
"Kyara?"
"Hai, mbak." sapa Kyara. "Sore semuanya." Kyara segera mencium tangan pak Amir. "Bagaimana keadaan mbah Amir?"
"Alhamdulillah apik, nduk. Awit ono bulikmu ning kene, awakke mbah wes ora lemes meneh (Alhamdulillah baik. Sejak ada bulikmu disini, badan mbah sudah tidak lemas lagi)."
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya mbah." ucap Kyara. "Selamat sore, Xander."
"Sore." ucap Xander. Ia melirik reaksi Kamisha yang masih tampak terkejut dengan kedatangan Kyara. Seperti ada kecemasan di wajahnya. Apa ia takut mereka akan bertengkar dan bisa membahayakan kesehatan pak Amir batin Xander.
"Mbak Ajeng, tolong bawa koper Kyara ke kamarnya." perintah Kamisha.
"Nggih mbak."
Ajeng membawa koper Kyara masuk ke dalam.
"Kopere sopo iki, jeng (Kopernya siapa ini, jeng)?" tanya bulik Yanti
"Mbak Kyara, bu."
Bulik yanti segera keluar dan bergabung bersama mereka. "Eh, Kyara cucu kesayanganku. Kapan sampai di Jogja?"
"Barusan, mbah yanti."
"Hmm... mbah kangen. Kenapa nggak pernah jenguk mbah?"
"Sibuk kerjaan mbah, tanyakan pada Xander kalau tidak percaya." jawab Kyara sambil tersenyum dan melirik Xander.
"Yah, nak Xander jangan kasih Kyara kerjaan yang berat - berat nanti cantiknya ilang."
"Oh.. eh ya bulik."
"Kalau di hotel Kyara termasuk pegawai yang cantik atau jelek, nak?" tanya bulik Yanti. Pertanyaannya seakan ingin menyudutkan Kamisha.
"E..e.. eh cantik itu relatif, bulik." jawab Xander
"Ya, bulik ngerti. Tapi pada umumnya Kyara termasuk apa?"
"Cantik dong bulik." sahut Kamisha tiba - tiba. "Iya kan sayang?"
Xander hanya tersenyum saja mendengar jawaban istrinya.
"Bulik, di hotel karyawatinya Xander semuanya cantik." ucap Kyara.
"Kyara, jangan panggil nak Xander dengan Xander saja. Dia itu suaminya bulikmu." pak Amir mengingatkan.
"Eh ya nggak apa - apa to pak. Wong sudah terbiasa begitu." bela bulik Yanti.
"Nek di rungokke wong liyo ora apik, yanti (Kalau di dengarkan orang lain tidak baik, Yanti)."
Bulik Yanti ingin membalas perkataan pak Amir tapi di cegah oleh Kyara.
"Nggih, mbah. Nanti Kyara panggil om Xander saja, bagaimana?"
"Yo, iku luwih apik (Ya, itu lebih baik)."
"Ehem." tiba - tiba Kamisha berdehem. "Sebaiknya Kyara istirahat di kamar saja dulu. Pasti lelah setelah perjalanan jauh. Biar aku siapkan makan malam."
"Aku temani." sahut Xander cepat.
Mereka masuk ke dalam dapur untuk memasak makan malam. Kamisha mulai mengiris beberapa sayuran, karena dia akan membuat capcay. Karena masih merasa kesal, ia mengiris sambil mengeluarkan emosi. Clethok... clethok...
"Ck... ck... ck... kasihan sayurnya." ucap Xander. Tapi Kamisha masih diam dan tidak merespon sama sekali. "Kasihan kamu sayur jadi korban cemburunya seseorang."
"Aku tidak cemburu!"
"Aku tidak menuduhmu cemburu. Aku hanya bicara pada sayur saja." goda Xander. Ia senang melihat reaksi Kamisha.
Kamisha mendengus kesal.
"Mbak Misha, piye to iki sayurane kok mencelat ning endi - endi (Mbak Misha, gimana ini sayur nya kok lompat kemana - mana)." ucap Ajeng sambil mengumpulkan sayur yang berjatuhan di bawah.
Sadar dengan apa yang dilakukan, Kamisha menarik napas panjang mengontrol emosinya. Ia menjadi malu sendiri. Seharusnya ia tidak boleh bersikap seperti itu. Apa sebenarnya aku khawatir kalau Xander akan dekat lagi dengan Kyara batin Kamisha. Duh kenapa aku jadi jahat begini sesalnya.
"Maaf, mbak Ajeng. Terburu - buru masaknya keburu malam." ucap Kamisha berbohong.
"Biar aku bereskan saja, Jeng."
"Jangan mas, njenengan (kamu) kan tamu disini."
"Eh aku ini menantu lo disini."
"Heheeh.. iya." ucap Ajeng. "Saya tahu, mas Xander pasti pengen berduaankan dengan mbak Misha disini. Hehehehh.. silahkan, monggo." Ajeng tersenyum sambil pergi dari dapur.
Setelah dengan bersusah payah mengembalikan mood memasaknya akhirnya jadilah makanan capcay tapi made in Xander.
"Kalau kamu nggak enak badan ke kamar saja. Nanti makanannya aku antar ke sana."
"Oh, aku tahu. Kamu mau berduaan kan dengan Kyara. Mau nostalgia ya?"
"Hahahahh..." Xander tertawa terbahak - bahak. Kamisha tambah cemberut melihat ia di tertawakan. Cekrekk..
"Kenapa di foto?"
"Aku mau mengabadikan wajah dan ekspresi yang langka ini."
"Jangan, jelek tau."
"Wajah cemburu ini perlu di jadikan wallpaper."
"Siapa yang cemburu?" elak Kamisha. "Oh aku tahu mau kamu bandingkan dengan wajah cantik mantan - mantan kamu kan?"
"Hahahahh.. fix kamu cemburu Kamisha sayang." ledek Xander sambil terus tertawa.
"Tau ah, bodo!" Kamisha pergi meninggalkan Xander sendiri sambil membawa capcay ke meja makan. Dengan segera Xander menyusulnya.
Kamisha menyiapkan minum. Pak Amir dan bulik Yanti segera duduk. Disusul kemudian Kyara yang langsung duduk di sebelah Xander. Kamisha berusaha mengalihkan pandangannya. Sepertinya anak ini mau cari gara - gara denganku, batin Kamisha geram. Xander yang tahu perubahan ekspresi Kamisha yang seperti aura pembunuh berdarah dingin langsung mengambil tindakan.
__ADS_1
"Sayang, tadi kamu bilang tidak enak badan. Duduk saja biar aku yang tuang airnya." ucap Xander sambil menuntun Kamisha duduk di sebelah Kyara. Xander kemudian mengambil alih tugas Kamisha.
"Eh, kamu itu lo dak sopan sama sekali. Nak Xander disini ini tamu, kok malah kamu duduk - duduk saja." ucap bulik Yanti sewot. Ia berubah sejak kedatangan Kyara. Awalnya ia tampak diam karena merasa tidak ada sekutu melawan Kamisha dan juga ia membutuhkan uang dan tenaga Kamisha.
"Sudah... sudah.. ndak usah di ributke." ucap pak Amir.
"Tidak apa - apa bulik, apalagi ini saya lakukan buat istri. Kalau saya dianggap tamu berarti saya bukan menantu disini."
"Oh.. bukan itu maksud saya nak. Baiklah tidak apa - apa." jawab bulik Yanti.
Yess.. that's my husband teriak Kamisha dalam hati. Xander melihat perubahan wajah Kamisha yang lebih seperti seorang pemenang menjadi sedikit lega. Dan makan malam pun berjalan sesuai harapan Kamisha tanpa obrolan membosankan.
Kamisha sedang memijit kaki pak Amir yang terasa pegal. Xander duduk di teras sambil menunggu istrinya selesai dan masuk kamar bersama.
"Hei." sapa Kyara. Xander menoleh ke sumber suara. "Sepertinya kau menghindariku?" tanya nya sambil duduk di sebelahnya.
"Itu hanya perasaanmu saja."
"Benarkah hanya perasaanku? sepertinya tidak seperti itu. Kau tidak mengajakku bicara sama sekali."
"Aku hanya malas."
"What! Xander tidak bisakah kau baik padaku?"
"Bisa, asalkan kau baik dengan istriku."
"Aku baik dengan mbak Misha, aku sangat menghormatinya."
"Benarkah kau menghormatinya? sikapmu tidak seperti itu. Kau dan bulik Yanti selalu menekannya dengan kata - kata. Itukah balasanmu terhadap orang yang sudah mau membesarkan anakmu."
"Itu hanya perasaan mbak Misha. Kalau dia merasa berarti dia memang merebut kamu dariku."
"Misha sama sekali tidak merebut ku darimu. Pertama karena kita memang tidak ada ikatan cinta dan yang kedua ternyata sikap dan sifatmu tidak layak untuk berada di sampingku."
Kyara menggenggam tangannya dengan erat. Bibirnya bergetar menahan amarah ketika mendengar perkataan Xander. Ia segera berdiri untuk pergi meninggalkan Xander, tapi terlintas sebuah ide nakal ketika tahu Kamisha datang menghampiri mereka.
"Aauuww...!" teriaknya dan menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Xander.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" ucap Xander yang terkejut dengan tindakan spontan Kyara.
"Ehem." Kamisha berdehem dari belakang. Kyara langsung bangkit dari pangkuan Xander. Ia pura - pura merapikan bajunya.
"Maaf mbak."
"It's okey." jawab Kamisha. "Sayang tidur yuk, ngantuk." ucap Kamisha dengan nada manja pada Xander. Ia menahan emosi ini semua demi pak Amir.
"Oke."
Kamisha menarik tangan Xander dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Hmm.. cemburu lagi?" goda Xander.
"Nggak!"
"Sudah ngaku saja."
"Nggak!"
"Aku tahu."
"Terus kenapa masih cemberut? tidak baik tidur dalam keadaan marah."
Kamisha naik ke atas tempat tidur, bersikap acuh tak acuh dengan Xander. Ia menaruh sebuah guling di tengah
"Hei, Misha." panggil Xander
"Karena sepertinya kamu menikmatinya" jawab Kamisha kemudian.
"Aku terkejut dan tidak bisa menghindar. Itu tiba - tiba."
"Oke, tidak masalah. Aku tidur." ucapnya sambil berusaha memejamkan matanya.
"Oh, begitu ya. Oke kalau itu maumu. Terpaksa aku harus melakukan ini." ucap Xander. Ia naik ke tempat tidur dan membuang guling yang Kamisha taruh di tengah.
"Hei, gulingku."
"Masa bodo." ucap Xander yang tak lama kemudian menggelitik pinggang Kamisha.
"Hahahah... Xander hentikan! Ini geli."
"Aku tidak berhenti sebelum hilang marahmu."
"Hahahahha.. oke.. stop! stop! aku tidak tahan."
"No Kamisha.. no." Xander terus melancarkan serangan hingga. Braaakkk!!! tempat tidur mereka ambrol.
Hahahhahahhh.. mereka tertawa terbahak - bahak berdua.
Sementara itu...
Sialan suara mereka sampai terdengar di kamarku. Awas kau mbak Misha. Perang ini tidak akan pernah usai sebelum aku jadi pemenangnya. Aku tidak boleh kalah dan mengalah untuk wanita sepertimu batin Kyara geram.
🍁🍁🍁🍁
Pagi ini Kamisha membangunkan Xander pagi sekali. Ia sudah menyewa sepeda motor pada suaminya Ajeng. Rencananya mereka akan membelikan mama Attalia batik untuk oleh - oleh. Karena mereka akan mencari dari rumah ke rumah maka naiklah sepeda motor.
"Yakin mau pakai ini?" tanya Xander tidak percaya
"Iya, memang kenapa?"
"Apa tidak naik mobil saja? nanti siang kamu kepanasan lo."
"Kita cari batiknya di kampung - kampung. Kalau naik mobil repot nggak bisa masuk gang. Ujung - ujungnya jadi jalan kaki."
"Okelah kalau itu maumu, panas tanggung sendiri"
"Makanya kita berangkatnya pagi - pagi begini. Biar nanti tidak terlalu panas."
__ADS_1
"Ayo."
Xander memasangkan helm ke Kamisha. Kemudian Kamisha membonceng.
"Oya nanti kita beli tempat tidur sekalian."
"Buat apa?"
"Nggak enak sama bapak, kamu sih semalam meronta - ronta."
"Eh kamu yang gelitiknya tanpa ampun."
Hahahahhh.. mereka tertawa bersama karena ingat kejadian semalam. Dan mengharuskan mereka tidur di bawah.
Mereka membeli beberapa batik asli buatan tangan, sambil sesekali ikut membuat sendiri. Ibu - ibu disana dengan senang hati mau mengajari Xander dengan imbalan foto bersama.
Xander benar - benar puas dengan liburan di Jogja ini. Ia bisa lebih dekat dengan Kamisha dan juga keluarganya. Setiap hari ada saja sifat dan sikap Kamisha yang selalu membuatnya kagum. Walaupun ia masih mempertanyakan tentang perasaannya.
Akhirnya sore mereka sampai ke rumah. Kamisha segera menata koper dan oleh - oleh yang dia bawa. Rencananya besok mereka akan pulang. Kamisha sudah rindu dengan Axel dan juga pekerjaan Xander yang saat ini tidak bisa di tinggalkan.
"Sudah semua?"
"Sudah."
"Oleh - olehnya mama sama Axel kamu taruh mana?"
"Di situ." tunjuk Kamisha yang masih sibuk menata kopernya.
"Yang mana?" tanya Xander lagi.
"Itu, yang sebelah situ. Di kardus itu."
"Mana?"
"Aduh gitu saja tidak tahu, dasar manja." omel Kamisha. Ia berbalik ke arah Zander tapi malang karena kakinya tersandung koper ia jatuh di atas menimpa tubuh Zander. Dan ciuman tak disengaja pun terjadi.
Sepersekiam detik mereka tetap di posisi itu. Hingga Kamisha tersadar. Ia segera bangun dari atas tubuh Xanser. Mukanya merah karena malu.
"Maaf."
"Ehem, it's okey."
"E.. e.. oleh - olehnya yang ini."
"Oh.. ya benar. Aku__ aku hanya memastikan saja, tidak ada barang yang tertinggal.
"Semua sudah aku masukkan." ucap Kamisha dengan menundukkan wajahnya dan pura - pura sibuk. Semua jadi salah tingkah.
"Istirahatlah lebih awal biar kita tidak ketinggalan pesawat."
"Oh ya. Oke."
Kamisha langsung naik ke atas tempat tidur diikuti oleh Xander. Mereka saling diam.
"Hmm.. met malem."
"Ya."
Mereka berusaha saling memejamkan mata dan memendam keinginan melakukan ciuman itu berulang - ulang.
🍁🍁🍁🍁
Kyara malam itu duduk di teras. Sialan mereka akan pulang besok tanpa memberi tahu padaku batinnya. Ia berusaha mencari tiket agar bisa terbang bersama. Tapi semuanya penuh mau tidak mau Kyara akan pulang lusa. Ia termenung beberapa saat dan kemudian melakukan panggilan pada seseorang.
"Halo Heny."
"Heh, tumben kau meneleponku malam - malam begini. Sudah sadar sekarang."
"Oke aku minta maaf atas semua sikapku."
"Kau kira aku percaya denganmu?"
"Percayalah, aku benar - benar menyesal."
Heny terdiam sejenak. Didengar dari nadanya Kyara benar - benar menyesal.
"Baiklah, aku maafkan."
"Hmm, aku tahu kalau kau mendapat tugas dari om Dimas agar bisa memenangkan proyek pembangunan hotelnya Xander."
"Darimana kamu tahu?"
"Aku sudah bisa membaca dari gerak gerikmu."
"Terus."
"Jadi aku akan membantumu dan om Dimas memenangkan proyek itu."
"Syaratnya? harus barter apa?"
"Ternyata kau sudah bisa membaca arah pembicaraanku?"
"Aku sudah mengenalmu cukup lama, Ra."
"Baiklah aku tidak akan basa basi lagi. Bantu aku mendapatkan Xanser."
"Gila! dia suami bulikmu."
"Aku tidak peduli. Aku akan merebutnya bagaimanapun caranya. Kau tahu sifatku kan?"
"Oke.. oke.. sebagai teman yang baik aku akan membantumu."
"Baiklah, kau memang benar - benar sahabatku."
Panggilan di akhiri. Kyara tersenyum penuh kepuasan, semua rencananya akan berjalan dengan lancar di tambah sengan bantuan Heny sahabatnya. Kena kau mbak Misha ucap Kyara dalam hati.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1