
Xander dan Kamisha pulang ke rumah. Tadi mama Attalia memberitahu mereka kalau ia ada acara reuni dengan teman - temannya semasa sekolah dulu di Jakarta. Dan mama juga mengajak Axel karena besok hari Sabtu sekalian mereka weekend.
Wah malam ini aku hanya berdua dengan Xander. Duh kenapa tiba - tiba rasanya canggung sekali batin Kamisha.
Drrrtt... drrtt... (suara handphone berdering)
"Sha." panggil Xander. Tapi sama sekali tidak ada respon darinya. "Sha." panggilnya lagi dengan suara lebih keras.
"Eh, ya." Kamisha terhenyak dari lamunannya.
"Handphonemu."
"Oh ya, sebentar." dengan segera Kamisha mengambil handphonenya dari dalam tas. "Video call dari mama." jelasnya pada Xander.
"Halo ma."
"Hei kalian ada di mana sekarang?"
"Perjalanan pulang ma."
"Hmm.. bagus."
"Mama sudah sampai Jakarta?"
"Iya sudah, ini baru di hotel." jawab mama Attalia. "Kalian segera pulang dan istirahat jangan terlalu capek."
"Mama tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkan kami." sahut Xander.
"Mama itu tidak khawatir. Tapi justru mama memberi kalian kesempatan."
"Kesempatan? kesempatan apa?" tanya Xander yang membuatnya jadi mendekat agar bisa melihat mama Attalia di layar.
"Axel itu sudah pengen punya adik. Mama juga sudah pengen punya cucu. Jadi malam ini mama biarkan kalian berdua sendiri di rumah. Semangat ya buatnya. Kasih kami kabar gembira."
"Apa!" jawab Xander dan Kamisha bersamaan.
"Aduh nggak usah teriak - teriak. Nanti teriak - teriaknya di dalam kamar saja." goda mama Attalia.
"Ma__ ma__ sepertinya sinyalnya jelek. Terputus - putus__ halo.. halo." teriak Xander yang kemudian mematikan panggilan.
"Kok dimatikan. Itu bukan sikap hormat pada orang tua."
"Kau mau mama terus membicarakan soal itu?"
"Ya nggak."
"Atau jangan - jangan kau menginginkannya."
"Nggak!" jawab Kamisha cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar. Sial gara - gara Axel dan mama aku jadi merasa canggung batin Kamisha.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah. Kamisha bergegas masuk kamar untuk mandi dan kemudian memasak untuk makan malam.
"Mau makan apa?"
"Terserah." jawab Xander yang bersiap untuk gym. Ia melepas bajunya tanpa malu di depan Kamisha. Kamisha segera memutar tubuhnya.
"Hmm bagaimana kalau steak? di kulkas ada daging."
"Oke." jawab Xander sambil meninggalkan Kamisha yang terlihat gugup. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Kamisha mulai memasak, mulai dengan mengiris sayuran dan menunggu daging tidak beku. Suasana sangat sejuk karena diluar sedang hujan.
"Tumben hujan." gumamnya. "Tidak masalah asal tidak ada petir." ia melanjutkan mengiris sayuran sambil sedikit bersenandung.
Duuaaarr!!!
"Ya tuhan, kaget aku." ucap Kamisha sambil mengelus - elus dadanya.
Duuaarr!!! tiba - tiba
"Yah mati lampu!" teriak Kamisha. "Tenang Misha semuanya akan baik - baik saja." ia berusaha menenangkan diri. "Xander! Xander! lampunya mati!" teriaknya memanggil suaminya.
Kamisha berusaha melangkah pelan sambil berpeganggan pada tembok. Braakk! "Aduh!" teriaknya. Sepertinya ia menabrak kursi, itu artinya ia sudah sampai di meja makan
"Xander! Xander! kamu dimana? aku takut!" teriaknya memanggil suaminya lagi. Dadanya mulai sesak. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. "Xand___!" teriakannya terhenti karena tiba - tiba pundaknya di pegang oleh seseorang dari belakang.
Hampir saja jantung Kamisha copot. Ia perlahan - lahan membalikkan badannya sambil pmenutup mata.
"Hei, kenapa tutup mata."
Suara itu.. suara itu milik Xander batin Kamisha. Ah lega aku mendengarnya. Dengan spontan Kamisha memeluk Xander. Ia benar - benar lega.
"Hei__ hei jangan erat - erat, aku tidak bisa napas."
"Aku takut." ucapnya lirih dan masih terus memeluk Xander.
Xander bisa merasakan tubuh Kamisha yang dingin dan gemetar. Ia tahu Kamisha benar - benar ketakutan. Dengan penuh kehangatan Xander membalas pelukannya. "Tenang, ada aku disini. Jangan takut, oke." bisik Xander sambil membelai rambut Kamisha. Mereka berpelukan cukup lama. Setelah dirasa tubuh Kamisha tidak gemetar lagi Xander memutuskan untuk pergi ke ruang genset.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Keruang genset sebentar, biasanya otomatis akan menyala jika listrik mati. Mungkin ada yang rusak."
"Aku ikut." sahut Kamisha cepat.
"Baiklah, ayo."
"Tunggu."
"Apalagi?"
Dengan malu - malu dan ragu Kamisha memegang tangan Xander. "Aku takut, kau akan meninggalkanku."
"Oh common Misha, aku tidak akan meninggalkanmu."
"Janji?"
"Hmm, i promise."
Kamisha tersenyum lega mendengar jawaban Xander. Dengan erat ia memegang tangan Xander dan mengikuti langkahnya.
Dikarenakan ruang genset letaknya berada di belakang dan terpisah, terpaksa Xander dan Kamisha basah kuyup.
Xander segera memeriksa genset. "Rusak. Kabel penyambung dayanya putus."
"Terus bagaimana?"
"Bentar, coba aku sambungkan."
"Xander, tidak usah saja."
"Maksudmu?"
"Tidak usah diperbaiki, kita tunggu saja sampai listrik nyala lagi."
"Kamu kan takut gelap. Lagian ini cuma nyambung kabel saja."
"Gelap nggak apa - apa. Aku justru takut kalau kamu kesetrum. Badan kamu basah."
"Hahahahh.. kenapa kamu jadi seperti anak kecil begini."
"Kita masuk ke dalam lagi yuk. Nanti kamu bisa sakit, please."
"Baiklah, asal jangan teriak - teriak ketakutan."
"Nggak, kan sudah ada kamu."
Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah utama.
"Xander kamu ganti baju dulu." Kamisha menyerahkan handuk dan beberapa baju ganti.
"Nanti saja."
"Nanti masuk angin."
"Oh.. kau mau melihatku ganti di sini rupanya. Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Sesuai permintaanmu nyonya." ucap Xander sambil tersenyum menggoda.
"Bbu__ bbukan itu maksudku." Kamisha gugup mendengar perkataan Xander, ia langsung membalikkan badannya. "Aku akan buat coklat hangat untukmu."
"Hahahahhh.. aku sudah membuka bajuku, Misha. Yakin tidak penasaran?"
"Nggak!" jawab Kamisha ketus. Ia membuatkan Xander coklat hangat dan sandwich ala kadarnya karena masih mati lampu.
"Hatsyi! hatsyi!" tampak Xander bersin beberapa kali.
"Ini coklatnya di minum dulu." Kamisha menyodorkan secangkir coklat hangat. Ia meraih handuk yang tergeletak di sebelah Xander. Dengan cekatan ia mengeringkan rambut Xander. "Ini harus segera di keringkan kalau nggak nanti kamu bisa demam dan sakit kepala."
"Iya.. iya mommy Misha." goda Xander. "Hatsyi!"
"Tuh kan sudah mulai flu." ucap Kamisha sambil terus mengelap rambut Xander yang hampir setengah kering. "Makanlah sandwichnya setelah itu tidur."
"Aku tahu."
"Tahu apa?"
"Kau menyuruhku cepat tidur karena ingin menuruti keinginan mama dan Axel kan?"
"Nggak!" jawab Kamisha sambil menaruh handuk di pundak Xander dan bergegas pergi.
Duuarr!!!
"Aaacchhh!!!" teriak Kamisha dan kemudian kembali mendekat pada Xander.
"Hahahahhah." Xander tidak bisa menahan tawanya.
"Nggak lucu tau. Aku benar - benar ketakutan."
"Hahahahhh.. aneh kamu benar - benar aneh."
"Apanya yang aneh?"
__ADS_1
"Dengan penjahat nggak takut, tapi dengan suara petir takut."
"Eh jangan salah, petir itu mengandung listrik. Kan bahaya bila menyambar orang."
"Kita di dalam rumah Misha. Hatsyi!"
"Sudah, aku tidak mau berdebat dengan orang sakit. Lebih baik kau istirahat di kamar."
"Baiklah, daripada aku kena omel mommy Misha." jawab Xander sambil berdiri dari tempat duduknya bergegas naik ke atas.
"Tunggu."
"Apalagi?"
"Ikut." pinta Kamisha sambil memegang baju Xander.
"Ayo."
Mereka berdua akhirnya naik ke atas. Selama perjalanan Kamisha tidak melepaskan pegangannya hingga sampai masuk ke dalam kamar.
"Tidurlah, aku juga akan tidur." perintah Xander.
"Hmm___ aku___ aku."
"Kenapa lagi? istirahatlah."
Kamisha menarik napas panjang. Butuh keberanian untuk meminta peesetujuan bahwa malam ini ia akan tidur di tempat tidur. Ah tebal muka saja daripada tidak bisa tidur batin Kamisha. "Aku akan tidur di sini." ucapnya cepat dan segera masuk dalam selimut.
"Wow, kau benar - benar ingin mewujudkan impian mama dan Axel rupanya."
"Aku takut gelap Xander, please. Malam ini saja."
"Baiklah, jangan sampai khilaf Misha."
"Jangan harap." ucap Kamisha sambil tidur membelakangi Xander.
Mereka tidur saling membelakangi. Listrik saat itu masih belum menyala. Hujan diluar sudah mulai reda sehingga suhu udara tidak terlalu panas.
Kamisha membuka matanya karena haus. Ia melihat bahwa listrik sudah menyala. Ia merasa lega dan tidak perlu membangunkan Xander untuk menemaninya mengambil air. Ia sekilas melirik ke arah Xander.
Aneh kenapa tubuhnya seperti gemetar ya batin Kamisha. "Xander__ Xander kau baik - baik saja?" tanyanya lirih. Tidak ada jawaban dari Xander.
Kamisha akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh tubuhnya. Gila! badannya panas banget batin Kamisha cemas. Ini pasti akibat kehujanan tadi.
"Xander__ Xander kamu demam, aku siapkan kompres ya?"
"Hmm."
Hanya itu yang keluar dari mulut Xander.
"Sebentar aku ambilkan obat dulu, oke." dengan segera Kamisha mengambil obat dan kompres. Dengan setengah susah payah ia mendudukkan.Xamder agar lebih mudah minum obat. Setelah obat masuk, Kamisha kembali membaringkan kembali tubuh Xander.
"Aku kompres ya."
"Hmm."
Dengan cekatan Kamisha merawat Xander yang sedang sakit.
"Misha." panggil Xander pelan.
"Ya."
"Tolong matikan AC nya, aku kedinginan."
"Dingin? AC nya tidak aku nyalakan Xander." jawab Kamisha. "Sebentar aku ambilkan selimut lagi." Kamisha segera mengambil selimut dari dalam almari. Tapi tunggu dulu pikirnya sambil mengembalikan selimut yang sudah diambilnya tadi. Xander saat ini demam jadi tidak boleh memakai selimut yang terlalu tebal batinnya kemudian.
Kamisha kembali duduk di pinggir tempat tidur sambil mengontrol suhu tubuh Xander.
"Mana selimutnya, aku benar - benar kedinginan, Misha." pinta Xander dengan suara lemah.
"Badan kamu panas, kamu demam Xander. Dan tidak diperbolehkan memakai baju atau selimut yang tebal."
"Hmm__ aku benar - benar kedinginan." keluh Xander. Tubuhnya gemetar.
Kamisha sedikit bingung dengan apa yang harus dilakukan. Kalau Axel sedang sakit biasanya ia akan memeluknya. Apa perlu dicoba ya pikirnya.
Kamisha naik ke atas tempat tidur dan bersandar di sebelah Xander. Diulurkan tangannya di pundak Xander sehingga bisa dengan mudah memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, Misha?"
"Sssttt.. istirahatlah ada aku disini. Dan jangan khawatir, kau tidak akan kedinginan lagi." ucap Kamisha sambil menepuk nepuk pundak Xander untuk memberi ketenangan.
"Hmm.. hangat."
"Aku akan menjagamu disini, tidurlah."
Xander memgulurkan tangannya dan membalas pelukan Kamisha. Kepalanya ia sandarkan pada dada Kamisha untuk mencari ketenangan dan kehangatan.
Kamisha membelai lembut kepala Xander, bahkan memberi kecupan di kening Xander. "Selamat tidur, Xander." bisik Kamisha. Dan ia pun ikut terlelap. Ternyata tidur saling memeluk akan memberikan kenyamana odanga.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁