tenang! tenang! terdakwa harap tenang!" perintah Hakim. Tapi sepertinya Kyara tidak memperdulikan perintah Hakim. Ia masih terus saja mengutuk kandungan Kamisha.
"Anakmu akan mati! mati! mati! hahahahahhh!"
Kamisha tampak gemetar, tapi ia berusaha tegar. Ia mengeratkan cengkeramannya pada kursi.
"Terdakwa harap tenang! jika tidak sidang akan kita tunda!"
"Hahahhahh! anakmu akan mati Kamisha! kau dengar itu!"
"Penjaga tolong bawa terdakwa kembali ke dalam sel!" perintah hakim dengan tegas.
Dua orang penjaga membawa Kyara kembali ke dalam sel. Entah karena pegangannya yang kurang kuat. Tiba - tiba Kyara mendorong salah satu petugas dan berlari ke arah Kamisha.
Saat itu Kamisha yang akan berdiri dari duduknya untuk menuju kursi pengunjung terkejut dengan penyerangan Kyara yang mendadak.
Leher Kamisha di cekik hingga terdorong ke belakang yang mengakibatkan ia terjatuh di lantai. Semua pengunjung menjadi riuh, berteriak, bahkan ada yang berlari keluar. Tapi beruntunglah petugas dengan sigap segera menangkap Kyara kembali dan menyeretnya ke dalam sel.
Mama Attalia dan mbok Sri segera menolong Kamisha yang masih syok dengan kejadian tadi.
"Misha! kamu tidak apa - apa sayang."
Kamisha hanya diam dengan pandangan kosong. Tangannya gemetar dengan hebat.
"Misha! Misha! kau dengar mama sayang." panggil mama Attalia lagi sambil menepuk pipinya.
"Ma." gumam Kamisha lirih.
"Ya sayang."
"Sepertinya air ketubanku pecah."
"Apa!" mama Attalia terkejut. Ia segera melihat bagian belakang Kamisha yang basah. "Tolong panggil ambulance! tolong!" teriak mama Attalia.
"Ma, ap.. apakah anakku akan mati seperti kutukan Kyara?" tanya Kamisha dengan suara bergetar. Sepertinya ia masih syok dengan kejadian ini.
"Tidak sayang, jangan dengarkan omongan orang gila itu. Mama yakin kalian akan selamat. Tidak akan terjadi apa - apa."
Tak lama kemudian ambulance datang, dengan dibantu beberapa petugas Kamisha di bawa masuk ke dalam ambulance menuju ke rumah sakit. Mama Attalia masuk bersama ke dalam ambulance
Mbok Sri bergegas memanggi taxi. Ia akan pulang ke rumah membawa Axel dan pakaian Kamisha. Didalam taxi ia segera menelepon Xander.
__ADS_1
"Halo tuan."
"Ya mbok."
"Mbak Misha mau melahirkan."
"Apa! bukankah masih tiga minggu lagi."
"Mbak Misha jatuh tuan."
"Ya tuhan, bagaimana keadaannya?"
"Ini masih perjalanan ke rumah sakit."
"Baik, kabari aku terus mbok."
"Baik tuan."
Panggilan diakhiri. Setelah mengambil pakaian dan Axel, mbok Sri menuju ke rumah sakit dengan diantar sopir. Ia juga membawa beberapa pakaian untuk mama Attalia.
"Bagaimana mbak Misha, nyonya?"
"Masih diperiksa dokter, ketubannya hanya merembes sedikit. Ia belum merasakan kontraksi."
"Ya tuhan selamatkan mbak Misha dan bayinya." doa mbok Sri.
Dokter keluar dari ruang perawatan.
"Dengan keluarga nyonya Kamisha Xander."
"Ya saya dokter."
"Dimana suaminya nyonya Kamisha?"
"Maaf suaminya sedang menjalani pengobatan di luar negeri."
"Anda siapa?"
"Saya mamanya."
"Baiklah, akan saya jelaskan kondisi nyonya Kamisha. Jadi ketuban nyonya Kamisha sudah merembes keluar. Saat ini belum waktunya melahirkan akan tetapi saya melihat berat bayi sudah 2,8 kg jadi tidak akan prematur. Kami akan berusaha melahirkannya secara normal, tapi jika kondisi tidak memungkinkan maka kami akan melakukan operasi cesar."
"Baiklah dokter, kami minta yang terbaik untuk anak dan cucu saya."
"Baik nyonya, kami permisi."
Dokter kembali ke ruangan lagi.
"Axel kemari sayang."
"Ya oma."
"Mari kita berdoa untuk keselamatan mommy dan adik bayi."
"Baik oma."
Sementara itu....🌸
"Apa yang bapak lakukan!"
"Aku harus pulang Alex!"
"Tapi kenapa?"
"Kamisha mau melahirkan, aku harus pulang. Ini belum waktunya. Tadi mbok Sri bilang ia jatuh!"
"Tidak! bapak tidak akan kemana - mana. Dokter bilang anda tidak bisa melakukan perjalanan jauh atau pengobatan ini akan gagal. Anda akan lumpuh selamanya!" Alex berusaha menghalangi kursi roda Xander.
"Alex! minggir!"
"Tidak pak! usaha anda akan sia - sia!"
"Aku tidak peduli! cepat minggir!"
"Tidak pak!" Alex bersikukuh.
"Minggir atau aku akan melakukan hal yang nekat!" Xander bersiap menjatuhkan diri.
"Jangan lakukan itu." Alex akhirnya menyerah. "Baiklah, akan saya persiapkan kepulangan anda."
"Aku mau sekarang, Alex!"
"Baik pak."
Alex segera mempersiapkan pesawat pribadi untuk kepulangan Xander. Hanya menempuh waktu dua jam mereka akan segera sampai di Bandung.
"Misha, baby boy tunggu aku." ucap Xander lirih begitu pesawat tinggal landas.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸