
Pagi ini Kamisha mulai menata baju dan beberapa perlengkapan yang akan dia bawa pulang. Dokter sudah menyatakan Enzio boleh pulang.
Saat ini Xander sedang mengurus administrasi dan beberapa obat yang harus dibawa pulang.
"Sudah selesai?"
"Belum, kalau Zio sudah bangun susah ditinggal - tinggal."
"Hmm, boy jangan ganggu mommy. Sini ikut daddy." Xander mengambil Zio dari gendongan Kamisha. Tapi alangkah terkejutnya ia yang disuguhkan dengan penampakan bukit kembar Kamisha yang terlihat karena kancing bajunya yang lepas atau mungkin saja dia habis menyusui.
"Sha, tuh."
"Apa?"
"Apa perlu aku dengan jelas menyebutnya?"
"Ya apa, aku nggak paham."
Xander tersenyum nakal. "Tuh mainan kesukaan ku dan Zio kelihatan."
Kamisha menunduk ke bawah dan terkejut. "Ya tuhan!" teriaknya. Ia membalikkan badannya dan segera membenahi kancing bajunya. Wajah Kamisha merah padam. "Aku.. aku mau beres - beres dulu."
"Oke, aku dan Zio jalan - jalan ke taman sebentar."
Kamisha bernapas dengan lega karena Xander pergi dari sana. Dengan segera Kamisha membereskan barang - barang. Alex sudah menunggu dan mulai memasukkan beberapa barang ke dalam mobil.
Setelah semua selesai, Kamisha keluar untuk berpamitan dengan beberapa perawat yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kamisha menyusul Xander ke taman. Ia baru mengajak bermain Zio, berbicara sendiri seolah - olah mereka sedang berbincang - bincang.
"Xander." panggilnya
"Sudah selesai?"
"Sudah, ayo kita pulang. Aku sudah rindu dengan Axel."
"Tadi mama telepon, nanti siang harus kembali ke Bandung."
"Kenapa buru - buru?"
"Nanti malam ada undangan dari sahabatnya yang mau menikahkan anaknya."
"Apa mama nggak capek? apalagi beberapa hari ini harus mengurus Axel sendiri."
"Kan ada mbok Sri."
"Ya tapi Axel kan maunya sama mama terus."
Mereka berjalan ke depan lobby rumah sakit. Alex sudah siap dengan mobilnya.
Xander membuka pintu Kamisha dan kemudian menyerahkan Zio ke pangkuannya. Setelah semua masuk Alex mengendarai mobil untuk pulang ke rumah Kamisha.
Suasana Jogja di hari Senin pagi sangatlah ramai. Aktifitas sudah dimulai setelah libur.
"Sha."
"Hmm." jawab Kamisha yang masih sibuk membenahi baju Zio. "Ada apa?"
"Kenapa kau tidak ikut mama kembali ke Bandung? kita pulang ke rumah." tanya Xander hati - hati.
Kamisha menghentikan kegiatannya sebentar, tapi kemudian melanjutkannya lagi. Apalagi Zio sepertinya lapar.
Xander menunggu jawaban dari Kamisha, tapi seolah - olah istrinya itu enggan menjawab. Sambil menghela napas ia mengalihkan pandangannya melihat keluar jendela.
Kamisha masih disibukkan dengan Zio. Setelah Zio tenang karena sedang menyusu, ia mulai melihat ke arah Xander.
"Akan aku pikirkan." jawabnya.
Xander menoleh dan melihat ke arah Kamisha seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Walaupun bukan jawaban pasti tapi setidaknya Kamisha ada tanggapan ke arah yang baik.
"Kau sudah memaafkanku?"
"Lihat saja nanti."
"Hei, aku butuh jawaban yang pasti."
"Jangan paksa aku Xander."
"Baiklah.. baiklah.. maaf.. maaf. Aku tidak akan menanyakannya lagi."
Kesunyian kembali menghinggapi hingga sampailah mereka di rumah yang sudah disambut oleh mama dan Axel.
"Aduh cucu oma, jangan sakit lagi." mama Attalia menggendong dan menciumi Enzio. "Kamu juga Xander, jangan sakit dan jangan membuat mama khawatir."
"Iya mamaku sayang, aku tidak akan sakit lagi. Kau kekuatanku." jawab Xander sambil mencium pipi mama Attalia.
Kamisha masuk menaruh baju kotor untuk di cuci mbok Sri.
"Ini punya pak Xander sekalian di cuci sini, mbak?"
"Iya." jawab Kamisha.
Mbok Sri tersenyum senang.
"Eh, kenapa senyum - senyum?"
"Heheheh, saya senang mbak Misha sama tuan Xander bisa kembali lagi."
"Menurut mbok Sri aku harus kembali dengan suamiku atau tidak?"
"Harus mbak." mbok Sri memasang wajah serius. "Tuan itu benar - benar mencintai mbak Misha. Terbukti waktu hamil hampir tiap malam tuan kesini."
"Apa mbok!"
__ADS_1
Mbok Sri menutup mulutnya yang kelewat terbuka.
"Apa maksud mbok Sri mengatakan kalau Xander sering kesini waktu aku hamil Zio."
"Engg.. itu.. anu.. mbak." mbok Sri terbata - bata.
"Mbok Sri, jangan menyembunyikan sesuatu dariku."
"Sebenarnya waktu mbak Misha hamil, tuan sering datang kemari. Saya curiganya ada bekas kaki di teras terus saya pura - pura tidur dan ternyata setelah saya intai itu tuan. Beliau selalu datang ke kamar mbak Misha."
"Oh pantas saja kalau malam tidurku tenang, ternyata ada Xander. Pantas juga Zio langsung nempel di gendongan Xander."
"Itu betul Misha." tiba - tiba dari arah belakang mama Attalia ikut dalam pembicaraan.
"Mama? jadi mama tahu segalanya?"
"Yah, sudah waktunya mama cerita. Jadi rumah ini bukan mama yang cari tapi Xander, termasuk juga semua peralatan bayi milik Zio. Sebelum memutuskan untuk melakukan pengobatan di Singapore Xander memang sering diam - diam menemuimu. Mama sangat marah saat itu karena ia menjadi seorang pengecut. Walau bagaimanapun ia tetap anak mama satu - satunya."
"Kenapa mama tidak cerita?"
"Awalnya mama sudah tidak tahan mau bercerita, tapi karena hatimu masih jauh dari kata maaf untuk suamimu jadi mama mengurungkan niat untuk bercerita dan juga memberi kesempatan Xander untuk meminta maaf padamu."
"Ma, aku mengira Xander sama sekali tidak memperhatikan kami, tapi ternyata___."
"Tidak hanya itu, kenapa dalam waktu singkat toko kuemu memiliki banyak pelanggan. Itu karena Xander yang membelinya."
"Tapi kenapa harus diam - diam ma?"
"Itulah letak kesalahan Xander. Tapi sekarang ia menyesal. Sebelum mama pulang ke Bandung mama ingin melihat kalian bersatu kembali. Untuk apa hidup terpisah kalau sejatinya kalian saling mencintai, saling membutuhkan."
"Ma, aku___."
"Tenang saja, mama tidak memaksa." ucap mama sambil tersenyum. "Mama akan pulang, jaga baik - baik anak - anak ya."
"Terima kasih atas pengertiannya, ma."
Mama memeluk Kamisha dengan lembut sebelum pulang kembali ke Bandung. Kamisha memandang penuh haru, perjuangan seorang ibu untuk kebahagiaan anaknya dan itulah mama.
"Xander."
"Ya."
"Kau tidak mengantar mama pulang? aku khawatir."
"Sudah ada Alex. Aku akan mengurus hotelku disini dan mungkin lusa aku akan pulang ke Bandung."
"Pulang?"
Xander mengangguk.
"Usaha disini?"
Kamisha agak kecewa karena lusa Xander akan pulang ke Bandung. Bagaimana nanti kalau Zio rewel tengah malam, atau mungkin Axel butuh Xander di sekolah. Tapi entah kenapa itu semua tidak bisa keluar langsung dari mulut Kamisha. Semua serba membingungkan.
"Oya, aku antar mama dulu ke Bandara. Mungkin pulangku agak sore karena aku harus meninjau pengerjaan hotel."
Kamisha mengangguk. "Hati - hati." ucapnya kemudian.
Ingin rasanya Xander memeluk Kamisha setelah mendengar perkataannya. Tapi semua itu i]a tahan karena ia tidak mau terburu - buru, ia ingin semuanya berjalan seijin Kamisha.
Xander tersenyum dan segera menuju mobil mengantarkan mama pulang.
"Yah, sepi. Oma sudah pulang." keluh Axel.
"Tumben, biasanya kita berempat juga baik - baik saja." Kamisha membelai lembut kepala putranya itu.
"Aku kangen dengan suasana di Bandung, aku kangen dengan teman - temanku disana."
"Sabar sebentar sayang." Kamisha berusaha menenangkan hati Axel.
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Kamisha menunggu kedatangan Xander diteras bersama Zio dan Axel yang sedang bermain bersama mbok Sri.
Kenapa Xander belum pulang, katanya tadi hanya sampai sore. Atau jangan - jangan ketemu sama Dewi terus mereka berkencan. Aaahh!!! tidak - tidak kenapa pikiranku jadi travelling kemana - mana.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan rumah.
"Daddy!" teriak Axel berlari menyambutnya. Dengan sekali lompat ia sudah dalam gendongan Axel. Sementara Zio tangannya bergerak - gerak seakan tahu daddynya datang.
"Axel turun. Biarkan daddy mandi dan ganti baju."
"Baik mommy." Axel segera turun. "Tapi habis itu kita main bersama."
Xander mengangguk, ia kemudian menghampiri Zio yang bergerak - gerak. "Oh, kau kangen daddy boy." Xander menciumi pipi gembul Zio. Setelah itu pandangannya beralih pada Kamisha.
"Mandilah dulu."
Xander mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Kamisha menyiapkan makan malam. Sedangkan Zio ia titipkan pada Axel.
Xander keluar dari kamar mandi dan ikut bergabung bersama mereka. Kamisha melihat pemandangan itu dengan mata berkaca - kaca. Ia jadi merasa egois karena memisahkan bapak dan anak. Memisahkan kebahagiaan mereka.
Tiba - tiba.. handphone berdering.
"Xander, handphonemu berdering."
"Dari siapa?" tanyanya sambil menggelitik perut Zio.
"Pak Alex."
"Oh, mungkin mau memberitahu kalau mama sudah sampai." Xander mengambil handphone dari tangan Kamisha dan menerima panggilan.
__ADS_1
"Halo Alex."
"Selamat sore pak."
"Mama sudah sampai?"
"Hmm."
"Kenapa diam?"
"Maaf, pak. Saat ini saya sedang di rumah sakit."
"Kenapa? siapa yang sakit? aku mau bicara dengan mama, berikan handphonenya."
Karena nada bicara Xander yang agak tinggi membuat Kamisha mendekat untuk tahu apa yang terjadi.
"Saat ini nyonya sedang di rawat di rumah sakit."
"Apa! mama sakit?!"
"Ya pak. Setelah turun dari bandara, nyonya mengeluhkan dadanya sesak. Setelah itu beliau pingsan."
"Apa kata dokter?"
"Nyonya terkena serangan jantung."
"Ya tuhan."
"Aku akan kesana."
Panggilan diakhiri. Xander segera memesan tiket dan beruntung masih ada penerbangan terakhir.
"Mama kenapa?" tanya Kamisha cemas
"Mama sakit jantung, sekarang dirumah sakit. Aku harus pulang Misha."
"Yah, aku tahu. Aku akan membantumu berkemas."
Kamisha dengan segera membantu Xander memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Karena baju yang di bawa tidak banyak maka tidak butuh waktu yang lama.
"Perlu aku temani?" dengan ragu - ragu Kamisha menawarkan diri.
"Tidak perlu, Zio habis sakit. Ia.butuh banyak istirahat. Jangan melakukan perjalanan jauh."
"Baiklah."
Setelah berpamitan pada Axel dan Zio, Xander segera mengendarai mobilnya menuju ke bandara.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Kamisha. Ia sangat mengkhawatirkan Xander yang saat ini tampak cemas, bingung, sedih. Orang yang selama ini selalu menyayanginya sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Kenapa mbak Misha melamun?"
"Aku khawatir dengan mama tapi aku lebih mengkhawatirkan Xander. Ia butuh seseorang untuk menemaninya di saat rapuh seperti ini."
"Terus bagaimana mbak?"
Kamisha menarik napas panjang dengan mantab ia berkata. "Mbok, bantu aku berkemas. Kita akan pulang ke Bandung."
"Usaha kuenya?"
"Ada karyawan dan mereka sudah pintar membuat kue. Jadi buat apa khawatir."
"Baik mbak." jawab mbok Sri bersemangat.
Kamisha sudah bertekad akan menemani pria yang sangat dicintainya yaitu daddynya anak - anak. Ia akan menemani pria itu selamanya. Apapun yang terjadi ia tidak ingin rumah tangganya seperti ini lagi. Rumah tangganya harus kokoh.
Dengan penuh semangat Axel juga membantu Kamisha membawa barang - barang mereka. Malam ini Kamisha mengirim barang - barang yang harus mereka bawa seperti perlengkapan bayi, buku - buku Axel dengan jalur darat. Sedangkan ia, anak - anak dan mbok Sri sudah memesan tiket untuk keberangkatan paling pagi ke Bandung.
Sementara itu.
"Bagaimana keadaan mama?"
"Masih sama pak, Dokter Budi yang menanganinya."
"Aku akan menemui dokter sebentar."
"Bapak sebaiknya istirahat dulu."
"Aku tidak apa - apa."
Xander bergegas keruang dokter untuk menanyakan kondisi terbaru mama. Yang memicu sakit mama adalah stres dan juga kecapekan. Dokter berpesan agar mood mama dijaga dengan baik. Karena faktor usia yang terkadang membuat orang tua butuh perhatian.
Setelah keluar dari ruang dokter Xander menemani mama yang masih belum sadar. Ia sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan wanita yang sudah berjuang membesarkannya. Hingga tanpa sadar ia tertidur di samping mama karena kelelahan.
🌸🌸🌸🌸
Pagi ini Xander terbangun karena sebuah belaian lembut dikepalanya. Tangan mama kah ini pikirnya. Ia dengan perlahan membuka mata. Tapi beberapa detik kemudian merasa kecewa karena mamanya masih belum sadarkan diri.
"Xander." panggil seseorang.
Ia menoleh. "Misha." ucapnya lirih. Matanya membelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dengan tersenyum penuh kelembutan Kamisha menghampiri Xander dan memeluknya.
"Ya sayang, ini aku." bisiknya dalam pelukan. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan menemanimu, selamanya..." janji Kamisha sambil mencium kening Xander. "Mama akan baik - baik saja. Kamu tenang sayang ada aku disampingmu."
Xander memeluk Kamisha sambil terisak. "Terima kasih sayang, kau sudah mau kembali bersamaku."
"Itu karena aku mencintaimu Xander. Aku tidak bisa jauh darimu sayang."
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1