
Tak terasa sudah tiga hari Axel berada di rumah sakit. Lukanya sudah mulai mengering dan hari ini rencananya ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Sedangkan Kyara menurut keterangan dari mbok Sri memutuskan menginap di rumah temannya.
Kamisha merapikan baju - baju milik Axel dan semua barang yang sudah ia bawa ke rumah sakit.
"Mbok Sri"
"Ya mbak."
"Minta tolong masukkan tas pakaian ini ke dalam mobil."
"Njih mbak." mbok Sri segera membawa dua buah tas dengan ukuran tidak terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Mommy."
"Ya sayang."
"Apa om Xander tahu kalau aku sedang sakit?"
"Tahu, tapi saat ini om Xander sedang sibuk. Dia pergi keluar kota. Jadi belum sempat menjengukmu."
"Oh, baiklah." ucap Axel dengan nada kecewa.
"Mungkin kalau sudah pulang dari luar kota, pasti akan menjengukmu."
"Benarkah?"
"Benar, om Xander orang yang baik." Kamisha mengusap lembut kepala Axel. "Makan dulu yuk, setelah itu mommy akan mengurus administrasinya dan kita bisa pulang."
"Yeayy, aku bisa sekolah lagi."
Kamisha segera menyuapi Axel. Matanya berkaca - kaca melihat raut wajah bahagia Axel. Maafkan mommy, Axel. Terpaksa mommy berbohong padamu. Mommy yakin om Xander masih pmarah pada mommy batin Kamisha.
"Mommy menangis?"
"Tidak sayang, ini airmata bahagia. Karena kamu sudah sembuh dan bisa pulang ke rumah. Mommy tidak tahu harus berbuat apa jika terjadi sesuatu padamu."
"It's oke mommy, aku anak yang kuat. Aku janji tidak akan meninggalkan mommy."
"Terima kasih sayang." Kamisha memeluk erat putra kesayangannya itu. "Oya Axel, mommy akan mengurus administrasinya, kamu berani mommy tinggal sendiri."
"Jangan khawatir mommy, aku akan menunggu disini."
"Anak pintar."
Kamisha mengambil dompetnya dan meninggalkan Axel sendiri. Ia sudah menelepon mbok Sri agar cepat kembali dari menaruh tas di mobil, agar Axel tidak sendirian terlalu lama.
Ternyata tempat pembayaran antri cukup lama. Setelah selesai menyelesaikan administrasi. Kamisha ke bagian apotik untuk mengambil obat. Setelah itu ia segera kembali ke kamar Axel. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di luar kamar Axel.
"Pak Alex."
"Selamat pagi mbak Misha."
"Pagi pak Alex." jawab Misha. "Bapak mau menjenguk Axel? kenapa berdiri di luar, ayo masuk."
"Maaf mbak Misha, pak Xander ada di dalam."
"Oh, kalau begitu saya akan menemuinya di dalam."
"Maaf mbak Misha, bisakah anda menemani saya di sini."
"Oh, baiklah." jawab Kamisha dengan raut wajah kecewa. "Saya tahu dia pasti tidak mau menemui saya."
"Mohon di maafkan mbak Misha, selama saya mengenal beliau, pak Xander memang orang yang tidak suka dengan kebohongan."
"Saya mengerti, pak Alex tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya memang bersalah dalam hal ini."
Mereka berdua duduk dalam diam sampai akhirnya Xander keluar.
"Ayo Alex."
"Xander tunggu." sahut Kamisha.
"Ini jam kerja, tolong hargai aku sebagai atasanmu."
"Maaf, pak Xander." ucap Kamisha menunduk. "Bisakah saya bicara dengan anda sebentar."
"Tidak perlu, aku sudah kenyang kalian bohongi."
"Saya ada alasannya, saya mohon dengarkan penjelasan saya, sebentar saja."
"Aku sibuk." jawab Xander. "Ayo Alex."
"Baik pak."
"Oya satu lagi, jangan biasakan berbohong pada anak kecil."
"Maksud bapak?"
"Apa maksudmu mengatakan kalau aku keluar kota?"
"Maaf, saya tidak tahu harus menjawab apa ketika Axel terus menanyakan anda."
"Katakan saja terus terang, aku yakin dia akan mengerti. Atau memang itu kebiasaanmu? suka berbohong."
"Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulut Kamisha. Kata - kata Xander memang benar. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Xander sekarang menganggap dia sebagai seorang pembohong. Andaikan sejak awal dia menolak Kyara untuk ikut dalam kebohongannya.
Xander pergi meninggalkan Kamisha yang termenung sendiri.
"Pak."
"Ya."
"Saya merasa kasihan dengan mbak Misha."
"Kenapa?"
"Ini bukan hanya kesalahan dia. Menurut saya mbak Kyara yang harusnya bertanggung jawab atas hal ini."
"Aku tahu Alex, kau tidak perlu mengajariku."
"Jadi apa yang membuat bapak marah dengan mbak Misha?"
"Entahlah, aku hanya masih marah dengan kebohongan mereka." jawab Xander. "Sudah jangan banyak tanya, kau konsentrasi saja menyetir."
"Baik, pak."
🍁🍁🍁🍁
Kamisha memakirkan mobilnya di depan rumah. Kedatangan Axel disambut oleh Suci dan bu Sukma. Beruntung mereka dikelilingi oleh orang - orang yang penyayang.
"Hatur nuhun bu Sukma sudah datang menjenguk Axel."
__ADS_1
"Punten mbak Misha, saya baru tahu kemarin kalau Axel kecelakaan. Saya pergi ke Tasikmalaya orang tua saya sakit."
"Tidak apa - apa bu, syukurlah Axel bisa selamat." ucap Kamisha. "Ayo masuk ke dalam bu, kita makan kue bersama."
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Untuk sementara Kamisha menyuruh Axel istirahat di kamar, sedangkan para wanita mengobrol santai di ruang tamu.
"Bagaimana ceritanya mbak, Axel bisa kecelakaan."
"Saya lalai menjaga Axel bu, jadi waktu menyeberang ada yang menyerempetnya."
"Dulu saya juga pernah seperti itu mbak, anak saya yang nomor satu pernah jatuh ke selokan waktu umur dua tahun. Untung saja ada yang tahu jadi bisa tertolong."
"Ya bu Sukma, kita sebagai orang tua memang masih banyak kekurangannya."
"Mbak Misha tidak perlu berkecil hati, namanya musibah bisa terjadi pada siapa saja." ucap bu Sukma. "Oya mbak Kyara kok tidak kelihatan."
"Sudah pindah bu Sukma."
"Kenapa? apa takut sama si pengintai."
"Bukan, katanya mau cari tempat yang lebih dekat dengan Hotel."
"Oh, begitu." ucap bu Sukma. "Ya sudah mbak saya sudah lega melihat kondisi Axel baik - baik saja. Kalau begitu saya pulang dulu."
"Terima kasih kunjungannya bu Sukma."
Kamisha mengantar bu Sukma keluar.
"Mbak, kenapa tidak cerita kejadian yang sebenarnya sama bu Sukma. Kalau mbak Kyara yang sudah menyebabkan semua ini."
"Aku inginnya juga begitu mbok, cuma aku teringat kata - kata almarhum ibu. Agar kita senantiasa menjaga nama baik keluarga. Konflik diantara keluarga ya harus diselesaikan dalam keluarga itu sendiri tanpa orang lain perlu tahu dan ikut campur."
"Mbak Misha ini terlalu baik, akhirnya bisa di salah pahami oleh orang lain."
"Hahahahhh.. sudah mbok... sudah. Biarkan orang lain menilai kita seperti apa. Terkadang kita berbuat baik saja di mata orang masih salah, apalagi kalau berbuat jelek. Jangan menjadikan penilaian orang sebagai standar dalam kita menjalani hidup." ucap Kamisha.
"Njih, leres niku (benar itu) mbak."
Baru saja Kamisha dan mbok Sri mau masuk tiba - tiba ada seseorang datang.
"Misha...!"
"Mbak Ayu."
Mbak Ayu segera masuk dan menghampiri Kamisha. Plaaak...!!! sebuah tamparan yang cukup keras membekas di pipi Kamisha.
"Ada apa ini mbak?"
"Dimana harga dirimu sampai kamu tega merebut kekasih dari keponakanmu sendiri."
"Mbak masuk ke dalam dulu. Kita selesaikan di dalam." ucap Kamisha berusaha tenang.
Mbak Ayu mau masuk ke dalam. Mereka duduk di ruang tamu.
"Mbok Sri masukkan tas mbak Ayu ke dalam kamar Kyara dan buatkan teh hangat."
"Njih mbak."
Kamisha menarik napas dalam - dalam.
"Mbak dengar berita dari mana?"
"Dia cerita apa?"
"Beberapa hari lalu dia meneleponku sambil menangis. Dia mengatakan Xander memutuskan hubungan dengannya."
"Kalau itu aku tidak tahu menahu mbak."
"Semua gara - gara kamu membongkar rahasia keluarga kita di depannya. Dan kamu bahkan pergi semalaman dengan kekasih dari keponakanmu sendiri."
"Wow... pintar sekali Kyara mengarang cerita, sekolah di mana dia sampai bisa membuat skenerio seindah ini." sindir Kamisha yang sudah mulai jengah dengan sikap keponakannya itu.
"Jangan menghina anakku. Sekarang gara - gara kau ia pergi lagi dari kehidupanku. Kau tahu alasan kenapa aku menitipkannya padamu, agar dengan didikanmu ia bisa menerimaku lagi."
"Mbak terlalu besar menggantungkan harapan itu padaku. Kenapa mbak sendiri sebagai ibunya tidak berusaha mendekatkan diri dengannya. Kalau hanya aku yang berusaha, aku pastikan itu akan sia - sia."
"Misha, mbak mohon bujuklah Xander agar ia mau kembali lagi pada Kyara."
"Maaf, kali ini aku tidak bisa. Xander saja masih marah padaku."
"Harus bisa Misha!" teriak mbak Ayu. "Kau juga penyebab retaknya hubungan mereka."
"Mbak, boleh aku cerita sebentar."
"Apa?"
"Mbak tahu kalau Axel kecelakaan?"
"Kecelakaan? dimana cucuku sekarang?"
"Dia sekarang baik - baik saja setelah empat hari di rawat di rumah sakit. Itulah alasanku membongkar siapa Kyara sebenarnya. Axel butuh donor darah dan mbak tahu pasti darahku tidak akan cocok dengannya. Aku memohon pada Kyara agar ia mau mendonorkan darahnya. Dan saat itu Xander ada disana. Aku melakukannya demi Axel."
"Seharusnya kau bisa berbicara diam - diam."
"Mudah ya mbak mengatakan itu padaku. Seandainya mbak ada di posisiku saat itu. Betapa paniknya aku melihat anak yang sangat aku sayangi kondisinya kritis."
"Maaf, Sha."
"Kyara cerita ke mbak, kalau yang mendonorkan darah ke Axel adalah ayah kandungnya."
"Ayah kandungnya? tidak___"
"Aku sudah tahu ayah kandung Axel satu bulan yang lalu. Dan aku yakin Kyara tidak menceritakan nya pada mbak."
"Tidak ia tidak pernah bercerita."
"Ternyata banyak yang dia sembunyikan dari mbak. Ayah kandung Axel namanya Harvey dan dia saudara sepupunya Xander."
"Ya tuhan, kenapa bisa kebetulan seperti ini?"
"Jadi coba mbak pikir bagaimana mungkin Xander tidak tahu segalanya. Dan sekarang imbasnya ia menganggapku bersekongkol membohonginya. Aku pasrah jika dia nanti akan memecatku." Kamisha menarik napas kemudian melanjutkan ceritanya lagi. "Dan karena kelalaian Kyara, Axel bisa mengalami kecelakaan. Tidakkah sebagai seorang ibu ia harusnya merasa bertanggung jawab."
"Sekarang dimana Kyara?"
"Menginap di rumah temannya." jawab Kamisha. "Mbak, apa mbak tidak pernah berpikir membawa Kyara ke psikiater."
"Kau menyangka anakku gila?"
"Bukan, bukan seperti itu. Maksudku waktu Kyara hamil usianya masih sangat muda jadi secara psikis dan mental harus di konsultasikan dengan ahlinya. Dan juga kita tidak tahu kehidupannya ketika meninggalkan rumah dulu seperti apa? dia bergaul dengan siapa saja? dari mana ia memperoleh uang untuk kebutuhan sehari - harinya? dia sama sekali tidak cerita dengan kita. Justru sekarang malah sering berbohong, menutupi kebohongan yang satu dengan kebohongan yang lain."
"Tidak...! Sha. Anakku tidak gila! Keturunane keluargane dewe ora ono sing edan (Keturunan keluarga kita tidak ada yang gila)."
__ADS_1
"Aku tidak menuduhnya gila. Hanya mungkin saja ia butuh seorang psikiater untuk membantunya memecahkan masalah yang dia pendam saat ini."
"Moh, aku ora gelem! Nek awakmu koyok ngono luwih apik aku balik ning Jogja saiki." (Nggak, aku tidak mau. Kalau dirimu seperti itu, lebih baik aku pulang ke Jogja sekarang).
"Kalau mbak mau pulang, besok aku antar ke terminal. Lebih baik mbak istirahat saja di kamar."
Kamisha masuk ke dalam kamar. Pada dasarnya mbak Ayu dan Kyara itu sama - sama keras kepala. Kalau belum kesandung masalah dengan sifat keras kepalanya itu mereka tidak akan sadar bahwa mereka salah.
🍁🍁🍁🍁
Setelah mengantar mbak Ayu ke terminal. Kamisha langsung berangkat bekerja. Sudah tiga hari ia mengajukan cuti. Axel masih belum masuk sekolah karena luka jahitnya belum mengering sempurna. Kamisha takut jika ia terlalu banyak aktivitas luka jahitnya bisa terbuka.
Hari ini rencananya ia akan menghadap Xander apapun yang terjadi dan semalam ia sudah menyiapkan mentalnya jika nanti Xander mau memecatnya.
Setelah memarkirkan mobilnya Kamisha segera masuk ke dalam kantor. Tadi sebelum masuk ke tempat parkir, di halaman depan ia melihat mobil Xander. Itu artinya ia ada di ruangannya.
Kamisha bergegas masuk ruangan, menaruh tasnya dan segera pergi menuju ruangan Xander.
"Selamat pagi pak Alex."
"Pagi mbak Misha. Bagaimana keadaan Axel?"
"Baik pak." jawab Kamisha. "Maaf pak Xander nya ada?"
"Ada, cuma___"
"Tolonglah saya pak, saya cuma sebentar saja."
Alex tampak berpikir. "Baiklah, silahkan masuk." putusnya kemudian.
Kamisha bergegas masuk ke dalam ruangan Xander.
"Selamat pagi pak." sapa Kamisha.
Xander hanya diam, melirik sebentar dan pandangannya kembali tertuju pada laptop.
"Maaf saya mengganggu waktu bapak sebentar."
"Saya sibuk."
"Saya mohon sebentar saja," Kamisha memohon. "Satu menit pak. Saya hanya minta satu menit saja."
Xander menghela napas panjang. "Baiklah, silahkan."
Kamisha menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. Sebenarnya waktu satu menit terlalu singkat.
"Waktumu tinggal lima puluh detik."
Ucapan Xander membuyarkan lamunannya. "Saya mau minta maaf atas semua kesalahan saya. Dan saya menerima segala konsekuansinya dari bapak." akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Mau bagaimana lagi lima puluh detik ya cuma bisa berkata maaf.
"Konsekuensi apa maksudmu?"
"Mungkin karena kesalahan saya, bapak akan memecat saya."
"Sedangkal itukah pemikiranmu padaku? itu artinya kau menganggapku sebagai pimpinan yang tidak adil."
"Maksud bapak?"
"Masalah antara aku dan keluargamu adalah masalah pribadi. Aku tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan kantor. Kinerjamu di hotel bagus jadi tidak ada alasan buatku untuk memecatmu."
"Terima kasih atas kebaikan hati bapak."
"Kecuali kalau kau memakai kebohonganmu di hotel sehingga menimbulkan kerugian besar terhadap perusahaan. Tentu saja aku tidak akan segan memecatmu."
"Tidak pak, saya berjanji akan bekerja dengan baik."
"Aku pegang kata - katamu. Sekarang keluarlah."
"Tapi pak___"
"Waktumu sudah habis, silahkan keluar."
"Bbaik pak, terima kasih. Saya permisi." Kamisha keluar. Matanya berkaca - kaca karena Xander sama sekali tidak mau melihatnya.
Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan - pelan. Ayo semangat Kamisha, minimal saat ini aku masih bisa bekerja, itu yang perlu aku syukuri ucapnya dalam hati. Akhirnya ia juga bisa mengetahui bahwa Kyara mungkin saja juga tidak di pecat. Intinya sekarang ia akan membuktikan bahwa ia bukanlah orang yang suka berbohong.
Sementara itu di dalam ruangan Xander.
"Dia sudah keluar."
"Sudah pak, cuma___"
"Cuma kenapa, kalau bicara jangan sepotong - potong."
"Cuma tadi saya lihat mbak Kamisha mengusap airmata sebelum meninggalkan ruangan anda, mungkin habis menangis."
"Benarkah?"
"Benar pak."
"Apa kata - kataku tadi melukai hatinya? padahal aku hanya ingin memberinya pelajaran saja."
"Kalau bapak menyesal, maafkan saja mbak Misha pak. Saya kasihan melihatnya."
"Aku masih marah Alex."
"Baiklah, sebentar lagi bapak ada rapat dengan klien."
"Baiklah, kau boleh keluar."
Sepeninggal Alex, Xander termenung. Sebenarnya ia bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini antara marah, senang, jengkel menjadi satu. Maaf Kamisha aku perlu waktu sendiri untuk memikirkan semua ini batin Xander.
🍁🍁🍁🍁
...Hai pembaca setia novel "Keterikatan Cinta" tak terasa sudah satu bulan penuh kita menjalani Puasa Ramadhan. Oleh karena itu...
...Aku pribadi mengucapkan...
...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI...
...1 SYAWAL 1443 H...
...Minnal 'Aaidiin Wal Faaiziin...
...Mohon Maaf Lahir dan Batin...
...🙏🙏🙏...
...Selalu dukung terus novelku ya..🥰🥰🥰...
__ADS_1