Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Berbohong Kedua Kalinya


__ADS_3

"Nah, Misha. Ini akan menjadi kamar kalian berdua." ucap mama Attalia. "Taruh pakaian kamu disini. Xander itu suka kerapian, semua jas, kemeja dan t shirt nya selalu urut sesuai dengan warna."


"Baik, ma."


"Ini khusus untuk dasi dan ini jam tangan. Hmm apa lagi ya?" mama Attalia tampak berpikir. "Oh ya ini letak kaos kakinya dan ini yang paling penting."


"Apa ma?"


"****** ***** Xander. Ia suka dengan merk ini karena bahannya sangat halus dan tidak panas jika di pakai. Misal kamu nanti mau membelikan pilih yang warna gelap."


"Oh, ba__ baik ma." jawab Kamisha gugup.


"Tidak perlu gugup dan malu, nanti kalian juga akan terbiasa. Jangan lupa cepat buatkan mama cucu, kasihan kan Axel sendirian tidak ada temannya."


"Oh, ya ma." jawab Kamisha malu.


"Hahahahh.. wajahmu merah Kamisha." goda mama Attalia. "Hmm, sementara taruh tas kamu disini dulu."


"Baik ma, aku akan bawa koper Axel juga."


"Eh jangan begitu. Kalian ini pengantin baru tidak boleh ada yang mengganggu. Mama sudah siapkan kamar sendiri untuk Axel. Aku jamin dia pasti suka."


"Terima kasih atas perhatian mama."


"Aku sudah menganggapmu sebagai anak sendiri. Jangan sungkan ya. Kalau ada apa - apa minta bantuan pelayan. Kalau begitu mama tinggal dulu."


Kamisha berkeliling di kamar Xander. Ini seperti mimpi baginya. Dalam waktu satu hari ia sudah menjadi nyonya Xander. Bagaimana kalau Kyara tahu, ia pasti akan marah besar batin Kamisha.


Ia merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam kamar. Kamar Xander ini luasnya hampir sama dengan rumahnya. Tiba - tiba saja Kamisha merasa mengantuk. Ia mulai menutup matanya dan tertidur.


🍁🍁🍁🍁


Kamisha membuka matanya, ia meregangkan otot - ototnya.


"Sudah bangun."


"Loh kok ada kamu."


"Heh, amnesia karena kebanyakan tidur."


"Kok bisa?"


"Pikir saja sendiri, aku mau kerja."


"Ya tuhan."


"Kenapa?"


"Kita sudah jadi suami istri."


"Heh, baru sadar."


"Wah gawat, mama pasti marah. Aku kok bisa bangun kesiangan sih." gerutu Kamisha. "Kenapa tidak di bangunkan?"


"Nggak tega lihat kerbau tidur lelap tiba - tiba di bangunkan."


"Heh, awas ya."


"Aku turun ke bawah dulu." pamit Xander.


Kamisha masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan diri dan segera turun untuk sarapan.


"Maaf ma, bangun telat."


"Tidak apa - apa, Misha."


"Apa yang mommy lakukan sampai terlambat bangun?" tanya Axel.


"Mommy tidak melakukan apa - apa sayang."


"Atau mungkin mommy belum terbiasa tidur dengan om Xander."


"Bu__bukan itu juga." jawab Kamisha gugup.


"Om Xander, hati - hati kalau tidur dengan mommy."


"Kenapa?"


"Mommy suka peluk - peluk sampai aku tidak bisa bernapas."


"Oya? sepertinya menyenangkan untuk di coba." ucap Xander sambil tersenyum smirk.


"Uhuk... uhuk... uhuk..."


"Makannya pelan - pelan Misha."


"Maaf, ma."


"Xander, Misha hari tidak usah berangkat bekerja saja."


"Kenapa?" tanya Xander.


"Kamu harus ukur jas kamu buat acara besok."


"Aku rasa tidak perlu, mama sudah tahu ukuranku kan? hari ini aku ada rapat dengan klien."


"Heh baiklah. Jadi nanti hanya Kamisha saja ya."


"Ma, karena hari ini pak eh maksudku Xander memberi aku ijin tidak masuk kerja, aku mau menemui Sofi temanku kalau diijinkan." ucap Kamisha sambil melirik Xander.


"Boleh." jawab Xander.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Aduh kalian ini, jadi suami istri kok seperti atasan dengan bawahan. Kaku dan formal. Pokoknya mama minta setelah selesai acara resepsi kalian harus bulan madu. Biar Axel segera punya adik. Ya kan Axel."


"Yeeayy... mau oma," teriak Axel.


Xander hanya diam sedangkan Kamisha tertunduk. Ia tahu posisinya, pernikahan ini hanya sebagai wujud tanggung jawab Xander. Tidak ada rasa cinta disini. Jadi Kamisha tidak mau muluk - muluk dan berandai - andai ini menjadi sebuah pernikahan yang bahagia. Mungkin jika suatu saat nanti Xander menemukan orang yang dia cintai tidak menutup kemungkinan mereka akan bercerai. Ya tuhan se tragis inikah pernikahanku, pernikahan yang aku inginkan sekali dalam seumur hidup batin Kamisha.


"Aku pergi dulu," pamit Xander.


Kamisha mengantarnya keluar. Dengan cepat Kamisha meraih tangan Xander dan menciumnya. "Hati - hati di jalan."


"Hmm." hanya itu yang keluar dari mulut Xander, karena ia sendiri juga bingung harus bersikap bagaimana.


Kamisha mengantar kepergian Xander sampai gerbang baru kemudian dia masuk ke dalam rumah. Setelah mengurus semuanya ia ijin keluar untuk menemui Sofi, tapi sebenarnya ia pergi menemui dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan. Sofi sudah tahu kalau Kamisha sudah menikah dengan Xander.


Kamisha sudah memesan taxi karena mobilnya masih ada di rumah lama. Ia rencananya juga akan mengambil barangnya yang masih tersisa.


Tak berapa lama ia sampai di rumah sakit. Setelah mengisi beberapa formulir ia menunggu panggilan untuk pemeriksaan.


"Nyonya Kamisha Xander."


"Ya saya."


"Silahkan masuk," ucap seorang perawat.


"Terima kasih."


"Selamat pagi nyonya Kamisha."


"Selamat pagi dok."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Jadi begini dokter. Suatu malam saya tidak sadarkan diri bersama seorang pria. Dan tahu - tahu di sprei saya ada bekas noda darah dan kami berdua dalam keadaan tanpa busana. Karena hal itu akhirnya kami menikah. Tapi kemarin saya bertemu saudara menceritakan tentang pengalaman malam pertama dengan suaminya dan itu terasa sangat sakit di milik pribadinya, bahkan sampai beberapa hari. Dan saya tidak merasakan itu. Jadi saya memutuskan untuk melakukan pemeriksaan."


"Baiklah saya mengerti, anda merasa ada yang menjebak."


"Benar dokter."


"Mari kita lakukan pemeriksaan, silahkan berbaring disana."


"Baik, dok." jawab Kamisha. Ia memang sengaja mencari dokter wanita dengan tujuan agar ketika pemeriksaan dia tidak merasa canggung. Dan juga ketika di ajak berkonsultasi ia tidak merasa sungkan.


Setelah melalui beberapa pemeriksaan Kamisha kembali ke duduk di ruang konsultasi.


"Bagaimana, dok?"


"Maaf sebelumnya. Saya bisa mengatakan bahwa saat ini anda masih perawan. Berdasarkan hasil pemeriksaan masih terdapat selaput darah disana. Dan maaf alat kelamin anda sama sekali tidak mengalami kerusakan atau adanya robekan."


"Jadi darah yang ada di sprei itu darah siapa dok?"


"Kalau itu saya kurang tahu. Bisa saja ada orang yang sengaja meletakkannya di sana. Dia memanfaatkan ketidak sadaran anda berdua. Maaf saya tidak menuduh siapa - siapa. Saya hanya menyampaikan fakta bahwa anda masih perawan."


Kamisha terduduk lemas. Ia tidak percaya kenapa bisa ada kesalahan seperti ini. Seharusnya saat itu ia bisa berpikir jernih dan tidak panik. Sehingga ia bisa melakukan pemeriksaan ini sebelum memutuskan untuk menikah. Kenapa hidupnya jadi rumit seperti ini. Jika Xander tahu, ia bisa menganggap bahwa Kamisha lah yang menjebak dirinya. Kira - kira siapa yang sudah menjebak mereka berdua. Kamisha berpikir keras.


Seakan tersadar dari lamunannya. "Eh ya dok."


"Tadi saya juga melakukan pemeriksaan menyeluruh. Kandungan anda dalam keadaan baik. Apabila anda memutuskan untuk hamil cepat saya rasa tidak ada masalah. Bicarakan baik - baik dengan suami anda. Saya yakin dia pasti mengerti."


"Tapi masalahnya, kami menikah karena tanggung jawab telah merenggut kehormatan saya dok. Bagaimana jika suami saya tahu bahwa sebenarnya saya masih perawan, apa malah yang ada nanti sebuah perceraian."


"Saya rasa tidak semudah itu seorang pria mengambil suatu keputusan. Saya yakin anda tidak akan di ceraikan."


"Darimana dokter mendapat keyakin seperti itu?"


"Coba nyonya pikirkan, suami anda langsung mau bertanggung jawab menikahi anda itu artinya jauh di lubuk hatinya ia mencintai anda, hanya saja belum menyadarinya. Bisa saja kan ia menolak tidak bertanggung jawab karena sama - sama dalam keadaan tidak sadar. Tapi yang dia lakukan justru melindungi anda dari omongan miring orang luar."


"Mudah - mudahan saja, apa yang dokter katakan benar. Kalau begitu saya permisi dulu, dok."


"Silahkan, dan tetap berpikiran positif nyonya Kamisha."


Kamisha segera meninggalkan ruangan dokter. Ia duduk sebentar untuk memikirkan siapa yang sudah melakukan itu padanya dan Xander.


Ia teringat sesuatu, Xander pernah mengatakan kalau ia sempat di beri minuman oleh mama, dan itu juga yang dialami Kamisha. Ia sempat diberi minuman jus anggur yang ternyata itu wine dengan kadar alkohol yang tinggi.


Aku harus menemui mama untuk meminta penjelasan. Kamisha beranjak dari duduknya dan segera kembali pulang ke rumah.


Sementara itu...


"Sof ayo naik."


"Eh bentar, ada temanku. Aku sapa dulu sebentar." Sofi berlari menghampiri seseorang.


"Selamat siang pak Xander."


"Sofi?" tanya Xander keheranan. "Kamisha mana?"


"Kamisha? waduh saya tidak tahu pak."


"Bukankah dia mau bertemu denganmu?"


"Tidak, saya tidak ada janji dengan Misha."


"Oh, mungkin aku yang salah dengar." ucap Xander. Tapi ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia menaruh curiga.


"Oya, selamat ya atas pernikahan kalian berdua. Semoga langgeng."


"Terima kasih."


"Kalau begitu aku permisi dulu." Sofi meninggalkan Xander dan segera bergabung bersama temannya lagi.


"Alex kita pulang."


"Rapatnya pak?"

__ADS_1


"Batalkan."


"Baik."


Xander segera naik ke dalam mobil, pulang menuju rumahnya.


🍁🍁🍁🍁


"Mbak, mama ada dimana?" tanya Kamisha pada salah satu pelayan.


"Nyonya ada di ruang keluarga."


Kamisha berjalan cepat menuju ke ruang keluarga.


"Ma."


"Eh Misha, kamu sudah pulang. Coba lihat ini kebayanya bagus - bagus, kamu suka warna yang apa?"


"Ma, aku mau bicara sebentar."


"Oh, bicara apa sayang. Ayo duduk di sebelah mama."


"Ma, terus terang tadi aku tidak bertemu Sofi. Maafkan aku sudah membohongi mama dan Xander."


"Jadi kamu tadi pergi kemana?"


"Aku ke dokter, ma."


"Kamu sakit?"


"Tidak, aku baik - baik saja. Cuma ada sesuatu yang harus aku pastikan."


"Apa itu?"


"Tentang malam itu, ma. Terus terang ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Dan itu terbukti, aku masih perawan. Ini hasil pemeriksaannya, ma."


Mama Attalia diam, ia sepertinya tahu arah pembicaraan Kamisha.


"Ma, sebelumnya aku sempat di beri minuman oleh mama dan itu membuatku pusing tak sadarkan diri. Dan Xander pun mengatakan hal yang sama, sempat di beri minuman oleh mama. Maafkan aku, ma yang lancang bertanya. Apakah ini skenario mama, agar aku menikah dengan Xander?"


Mama Attalia menatap tajam pada Kamisha. Matanya yang sayu mulai berkaca - kaca.


"Misha, maafkan mama." ucap mama Attalia. "Mama terpaksa melakukan ini karena mama ingin kamu menjadi menantu mama. Dan aku sangat yakin, kau akan menjadi pendamping Xander yang baik."


"Aku akan berterus terang dengan Xander, ma."


"Jangan lakukan itu Misha," pinta mama Attalia.


"Tapi, ma kita sudah membohonginya. Xander tidak suka akan hal itu."


"Tolong lakukan ini demi mama, jangan katakan kalau malam itu tidak terjadi apa - apa dan kamu masih perawan."


Kamisha diam, ia melihat wanita tua di depannya dengan tatapan mata menaruh harapan tinggi padanya. Sungguh membuat Kamisha menjadi tidak tega.


"Baiklah, ma. Aku tidak akan bercerita apa - apa pada Xander."


"Oh, jadi kau berencana akan membohongiku lagi!" teriak Xander yang tiba - tiba datang ke ruang keluarga.


"Bu__bukan seperti itu, Xander." ucap Kamisha terkejut.


"Bukan bagaimana? aku sudah mendengar sendiri malam itu tidak terjadi apa - apa. Kau menjebakku Kamisha?"


"Tidak, demi tuhan aku tidak menjebakmu Xander." ucap Kamisha.


"Ini buktinya apa. Kau dengan mama berniat membohongiku kan?!"


"Xander dengarkan penjelasan kami." ucap mama Attalia.


"Ma, mama tahu kan aku tidak suka dibohongi. Tapi apa yang kalian lakukan padaku."


"Xander mari bicara baik - baik. Awalnya aku mau berterus terang kepadamu."


"Itu betul Xander. Tapi mama yang meminta Misha untuk diam." jelas mama Attalia


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Kau sudah melakukan hal itu dua kali Misha."


"Maksudmu?"


"Pertama dengan Kyara, kau membantunya berbohong yang menurutmu itu benar. Dan aku berusaha memberikan kesempatan lagi padamu agar jangan berkorban untuk orang lain. Dan kamu tahu telah berkorban untuk orang yang salah. Sekarang ini kamu ulangi lagi. Jadilah wanita yang punya pendirian Misha. Jangan terlalu mau di dikte oleh orang." Xander berbicara panjang lebar.


"Xander, maafkan aku." ucap Kamisha lirih. "Aku siap menerima konsekuensinya."


"Tidak Misha, tidak Xander. Kalian tidak boleh membatalkan pernikahan ini!" teriak mama Attalia.


Xander hanya diam. Terus terang ia sangat bingung dan akhirnya memutuskan untuk naik ke kamar.


Mama Attalia menangis ia menyesal telah membuat putra semata wayangnya kecewa.


"Ma, mungkin Xander butuh waktu untuk sendiri. Aku tahu betapa kecewanya dia terutama denganku. Sudah dua kali aku melakukan kesalahan."


"Tidak Misha, kamu tidak salah. Aku yang salah."


"Ma, tenanglah. Aku tidak mau mama jatuh sakit." ucap Kamisha. "Mungkin untuk malam ini aku akan kembali ke rumah. Aku harus memberi ruang untuk Xander. Mungkin besok pagi kita bisa bicara lagi."


"Tapi Misha."


"Ma, percayalah ini yang terbaik."


"Baiklah," mama Attalia akhirnya mengijinkan Kamisha dan Axel untuk pulang ke rumah.


Kamisha segera berkemas untuk pulang ke rumah. Ia beralasan pada Axel untuk mengambil barang - barang yang masih ketinggalan. Kamisha sangat bingung dengan pernikahannya ini, bagaimana jika bapak tahu, padahal bapak sudah menaruh harapan baik untuk rumah tangganya. Bapak sudah merasa tenang dan bahagia karena ia mendapatkan jodoh. Kamisha hanya bisa berdoa agar di berikan jalan keluar yang terbaik.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2