Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Kerja sama dengan Matteo


__ADS_3

Pagi ini Kamisha dan Xander bersiap menjemput mama di rumah sakit. Awalnya Axel ingin ikut tapi karena hari ini sekolah jadi ia mengurungkan niatnya.


"Sudah siap semua?"


"Sudah sayang." jawab Kamisha sambil meletakkan Zio yang sudah tertidur di box bayi.


"Apa kita ajak dia saja?"


"Tidak usah, kita perginya kan ke rumah sakit. Lagian ada mbok Sri."


"Ya sudah ayo kita turun." ajak Xander. "Hei, kancingkan dulu bajunya, kau mau menggodaku."


"Xander jangan mulai lagi."


"Janji nggak mulai, tapi nanti habis dari rumah sakit."


"Ingat kita belum periksa ke dokter."


"Bagaimana kalau nanti sebelum jemput mama?"


"Hmm.. boleh."


Mereka berdua keluar dari kamar dan turun ke bawah. Di ruang keluarga sudah menunggu Matteo.


"Kalian lama sekali. Aku sudah menunggu sampai kakiku pegal."


"Om mau ikut?"


"Tentu saja. Mamamu itu kakakku."


"Ya sudah ayo."


Mereka bertiga menuju ke mobil dan segera berangkat ke rumah sakit.


Sesampainya di sana Xander dan Kamisha ijin sebentar ke dokter kandungan.


"Silahkan masuk nyonya Xander."


"Terima kasih dokter."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Hmm begini dokter sejak saya melahirkan sampai sekarang saya belum menggunakan alat kontrasepsi."


"Apakah anda berdua sering berhubungan suami istri."


"Setiap hari dokter." sahut Xander yang membuat Kamisha menjadi malu.


"Tidak perlu malu, informasi ini sangat penting bagi kami seorang dokter. Anda berdua termasuk pasangan muda yang aktif. Memang sangat di sarankan untuk memakai alat kontrasepsi untuk menjaga jarak usia anak. Apakah dulu melahirkan secara cesar atau normal?"


"Saya normal dokter."


"Kalau normal tidak ada masalah jika hamil lagi, yang kita waspadai apabila lahir secara cesar."


"Kalaupun istri saya saat ini hamil, saya tidak ada masalah." ucap Xander.


"Tapi Zio masih terlalu kecil."


"Untuk memastikan lebih baik kita periksa dulu. Silahkan naik ke atas tempat tidur."


Kamisha beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti perintah dokter.


Beberapa perawat membuka baju Kamisha dan memberikan gel di perutnya. Dokter memulai pemeriksaan.


"Kapan anda terakhir menstruasi?"


"Sekitar tanggal delapan dokter, berarti tiga minggu yang lalu."


"Saat ini memang saya belum melihat ada kehidupan baru di dalam perut anda."


"Jadi tidak masalah bila saya menggunakan alat kontrasepsi dokter."


"Memang tidak masalah akan tetapi lebih baik menunggu anda datang bulan kembali."


"Baiklah kalau begitu dok."


"Jadi setelah nanti bersih, diusahakan jangan berhubungan dulu. Anda langsung saja datang kemari untuk konsultasi alat kontrasepsi yang cocok."


"Baik dokter, terima kasih."


Kamisha keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah dokter menjelaskan pada Xander mereka segera pulang menuju ruangan mama. Matteo masih setia menunggu.


"Kenapa tidak masuk?"


"Menunggu kalian."


"Alasan." Xander mencibir. "Sejatinya om takut dengan mama kan?"


"Bukan takut tapi lebih ke sungkan. Sudah bertahun - tahun aku tidak pulang ke Indonesia." jawab Matteo. "Bagaimana pemeriksaannya? Apa aku akan mendapatkan keponakan lagi,"


"Bukan keponakan tapi lebih ke cucu."


"Ayolah, aku tidak setua itu."


"Ya sudah, ayo kita masuk. Mama pasti sudah lama menunggu."


Mereka bertiga masuk. Tampak mama Attalia sudah duduk santai menunggu kedatangan mereka.


"Mama." Kamisha mencium pipi mertuanya itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian lama sekali?"


"Maaf ma, tadi aku periksa ke dokter dulu."


"Kamu sakit?"


"Tidak, aku sehat. Aku hanya cek saja."


"Ma." sapa Xander yang tak lupa mencium pipi mama Attalia. "Lihat siapa yang datang."


"Siapa?"


"Hai, kakakku sayang."


"Matteo!" pekik mama tidak percaya. "Akhirnya kau pulang." mama memeluk adik bungsunya itu.


"Maaf kak, aku baru mengunjungimu."


"Hah, kau ini. Sudah lupa Indonesia? Sudah lupa dengan aku yang tambah tua ini?"


"Tidak kak, hanya saja kesibukanku di Perancis tidak bisa membuat aku seenaknya bisa pulang."


"Bohong, pasti urusan wanita. Kapan kau akan menikah?"


"Ayolah, jangan di bahas disini. Kau tidak memberiku muka pada menantumu."


Mereka tertawa.


"Oya Xander kenapa tadi Misha periksa ke dokter?"


"Kami hanya konsultasi saja, ma. Masalah alat kontrasepsi yang cocok."


"Lebih baik begitu, ingat Zio masih kecil."


Tiba - tiba Alex masuk. "Semua administrasi sudah saya selesaikan." lapornya pada Xander.


"Ayo, ma kita pulang. Axel sudah merindukanmu."


🌸🌸🌸🌸


"Sof, tahu nggak kita dapat tender besar. Yah kayak pameran fashion gitu."


"Perusahaan apa?"


"Aku kurang tahu, nanti kita akan meeting dengan mereka."


"Kau saja yang berangkat, aku malas."


"Eh.. Nggak bisa gitu dong. Kamu kan ketua tim."


"Aku agak nggak enak badan."


"Mau aku belikan obat? biar cepet sembuh."


Tak berapa lama ada panggilan yang mengharuskan Sofi dan Siwi masuk ke ruang meeting.


"Sof, kenapa klien belum nyampe?"


"Mana aku tahu, kalau orangnya tidak disiplin berarti ke belakangnya pasti ada saja masalah."


"Eh jangan___."


Tiba - tiba...


"Maaf saya datang terlambat."


"Tidak masalah, silahkan duduk pak Matteo."


Begitu mendengar nama itu Sofi yang awalnya sedang bermain handphone, segera mendongakkan kepala. Apakah orang yang dimaksud sama dengan yang ada dalam pikirannya.


Dan yes.. Itu orang yang sama.. Tua bangka yang selalu menggodanya.


"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat. Bisa kita mulai rapatnya?" Matteo mulai membuka rapat sambil pandangannya tertuju pada Sofi yang pura - pura tidak mengenal.


"Bisa." jawab semua kecuali Sofi.


"Sof__."


"Aku tahu, Wi. Please jangan membahasnya aku malas." sahut Sofi.


Rapat berjalan dengan sangat lancar, hanya saja Sofi tidak banyak bicara disini. Kepalanya tambah pusing begitu mengetahui kliennya adalah Matteo om nya Xander.


Setelah hampir dua jam rapat akhirnya selesai. Sofi bergegas meninggalkan ruangannya tanpa menunggu Siwi. Ia ingin menghindari Matteo.


Sofi tampak sedang menelepon seseorang.


"Kamu kok nggak cerita sih Sha kalau om kamu itu bekerjasama dengan EO di tempatku."


"Aku tidak tahu Sofi.. Aauuww." jawab Kamisha.


"Aku pokoknya tidak mau berhubungan dengan om Xander yang tua itu."


"Iya.. Iya.. Aaauuww." jawab Kamisha lagi.


Sofi terdiam, beberapa kali ia mendengar Kamisha berteriak dan menjawab teleponnya sengan napas ngos - ngosan. "Sha, kamu lagi bercinta dengan Xander ya!"


"Maaf Sof, nanti aku telepon lagi."


Panggilan terputus. Ah sial benar aku hari ini. Nasib jomblo umpat Sofi dalam hati.

__ADS_1


"Hai girl, miss me." peluk seseorang dari belakang.


Dengan gesit Sofi menepis pelukan itu. "Jangan kurang ajar ya."


"Jangan menghindariku, kita akan bekerja sama di masa depan."


"Saya tidak akan menghindari anda jika anda tidak bersikap kurang ajar."


"Oke.. Oke.. Kali ini kita ngomong serius. Aku janji tidak akan menggodamu lagi."


"Janji?"


"Janji. Demi kesuksesan acara ini. Bagaimana? Deal?" Matteo mengulurkan tangannya.


Sofi tampak masih ragu - ragu. Tapi memang ini pekerjaannya dan ia harus menjalin hubungan yang baik dengan klien maka ia dengan terpaksa menyetujuinya. "Oke, deal." sambutnya.


"Baiklah, dimana kita bisa bicara mengenai konsep detail seperti yang aku minta." Matteo berbicara dengan serius, ia benar - benar menepati janjinya.


"Beri aku waktu dua hari, aku janji konsep itu akan jadi dalam dua hari."


"Too long." keluh Matteo. "Satu hari. Aku beri kau waktu satu hari. Besok siang konsep itu harus sudah aku terima."


"Tapi, itu terlalu singkat."


"Aku memilih EO ini karena aku tahu mereka bisa bekerja dengan cepat. Buktikan." Matteo pergi setelah berkata seperti itu.


Gila, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia memang benar - benar serius. Ternyata wajahnya cukup tampan jika dia serius.


Sofi selalu suka dengan tantangan. Ia menyukai klien yang memberinya tugas berat. Dan itu terbukti dengan kliennya kali ini. Matteo om dari suami sahabatnya.


🌸🌸🌸🌸


"Sayang, aku merasa tidak enak dengan Sofi." Kamisha membenarkan letak selimut agar menutupi seluruh tubuhnya. Tapi tangan nakal Xander selalu menurunkannya.


"Setelah mandi kau telepon saja dia. Anak - anak biar aku yang temani main di taman samping."


"Terima kasih sayang." Kamisha mengecup pipi suaminya. "Oya, tadi dia sempat bilang kalau kliennya om Matteo."


"Kepulangan om Matteo kali ini memang mau mengadakan even disini. Om Matteo bekerja sama dengan beberapa designer dalam maupun luar negeri."


"Om Matteo seorang designer?"


"Bukan sayang dia pengusaha texstile. Banyak kain produksinya yang digunakan oleh designer."


"Oh, pantas dia betah tinggal di perancis."


"Tentu saja betah, kekasihnya juga tinggal disana."


"Om Matteo sudah punya kekasih?"


"Banyak, tapi banyak yang nggak jadi. Entahlah di usia empat puluh lebih, dia masih asyik menyendiri."


"Mungkinkah dia sedang mendekati Sofi?"


"Sepertinya."


"Kalau begitu aku harus secepatnya memperingatkan Sofi."


"Buat apa?"


"Om kamu playboy, jadi ia harus berhati - hati." Kamisha beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi.


"Mau kemana sayang?"


"Mandi."


"Nggak akan aku ijinkan." Xander bergegas mengejar istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


🌸🌸🌸🌸


Sore ini Sofi mengerjakan tugas dari Matteo. Ia suka bekerja dalam tekanan, menurutnya itu lebih menantang. Tiba - tiba handphonenya berdering.


"Sore, Sha."


"Maaf ya soal yang tadi."


"It's oke. Nasib jomblo."


"Gimana kerjasamamu dengan om Matteo?"


"Dia seorang pekerja keras. Kau tahu, kali ini ia menjadi orang yang serius."


"Jadi, bagaimana penilaianmu?"


"Aku meralat ucapanku, ia bukan tua bangka yang menyebalkan tapi seorang pekerja keras."


"Bagaimana perkenalanmu?"


"Awal ketemu waktu di Bali. Aku dan teman - teman sempat bersitegang karena sikap genitnya."


"Kata Xander, dia playboy. Makanya sampai sekarang belum menikah."


"Sudah aku duga."


"Aku harap kau berhati - hati dalam menentukan pilihan, Sof. Tapi jika memang kau suka dengan om Matteo, aku akan berusaha mendukungmu."


"Hahahahhh.. Kau berpikir terlalu jauh, Sha. Om Matteo tidak sedang mengejarku. Mungkin hanya ke menggoda."


"Ya sudah, aku hanya ingin yang terbaik buatmu Sof. Aku tidak mau kau kecewa seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Sha. Aku pasti sangat selektif dalam memilih pasangan hidup."


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2