Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Tidur Berjalan


__ADS_3

Saat makan malam di rumah.


"Sudah selesai buka kadonya?"


"Sudah, ma."


"Ada yang menarik?"


"Banyak, ma. Aku suka kado dari Harvey dan istrinya."


"Mereka kasih apa?"


"Mereka kasih peralatan makan dari kristal."


"Suka kadonya atau suka orang yang kasih kado." tiba - tiba Xander ikut dalam pembicaraan mereka.


"Kadonya dong." jawab Kamisha.


"Bukankah tadi kau mengatakan menyukai sebuah kado dari Sofi dan Laras?"


"Hmm, mereka mengado apa?" tanya mama Attalia.


"Eh itu ma, baju tidur."


"Benarkah baju tidur?" tanya Xander menggoda.


"Ssstt... ada Axel." Kamisha berusaha mengelak.


"Oh, mama mengerti. Kenapa nanti malam tidak kau coba saja Misha. Sepertinya suamimu sangat ingin kau mencobanya. Bukankah begitu Xander?"


"Eh, ya."


"Baiklah, nanti malam akan aku coba." ucap Kamisha melirik reaksi Xander.


Setelah makan malam selesai. Xander berada di ruang keluarga untuk bersantai bersama dengan mama. Sedangkan Kamisha membantu Axel belajar.


"Kamu tidak berkeinginan bulan madu dengan istrimu?"


"Nanti, ma. Saat ini aku memang sedang sibuk dan sebentar lagi acara ulang tahun hotel kita."


"Ah, kamu benar juga. Minta saja istrimu untuk mengurus acara ulang tahun hotel kita nanti. Dia kan dulu pernah bekerja di EO pasti acaranya akan meriah."


"Coba nanti aku bicarakan dengannya."


"Xander, perhatianlah pada istrimu. Dia sudah banyak berkorban."


"Aku tahu."


"Biarkan saja dia kembali bekerja di hotel, aku perhatikan beberapa hari ini ia seperti bingung. Mungkin karena terbiasa dengan kesibukan."


"Baiklah nanti aku akan bicara dengannya."


"Ya sudah, mama mau istirahat dulu." pamit mama Attalia sambil mengecup pucuk kepala Xander. "Cepatlah tidur, istrimu pasti sudah menunggumu mengenakan lingerie."


"Ma...!"


Mama Attalia tertawa, karena berhasil menggoda Xander.


Xander terdiam beberapa saat di sofa di ruang keluarga. Ia ragu untuk kembali ke kamarnya. Bagaimana kalau yang dikatakan oleh mamanya benar - benar terjadi. Apa nanti yang harus dia lakukan.


"Aacchh...!" teriaknya frustasi. Masa bodoh dengan lingerie memang dari awal aku ingin bercinta dengannya. Apa boleh buat kalau sudah tidak tahan yang harusnya terjadi biarlah terjadi. Toh sudah sah.


Xander segera naik tangga menuju ke kamarnya. Detak jantungnya tak beraturan. Ia membuka pintu kamar dan tidak menemukan Kamisha berada di sana. Apa masih bersama Axel ya batin Xander. Ia sedikit kecewa. Tapi mungkin ini yang terbaik.


Xander masuk ke dalam kamar mandi gosok gigi dan cuci muka. Kemudian masuk dalam walk in closet untuk berganti dengan baju tidur.


"Aaacchhh..!!!" teriak Kamisha. "Kenapa tidak ketuk pintu dulu?"


"Mana aku tahu kalau kamu di dalam, aku pikir masih di kamar Axel." jawab Xander memalingkan muka.


"Tahan, jangan lihat. Awas kalau nengok!"


"Hei, aku ini suamimu yang sah. Tidak haram dong aku melihat tubuh istriku sendiri."


"Wow... hebat... baru kali ini kau mau memgakui kalau aku istrimu."


"Hei, jangan bercanda ya. Dari awal aku mengakui kalau kau istriku."


"Iya, tapi tidak mencintaiku."


Xander terdiam dengan pernyataan Kamisha. "Sudah jangan di bahas lagi. Kau sudah selesai?"


"Sudah, masuklah. Aku akan keluar dan tidur." ucap Kamisha. Ia kecewa dengan jawaban Xander, ia berharap Xander mengatakan aku sangat mencintaimu Misha, tapi itu hal yang mustahil.


Kamisha menata sofa yang dalam sekejab menjadi tempat tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya. Ah sangat menyenangkan, seperti relaksasi batin Kamisha. Matanya memandang ke langit - langit kamar. Matanya belum mengantuk.


"Kau sudah tidur?" suara Xander membuyarkan lamunannya.


"Belum."


"Tadi siang Kyara menemuiku."


Kamisha kaget dengan ucapan Xander. Mau tidak mau ia bangun dari tidurnya dan memandang Xander dari sofa. Xander mengenakan kaos dan celana pendek. Walaupun tidak begitu jelas tampak terlihat tubuhnya yang kekar.


"Dia marah padamu?"


"Yah, lebih tepatnya sangat marah dan histeris."


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Dia menyalahkanku telah menikahimu, dia memintaku untuk kembali padanya."


"Kau masih mencintainya?"


"Mungkin ini salahku, Misha. Cerita ini berawal dari desakan mama untuk menikah. Akhirnya aku di bantu Alex mencari pegawai perempuan yang masih gadis di hotel. Alex sudah menciutkan kandidat menjadi tiga orang, termasuk Kyara. Aku pikir perasaan suka atau cinta akan datang. Ternyata semua sikapnya justru membuat aku semakin ragu."


"Apa yang membuatmu ragu?"


"Entahlah, tidak ada getaran dalam hatiku sedikitpun. Dan puncaknya ketika aku membawanya ke rumah dan ternyata kalian membohongiku."


"Maaf." ucap Kamisha lirih.


"Aku tahu kamu tidak bermaksud membohongiku. Sudahlah tidak perlu di bahas lagi."


"Aku kasihan padanya. Mungkin terlalu banyak cobaan yang datang membuatnya menjadi labil. Seharusnya mbak Ayu membawanya ke psikiater."

__ADS_1


"Aku rasa juga begitu, apalagi dia begitu membencimu dan Axel yang anak kandungnya."


"Kasihan Axel. Aku benar - benar menyayanginya. Dan sekarang ia lebih beruntung telah memilikimu dan mama."


"Dia juga beruntung ada di sisimu Misha."


Kamisha tersenyum melihat Xander. Ini untuk pertama kalinya mereka tidak berdebat.


"Oya, bagaimana cara kamu lepas dari amarah Kyara."


"Aku punya sekretaris yang dapat diandalkan."


"Alex?" tanya Kamisha tidak percaya.


"Yah, dia yang menangani semua."


"Dia memang bisa diandalkan." ucap Kamisha. "Ah aku jadi tidak mengantuk."


"Aku juga." Xander memandang Kamisha begitu tajam. Ia melihat sosok wanita yang menggoda yang hanya mengenakan baju tidur celana pendek. Beberapa kali ia menelan ludah. Baju tidur itu tidak seksi tapi tipis sehingga memperlihatkan lekuk tubuh Kamisha.


"Hmm, mau aku buatkan susu?"


"Yah, aku mau susu." jawabnya terus memandangi Kamisha tanpa berkedip.


"Maksudku minum susu hangat, biar kita cepat mengantuk."


"Heh, oh ya. Boleh." jawab Xander. Aduh kenapa akhir - akhir ini aku jadi sering gagap batin Xander menghela nalas.


Kamisha keluar kamar dan menuju ke dapur untuk membuat susu hangat. Tak berapa lama ia kembali ke kamar dengan membawa dua gelas susu.


"Nih." Kamisha memberikannya pada Xander.


"Terima kasih."


Setelah meneguk habis Xander bersiap naik ke tempat tidur dan Kamisha menuju ke sofa.


"Xander."


"Ya."


"Terima kasih sudah mau membagi cerita denganku."


"Yah, aku pikir kita harus komunikasi."


"Itu benar. Selamat malam, selamat beristirahat."


"Malam Misha."


🍁🍁🍁🍁


Pagi itu Kamisha mengerjap - erjapkan matanya. Ia mengambil Handphone yang dia letakkan di meja sofa. Hmm, mana handphoneku batin Kamisha, tangannya mencari - cari. Tunggu ini bukan meja sofa. Kamisha mengumpulkan kesadarannya untuk melihat di mana ia tidur saat ini. What, again! umpat Kamisha dalam hati.


Kenapa akhir - akhir ini aku tidur berjalan dan selalu ke tempat tidur. Apa alam bawah sadarku yang ingin tidur dengan Xander yang menuntunku sampai sini batin Kamisha. Hiii ngeri, ia tergidik. Aku harus tanya ke bapak apa waktu kecil aku punya kebiasaan tidur berjalan pikir Kamisha.


Dengan perlahan ia bangun sebelum ketahuan oleh Xander. Menuju ke kamar mandi dan membuat sarapan.


Saat ini ia masih belum masuk bekerja. Masih menunggu ijin dari Xander. Dan ia sudah merasakan bosan. Apa hari ini nanti aku ke toko kue saja pikir Kamisha. Apalagi memang ada beberapa hal yang ingin dia rubah. Ia akan mencoba membuat kue kering yang lebih awet dan tahan lama. Di rumah aku bisa mulai belajar membuatnya.


Saat di meja makan.


"Benarkah? yeaayyy." teriak Kamisha.


"Selamat ya Misha." ucap mama Attalia.


"Terima kasih ma."


"Oya bulan depan hotel berulang tahun, semua kau yang atur bersama Sofi."


"Serius?"


Xander mengangguk.


"Yes, sudah lama aku tidak mengurus event - event besar. Terima kasih Xander sudah mempercayakan acara yang begitu besar padaku."


"Itu karena mama."


"Terima kasih, ma."


"Sama - sama, Misha. Mudah - mudahan acaranya lancar dan kau tidak dipecat seperti waktu dulu. Hahahahh..."


"Loh, mama tahu hal itu?"


"Iya, dari papanya Zeline." jawab mama Attalia. "Oya kenapa dulu kau sampai terlambat dan barang yang kau bawa hancur semua."


"Itu karena aku sedang bertemu orang yang sial." jawab Kamisha sambil melirik Xander.


"Aku bukan orang yang sial."


"Bagaimana sih cerita komplitnya?" tanya mama Attalia penasaran.


"Ah sudah, masalah yang tidak penting tidak perlu di bahas lagi. Aku berangkat dulu, ayo Axel."


"Oke daddy."


Seperti biasa Kamisha mengantar mereka berdua sampai depan mobil dan melakukan ritual seperti biasa. Setelah melihat kepergian suami dan putranya ia masuk kembali ke dalam rumah.


"Sha, mama penasaran nih."


"Jadi, ma. Yang membuatku terlambat itu Xander. Saat itu ia sedang dikejar oleh beberapa orang, karena aku ada di situ jadi ikut dikejar sekalian."


"Di kejar oleh orang?"


"Ya, jumlah mereka lumayan banyak sekitar lima orang berpakaian jas serba hitam."


"Dia tidak pernah cerita tentang itu padaku."


"Mungkin Xander tidak ingin membuat mama menjadi cemas."


"Yah, kamu benar. Sebenarnya sudah sejak lama ia sering sekali di ganggu oleh orang - orang yang ingin merebut perusahaan Hadid."


"Namanya juga persaingan, ma."


"Oleh sebab itu, mama ingin ia segera mencari pendamping. Tujuannya agar ia lebih tenang, ada yang merawatnya di rumah."


"Xander orang yang baik, aku yakin tuhan pasti akan melindunginya."

__ADS_1


"Semoga."


"Oya ma, hari ini aku mau ke toko kue dulu. Sudah lama aku tidak cek kesana."


"Ya hati - hati."


Kamisha naik ke atas untuk berganti baju. Tapi sebelum itu ia tampak menelepon seseorang.


"Assalamualaikum, sugeng enjang pak (Selamat pagi pak)."


"Wa'alaikumsalam."


"Pripun kabare bapak (Bagaimana kabar bapak)?"


"Bapak apik - apik wae Misha (Bapak baik - baik saja Misha). Xander apa kabar?"


"Baik pak, ini sudah pergi ke kantor."


"Syukurlah kalau kamu bahagia, cepat buatkan cucu buat bapak."


"Njih pak."


"Ono opo esuk - esuk telpon bapak (Ada apa pagi - pagi telepon bapak)?"


"Pak, Misha mau tanya. Apa Misha waktu kecil punya kebiasaan tidur sambil jalan."


"Nggak, kamu ndak pernah tidur sambil jalan. Kalau Ayu justru pernah."


"Oh, malah mbak Ayu ya."


"Ada apa?"


"Nggak ada apa - apa pak, cuma akhir - akhir ini tidurku selalu berpindah tempat."


"Kurang doa mungkin. Bacalah doa sebelum kau tidur. Atau tanyakan saja sama suamimu, bagaimana kamu bisa berpindah tempat."


"Ah, benar juga. Nanti Misha tanyakan Xander. Sudah dulu ya pak, Misha mau ke toko kue."


"Ya, sampaikan salam bapak buat nak Xander."


Kamisha mengakhiri panggilan teleponnya. Tapi apa yang disampaikan bapaknya masih belum menjawab semua pertanyaannya yang ada di kepalanya. Apa perlu nanti malam aku tali kakiku di meja, jadi kalau aku memang tidur berjalan pasti akan terhalang tali tadi pikir Kamisha.


🍁🍁🍁🍁


Kyara duduk di sebuah cafe bersama dengan Tina. Mereka membahas langkah - langkah marketing untuk tim satu.


"Kyara__ kamu Kyara, kan?"


Kyara menatap seorang perempuan cantik berpakaian seksi yang ada di hadapannya.


"Heny__ aku Heny."


"Oh, Heny. Maaf aku pangling habis kamu cantik sekali." ucap Kyara sambil memeluk Heny.


"Lama ya kita tidak bertemu."


"Ya benar. Eh silahkan duduk. Kenalkan ini teman ku satu kantor." Kyara memperkenalkan Tina.


"Heny."


"Tina."


Mereka saling berjabat tangan.


"Ke Bandung dengan siapa?" tanya Kyara.


"Coba kau tebak dengan siapa?"


"Suami kamu?"


"Bukan."


"Lantas dengan siapa?"


"Om Dimas."


"O__ om Dimas? bukankah dia stroke."


"Dia sudah sembuh satu tahun yang lalu. Sekarang aku dan dia sedang ada bisnis bersama." jawab Heny. "Kamu sekarang kerja dimana?"


"Oh aku di hotel Hadid Paradise di bagian marketing."


"Wah kebetulan sekali, aku dan om Dimas menginap disana."


"Oh, ya.. iya ya kebetulan sekali." jawab Kyara gugup. Waduh gawat, jangan sampai mereka membuka masa lalu ku batin Kyara. "Hmm, Hen maaf ya aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti kapan - kapan kita ketemuan, oke."


"Baiklah, aku tunggu teleponnya."


Kyara bergegas meninggalkan Heny. Ia takut kalau pembicaraan mereka kemana - mana dan akhirnya Tina akan tahu masa lalunya. Kyara tahu Tina orang yang suka bergosip. Kalau rahasia sudah ada ditangannya bisa - bisa satu hotel akan tahu semua.


Sementara itu...


"Ngobrol dengan siapa?"


"Dengan Kyara, om."


"Kyara? kau bertemu dengan Kyara?"


"Ya,"


"Kenapa tidak memberitahuku?"


"Aku cuma sebentar."


"Hah, padahal aku ingin bicara banyak dengannya."


"Tenang saja, om. Dia bekerja di hotel tempat kita menginap. Kapan pun om mau, om bisa bertemu dengannya."


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya, apakah ia masih polos dan imut seperti dulu?"


"Aku rasa ia sudah banyak berubah, ia lebih cantik."


"Hmm, sangat menarik." gumam om Dimas. "Ayo kita kembali ke hotel."


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2