
"Tidak usah kaget, honey."
"Bbukan kaget pak tapi saya shock! Kenapa dengan santainya bapak tidur satu ranjang dengan saya."
"Oh common, ini hanya tidur."
"Hanya tidur?! Bapak kira saya perempuan gampangan. Seharusnya bapak membangunkan saya atau biarkan saja saya tidur di sofa." teriak Sofi.
"Oke.. Oke.. I'm sorry sudah mengambil keputusan sendiri."
"Ini.. Ini.. Nggak bisa dimengerti pak. Mungkin anda terbiasa tidur dengan banyak wanita. Tapi tidak dengan saya. Ini pertama kalinya saya tidur dengan pria yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan saya."
"Hei.. Hei.. Jangan terlalu berlebihan tentang masalah ini. Aku tidak melakukan apapun padamu please jangan histeris."
Sofi beranjak dari duduknya. "Maaf saya harus pergi, saya masih tidak bisa menerima perbuatan bapak. Ini Indonesia, sopan santun dijunjung disini. Permisi!"
Sofi segera membereskan laptop dan beberapa berkas. Matanya berkaca - kaca menahan tangis dan emosi. Dia pikir aku ini wanita murahan, dasar pria brengsek umpat Sofi dalam hati.
Dengan tergesa - gesa ia keluar dari apartemen Matteo. Sementara itu Matteo sendiri tidak habis pikir. Kenapa Sofi marah, ia tidak melakukan apa - apa. Ini hanya tidur biasa kenapa harus bersikap berlebihan. Aku harus menghubungi Kamisha. Sofi benar - benar tidak profesional.
Sementara itu...
Drrrttt... Ddrrrttt..
Aduh siapa sih yang telepon pagi - pagi. "Oahaamm." Xander menguap sambil mengambil handphonenya diatas nakas. "Bukan handphone ku." ucapnya lirih
Drrrtt.. Ddrrrtt.. Handphone itu masih berdering. Xander dengan mata yang masih mengantuk mengambil handphone milik Kamisha.
"Halo."
"Hei, mana istrimu?"
Xander kaget dengan suara di seberang sana. Ia melihat lagi ke layar handphone. "Om Matteo."
"Ya aku, mana istrimu?"
"Ada urusan apa dengan istriku?"
"Bisnis."
"Bisnis? Istriku tidak mau berbisnis denganmu."
"Oh common Xander. Ini penting."
"Katakan dulu padaku, jangan main tebak - tebakan."
"Oke.. Oke.. Ini masalah Sofi. Dia marah - marah padaku."
"Oh masalah itu. Sebentar aku turun ke bawah dulu."
Xander mencari istrinya di dapur karena jam segini ia pasti berkutat di sana sebelum pergi membangunkan dirinya.
"Sayang." ciumnya.
"Kau sudah bangun?"
"Sudah, karena dibangunkan oleh bujang tua."
Kamisha mengerutkan keningnya. "Bujang tua?"
"Nih om Matteo dia mau berbicara denganmu perihal Sofi." Xander menyerahkan handphone itu ke Kamisha.
"Halo."
"Misha. Bilang pada suamimu aku bukan bujang tua."
"Hahahhah.. Ya.. Ya.. Maaf om dia suka bercanda."
"Aku ingin bicara tentang Sofi. Dimana kita bisa ketemu."
"Hmm.. Dimana ya?" Kamisha tampak bingung menentukan tempat pertemuan mereka. Apalagi ditambah Xander yang usil dengan menciumi lehernya.
__ADS_1
"Terserah padamu?"
"Xander jangan." bisik Kamisha ketika tangan Xander mulai mencari bukit kembarnya. "Hmmm.. Cafe dekat sekolahan Axel saja, aku nanti sekalian jemput dan antar makan siang ke kantor Xander." ucap Kamisha.
Tangan Xander mulai nakal, ia sengaja menggoda. Berulang kali Kamisha menghalau sentuhan - sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu. Dan tiba - tiba ia mengambil handphone dari tangan Kamisha.
"Aku rasa sudah cukup dia berbicara padamu, sekarang waktunya ia milikku."
Klik.. Xander menutup teleponnya.
"Dasar keponakan kurang ajar!" umpat Matteo. Dan sepertinya Xander tidak memperdulikan itu. Ia menggendong istrinya untuk kembali ke kamar. Dan tentu saja jika sudah seperti itu mama Attalia dan mbok Sri langsung mengambil alih anak - anak.
Setelah melalui pertempuran yang sengit di ranjang. Kamisha mulai membersihkan diri di kamar mandi. Akhir -.akhir ini gairah suaminya begitu menggebu - gebu. Dan hal itu sama ketika ia hamil Zio dulu. Kamisha melihat kalender.
Ah karena kesibukan aku sampai lupa kalau bulan ini tamu bulananku belum datang pikir Kamisha. Ia menghitung lagi, hampir dua bulan ia terlambat. Tapi anehnya ia tidak mengalami perubahan yang lain pada tubuhnya. Waktu hamil Zio ia selalu pusing dan muntah.
Setelah aku menjemput Axel aku akan periksa ke dokter kandungan pikirnya kemudian. Kamisha keluar dari kamar mandi untuk membangunkan Xander.
"Sayang kau tidak ke hotel."
"Hmm, aku malas."
"Kenapa kau sekarang jadi pemalas begini?"
"Entahlah, aku rasanya malas, maunya rebahan terus ditemani kamu syg."
"Jangan manja."
"Sha."
"Hmm." jawab Kamisha yang sedang memoersiapkan baju kerja Xander.
"Nanti siang masak apa?"
"Kamu mau di masakin apa?"
"Kayaknya gurame asam manis enak deh, kasih potongan nanas jadi tambah segar."
🌸🌸🌸🌸
Matteo sudah menunggu kedatangan Kamisha di sebuah cafe dekat dengan sekolah Axel.
"Maaf, om harus menunggu lama." ucap Kamisha.
"It's okey. Mau pesan apa?"
"Orange juice saja."
"Makan?"
"Tidak, aku makan siang bersama Xander nanti di hotel."
"Oke." setelah memesan minuman Matteo memulai pembicaraan. Ia bukan pria yang suka berbasa - basi. "Sofi tiba - tiba marah padaku."
"Kok bisa. Setahuku dia bukan orang yang emosian."
"Semalam kami lembur di apartemenku, karena capek ia tertidur di sofa. Aku berusaha baik dengan membawanya ketempat tidur."
"Tidak mungkin dia marah hanya karena itu."
"Nah, kau sendiri sebagai sahabatnya merasa aneh bukan?"
Kamisha terdiam sejenak. Ini bukan sifat Sofi yang marah - marah tanpa alasan pikirnya.
"Misha."
"Ya om."
"Tolong jelaskan pada sahabatmu itu, malam itu aku tidak melakukan apa - apa. Aku hanya sekedar tidur disampingnya."
"Tunggu, apa om bilang. Tidur disampingnya?"
__ADS_1
"Yes, kau tahu kan apartemenku hanya memiliki satu kamar. Maka kami tidur satu ranjang."
Kamisha tersenyum.
"Kenapa tersenyum?"
Kamisha meminum juice pesananya.
"Sepertinya aku tahu kenapa dia marah pada om."
"Jelaskan padaku."
"Di Indonesia masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Jadi seperti tidur bersama seorang pria asing sangatlah tabu bagi kami. Sebagian masyarakat kami masih mempertahankan budaya itu. Menjaga kehormatan kami sebagai wanita dan hanya memberikannya pada suami yang kita cintai nantinya. Tentu saja dia marah, Sofi tidak pernah tidur dengan pria manapun. Walaupun saat itu kalian tidak melakukan apa - apa. Tapi bagi Sofi itu pukulan yang berat, karena melanggar prinsip hidupnya."
"Oh, I'm so bad. Bisa kau membantuku berbicara dengannya. Kau tahu kan even yang aku adakan tergantung dengan kinerjanya."
"Pasti.. Pasti akan aku bantu om."
"Oh syukurlah. Maaf apa kau juga menganut prinsip itu?"
"Yah, Xander keponakanmu adalah pria yang mendapat kehormatan itu."
"Bagaimana dengan Axel?"
"Oh Axel adalah anak dari keponakanku, tapi karena ibunya mengalami gangguan jiwa jadi aku merawatnya dari bayi. Entahlah pertama kali aku menggendongnya seperti ada keterikatan batin antara aku dan Axel."
"Xander beruntung mendapatkanmu."
"Tidak aku yang beruntung bisa mendapatkannya. Dia sangat mencintaiku."
Matteo tersenyum bahagia melihat keponakannya mendapat istri seperti Kamisha.
"Om menyukai Sofi."
"Apa!" pertanyaan Kamisha membuatnya kaget. "No!"
"Oh aku kira om Matteo menyukai sahabatku itu."
"Aku.. Aku hanya kagum padanya."
"Sofi itu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Kami berdua melewati masa - masa yang sulit berdua. Disaat pertama kali aku menginjakkan kaki ku di Bandung ia yang selalu menyemangatiku. Dan ia lakukan itu dengan tulus. Dan ketika beberapa waktu aku ada masalah dengan Xander ia juga yang selalu ada disampingku." Kamisha menghela napas sejenak. "Jadi, jika om memang menyukai sahabatku itu tolong perlakukan dia dengan baik dan berilah cinta yang tulus untuknya. Jangan mempermainkannya. Dia pernah dikecewakan oleh mantan tunangannya."
"Aku.. Aku__."
"Aku tahu om hanya kagum dengannya dan aku menghargai itu. Tapi jika suatu saat nanti om menaruh hati padanya tolong ingat apa kata - kataku hari ini. Jika ada yang menyakitinya aku adalah orang pertama yang akan melindunginya."
Matteo terdiam, ia bingung dengan perasaannya. Ia masih takut berkomitmen setelah apa yang ia alami dulu di masa lalu.
"Aku rasa aku harus kembali ke kantor."
"Yah, aku juga akan menjemput Axel."
"Terima kasih atas waktunya, Misha. Sampaikan salamku untuk mama mu."
"Ya om." kamisha beranjak dari duduknya dan entah kenapa kakinya tersandung kaki meja yang membuatnya hilang keseimbangan. "Aaauuww."
Dengan sigap Matteo menangkap tubuh Kamisha. "Hei hati - hati, jika kau terluka suamimu akan membunuhku."
"Terima kasih om."
"Kamu tidak apa - apa?"
"Tidak apa - apa."
"Baiklah, aku tinggal dulu."
Matteo segera pergi meninggalkan Kamisha.
Sepasang mata tajam dan penuh kemarahan sedang memandangi mereka berdua.
"Oh, jadi wanita ini yang membuatmu kembali ke Indonesia." ucapnya geram. "Kau hanya milikku Matteo! Kau hanya milikku!"
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸