Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Penyelidikan


__ADS_3

"Dijebak? apa maksudmu."


"Tolong! kau harus menolongku!"


"Tenang.. tenangkan dirimu. Ayo kita ke ruang kerjaku."


Mereka berdua menuju ke ruang kerja di rumah Xander agar lebih privasi.


"Duduklah." perintah Xander. Ia mengambl segelas air untuk Harvey. "Minumlah."


Harvey meneguk air di depannya dengan perlahan.


"Sudah lebih tenang?"


Harvey mengangguk - angguk.


"Bicaralah."


Dengan menarik napas panjang Harvey mulai bercerita. "Berawal dari tadi malam aku bertengkar hebat dengan istriku masalah anak. Kau tahu kan kalau soal itu pasti kami berakhir dengan pertengkaran. Malam itu aku benar - benar frustasi dan memutuskan untuk menenangkan pikiran di sebuah klub malam."


"Kau mabuk?"


"Yah, aku mabuk." Harvey menjawab dengan raut muka menyesal. "Aku sampai tidak sadarkan diri dan tahu - tahu aku terbangun di hotel dekat klub dengan ada seorang wanita asing disampingku." Harvey menghela napas sejenak. "Kami berdua tidak mengenakan pakaian sama sekali."


"Kau gila Harvey!"


"Aku sudah memberinya uang, tapi ternyata dia lebih licik dari yang aku duga."


"Maksudmu?"


"Dia mengirim foto dimana kami berdua dalam keadaan tanpa sehelai benang pun."


"Dia mengancammu dengan foto itu."


"Benar, dia akan mengirimkan foto itu pada Zeline." Harvey mengacak rambutnya. "Aku harus bagaimana, bro?"


Xander terdiam sejenak. "Apa kamu merasa kalau sudah melakukan hubungan dengan wanita itu?"


"Itu dia, masalahnya aku tidak mengingat apa - apa."


"Minimal kau bisa merasakan sedang berhubungan dengan wanita. Semabuk - mabuknya jika masih dalam keadaan setengah sadar kau pasti minimal ingat."


"Aku berani bersumpah. Aku tidak ingat apa - apa."


"Kalau seperti itu, sepertinya kamu memang dijebak. Kau saat itu dalam kadaan pingsan, orang yang pingsan pasti tidak bisa berbuat apa - apa."


"Jadi__ jadi__ kau percaya padaku."


"Aku percaya. Apalagi setelah menikah dengan Zeline kau banyak sekali berubah. Kau menjadi pribadi yang lebih baik. Cuma masalahnya sekarang kita tidak punya bukti bahwa kamu malam itu tidak melakukan apa - apa. Sedang pihak wanita itu punya bukti yang kuat."


"Aku harus bagaimana? hanya kau yang bisa menolongku, Xander."


"Tenang bro.. tenangkan dirimu." Xander menepuk - nepuk pundak Harvey. "Sekarang kau pulanglah dulu, Zeline pasti mengkhawatirkanmu. Kau punya nomor handphone wanita itu?"


"Ada."


"Berikan padaku."


Harvey segera memberikan nomor telepon Rani pada Xander.


"Setelah makan siang kita akan ke klub yang semalam kau datangi."


"Baiklah, aku pamit pulang."


Xander mengantarkan Harvey sampai pintu depan. Xander segera kembali ke kamar, ia melihat Kamisha yang sudah berpakaian rapi bersiap untuk berangkat kerja.


"Harvey sudah pulang?"


"Sudah."


"Terus terang kalau bertemu Harvey aku merasa cemas."


"Soal apa?"


"Takut kalau sewaktu - waktu dia akan mengmbil Axel dariku."


"Hei.. aku tahu Harvey tidak akan melakukan itu." Xander menghampiri Kamisha dan memeluknya dengan lembut. "Yakinlah padaku."


"Terima kasih sayang, kau selalu melindungi kami."


"Hmm." hanya itu suara yang keluar dari mulut Xander. Tangannya membelai lembut punggung istrinya yang lama - lama mulai kemana - mana.


"Sayang, please aku sudah berpakaian rapi." mohon Kamisha karena ia tahu maksud suaminya


"Siapa suruh bau tubuhmu membangkitkan hasratku." ucap Xander sambil mengangkat istrinya dan meletakkannya di atas meja.


"Aaacchh! Xander kita akan terlambat."


"Sebentar saja sayang."


Sebentar apa? kalau sudah begini mana bisa sebentar ucap Kamisha dalam hati. Ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan suaminya karena sejatinya ia juga suka.


🌸🌸🌸🌸


"Alex, keruanganku sebentar."


"Baik pak."


Tak berapa lama Alex masuk ke dalam ruang kerja Xander.


"Tolong kau lacak nomor ini." Xander memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nomor handphone. "Aku mau informasi tentangnya hari ini juga."


"Baik pak, segera saya laksanakan."


Xander duduk termenung, ia ingin tahu seperti apa orang yang sudah menjebak Harvey. Perbuatan ini tidak bisa di maafkan karena akan merusak ketentraman suatu rumah tangga, banyak orang yang akan tersakiti.


Tidak perlu membutuhkan waktu lama bagi Alex untuk mendapatkan informasi.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Ini nomor yang sekali pakai pak. Jadi saya tidak bisa menemukan siapa pemilok asli nomor ini."


"Sekali pakai? itu artinya dia sudah profesinal." gumam Xander. "Alex kau nanti ikut denganku ke sebuah klub. Jangan banyak bertanya, laksanakan saja apa yang aku perintah!"


"Baik pak."


"Harvey sudah datang?"


"Belum pak."


"Panggilkan istriku kemari."


"Baik pak."


Alex segera pergi menuju ke ruangan Kamisha. Saat itu Kamisha sedang ada tamu, yaitu dari bagian keuangan.


"Maaf bu Misha, kami ingin mengkonfirmasi masalah pengeluaran ini." staf bagian keuangan yang bernama Nita memberikan Kamisha beberapa nota pengeluaran.


"Ini nota pengeluaran dari tim dua?" tanya Kamisha.


"Iya betul. Laras berada di tim dua kan?"


"Iya, dia satu tim dengan saya. Tapi yang saya tahu tim kami tidak pernah ada pengeluaran sebanyak ini."


"Tapi ini tanda tangan Laras kan?"


"Iya betul ini memang tanda tangan Laras, tapi setiap pengeluaran pasti setahu saya sebagai ketua tim dua."


"Saya mohon ibu bisa menyelesaikan masalah ini, sebelum saya laporan pada pak Xander."


"Baik, secepatnya akan saya selesaikan masalah ini."


"Baik, saya tunggu. Kalau begitu saya permisi."


Nita segera meninggalkan ruangan Kamisha. Kamisha termenung sesaat sampai Alex datang.


"Bu Misha, pak Xander memanggil."


"Baik aku akan kesana. Terima kasih pak Alex."


Kamisha segera bangkit dari duduknya dan segera menuju ke ruangan suaminya.


"Kau memanggilku sayang?"


"Iya. Kemarilah." Xander menepuk nepuk pahanya sebagai isyarat agar Kamisha duduk di sana.


Kamisha hanya menurut perintah suaminya. "Kangen padaku."


"Sangat."


"Hmmm. Mulai lagi."


"Nggak sayang, aku ada janji dengan Harvey."


"Masalah proyek di Jogja?"


"Masalah lain?" Kamisha mengerutkan keningnya.


"Nanti aku akan cerita kalau masalahnya sudah jelas. Percayalah padaku." Xander memberi tatapan mendalam pada Kamisha.


Dengan lembut Kamisha mencium kening Xander. "Aku percaya padamu."


"Ah, berat aku meninggalkanmu dan harus pergi bersama Harvey."


"Hahahah.. kau seperti Axel saja. Dasar manja." Kamisha mengelus lembut rambut suaminya. "Kan masih bisa nanti malam sayang." matanya mengerling penuh arti.


Tiba - tiba..


"Kau sudah siap?" Harvey masuk begitu saja dalam ruangan. "Opps.. sory bro aku tidak tahu kalau kalian baru___." Harvey tidak meneruskan perkataannya.


"Hei jangan perpikir sembarangan." ucap Xander. Kamisha segera turun dari pangkuannya. Dan membenahi baju Xander yang sedikit berantakan. "Aku pergi dulu." pamitnya sambil mengecup kening Kamisha.


"Hati - hati.. semoga lancar." Kamisha tidak menaruh kecurigaan sama sekali terhadap suaminya karena selama mengenalnya, Xander di kenal sebagai sosok yang tidak suka berbohong. Ia pasti memiliki alasan tersendiri kenapa tidak cerita dengannya. Dan Kamisha menghargai itu.


🌸🌸🌸🌸


Setelah kepergian Xander bersama Harvey. Kamisha berencana menelepon Laras. Mereka janji bertemu di sebuah cafe. Ia akan menanyakan masalah pengeluaran yang begitu banyak di timnya.


"Misha."


"Hei.. sebelah sini." Kamisha melambaikan tangan. Bergegas Laras menghampiri. "Mau minum apa?" tanya Kamisha.


"Jus jambu tanpa gula."


Kamisha segera memesan jus jambu untuk Laras dan jus strawberry untuk dirinya. Tak lama pesanan datang.


"Tumben Sha mengajak aku ketemuan disini."


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."


"Soal apa?"


"Kau masih ingat bulan lalu kita kedatangan tamu. Dan ada beberapa biaya yang kita keluarkan."


"Ya aku ingat. Ada souvenir, armada untuk wisata, tiket masuk wisata."


"Yakin tidak ada tambahan yang lain?"


"Yakin, Sha. Aku ada catatannya kok." ucap Laras. "Semua bukti nota juga aku copy untuk arsipku sendiri."


"Baiklah.. sampai kantor nanti aku minta nota itu semua."


"Sebenarnya ada apa sih, Sha? kau membuatku takut."


"Tadi Nita dari bagian keuangan sempat klarifikasi bahwa pengeluaran tim kita terlalu banyak. Sehingga antara pendapatan yang kita capai menjadi setara dengan pengeluaran kita. Itu artinya kita tidak mencapai target. Bahkan beberapa bulan terakhir pengeluaran kita melebihi pendapatan yang kita capai."


"Wah ada yang tidak beres ini."


"Maka dari itu aku bertanya padamu. Karena semua pengeluaran ada tanda tangan darimu."

__ADS_1


"Nggak mungkin Sha aku berani melakukan korupsi seperti itu."


"Kamu tenang dan jangan panik. Aku akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas."


"Kalau pak Xander tahu akan hal ini aku pasti akan dipecat. Padahal aku tidak melakukannya."


"Nita tadi juga memberi kita waktu dua hari sebelum laporan keuangan ada di meja suamiku." jelas Kamisha. "Aku ingin semua arsip pengeluaranmu selama enam bulan kebelakang. Kita harus menemukan siapa pelakunya."


"Baik, akan aku serahkan semua."


"Tapi menurutmu apakah ada orang yang berkhianat di dalam tim kita?"


"Entahlah kalau itu aku tidak tahu, Sha." jawab Laras. "Tahu soal ini saja sudah membuatku pusing."


"Ayo kita kembali ke hotel dulu. Jam makan siang sudah habis." ajak Kamisha. "Tapi ingat, masalah ini hanya kita berdua yang tahu. Semakin sedikit yang tahu, semakin mudah untuk aku selidiki."


"Oke."


Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke hotel.


🌸🌸🌸🌸


"Ini klub malam yang kau datangi?"


"Ya."


"Alex kau mengenal owner klub ini bukan?"


"Ya pak."


"Segera hubungi, aku mau bicara langsung dengan owner nya."


"Baik pak."


Alex segera melakukan panggilan dan tak lama kemudian ada dua orang dengan tubuh penuh tatto, mengenakan kaos hitam memghampiri mereka.


"Selamat siang, dengan pak Xander?" tanya mereka.


"Ya betul."


"Pak Yoga mempersilahkan anda masuk keruangannya."


Xander, Harvey dan Alex segera mengikuti pria tadi menuju sebuah ruangan. Karena ini siang klub masih dalam keadaan sepi. Yang ada hanya petugas cleaning service yang membersihkan sisa kotoran dan botol minuman.


"Silahkan masuk, pak Yoga menunggu di dalam."


"Terima kasih." ucap Xander.


Ruangan yang didominasi warna hitam ini menambah kesan bahwa pemiliknya adalah orang yang suka memimpin, disegani dan suka dengan ketenangan.


"Selamat siang pak Xander, selamat datang di gubug saya."


"Selamat siang pak Yoga, senang berkenalan dengan anda."


"Hai Alex, kau tambah gemuk rupanya." sapa Yoga.


"Jangan seperti itu kawan, aku hidup makmur seperti ini karena ada pak Xander."


"Ya.. ya.. aku percaya." Yoga terkekeh. "Silahkan duduk."


Mereka berempat duduk di sebuah sofa berwarna Silver. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Ada." jawab Xander. Ia tidak mau berbasa - basi karena menurutnya masalah ini harus segera diselesaikan. "Jadi begini pak Yoga, saudara saya ini kemarin malam mabuk berat di klub anda. Sampai ia tidak sadarkan diri. Dan tahu - tahu ia sudah kena tipu oleh seorang wanita. Kami hanya ingin mencari bukti bahwa saudara saya ini tidak bersalah."


"Hmm.. bisa__ bisa saja."


"Kami ingin melhat rekaman CCTV di klub ini, tepatnya kemarin jam sepuluh malam."


"Baik, tunggu sebentar." Yoga segera melakukan panggilan terhadap salah satu anak buahnya. "Nah, pak Xander ini Yanto. Dia ada di bagian tehnik dan mengurusi seluruh CCTV yang ada di sini."


"Bagus, saya senang dengan cara kerja anda yang cepat."


Mereka berempat dengan seksama melihat rekaman CCTV.


"Tunggu, stop." teriak Harvey. "Itu aku."


"Ah ya benar, kamu sedang minum sendiri."


"Kalau ini lebih jelas dilihat dari kamera tiga." jelas Yanto.


"Perlihatkan." perintah Yoga.


Dengan cekatan Yanto memperlihatkan tangkapan gambar dari kamera tiga.


Dan benar yang dikatakan Yanto. Disana Harvey terlihat lebih jelas. Mereka lanjut melihat rekaman lagi hingga sampai dimana ada seorang wanita yang data mendekati. Di dalam gambar Harvey beberapa kali menghalau wanita itu akan tetapi dia tetap nekat duduk di meja Harvey. Hingga sampai pada wanita itu terlihat wajahnya.


"Stop!" teriak Xander. "Tolong diperbesar."


"Baik." Yanto melakukan tugasnya. Ia segera memperbesar gambar wajah wanita itu.


"Itu orangnya?" tanya Xander


"Ya benar, itu dia orangnya." jawab Harvey


"Pak Yoga, apakah anda mengenalnya? siapa tahu dia salah satu staf atau waiters disini."


"Tunggu sebentar, bisa kau perjelas penampakan gambar itu, Yanto? aku seperti mengenalnya."


Yanto segera mengedit gambar itu sehingga wajah wanita itu terlihat lebih jelas.


"Itu Rani, dia waiters di tempat saya. Ia baru bekerja selama tiga bulan. Suaminya masih di dalam penjara, karena saya kasihan jadi saya memutuskan untuk menerimanya bekerja disini."


"Tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya." ucap Xander. "Alex kau masih ingat dengan dia kan?"


Alex dengan seksama memperhatikan wanita yang ada di layar. "Iya itu Rani yang dulu pernah melakukan penipuan di hotel kita." jawab Alex.


Xander tersenyum senang. "Harvey, aku yakin kau akan terbebas dari jebakan ini."


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2