
"Maaf dengan keluarga bapak Amir." panggilan perawat membuat Kamisha dan bulik Yanti menyudahi pembicaraannya.
"Ya suster." sahut Kamisha.
"Dokter ingin berbicara dengan keluarga bapak Amir."
"Baiklah." jawab Kamisha. "Bulik, aku ke ruang dokter dulu."
"Pergilah, aku akan menunggu di kamar bapak."
Kamisha mengikuti perawat itu masuk ke ruang dokter. Ia sangat beruntung ketika menjaga bapaknya yang sakit, kandungannya baik - baik saja. Ia tidak lagi merasakan pusing dan muntah. Bayi dalam kandungannya justru malah aktif bergerak.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih dokter."
"Anda keluarga bapak Amir."
"Ya saya putrinya. Nama saya Kamisha."
"Baiklah bu Kamisha, saya disini akan menjelaskan tentang kondisi terakhir pak Amir."
"Silahkan dokter."
"Beberapa waktu lalu pak Amir pernah di rawat dirumah sakit karena jatuh bukan?"
"Betul dokter."
"Saya sangat menyesalkan ini tapi harus saya sampaikan. Efek dari jatuh dulu berpengaruh pada kesehatannya saat ini. Beberapa pembuluh darah pak Amir pecah. Kemudian juga ada penyakit tukak lambung sehingga lambungnya iritasi dan peradangan. Selama ini mungkin beliau tidak mengatakan apa - apa pada keluarga sehingga tidak tahu kondisi beliau."
Kamisha menitikkan air mata ketika mendengar kondisi bapaknya yang terbilang sangat parah. Dadanya serasa sesak.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu Kamisha, tapi karena usia pak Amir yang sudah lanjut maka banyak pengobatan yang ada ditolak oleh tubuhnya dan reaksinya berjalan sangat lambat."
"Apakah bapak saya bisa sembuh dokter?"
"Hanya keajaiban serta doa dari keluarga bu Kamisha. Saat ini hidup pak Amir hanya tergantung alat."
Kamisha ingin sekali memeluk bapak saat ini. Memeluk pria yang dulu sempat ia tinggalkan. Ia ingin meminta maaf pada bapak sekali lagi.
"Baiklah dokter, terima kasih banyak atas bantuan dokter. Saya permisi."
"Silahkan."
Kamisha keluar dari ruang dokter. Langkah kaki menuntunnya pada sebuah taman di rumah sakit. Ia duduk di sebuah bangku kayu menghadap ke sebuah air mancur.
Ya tuhan kenapa penyakit bapak bisa separah ini. Apa yang harus aku lakukan. Apa aku perlu membawanya ke rumah sakit yang lebih baik lagi. Tapi melihat kondisi dan usia bapak sepertinya tidak mungkin. Banyak pikiran dan pertanyaan yang berkecamuk di dadanya. Seandainya saat ini ia bersama dengan Xander pasti tidak akan seberat ini rasanya.
Drrtt... drrtt.. handphonenya berdering.
"Halo bulik."
"Kamu dimana? bapak mencarimu terus."
"Ya, aku akan kesana."
Bergegas Kamisha menuju ruang dimana bapak dirawat. Sebelum masuk ia menarik napas panjang tak lupa mengusap air matanya dan berusaha tersenyum.
"Bapak." sapanya
"Kamu kemana saja?"
"Tadi dari ruang dokter."
"Apa yang dokter katakan?"
"Bapak jangan khawatir, bapak akan sembuh." ucap Kamisha sambil mengelus tangan pak Amir. "Kamisha suapin ya?"
Pak Amir menggelengkan kepala. "Sha, kamu tidak usah bohong. Kondisi bapak semakin menurun."
Kamisha hanya diam, matanya berkaca - kaca. "Bapak harus semangat, apa bapak tidak ingin melihat cucu bapak lahir." ucap Kamisha sambil mengusap perutnya.
"Sha." panggil pak Amir dengan suara lirih.
"Ya pak." Kamisha mendekat karena hampir tidak mendengar suara bapaknya.
"Bapak ingin sekali melihatmu bahagia, jangan engkau selalu mengorbankan kebahagiaanmu demi orang lain." ucap pak Amir. "Janji pada bapak jika suatu saat bapak pergi janganlah kau bersedih. Kau harus terus melanjutkan hidupmu dengan bahagia demi anak - anak. Bapak yakin Xander akan selalu menjagamu."
"Bapak ini bicara apa? aku yakin bapak akan sembuh. Jangan bicara yang aneh - aneh." Kamisha terisak tak kuasa menahan kesedihan.
"Bapak wes kesel nduk (bapak sudah capek). Bapak kepengen tenang karo ibumu ning kono (Bapak ingin tenang bersama ibumu di sana)."
Tangis Kamisha tak terbendung lagi. "Pak, aku mohon jangan bicara seperti itu, jangan tinggalkan Kamisha." ucap Kamisha. "Aku minta maaf dan aku berjanji tidak akan meninggalkan bapak lagi."
"Nduk, bapak selalu memaafkan semua kesalahanmu. Ijinkan bapak istirahat, bapak benar - benar lelah. Ingat setelah ini kau harus hidup bahagia."
Kamisha memeluk pak Amir begitu juga dengan bulik Yanti. Hingga napas pak Amir lama - lama pelan dan kemudian tenang.
"Pak.. pak.. pak.." panggil Kamisha berulang kali tapi pak Amir terdiam. Kamisha segera memanggil perawat.
Beberapa perawat dan dokter masuk untuk memerikasa. "Maaf bu Kamisha dan bu Yanti, pak Amir sudah meninggal."
Kamisha terduduk lemas, hatinya sungguh hancur, orang yang dia sayangi sudah meninggalkannya. Ia sampai tidak bisa berkata apa - apa hanya terdiam dengan pandangan kosong. Airmatanya terus mengalir dengan deras. Bulik Yanti memeluknya dengan erat. Mereka sama - sama berduka atas meninggalnya pak Amir.
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Pagi itu Kamisha mulai.mengurus pemakaman pak Amir. Ia menunggu kakak keduanya dari Medan. Selama tinggal di sana mereka memang jarang kembali ke jawa. Mereka berkomunikasi hanya lewat telepon.
Mama Attalia datang bersama Harvey dan Zeline. Mereka memberikan semangat dan dukungan untuk Kamisha. Tapi orang yang selama ini ia rindukan tidak datang, orang yang dulu akan secara suka rela memberikan bahu untuk dia bersandar saat ini tak nampak sama sekali.
Xander aku butuh dirimu ucap Kamisha dalam hati.
"Sha, kamu istirahat saja dulu."
"Nanti saja, ma. Aku masih menunggu mbak___.."
"Kasihan bayimu, dari tadi kau belum makan."
"Aku masih belum lapar."
"Makanlah sedikit."
Kamisha menggeleng lemah.
Tak lama kemudian kakak kedua dan suaminya datang. Mereka saling berpelukan dan menangis. Karena telah kehilangan orang yang mereka cintai.
Setelah semua siap, acara pemakaman dimulai Dan semua keluarga mengantar pak Amir ke peraduan terakhirnya. Axel selalu berada di samping Kamisha dengan tegar menggandeng tangan mommynya. Kamisha sangat beruntung memilikinya.
Mendung di sore itu mengantar kepergian pak Amir.
"Mommy aku akan selalu berada di sampingmu."
"Terima kasih sayang."
"Aku akan menjaga kalian." ucapnya sambil memeluk Kamisha.
"Maafkan mommy, Axel karena akhir - akhir ini mommy kurang memperhatikanmu. Mommy mencintaimu." bisik Kamisha.
Setelah pemakaman pak Amir selesai semua keluarga pulang. Mama Attalia menemaninya selama dua hari karena ada Xander yang harus dirawatnya. Ia tidak bisa meninggalkan Xander yang begitu lama.
"Bagaimana kandunganmu?"
"Sangat baik ma, dia sangat aktif."
Mama Attalia mengelus perut Kamisha yang sudah membuncit. "Baik - baik ya cucu oma."
Kamisha tersenyum melihat mama Attalia yang bahagia dengan kehamilannya. Ia masih bersyukur dikelilingi oleh orang - orang yang mencintainya.
Tak terasa sudah satu minggu kepergian pak Amir. Kakak keduanya sudah kembali ke Medan, mereka hanya di beri cuti hanya tiga hari. Sore itu setelah acara doa bersama, Kamisha menemui bulik yanti.
"Bulik."
"Bulik, setelah ini aku akan pindah rumah."
"Kenapa, Sha? ini kan juga rumahmu."
"Ada beberapa alasan, aku akan terus bersedih jika tinggal disini. Ada kenangan bapak dan mbak Ayu disini. Yang kedua jika aku ingin memulai hidupku yang baru aku lebih baik tinggal di kota bulik. Keahlianku hanya membuat kue, jika aku melamar kerja kantoran aku takut kalau kehamilanku akan mengganggu kerjaku."
"Kamu pergi bukan karena tidak nyaman dengan bulik kan?"
"Tidak bulik, aku hanya mengambil sisi strategis dan praktis saja. Kalau aku jualan kue di kota hasilnya tentu akan berbeda."
"Bukankah mertuamu selalu memberimu uang? kenapa kamu masih bekerja begitu keras?"
"Bulik kan tahu aku bukan orang uang suka menggantungkan hidup dengan orang lain." jawab Kamisha. "Bulik tinggal disini saja, menjaga rumah bapak."
"Kamu tidak keberatan?"
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Nanti bulik ditemani mbak Ajeng. Biar mbok Sri ikut aku ke kota."
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu."
"Tolong jaga rumah bapak, bulik."
"Yah bulik akan menjaga rumah bapak."
Kamisha memeluk erat bulik Yanti.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Setelah pulang dari Jogja, mama Attalia mendapat kabar bahwa Alex sudah bertemu dengan Norman. Usahanya selama dua minggu di Medan akhirnya membuahkan hasil. Itu dikarenakan Norman dan keluarganya sering pindah karena sering di awasi oleh orang.
Kali ini mama Attalia bersikeras harus bisa bicara dengan Xander yang keras kepala itu. Walaupun nantinya ia bisa saja terluka karena amukan Xander.
"Xander! buka pintunya, mama mau bicara?"
"Pergilah, ma! aku ingin sendiri!"
"Ingin sendiri? sampai kapan?!" teriak mama Attalia jengkel. Ia memanggil beberapa pelayan pria. "Dobrak pintunya!" perintahnya.
Braakk! braakk! braakk! duueerr! akhirnya pintu berhasil terbuka.
"Keluar kalian sebelum aku lempar barang - barang ini!"
"Lempar saja! mama sudah muak dengan tingkah lakumu yang seperti anak kecil!"
"Aku tidak suka mama ikut campur dengan keputusanku."
__ADS_1
"Terserah! kamu suka atau tidak suka mama tetap akan berbicara padamu."
"Aku tidak ingin melukai mama!"
"Kau kira kemarin - kemarin kau tidak melukai mama? Dengan sikapmu yang seperti ini kau kira tidak melukai mama? Dengan kau mengusir Kamisha dalam kondisi hamil kau tidak melukai mama?!"
"Hamil? Kamisha hamil ma?"
"Ya dia hamil dan sekarang hidup berdua dengan Axel juga gara - gara kamu!"
"Ttapi dia selingkuh ma."
"Buka mata kamu, nak. Atas dasar apa kau menuduh Kamisha berselingkuh? atas dasar foto?"
"Ya."
"Foto itu rekayasa Kyara! Dia yang membuat semua itu. Dan perlu kau tahu bahwa Kyara yang membunuh Dimas dan menggelapkan uang perusahaan." mama Attalia memberikan Xander semua bukti. "Mama kasihan dengan Kamisha, satu minggu yang lalu bapaknya meninggal. Dimana kamu di saat di membutuhkan seseorang untuk menguatkannya."
"Ppak Amir meninggal?"
"Ya, dan mama harus aegera menyadarkanmu unyuk berhenti menyakiti dirimu sendiri dan Kamisha. Kau tahu Kamisha samgat mencintaimu, ia juga trauma terhadap perselingkuhan. Bagaimana bisa kau menuduhnya."
"Mama, aku.. aku saat itu bingung dan marah dengan kondisiku yang cacat saat ini. Aku.. aku.. tidak bisa berpikir dengan jernih."
Mama mendekati Xander yang duduk dikursi roda. "Lihatlah dirimu Xander, kau kurus, lusuh, tidak terurus. Mama mohon bangkitlah nak, demi istri dan anakmu."
Xander menangis
"Kyara wanita yang jahat, sungguh tega dia menyakiti Kamisha. Beruntunglah dulu kau tidak jadi mencintainya. Ternyata dia itu pernah dirawat di rumah sakit jiwa."
"Apa! aku sungguh tidak menyangka."
"Bukalah hati dan pikiranmu, nak. Ayo kita berobat, agar kau segera bisa berjalan lagi." mama Attalia memeluk putra semata wayangnya.
"Apakah Kamisha maj memaafkan aku? aku cacat dan me5e5njadi pria yang tidak bisa diandalkan."
e0w
"Tentu saja mau, Kamisha istri yang baik. Janganlah berkecil hati, nak. Kami semua menyayangimu." mama Attalia memberi semangat. "Lihat ini hasil USG kandungan Kamisha, anakmu laki - laki Xander."
Xander memandang hasil USG dengan mata basah. Tangannya gemetar menahan gejolak yang ada di hatinya. "Maafkan aku sayang."
Mama Attalia segera merawat putranya di bantu dengan beberapa pelayan. Mulai dari memandikan, mencukur bulu - bulu di wajahnya yang tumbuh lebat dan memotong rambutnya. Xander makan dengan lahap, membuat mama Attalia tersemyum bahagia.
"Aku ingin ke Jogja, ma."
"Benarkah? ya tuhan mama bahagia sekali sayang." ucap mama Attalia. "Tunggulah Alex pulang dari Medan."
"Alex ke Medan?"
"Ya dia akan menemui Norman. Kita tunggu saja kabar darinya."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Alex sudah berada di rumah Nirman yang baru. Ia menghidupi anak san istrinya dengan uang pemberian dari Heny.
"Ada apa pak Alex?"
"Heny sudah meninggal Norman. Sepertinya dia di bunuh."
"Mmmeninggal? Ddibunuh?" tanya Norman terperanjak. Ia tidak mengira umur Heny begitu pendek.
"Yah benar, dan di duga pembunuhnya adalah Kyara."
"Kyara?" wajah Norman pucat pasi seketika. Ia segera tahu bila pak Alex pasti sudah mendapatkan bukti - bukti keterlibatanya dengan Kyara dari Heny.
"Dan tidak menutup kemungkinan kalau target selanjutnya adalah kau."
Norman lama terdiam.
"Bekerja samalah denganku Norman. Aku akan melindungimu dan keluargamu. Aku bisa menjamin keselamatanmu."
"Tapi aku akan masuk penjara."
"Keluarga pak Xander akan mencarikโทรนรนan pengacara yang terbaik. Mereka akan berusaha meringankan hukumanmu. Bukankah itu adalah konsekuensi yang harus kamu bayar. Kasihan keluarga oak Dimas."
Nirman tertunduk, tangannya gemetar. "Yah, benar itu memang konsekuenai yang harus aku terima." ucap Notman. "Beberapa waktu yang lalu ada no telepon tak di kenal sering menterorku."
"Apa mungkin itu Kyara?"
"Mungkin saja."
"Sekarang kamu ikut aku ke Bandung. Kita pancing Kyara agar keluar dari persembunyiannya."
"Bagaimana caranya?"
"Nanti kita atur strategi jika sudah sampai di Bandung dan bertemu dengan pak Xander."
"Baiklah aku ikut ke Bandung tapi tolong lindungi keluargaku di Medan."
"Itu pasti."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1