
"Ya tuhan apa yang terjadi padamu Xander?" Kamisha menepuk - nepuk pelan pipi suaminya itu. Kamisha segera memanggil dokter. Perawat memindahkannya ke atas tempat tidur pasien.
"Apa yang terjadi dengan suami saya dok?"
"Hanya darah rendah saja."
"Kok bisa dok? suami saya makanannya sangat terjaga."
"Itu bisa saja terjadi pada semua orang, mungkin saja pak Xander kecapekan atau bisa juga belum makan. Jadi tolong diperhatikan lagi gizinya."
"Baik dokter."
"Sementara ini kami akan memberikan vitamin tambah darah."
"Terima kasih dokter." ucap Kamisha. "Maaf dok, bisakah suami saya satu kamar dengan anak kami. Agar memudahkan saya merawat mereka berdua."
"Bisa tapi secara administrasi harus sesuai prosedur dari rumah sakit."
"Baik, terima kasih dokter."
Setelah dokter keluar Kamisha memandang Xander dengan tatapan sedih. Harusnya Xander bisa menjaga dirinya sendiri tanpa Kamisha tapi kenapa saat ini seolah - olah dia terlihat menderita.
Xander memang sudah sehat tapi terlihat tidak bahagia dari sorot matanya. Apakah segitu menderitanya hidup tanpa kami.
Kamisha membelai lembut pipi Xander. Tiba - tiba handphonenya berdering.
"Halo, ma."
"Bagaimana Zio?"
"Demamnya sudah turun, ia terkena flu singapura."
"Oh syukurlah, mama khawatir karena Xander tidak memberi kabar."
"Hmm, Xander__."
"Xander kenapa?"
"Xander tadi pingsan ma. Kata dokter darahnya rendah."
"Ya tuhan, anak itu memang keras kepala. Sejak pulang dari rumahmu ia sama sekali tidak keluar kamar. Ia juga tidak makan. Apa sih yang dipikirkannya seperti anak kecil saja. Apakah kamu repot di sana? kalau kamu repot mama akan menjaga Xander."
"Tidak, ma. Aku tidak repot. Aku sudah meminta pihak rumah sakit untuk menjadikan Xander dan Zio satu kamar."
"Ya sudah, kamu juga jaga kesehatan Misha. Karena ada dua bayi besar yang harus kamu rawat. Jangan stres karena akan berpengaruh pada Asi mu. Jika kau merasa kerepotan, tinggal telepon mama saja."
"Baik,ma. Aku titip Axel dan rumah."
"Jangan khawatirkan Axel dan rumah. Aku akan menjaganya sebaik mungkin."
Panggilan di akhiri.
Kamisha kembali melihat kondisi Zio. Perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin. Saat ini suhu tubuh Zio sudah turun lagi menjadi 37 derajat celcius.
"Mommy senang kamu sudah sehat kembali, sayang. Lihat itu daddy mu sampai pingsan karena mengkhawatirkanmu."
Zio tampak tersenyum diajak bicara oleh Kamisha. "Kau lapar nak?" tanya Kamisha sambil tersenyum. Dengan hati - hati ia mengambil Enzio dan memangkunya. Dengan perlahan Enzio menyusu. Kamisha memandanganya dan membelai kepalanya dengan lembut. "Cepet sehat ya. Mommy mencintaimu."
Tangan Enzio tampak memegang pipi Kamisha. Dan itu membuatnya sangat terharu. Terus terang saja keberadaan Axel dan Enzio yang membuatnya menjadi kuat sampai sekarang ini. Jika tidak ada mereka berdua entah apa yang terjadi pada hidupnya.
Setelah Enzio kembali terlelap Kamisha membaringkannya kembali di atas tempat tidur. Pandangannya teralih pada Xander yang masih belum sadar.
Ia menata selimut suaminya dan mendinginkan suhu ruangan karena Xander suka dengan hawa dingin. Ia teringat dulu ketika mereka masih bersama, itu di jadikan alasan agar Xander bisa memeluknya lebih lama.
"Zio.. zio."
Kamisha menoleh karena mendengar suaminya mengigau.
"Xander.. Xander." panggilnya.
Perlahan Xander mulai membuka matanya. Dilihat wajah istrinya yang tersenyum. Ini bagaikan mimpi buat Xander.
"Mau minum?"
Xander mengangguk.
Kamisha dengan cekatan mengambilkan air mineral dan memberikan buat suaminya.
"Cukup." ucap Xander.
Kamisha meletakkan air mineral diatas nakas.
"Aku kenapa?"
"Kamu pingsan setelah mengecek kondisi Zio."
"Apa kata dokter?"
"Darah rendah." jawab Kamisha. "Dokter memberi beberapa vitamin dan infus."
"Bagaimana Zio?"
"Semakin membaik dia anak yang kuat seperti daddynya."
Xander tersenyum mendengar perkataan Kamisha. "Kuat apanya, lihat saja aku sudah ambruk begini."
Kamisha menghela napas panjang. Ia beranjak dari duduknya untuk mengambil makanan.
"Mau kemana?"
"Ambil makan buat kamu."
__ADS_1
"Aku tidak lapar Misha."
"Kata mama, kau tidak makan dari kemarin. Kenapa?" Kamisha duduk di sebelah Xander sambil membawa makanan dari rumah sakit.
"Bagaimana aku bisa makan dengan tenang, kau menganggap aku sebagai seorang pemerkosa. Aku merasa hina Misha. Dan juga ditambah Zio sakit."
"Jadi waktu kamu membeli sarapan kamu berbohong padaku kalau sudah makan di cafe bawah?"
Xander mengangguk.
"Jangan membuat aku khawatir Xander." Kamisha menyuapkan makanan ke dalam mulut Xander.
"Kau mengkhawatirkanku?"
Kamisha mengangguk. "Ayo buka mulut."
Dengan patuh Xander menerima suapan dari Kamisha hingga habis. "Ini minum vitaminnya."
Tanpa membantah Xander segera meminum vitamin pemberian Kamisha.
"Sebentar lagi dokter akan visit. Kalau kamu sudah kuat infusnya sudah bisa dilepas." Kamisha menata selimut agar Xander kembali istirahat. "Dan untuk Zio jika suhu tubuhnya bisa turun ke angka 36, besok ia sudah boleh pulang."
"Syukurlah." ucap Xander lega. "Maafkan aku, Misha."
"Maaf untuk apa?"
"Untuk segalanya, kesalahanku di masa lalu dan bahkan masa sekarang. Aku jadi tahu betapa brengseknya aku."
"Sudahlah, kita bicarakan hal itu nanti. Sekarang kau dan Zio sehat dulu."
🌸🌸🌸🌸
"Eh kalian tahu nggak sih bos tampan sedang sakit?"
Bos tampan adalah sebutan Xander dikantor.
"Pak Xander sakit? tahu dari mana?" Dewi meletakkan laporannya dan ikut nimbrung bersama yang lain.
"Tadi aku dengar pak Alex bilang ke sopir untuk membawa beberapa pakaian pak Xander ke rumah sakit." ucap Fitri
"Eh bisa saja dia di rumah sakit karena ada keluarganya yang sakit." sanggah Dewi.
"Ya benar." ucap yang lain bersamaan.
"Jangan panggil namaku Fitri jika aku tidak mendapat informasi yang akurat. Percuma dong aku disebut sebagai ratu gosip." ucapnya bangga. "Jadi aku telepon saudaraku yang bekerja di rumah sakit. Dan benar ada pasien yang bernama Xander Alfero Hadid. Tahu kan yang punya nama itu hanya bos kita."
Aku harus kesana, siapa yang akan mengurus pak Xander. Ia sendirian disini pikir Dewi dalam hati.
"Eh kita ke rumah sakit yuk habis pulang kerja." usul Rina.
"Hmm, sebaiknya jangan dulu." Dewi mencegah teman - temannya bezuk ke rumah sakit karena ia ingin mengambil hati Xander.
"Kenapa?"
"Benar juga katamu Wi. Ya sudah besok sore saja kita kesana. Bagaimana?" tanya Fitri.
"Oke." jawab yang lain.
Yes, rencanaku berhasil. Paling tidak aku harus menunjukkan perhatianku pada pak Xander. Walaupun ia sudah punya istri tapi aku juga ingin diberi sedikit perhatian darinya. Masa bodo dengan ucapan Kamisha ucap Dewi dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
Waktu sudah menunjukkan waktu untuk pulang dari kerja. Dewi bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Ia sengaja pulang paling akhir agar teman - temannya tidak ada yang tahu dengan rencananya.
"Maaf pak Xander di rawat di ruang apa?" tanya Dewi pada bagian informasi.
"Oh ruang VVIP nomor enam. Naik saja ke lantai delapan."
"Terima kasih."
Dewi segera naik lift menuju lantai delapan dengan membawa parcel buah ditangannya. Di dalam lift ia merapikan penampilannya. Walaupun di dalam mobil ia sudah membenahi make up nya dan menggunakan sedikit parfum. Senyumnya sangat bahagia karena akan bertemu dengan Xander.
Ting..! pintu lift terbuka ia bergegas ijin ke bagian perawat untuk menanyakan kebenaran Xander dirawat di ruang enam. Dan ternyata benar.
Sebelum masuk ke dalam ruangan ia menarik napas panjang dan memasang senyuman yang paling manis di wajahnya. Setelah itu ia segera membuka pintu dan...
"Misha?"
"Dewi?"
Dewi tampak terkejut dengan keberadaan Kamisha. Ia keluar lagi untuk memastikan bahwa ia tidak salah masuk ruangan dan ternyata itu benar.
"Mau bezuk Xander?"
Dewi hanya mengangguk, ia masih syok.
"Masuklah."
Dengan ragu Dewi masuk, ia ingin memastikan siapa pasien yang terbaring disana apa benar Xander atau bukan.
"Sayang, ada Dewi datang menjenguk."
Xander terkejut dengan panggilan itu tapi dalam hatinya menari dengan gembira.
"Dewi?" Xander kelihatan bingung.
"Karyawan di tempat kamu kerja sayang, masak lupa?"
"Oh Dewi bagian marketing."
"Selamat sore pak?"
__ADS_1
"Sore. Dari mana kamu tahu kalau aku sakit?"
"Dari teman - teman kantor."
"Aneh, tidak ada yang tahu kalau aku masuk rumah sakit."
"Hmm.. teman - teman kantor membicarakan hal ini. Dan saya cek kebenarannya ternyata benar bapak di rawat di rumah sakit." Dewi menjawab sambil melihat sekeliling ruang Xander yang ternyata satu kamar dengan seorang bayi. Katanya ruang VVIP kenapa bisa ada bayi sakit disana.
"Duduklah." ucap Kamisha.
Dewi duduk dan menyerahkan parcel buah pada Kamisha. Tampak raut wajah Dewi yang kebingungan.
"Sayang kau ingin aku kupaskan buah?" Kamisha memandang Xander sambil tersenyum. Lagi - lagi Xander terkejut tapi tak butuh waktu lama untuk tahu alasan kenapa tiba - tiba Kamisha memanggilnya dengan mesra. Ya dia ingin menunjukkan pada Dewi bahwa Xander miliknya. Dan tentu saja itu menguntungkan Xander.
"Tidak, aku hanya ingin minum." jawab Xander mengikuti permainan istrinya.
Kamisha bergegas mengambilkan Xander minum dan tak lupa menyeka sisa air yang ada di bibir suaminya itu.
"Mmm, Misha kamu__." belum sampai Dewi menyelesaikan kata - katanya sudah di sahut oleh Kamisha.
"Yah, aku istrinya atasanmu. Maaf ya aku tidak memberitahumu." Kamisha menjawab semua kebingungan yang ada di hati Dewi. Ia kemudian menghampiri Enzio yang baru saja bangun. Infus di tangannya sudah dilepas karena suhu tubuhnya sudah normal. "Zio sudah bangun. Mau ikut daddy?" Kamisha menggendong bayi gembulnya sambil mencium beberapa kali. "Sayang sepertinya ia mau ikut denganmu."
"Kemarikan, aku juga kangen dengannya."
Kamisha memberikan Zio pada Xander. Bayi itu tampak senang dalam pelukan Xander.
Dewi yang melihat pemandangan itu semakin hancur dan pupus harapan.
"Oya, Wi. Terima kasih sudah mau menjenguk anak dan suamiku."
"Anak?"
"Ini Zio anak kedua kami. Kemarin ia sakit, karena Xander bergadang menjaga Zio jadi ia ikut tumbang." jelas Kamisha panjang lebar. "Jadi maaf ya kerjaan kantor jadi terbengkelai."
"Eh tidak apa - apa." Dewi memandangi Xander yang sedang asyik bermain bersama putranya. Rona bahagia terpancar dari wajahnya.
"Wi, kenapa melamun?"
"Eh ya, bagaimana?"
"Kenapa melamun?"
"Engg itu, aku.. aku rasa aku harus pamit. Sepertinya pak Xander butuh banyak istirahat." Dewi memutuskan untuk pergi. Ia tidak tahan melihat pemandangan itu. "Saya akan bercerita ke teman - teman yang lain kalau bapak sudah sembuh."
"Yah itu lebih baik, besok pagi kami sudah boleh pulang."
Dewi beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang titip Zio, aku akan mengantar Dewi ke depan." Kamisha tahu banyak sekali pertanyaan yang ingin di tanyakan Dewi padanya.
Setelah sampai pintu luar.
"Kenapa tidak cerita padaku?"
"Soal?"
"Kalau kamu istri pak Xander."
"Buat apa?"
"Yah setidaknya aku tidak merasa di permalukan seperti ini."
"Tidak ada yang mempermalukanmu. Bukankah dari awal aku sudah mengatakannya padamu atau mungkin kamu lupa."
"Apa?"
"Aku sudah menyuruhmu untuk menjauh. Xander sudah memiliki istri dan anak. Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu rumah tangga orang. Tapi sepertinya kamu tidak mengindahkan perkataanku."
"Aku.. aku.." Dewi terbata - bata
"Aku tahu kita tidak bisa menolak perasaan suka yang ada di hati kita untuk orang lain. Tapi jika sudah tahu dia memiliki keluarga yang bahagia, maka hilangkan perasaan suka itu. Dan itu tidak hanya berlaku untuk aku dan Xander tapi pada siapa saja. Ingat Wi, jangan menghancurkan kebahagiaan dan rumah tangga orang lain."
"Aku minta maaf, Sha."
"Tidak apa - apa." jawab Kamisha sambil tersenyum.
Setelah kepergian Dewi, Kamisha kembali masuk ke dalam ruangan.
Xander tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak henti - hentinya tertawa.
"Kenapa?" tanya Kamisha keheranan dengan sikap suaminya itu.
"Kamu cemburu kan?"
"Nggak!" jawabnya ketus.
"Sudah terus terang saja kamu cemburu." goda Xander.
"Nggak! sekali nggak tetep nggak."
"Terima kasih sayang untuk masih tetap mencintaiku."
"Ngomong apa sih. Aku mau mandi, titip Zio."
"Malu ya? wajahnya sampai merah begitu."
Kamisha tidak menghiraukan ucapan Xander. Ia tetap masuk ke dalam kamar mandi tanpa meladeni perkataan suaminya.
"Makasih sayaaanngg!" teriak Xander dari luar. Ia merasa bahagia. Sikap cemburu yang ditunjukkan Kamisha sudah menjadi bukti bahwa istrinya itu masih mencintainya. Ah Xander rela sakit begini jika itu bisa membuat Kamisha memaafkan dan kembali padanya. Ini namanya sengsara membawa nikmat.
Sementara di dalam kamar mandi, Kamisha sibuk membasuh wajahnya. Gila apa yang aku lakukan, kenapa sikap cemburuku bisa begitu kentara di mata Xander. Aaahhh aku jadi malu, dasar emak - emak kalau sudah bucin jadi begini deh...
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸