Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Saling Menginginkan


__ADS_3

Seketika Xander pingsan karena pukulan Kamisha cukup keras. Kamisha membenahi pakaiannya yang robek - robek akibat perbuatan Xander. Jauh di lubuk hati Kamisha ia kecewa dengan keputusan yang diambilnya. Akan tetapi menurut akal sehatnya itu adalah keputusan yang terbaik.


Bagaimana bisa ia memanfaatkan ketidak sadaran Xander untuk keinginan pribadinya. Ia tahu Xander tidak mencintainya. Daripada semuanya keterpaksaan dan hanya menuruti hawa nafsunya sendiri. Bagaimana jika suatu saat nanti Xander menemukan orang yang benar - benar ia cintai dan hanya karena bertanggung jawab terhadapnya mereka tidak bisa bersama.


"Maafkan Aku Xander, sebenarnya aku sangat mencintaimu, aku nyaman bersamamu. Tapi untuk orang seperti aku ini bagaikan mimpi. Aku tidak berani berharap terlalu banyak. Sekali lagi maafkan aku." Kamisha menitikkan air mata, membelai lembut pipi dan mengecup kening Xander.


Kamisha melepas pakaiannya dan menggantinya dengan bathrobe. Ia menelepon seseorang. "Halo, pak Alex."


"Ya, mbak Misha."


"Tolong antarkan mama dan Axel pulang. Xander sedang sakit aku membawanya ke kamar hotel."


"Apa perlu saya panggilkan dokter?"


"Tidak usah, biarkan saja dia istirahat."


"Baik saya akan mengantar nyonya dan Axel pulang."


"Terima kasih pak Alex."


Kamisha menutup panggilannya. Ia kembali memandang Xander yang masih terkapar pingsan hanya menggunakan celana boxer.


Kamisha kembali melakukan panggilan. "Halo kau dimana?"


"Aku masih di hallroom, ada apa Sha?"


"Kemarilah ke kamar 3013."


"Kau ada masalah?"


"Kemarilah nanti aku ceritakan."


"Baiklah."


Kamisha mengakhiri panggilannya. Ia duduk di sofa sambil terus berpikir. Ia melihat kembali dadanya yang penuh bercak - bercak merah akibat perbuatan Xander. Kamisha mengusap pelan, memejamkan mata sambil merasakan sisa rasa Xander yang masih ada di sana.


Ting.. tong..


Itu pasti Sofi batin Kamisha. Ia segera membuka pintu.


"Sha, apa yang terjadi?"


"Masuklah."


Mereka berdua masuk ke dalam. Seketika Sofi berteriak melihat Xander terkapar di lantai.


"Sha, kau.. kau.. membunuh Xander?"


"Jangan banyak berkhayal kamu."


"Terus ini.. ini.. apa?"


"Sudah bantu aku membawa Xander ke atas tempat tidur."


Mereka berdua berusaha membawa Xander ke tempat tidur.


"Aduh berat banget ini badan. Kamu kasih makan apa sih, Sha?"


"Makan batu." jawab Kamisha asal.


"Kamu berhutang jawaban denganku."


"Iya.. iya.. ayo jangan berhenti. Ini kurang sedikit." dengan sekuat tenaga Kamisha menaikkan Xander ke atas tempat tidur. Dan akhirnya mereka berhasil.


"Huff.. huff.. akhirnya kita berhasil." Sofi duduk di bawah dengan napas terengah - engah. Kamisha mendekati dan duduk di sampingnya. Tanpa sengaja bathrobenya sedikit terbuka. Sofi tanpa sengaja melihat bercak kemerahan itu.


"Sha, kamu___." ucap Sofi tidak meneruskan kalimatnya. Ia menyibak bathrobe yang dikenakan Kamisha hingga bercak itu terlihat dengan jelas. Kamisha menangkis tangan Sofi dengan cepat "Kau___."


"Jangan perpikiran yang tidak - tidak ya."


"Lantas ini apa? ini tanda bahwa kau milik Xander."


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." mata Kamisha berkaca - kaca. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Sofi. Sofi langsung mengerti kalau sahabatnya sedang dalam kondisi tidak baik.


"Kalau kamu mau menangis, menangislah."


Seketika pecahlah tangis Kamisha. Sofi dengan sabar menenangkan sahabatnya itu. Setelah puas menangis Kamisha memulai ceritanya.


"Xander terkena pengaruh obat perangsang."


"Kok bisa?"


"Kyara dan Tina yang memberinya."


"Gila! dasar keponakan tidak tahu diri!"


"Beruntung, ada yang memberitahuku. Jadi bisa aku cegah rencana jahat mereka."


"Aku tidak habis pikir, terbuat dari apa hati keponakanmu itu. Benar - benar kelewatan! Bagaimana bisa ia merebut suami buliknya sendiri."


"Sudahlah, Sof. Yang penting sekarang Xander selamat."


"Terus apa yang terjadi padamu?" tanya Sofi sambil menunjuk dada Kamisha.


"Karena Xander dalam pengaruh obat, dia melakukan ini padaku."


"Kalian melakukan hubungan suami istri?"


"Belum, aku menolaknya."


"Kenapa Sha? aku tahu kau mencintai Xander."


"Ya tapi dia tidak mencintaiku."


"Darimana kau tahu dia tidak mencintaimu, nyatanya ia melakukan ini padamu. Ini kesempatanmu untuk meraih kebahagiaan, Sha. Xander pria yang baik, aku yakin dia kan membahagiakanmu dan Axel."


"Aku.. aku bingung, Sof. Dia dalam pengaruh obat. Dan aku merasa akan bersalah jika melakukan ini padanya. Bagaimana perasaannya jika suatu saat dia menemukan oramg yang dia cintai tapi tidak bisa bersatu hanya karena aku."


"Tapi aku yakin Xander mencintaimu, Sha."


"Dia hanya baik padaku, dia hanya kasihan dan menganggapku sebagai teman. Aku yang terlalu banyak berharap dan salah mengartikan perhatiannya."


"Itu karena kau tidak berusaha memikat hatinya."


"Untuk apa? aku dan Xander berbeda Sof."

__ADS_1


"Ya tuhan. Terus bagaimana dengan perasaanmu padanya?"


"Biarlah aku simpan sendiri saja."


"Sha, aku ingin kamu bisa merasakan kebahagiaan. Selama ini kau banyak berkorban demi orang lain. Bisakah sekali waktu kau egois demi kebahagianmu sendiri."


"Aku kalah, Sof. Aku terlalu mencintainya."


"Aku hanya berdoa agar kamu bisa mendapatkan kebahagiaan, Sha." ucap Sofi sambil memeluk Kamisha. "Aku akan mencarikanmu baju."


"Terima kasih, Sof."


Sofi bangkit dari duduknya dan segera keluar untuk membawakan Kamisha baju. Sedangkan Kamisha memakaikan kembali pakaian Xander yang tergeletak di lantai.


Sementara itu...


Pertengkaran antara Heny dan Kyara masih berlanjut. Rambut dan baju mereka sudah tidak berbentuk lagi. Muka mereka lebam dan tangan penuh dengan luka cakaran. Sedangkan Tina sudah terkapar tak berdaya di lantai.


"Heh.. heh.. kita hentikan saja pertengkaran ini." ucap Kyara dengan napas tersengal - sengal. "Ingat aku pernah jadi sahabatmu. Bagaimana kalau kita bekerja sama."


"Heh.. heh.. bekerja sama? kamu pikir aku mau bekerja sama dengan seorang pengkhianat sepertimu!"


"Aku terpaksa karena diancam om Dimas."


"Sudah cukup! hentikan sandiwaramu itu Kyara! mulutmu sungguh berbisa seperti ular."


"Percayalah padaku." Kyara berusaha meyakinkan Heny. "Kalau kau bantu aku mendapatkan Xander, hidupmu dan suamimu akan terjamin. Aku tahu saat ini kau butuh uang karena suamimu kena PHK."


"Hahahahah.." Heny tertawa terbahak - bahak.


"Apa yang lucu?"


"Kalau dulu kau berbicara seperti itu, mungkin aku akan percaya. Tapi sekarang setelah tahu seperti apa dirimu aku sepertinya harus berhati - hati masuk ke dalam jebakanmu."


"Tidak ada yang mau menjebakmu."


"Hahahahh.. bagaimana dengan om Dimas?"


"Apa maksdumu? aku tidak mengerti?"


"Kau menjebak om Dimas dan sekarang kau juga mau membunuhnya bukan?"


Kyara tersentak, wajahnya tampak terkejut dan waspada. "Aku? membunuh?"


"Ya, tadi siang om Dimas tertabrak motor. Sekarang dia di rumah sakit. Jangan bilang kau tidak tahu ya."


"Aku__ aku memang tidak tahu." ucap Kyara. "Benarkah om Dimas tertabrak motor? oh aku turut sedih."


"Simpan wajah topengmu itu, jangan pura - pura bersimpati padahal dalam hati kau bersorak."


"Aku benar - benar sedih, Hen. Apalagi om Dimas sempat menjadi penolongku di masa lalu."


"Dasar pembohong! dasar nenek sihir!" umpat Heny emosi


"Stop! lama kelamaan kau ngelunjak ya! aku sudah bersabar dari tadi! jangan menuduh sembarangan, buktikan kalau aku yang membunuh om Dimas."


"Oke! akan aku buktikan! kau tunggu saja. Aku akan membuatmu membusuk di penjara." ucap Heny sambil meninggalkan Kyara dan Tina yang sudah terkapar di lantai.


🌸🌸🌸🌸


"Aduh!" teriak Xander ketika mencoba bangun.


Xander meminum susu itu hingga hampir setengah gelas.


"Aku kenapa?"


"Kamu tiba - tiba pingsan dan jatuh." jawab Kamisha berbohong.


"Yah, aku memang merasa pusing dan panas. Kau yang membawaku ke sini?"


"Ya." jawab Kamisha singkat. Ia mengalihkan pandangan takut kalau ketahuan berbohong, padahal ia sudah berjanji pada Xander untuk tidak membohonginya.


"Setelah merasakan pusing, aku mencarimu. Tapi justru Kyara yang bertemu denganku."


"Hmm, awalnya begitu tapi dia membawamu padaku."


"Oh, syukurlah." ucap Xander dengan nada lega. Ia menyandarkan punggungnya. "Bagaimana acara semalam?"


"Lancar, beruntung kamu pingsan setelah acara inti. Apalagi ada Alex. Dia juga yang mengantar mama Attalia dan Axel pulang."


"Maaf aku merepotkanmu."


"Tidak apa - apa."


"Kau tahu kenapa aku tiba - tiba pingsan? Seingatku kondisi tubuhku selalu fit. Aku rutin olah raga dan cek ke dokter."


"Kemarin kan kamu juga habis sakit, terus semalam juga belum makan karena sibuk menyapa tamu."


"Oh, mungkin saja." ucap Xander ragu. Ia seperti merasakan hal yang lain. Ia memandangi Kamisha yang sibuk menata makan pagi untuknya.


"Nah sekarang kau makan dulu."


"Terima kasih." jawab Xander. "Tapi semalam aku mimpi aneh."


"Mimpi apa?" tanya Kamisha.


Tidak mungkin aku bercerita tentang mimpiku yang semalam, tidak mungkin aku bercerita di dalam mimpiku kita bercinta, saling memadu kasih. Dan terus terang aku menyesal kenapa itu hanya mimpi. Aku ingin merasakannya dalam dunia nyata. Di dalam mimpi saja aku merasakan kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan. Bercumbu denganmu membuatku menginginkan lebih Kamisha batin Xander dalam hati. Ia mengalihkan pikirannya dengan memakan sarapan.


"Atau jangan - jangan mimpi mesum ya?" pancing Kamisha.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Xander kaget dengan pertanyaan Kamisha dan tersedak.


"Aduh makannya pelan - pelan dong, seperti Axel saja." ucap Kamisha sambil menyodorkan segelas air putih.


Xander meminumnya, setelah agak tenang dia berkata. "Memangnya kamu tahu mesum itu apa? atau kau sendiri yang bermimpi seperti itu?"


"Hah.. nggaklah." ucap Kamisha malu, ia segera menghindar dengan pura - pura menonton televisi.


Xander menghabiskan makanannya karena ia ingin segera pulang. Ia ingin memeriksakan ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatannya. Jangan sampai dia menjadi pria yang loyo.


"Sha, aku sudah selesai."


"Ya, akan aku singkirkan." jawab Kamisha."Air hangat sudah aku siapkan, kau mau mandi sekarang?"


"Boleh."

__ADS_1


"Sebentar aku singkirkan dulu piringnya, aku akan memapahmu kesana."


Xander tersenyum, inilah momen yang dia suka yaitu berdekatan dengan Kamisha. Aroma tubuhnya selalu dia rindukan.


Xander segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan diri sehingga terasa lebih segar.


"Misha, aku sudah selesai."


"Ya, aku kesana."


Kamisha segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia tampak terpesona dengan penampilan Xander yang hanya mengenakan bathrobe, dada bidangnya terlihat sedikit dengan sisa - sisa air yang menetes dari rambutnya yang basah. Gila! kenapa aku jadi teringat kejadian semalam, pesona Xander memang sangat kuat batin Kamisha. Ia menarik napas panjang berusaha menetralkan jantung dan nafsu nya.


Kamisha menaruh tangannya pada pinggang Xander. Dan Xander menaruh tanganya pada pundak Kamisha. Dengan perlahan Kamisha memapah Xander keluar dari kamar mandi.


"Kamu duduk dulu di tempat tidur aku akan mengambil bajumu." jelas Kamisha. Entah ia tersandung apa tiba - tiba saja ia oleng sehingga tubuhnya jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Xander menindih tubuhnya.


"Maaf." ucap Kamisha lirih.


Tapi justru menurut Xander yang ia dengar seperti *******.


"It's okey."


Mata mereka saling beradu, saling mengagumi dalam hati.


"Xander aku__." ucap Kamisha sambil berusaha menggeser tubuh Xander dari atas tubuhnya.


"Kepalaku pusing, Misha." Xander pura - pura melemah. Kepalanya ia sandarkan pada kepala Kamisha. Kening mereka saling beradu.


"Kau__ kau ppusingg?"


"Ya." jawab Xander. Aroma mint dari mulutnya membuat jantung Kamisha berdetak tidak beraturan.


Kalau di biarkan lama - lama, bisa - bisa aku sakit jantung batin Kamisha. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menyingkirkan tubuh Xander. Dan yes..!sedikit lagi berhasil, Kamisha tersenyum puas. Tapi tangan Xander menarik pinggangnya sehingga mereka berubah posisi. Tubuh Kamisha berganti menindih Xander.


"Aaacchh..!" teriak Kamisha kaget dengan gerakan cepat Xander. "Maaf__ maaf__ aku akan menyingkir."


Tangan Xander menahannya. Ia mempertahankan posisi seperti ini. Itu membuat Kamisha hampir saja lepas kendali. Ia benar - benar ingin melanjutkan kejadian semalam.


"Aku pusing, Misha. Kenapa kau tega menghindariku." ucap Xander


"Bbukan itttu mmaksudku." Kamisha menjawab dengan gugup. "Kkkalau aku tetap diatasmu, kau akan sesak napas."


"Tidak akan, kau seringan kapas."


"Ttapi___." belum sempat Kamisha meneruskan perkataannya tiba - tiba. Ting... tong... bel pintu berbunyi.


Yes, aku bisa menghindar teriak Kamisha dalam hati. "Aku buka pintu sebentar ya."


Sial, lihat saja siapa yang datang kalau karyawan hotel akan aku pecat, kalau itu Alex akan aku hukum seberat - beratnya ancam Xander.


"Oh, pak Alex. Sebentar Xander baru berganti baju."


"Pak Xander sedang berganti baju?" tanya Alex. Ia sedikit mengintip ke dalam. Dilihatnya Xander yang memgenakan bathrobe setengah acak - acakan duduk diatas tempat tidur. Tatapan matanya sudah mengisyaratkan kalau kedatangan Alex tidak tepat. Seketika wajah Alex menjadi pucat. Ia sepertinya sudah siap menerima hukuman. "Kalau begitu saya tunggu diluar saja."


"Masuk saja pak, tidak apa - apa."


"Tidak, saya tunggu diluar saja."


"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar saya akan membantu Xander ganti baju."


Kamisha masuk kembali ke dalam kamar, ia memberikan satu stel baju santai pasa Xander. Setelah selesai mereka keluar dari kamar hotel dan pulang. Sepanjang oerjalanan Alex hanya diam. Ia baru menyiapkan mentalnya untuk menerima hukuman dari atasannya itu.


"Misha."


"Ya."


"Aku akan mengantarmu pulang dulu."


"Kau mau kemana? tidak istirahat dirumah?"


"Tidak, aku akan ke kantor sebentar. Ada berkas yang ketinggalan."


"Baiklah."


Setelah mengantar Kamisha pulang Xander langsung menuju ke rumah sakit bertemu dengan dokter keluarga.


"Bagaimana dok? saya sakit apa?"


"Setelah melalui beberapa pemeriksaan saya rasa anda baik - baik saja dan dalam kondisi yang sangat baik, sangat fit."


"Tapi kenapa saya bisa pingsan?"


"Apa pak Xander merasakan gejala sebelum pingsan tak sadarkan diri."


"Ada dok, saat itu saya pusing dan badan saya terasa panas."


"Apa pak Xander mengkonsumsi obat sebelum pergi ke pesta itu?"


"Seingat saya tidak dok."


"Hmm, kalau begitu bagaimana kalau kita tes darah? terdapat kandunga apa saja yang ada di dalam darah pak Xanser."


"Baiklah dok, saya setuju."


Dokter segera menyuruh perawat untuk mengambil darah Xander.


Setelah menunggu setengah jam, hasil sudah terlihat.


"Maaf pak Xander saya menemukan kandungan obat di dalam darah pak Xander."


"Apa itu dok?"


"Ini yang baru kami dalami pak." jawab dokter. "Kami akan memberitahukan hasilnya besok pagi. Kandungan obat apa itu? apakah berbahaya untuk tubuh pak Xander atau tidak."


"Baik dok, saya tunggu hasilnya."


Xander segera pamit keluar. Ia sedikit curiga dengan apa yang menimpanya. Alex mengikutinya dari belakang.


"Alex."


"Ya, pak."


"Hukumanmu.mencari tahu apa yang menjadi penyebab aku pingsan semalam."


"Baik pak, siap."

__ADS_1


Xander segera pulang dengan berbagai macam pertanyaan dalam hatinya. Ini seperti teka teki yang harus ia pecahkan. Apa yang terjadi malam itu.


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2