
Melihat kondisi Kamisha yang masih kuat, dokter memutuskan untuknya melahirkan secara normal. Kebetulan letak bayi yang memang sudah siap jadi dokter tidak akan menunda lagi.
Xander seandainya kau ada disini, aku pasti tidak akan merasa ketakutan seperti ini. Aku membutuhkanmu ucap Kamisha dalam hati.
Ia terus berjuang mengejan, mendorong agar bayinya bisa segera keluar. Bayi itu satu - satunya yang mengingatkannya akan Xander.
"Sedikit lagi bu Kamisha! ayo dorong sekali lagi!" dokter dan beberapa perawat memberinya semangat. Walaupun badan Kamisha serasa tak memiliki daya, peluh membasahi dahinya. Tapi ia tidak boleh menyerah.
Ya tuhan kuatkan aku doanya dalam hati. Ia menarik napas panjang dan mulai mendorong lagi dengan kuat.
"Hhegggghhh!!!"
"Oek.. oek.. oek.." suara tangis bayinya membuat semua kesakitan yang ia alami tak terasa lagi. Perasaan bahagia dan haru menyelimuti relung hatinya. Kamisha menitikkan air mata.
Aku telah menjadi ibu. Seandainya kau ada disini Xander, kau pasti akan merasakan perasaan yang sama denganku ucap Kamisha dalam hati.
"Syukurlah bayinya sangat sehat, ia berjenis kelamin laki - laki." perawat menaruh bayi itu di dada Kamisha. Dengan tangan gemetar ia membelai lembut bayi mungil yang berusaha mencari Asi.
"Setelah semua kami bersihkan, anda akan kami bawa ke dalam ruang rawat inap."
"Terima kasih dokter."
"Sama - sama bu Kamisha, selamat atas kelahiran putranya."
Beberapa perawat mengambil dan membersihkan bayi, sementara yang lain membersihkan tubuh Kamisha. Setelah semuanya bersih mereka membawanya ke ruang rawat inap.
"Sayang bagaimana perasaanmu?"
"Aku bahagia, ma."
"Selamat Kamisha."
"Mama sudah melihat bayinya?"
"Belum sayang, mama mau memastikan keadaanmu dulu."
"Dia sangat sehat ma dan juga tampan, persis seperti Xand___." Kamisha tidak meneruskan perkataannya.
"Ya, mama tahu. Dia tampan seperti daddynya." mama Attalia membelai rambut Kamisha. "Istirahatlah, mama akan melihat cucu mama."
Kamisha mengangguk. Ia berada di ruang rawat inap ditemani Axel dan mbok Sri.
Mama Attalia menanyakan kepada perawat dimana letak ruang bayi. Setelah tahu ia segera menuju ke sana menyusuri koridor rumah sakit. Tapi alangkah terkejutnya ketika sampai disana apa yang dia lihat. Xander putra kesayangannya yang sedang menjalankan pengobatan di Singapore sudah berada di sana sedang menggendong putranya. Tampak rona bahagia terpancar dari wajah Xander.
Air mata mama Attalia mengalir deras melihat momen mengharukan itu. Ia hanya melihat dari jauh dan akan menunggu Xander di luar. Ia tidak mau mengganggu.
Hampir setengah jam mama Attalia menunggu putranya keluar. Mungkin bagi Xander ini adalah saat yang paling dia tunggu. Jadi mama Attalia memberinya banyak waktu.
Tak lama kemudian Xander keluar dengan di dorong Alex.
"Xander."
"Mama."
Mama Attalia menghampiri putra dan memeluknya dengan erat.
"Bagaimana kamu bisa disini?"
"Kamisha mau melahirkan ma, mana mungkin aku tidak ada disisinya."
"Kenapa tidak menemuinya?"
"Aku masih belum siap dengan keadaanku. Yang ada nanti malah merepotkannya." jawab Xander.
"Kenapa tidak kau coba? Kamisha masih sangat mencintaimu sayang."
"Aku tahu dia sangat mencintaiku. Tatapan matanya tidak bisa membohongiku." ucap Xander. Ia menghela napas. "Tapi aku malu dengan keadaanku menjadi orang cacat."
"Baiklah mama akan memberimu waktu, kembalilah ke Singapore dan berjuanglah agar kamu segera sembuh dan bisa berjalan lagi. Demi istri dan anak - anakmu."
Xander menitikkan air mata. Ia mengusapnya berkali - kali. "Aku sangat merindukannya, ma. Aku sangat merindukannya."
"Mama tahu, mama ingin kalian kembali menjadi keluarga yang utuh lagi. Janji ke mama bahwa kamu harus sembuh."
"Iya ma."
Mama Attalia kembali memeluk Xander putra semata wayangnya. Tubuhnya agak kurus dari biasanya. Bulu - bulu halus tumbuh di rahang dan kumisnya. Melihat kondisinya seperti itu menjelaskan bahwa di sana ia benar - benar menjalani pengobatan dan menderita.
"Dari mana kamu tahu kalau Kamisha melahirkan?"
"Mbok Sri."
"Mbok Sri?"
"Ya, jadi sebelum aku memutuskan untuk pengobatan di Singapore, aku sudah sering menemui Kamisha tanpa sepengetahuannya." cerita Xander. "Dan mbok Sri mengetahui hal itu, dengan permintaan dariku ia setuju untuk merahasiakan ini semua."
"Aku sudah curiga ketika kau mengatakan ada hal yang harus kau urus di luar kota." ucap mama.
"Ma, aku harus kembali. Sebenarnya dokter tidak setuju aku menghentikan pengobatan. Tapi aku memaksa." jelas Xander. "Aku ingin mama membantuku."
"Apa itu?"
"Aku sudah membeli beberapa perlengkapan bayi yang aku taruh di rumah sewaku di Jogja. Tolong berikan pada Kamisha dan akui kalau itu dari mama."
"Kenapa tidak terus terang? Mama tidak mau berbohong Xander. Ini tidak adil buat Misha."
"Tolonglah, ma. Please." Xander memohon.
Mama Attalia tampak berpikir, ia melihat jauh ke dalam tatapan Xander yang memang benar - benar tulus. "Baiklah." ucap mama Attalia akhirnya.
"Dan satu lagi." ucap Xander. Ia menarik napas sebentar. "Aku ingin nama memberi nama untuk anakku."
"Ttapi bagaimana kalau Kamisha tidak setuju? atau bisa saja ia sudah punya sebuah nama."
"Belum, aku yakin dia belum memikirkan itu." jawab Xander. "Aku ingin memberinya nama Enzio yang arti seorang pemimpin. Enzio Alfero Hadid."
__ADS_1
"Baiklah akan mama coba."
"Terima kasih ma, kamu yang terbaik."
"Berusahalah untuk bisa berjalan lagi, jaga dan lindungi keluargamu."
"Baik, ma. Aku pergi dulu."
Xander segera kembali ke Singapore untuk melanjutkan pengobatannya. Mama Attalia segera melihat cucu nya dan kemudian kembali menemui Kamisha.
"Bagaimana, ma? dia tampan bukan?"
"Yah, dia sangat tampan. Sangat mirip dengan Xander waktu lahir dulu." jawab mama. "Oya Misha kau sudah menyiapkan sebuah nama?"
"Hmm.. belum ma. Terus terang aku masih bingung."
Ternyata benar apa yang dikatakan Xander. Ia tahu betul tentang istrinya ucap mama dalam hati. "Hmm bagaimana kalau mama usul, siapa tahu kamu suka."
"Oya, siapa ma?"
"Enzio, dalam bahasa Italia artinya seorang pemimpin."
"Nama yang bagus, aku setuju."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Aku juga suka nama itu." celutuk Axel
Kemudian seorang perawat membawa bayi masuk ke dalam.
"Maaf, bu Kamisha. Ini waktunya bayi minum Asi. Apa Asinya sudah keluar?"
"Sudah." jawab Kamisha.
"Baiklah mari kita coba."
Perawat membawa bayi ke dalam pangkuan Kamisha. Dengan perlahan ia membantu Kamisha untuk memberi Asi yang benar pada bayi, termasuk posisi - posisi agar bayi merasa nyaman.
"Enzio sayang." panggil Kamisha sambil menatap putranya yang masih asyik minum Asi.
Axel juga membelai lembut pipi adiknya. Semua sangat bahagia menyambut Enzio ke dunia.
🌸🌸🌸🌸
Sudah satu minggu Kamisha keluar dari rumah sakit. Sementara ini ia tinggal di rumah mama Attalia. Banyak yang datang menjenguk Enzio.
"Kau sudah tahu beritanya Kyara?" tanya Sofi.
"Sudah, kemarin keluarga om Dimas datang menjenguk Enzio dan menceritakan semuanya."
"Kenapa dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa?"
"Ya karena dia gila. Dirumah sakit jiwa saja ia masuk ke dalam bangsal tersendiri dan terisolasi. Sikapnya itu bisa membahayakan pasien yang lain. Yah walaupun keluarga korban tidak puas dengan keputusan hakim tapi apa boleh buat. Ia memang gila dan itu terbukti."
"Betul juga. Aku dengar dari keluarga Norman dia berusaha untuk bunuh diri dengan membentur - benturkan kepalanya."
"Oya Sha bagaimana rencanamu ke depan? Kau akan menetap disini?"
"Dua hari lagi aku akan pulang ke Jogja."
"Kenapa?"
"Axel harus sekolah dan juga___." Kamisha terdiam.
"Karena Xander?"
Kamisha mengangguk.
"Aku ini tidak habis pikir. Kalian itu saling mencintai, masalah sudah selesai, kau terbukti tidak selingkuh lantas apa lagi yang menghalangi kalian. Buang ego kalian sebagai orang tua. Kasihan anak - anak."
"Entahlah." Kamisha menghela napas.
"Kau masih mencintainya?"
"Sangat, tapi rasa kecewa karena merasa terbuang itu yang terkadang menghantui perasaanku."
"Heh, ya sudahlah. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang terbaik. Jika kau minta pendapatku lebih baik kalian saling memaafkan."
"Terima kasih Sof, kau sahabat terbaikku. Kau selalu memguatkanku."
"Sama - sama."
Sofi pamit pulang, Kamisha melanjutkan untuk berkemas dan terkadang mengecek kondisi Enzio.
Mama Attalia masuk ke dalam kamar. "Sha, kamu yakin akan pulang ke Jogja?"
"Yakin ma."
"Kenapa tidak di Bandung saja? kalau kau tidak mau disini kau bisa ke rumahmu sendiri."
"Rumah yang disini masih di kontrak oleh orang ma."
"Besok mama akan menemanimu pulang ke Jogja. Mama sebenarnya masih ingin bersama baby Zio."
"Maafkan aku, ma. Sebenarnya terlalu banyak kenangan dengan Xander di rumah ini. Aku takut jika aku terlalu stres bisa mempengaruhi Asi ku."
"Iya mama tahu. Mama tidak akan menahanmu disini, tapi mama yakin kamu pasti akan dibawa kesini lagi oleh Xander."
Aku harap seperti itu. Xander mau kembali padaku ucap Kamisha dalam hati.
"Oya Sha, mama sudah membeli beberapa keperluan untuk baby Zio."
"Wah aku jadi merepotkan mama."
"Tidak sayang, itu wujud sayang mama untuk baby Zio."
__ADS_1
Kamisha memeluk mama Attalia. Ia sudah menganggapnya seperti orang tuanya sendiri. Sedih rasanya harus meninggalkan mama sendiri.
🌸🌸🌸🌸
Tiga bulan sudah berlalu. Baby Zio sudah semakin gembul. Toko kue milik Kamisha berkembang sangat pesat. Sekarang ia sudah memiliki dua orang karyawan. Yang satu adiknya Suci dan satu lagi keponakannya Ajeng di kampung.
"Mommy, kenapa lama sekali." Axel menggerutu.
"Sebentar sayang, adikmu masih minum Asi. Sebentar lagi ya."
"Aku tidak mau terlambat."
"Tenang masih ada waktu, tidak akan terlambat." teriak Kamisha dari dalam kamar. Ia berusaha menenangkan Axel. Hari ini ia akan mengikuti lomba mewarnai mewakili sekolahnya.
"Zio sayang, minumnya berhenti dulu ya. Kau sudah kenyang sayang." ucap Kamisha. "Kau dengar, kakakmu sudah ribut dari tadi. Mommy tinggal sebentar ya." Kamisha menggendong Enzio dan menyerahkannya pada mbok Sri.
"Mbok titip Zio sebentar."
"Nggih mbak." jawab mbok Sri. "Nah ikut mbok Sri dulu ya, jangan rewel."
Kamisha segera berganti baju dan memasukkan beberapa kardus kue pesanan dari temannya. Setelah mengantar Axel ke tempat lomba, Kamisha akan langsung mengantar pesanan.
"Ayo sayang."
"Baik mommy."
Selama perjalanan mereka terlibat pembicaraan seru. Axel selalu punya bahan pembicaraan ketika mereka ngobrol berdua di mobil. Ia sangat pintar membuat hati Kamisha bahagia, tertawa.
"Nah kita sudah sampai."
Axel segera bersiap untuk keluar dari mobil. "Mommy aku masuk dulu."
"Axel sayang, semangat ya. Mommy tidak menargetkanmu untuk juara. Tapi mommy ingin kamu berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuanmu sendiri untuk meraih kemenangan itu."
"Terima kasih mommy, aku akan berusaha."
Kamisha memeluk hangat Axel dan memberinya sebuah ciuman. Setelah itu ia melanjutkan kembali perjalanannya ke tempat kerja temannya mengantar pesanan kue. Berdasarkan informasi hari ini akan ada pengalihan perusahaan pemilik lama ke pemilik yang baru. Oleh sebab itu ia mempercayakan hidangannya dari kue buatan Kamisha.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di perusahaan itu. Setelah memakirkan dengan sempurna Kamisha segera menuju lobby.
"Kamu dimana Wi?" tanya Kamisha di telepon.
"Sebentar, aku masih sibuk menata meja. Bisakah kau naik ke atas. Bilang saja sama yang ada di lobby, kau mau antar pesanannya Dewi."
"Oke, baiklah."
Setelah konfirmasi dengan resepsionis, akhirnya Kamisha naik ke lantai atas menggunakan lift. Barang bawaannya banyak beruntung ada security yang membantunya.
Ting... pintu lift terbuka.
Kamisha sempat bingung karena di sana banyak orang lalu lalang untuk persiapan acara. Setelah mengedarkan pandangan akhirnya Kamisha melihat Dewi yang sibuk menata bunga. Ia melangkah menghampiri Dewi.
"Wi." panggilnya.
"Hai, Sha. Aduh maaf ya merepotkanmu. Habis mau gimana lagi semuanya sibuk karena acaranya mendadak banget."
"Tidak apa - apa, justru aku berterima kasih sudah mendapat banyak pesanan darimu."
"Oya, Sha uangnya aku tranfer ya."
"Iya santai saja." ucap Kamisha.
"Lihat itu semuanya sibuk, mana aku nggak bisa menata bunga lagi."
"Mau aku bantu?"
"Eh kamu bisa?"
"Bisa, kan aku pernah kerja di EO empat tahun."
"Okelah."
Kamisha mulai menata bunga ke dalam vas. Kemampuannya sama sekali tidak memudar. Tidak membutuhkan waktu lama, semua bunga itu tertata rapi dan indah dalam sebuah vas."
"Wow, bagus banget." puji Dewi.
"Ah jangan begitu, aku jadi malu."
"Hah aku lega sekarang, semuanya serba mendadak sih. Tau - tau perusahaan diambil alih oleh seorang pengusaha muda asal Bandung. Katanya sih dia sangat sukses. Punya beberapa hotel."
"Pengusaha asal Bandung? punya hotel?" tanya Kamisha dengan suara bergetar.
"Iya bener. Kata orang sih dia tampan, wajahnya kebule - bulean tapi sayang sudah punya anak istri. Pupus sudah harapan." sesal Dewi. "Eh kamu kan pernah kerja di Bandung, terus katanya suamimu juga orang sana mungkin kenal."
"Ssiapa namanya?" tanya Kamisha terbata - bata.
"Xander Alfero Hadid, tuh namanya ada di layar." tunjuk Dewi di panggung utama yang terdapat jelas nama Xander.
Wajah Kamisha seketika pucat pasi melihat nama itu. Aku harus pergi dari sini, aku belum siap bertemu dengannya pikir Kamisha.
"Eh, Wi aku pamit dulu."
"Kenapa buru - buru? kita minum dulu di kafe bawah, kan pekerjaan ku sudah selesai."
"Hmm, lain kali saja. Kasihan anakku aku tinggal sendiri."
"Ya sudah. Terima kasih banyak bantuaannya. Hati - hati di jalan."
Kamisha hanya membalas dengan senyuman dan lambaian tangan. Ia segera berbalik arah menuju pintu lift. Dengan tangan gemetar ia menekan tombol turun berkali - kali, ia merasa lift itu sangat lambat.
Dan akhirnya ting... pintu lift terbuka. Hati Kamisha lega. Ia segera melangkahkan kaki tapi dengan cepat terhenti karena sosok yang ada dalam lift tersebut
"Xxander." ucapnya lirih.
"Hai, Misha istriku."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸