
Kamisha pagi ini merasa tubuhnya sangโฐat sehat, ia tidak merasakan pusing dan mual lagi. Jika diijinkan dokter ia ingin segera pulang ke Jogja.
Mama Attalia ijin tidak bisa menjenguk cucunya karena harus konsultasi dengan dokter mengenai pengobatan Xander sampai di sarankan untuk jaga kesehatan.
Kali ini yang menjaga Sofi.
"Heh, aku sudah mengira ada yang tidak beles dengan kepribadian keponakanmu itu. Nah terbukti kan sekarang, ternyata dia itu gila." Sofi memulai pembicaraan.
"Iya, aku sampai tidak menyadarinya."
"Kamu itu terlalu baik, makanya sering dimanfaatkan sama orang."
"Aku pikir masih berusaha memberikan kesempatan untuk Kyara berubah."
"Orang seperti dia itu sulit buat berubah. Karena dia itu nggak normal."
"Aku sedikit menyesal dengan semua kejadian ini."
"Kenapa?" tanya Sofi
"Ya karena menjadi penyebab ia menjadi gila. Lagian aku merasa diriku tidak ada yang istimewa."
"Kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Harusnya dulu kakakmu berterus terang kalau anaknya itu mengidap gangguan jiwa. Sehingga kalian lebih berhati - hati dalam menghadapinya."
Kamisha terdiam, mungkin dulu kakaknya tidak ada suami yang mendampinginya sehingga sulit untuk mengambil keputusan. Apalagi ekonominya yang sangat lemah. Berobat dan konsultasi seorang psikiater sangatlah mahal.
"Sha."
"Hmm." suara Sofi membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana kabar suamimu?"
"Kata mama baik, hanya saja masih lumpuh."
"Kau tidak kembali padanya? bukankah kesalah pahaman ini sudah berakhir?"
"Bagaiman menurutmu seharusnya dia menjemput aku dan Axel?"
"Bisa saja dia malu, atau takut kamu tidak memaafkannya."
"Dikantor polisi saja dia menghindar bertemu denganku."
"Ah, aku tidak percaya dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat."
"Mungkin kelumpuhannya yang menyebabkan dia seperti itu."
"Keponakanmu itu benar - benar seperti ular. Bisa - bisa dia membuat Xander menjadi lumpuh, memfitnahmu. Ini sangat rapi seperti bukan dilakukan oleh orang sakit jiwa. Jelas ini psikopat."
"Heh." Kamisha menghela napas panjang.
"Suamimu tidak berobat ke luar negeri?"
"Kata mama, ada juga rencana ke sana. Cuma menunggu persetujuan dari Xander sendiri. Mungkin saat ini yang dibutuhkan olehnya adalah support untuk sembuh."
Sofi dan Kamisha terdiam sejenak karena ada dokter masuk untuk memeriksa. Setelah semuanya membaik akhirnya kamisha dioerbolehkan untuk pulang.
Sofi membantu Kamisha berbenah. Semua administrasi sudah diurus oleh mama Attalia.
"Kamu langsung pulang ke Jogja?"
__ADS_1
"Ya."
"Kenapa tidak di Bandung saja?"
"Aku masih kangen dengan bapak. Apalagi tidak ada yang bisa aku harapkan disini. Suamiku menolak kehadiranku."
"Apa kau akan bercerai?"
"Entahlah. Aku sebenarnya tidak berharap pernikahanku gagal. Mungkin aku butuh waktu sendiri dan begitupun dengan Xander. Untuk sementara aku hanya konsentrasi pada Axel dan kehamilanku."
"Ya sudah aku menghargai keputusanmu. Ayo kita pulang."
"Terima kasih Sof sudah selalu menemaniku."
"Sama - sama, Sha. Kita kan sahabat."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Saat ini Kamisha sudah kembali ke Jogja dan seperti biasa melakukan aktifitas membuat kue. Ia harus mulai dari nol lagi. Tapi beruntung karena ia berasal dari Jogja jadi banyak teman lama yang menjadi pelanggannya. Karena ada faktor kedekatan ia manfaatkan untuk promosi. Jadi sekarang sudah ada beberapa pelanggan lain yang selalu memesan kue buatannya. Kamisha bersyukur bahwa ia tidak sepi orderan.
"Mbak Misha istirahat dulu? kasihan bayinya?"
"Bentar lagi mbok, tinggal satu loyang lagi." Kamisha segera menyelesaikan pesanan bolu jadul sejumlah lima puluh box pesanan seorang pelanggan untuk acara arisan.
Dengan penuh ketelatenan Kamisha akhirnya bisa menyelesaikannya tepat pada waktunya.
"Mbak Misha yang ambil pesanan sudah datang?"
"Bawa ini kedepan mbok dan ini jumlah uang yang harus di bayar. Aku ke kamar mandi sebentar."
Kamisha segera ke kamar mandi. Sekarang perutnya tambah besar, ia agak kesusahan. Aoalagi bayinya ini aktif bergerak.
"Sudah dan ini uangnya."
"Makasih ya mbok." Kamisha duduk di sofa melepas lelah. Axel sedang bermain dengan anak - anak kampung. "Mbok jangan lupa, ini sudah sore suruh Axel pulang."
"Njih mbak." jawab mbok Sri. "Oya mbak saya kok hampir lupa." mbok Sri menepuk jidatnya.
"Apa?"
"Tadi ada pesanan 100 buah cup cake."
"Wah kok banyak sekalu mbok. Siapa yang pesan?"
"Saya kurang tahu mbak. Baru pertama ini saya melihat pria itu."
"Oh, baiklah. Besok kita harus berjuang."
"Siap mbak."
Setelah Axel pulang dan mandi mereka segera makan malam bersama. Bahan - bahan membuat cup cake sudah ia beli.
"Mbok, aku istirahat sebentar. Jangan lupa kunci pintunya dan cek aemua jendela."
"Ya mbak."
Kamisha segera menuju kamar tidurnya. Karena terlalu lelah pukul sembilan malam ia sudah tidur.
Sementara itu dua pasang mata mengawasi rumah Kamisha. Mereka tampak menunggu lampu di rumah Kamisha padam. Itu artinya pemilikrumah sudah tidur.
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidur?"
"Ya kita masuk saja."
"Tunggu lima belas menit lagi. Tunggu hingga mereka benar - benar pulas."
Akhirnya mereka menunggu lagi beberapa waktu. Setelah di rasa benar - benar pemilik rumah bermimpi indah. Mereka dengan perlahan masuk ke dalam rumah.
Dengan mudah mereka membuka pintu itu.
"Mana kamarnya?"
"Sepertinya yang itu."
Mereka menuju kamar yang memang ukurannya lebih besar dan kebelakanag.
Perlahan mereka masuk ke dalam dan melihat seorang wanita hamil sedang tidur.
"Saya tinggal."
"Baik, terima Kasih."
Setelah ditinggal oleh pria yang satu lagi. Pria itu mendekati tempat tidur Kamisha. ia memandangi wajah Kamisha yang sangat tenang dalam tidur. Ia mengelus perut Kamisha.
"Hai boy, kita ketemu lagu." ucapnya. "Mau mendengar papa cerita?"
Dan ajaib baby dalam perut Kamisha bergerak seakan memberi jawaban..
Xander tersenyum, yah pria pengecut yang hanya mau bertemu dengan istri dalam keadaan tidur.
Xander mulai bercerita tentang pengalaman - pengalaman hidupnya. Baby dalam kandungan Kamisha tiba - tiba saja menjadi tenang dan terdiam.
Setelah selesai bercerita dan ngobrol dengan baby boy. Xander memutuskan untuk pulang. "Kita akan bertemu lagi sayang. " kali ini, Xander berhasil mencium istrinya. Setelah itu ia keluar dari rumah dengan perlahan.
"Alex, Ku merasa kasihan dengan istriku."
"Sudah saatnya bapak berterus terang bahwa anda yang selama ini membeli kue buatannya."
"Aku masih takut, aku pengecut Alex."
"Saya kira bu Kamisha akan dengan senang hati menerima anda kembali."
"Kenapa kau begitu yakin?"
"Karena saya tahu, bu Kamisha itu mencinyai anda dengan tulus. Tidak peduli anda cacat atau sehat kaya atau miskin."
"Tapi setelah aku cacat seperti ini apakah ia masih mau merawatku?"
"Seratus persen mau, pak." ucap Alex dengan mantab. "Apakah anda tidak ingin berjalan lagi?"
"Aku sangat ingin. Aku ingin berlari dengan Axel dan juga bayi dalam kandungan Misha."
"Anda bisa berobat keluar negeri. Nyonya sudah konsultasi dengan dokter dari sini, minggu depan tuan bisa berobat ke Singapore."
"Entahlah, aku yakin atau tidak.
"Harus yakin, semangatlah pak demi anak dan istri bapak."
Xander tampak terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya."Baiklah aku mau." kata itu keluar begitu saja dari mulutnya Xander. Aku akan segera sembuh Misha, kau tunggulah aku ucapXander dari dalam hati.
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ