
Semalam Kamisha susah untuk tidur. Ia baru terlelap sekitar pukul dua pagi. Ia berusaha sabar dan ikhlas menerima keadaannya saat ini. Ia yakin akan ada hal yang indah jika ia bisa melaluinya. Setelah ia mengutak atik perasaannya barulah ia bisa tertidur dengan tenang.
"Mommy, bangun." ucap Axel berusaha membangunkan Kamisha. Ia mengguncang - guncang tubuh Kamisha berulang kali.
"Axel, lima menit lagi oke."
"Ada telepon, handphone mommy berdering terus."
Mau tidak mau Kamisha akhirnya bangun. Ada panggilan di handphonenya berulang kali itu tandanya penting. Dengan kesadaran yang belum penuh ia membuka handphonenya. Xander...
Mata Kamisha terbelalak tidak percaya dengan apa yang ada di handphonenya. Lima belas panggilan tak terjawab dari Xander. Kamisha bergegas duduk bersandar pada dinding tempat tidur.
Ia kemudian segera melakukan panggilan. Ia berdehem beberapa kali agar suaranya tidak terlihat seperti baru bangun tidur.
"Halo."
"Kemana saja kamu, kenapa teleponku tidak diangkat? masih tidur?"
"Hmm, iya. Maaf."
"Dasar kerbau."
"Semalam aku tidak bisa tidur."
"Baiklah. Temui aku di Star Cafe jam sembilan, ada yang mau aku bicarakan."
"Oke, aku akan bersiap kesana."
Panggilan di akhiri. Kamisha bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia sempat mengompres matanya agar tidak terlihat lingkaran hitam di bawah mata akibat kurang tidur.
Setelah di rasa penampilannya hampir perfect Kamisha segera bersiap berangkat menemui Xander. Entah kenapa sekarang ini ia ingin tampil menarik di depan suaminya itu.
Kamisha mengendarai mobil kecil yang sampai sekarang masih setia menemaninya menjalani kerasnya hidup. Tidak memakan waktu yang lama, ia sampai di Star Cafe tempat mereka akan bertemu.
Yah, aku kecepetan. Masih ada setengah jam dari waktu yang di tentukan, aku tunggu di dalam saja pikir Kamisha.
Setelah memakirkan mobilnya dengan sempurna ia segera masuk ke dalam cafe dan memesan vanilla latte. Kamisha menunggu sambil melihat email dan pesan yang masuk dalam handphonenya.
"Selamat pagi mbak Misha."
"Oh, pak Alex. Selamat pagi." balas Kamisha sambil mengedarkan pandangan matanya mencari sosok yang tadi pagi memintanya untuk bertemu. Seperti tahu akan maksud Kamisha, Alex segera memberi penjelasan.
"Maaf, pak Xander ada klien yang mendadak ingin bertemu dengan beliau."
"Oh, aku tahu dia sangat sibuk." jawab Kamisha sedikit kecewa. "Silahkan duduk pak Alex, oya mau minum apa?"
"Kopi saja."
Setelah Kamisha memesan kopi pada pelayan, Alex mulai mengeluarkan sebuah berkas.
"Apa ini pak?"
"Berkas perjanjian pernikahan."
"Maksudnya?"
"Jadi pak Xander ingin pernikahan ini tetap berlanjut dan nanti sore akan dilangsungkan resepsi sesuai keinginan nyonya. Tapi beliau juga ingin ada perjanjian hitam di atas putih atas pernikahan ini. Mengingat pernikahan anda berdua seperti sebuah paksaan. Silahkan di baca terlebih dahulu."
Dada Kamisha sakit mendengar penjelasan dari Alex. Tapi ia berusaha tegar, karena semalam ia telah memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Kamisha membaca beberapa hal yang terdapat di dalam perjanjian itu dengan seksama. Setelah membaca ia kembali menyerahkan berkas itu pada Alex.
"Pak Alex, saya tahu sebenarnya Xander tidak bertemu dengan klien, dia hanya malas bertemu atau berdebat dengan saya. Seperti yang sudah saya katakan di awal, saya menerima segala konsekuensi dari hal ini termasuk sampai di ceraikan. Walaupun disini saya juga korban." jelas Kamisha. Ia mengambil napas panjang sebelum kembali melanjutkan pembicaraannya. "Saya tidak perlu perjanjian ini. Saya akan melaksanakan apa yang ada dalam perjanjian ini tanpa harus ada hitam di atas putih. Termasuk memberikan kebebasan Xander untuk mencari wanita yang dicintainya nanti."
"Tapi, mbak Misha. Ini yang diinginkan pak Xander untuk melindungi dan ini sangat memguntungkan anda."
"Pak Alex, ketika Xander meminta bapak saya untuk menikahkan kami, saya sudah seratus persen mengabdikan diri saya sebagai seorang istri terlepas dari pernikahan itu paksaan atau tidak. Sama seperti ketika orang tua saya menyuruh saya merawat Axel, saya lakukan itu dengan tulus dan berusaha menjadi seorang ibu yang baik. Jadi saya tidak membutuhkan suatu perjanjian hitam di atas putih. Hati dan perasaan secara otomatis akan terikat." ucap Kamisha. "Jadi pak Alex tolong sampaikan pada Xander. Jangan khawatir saya tidak akan menuntut macam - macam. Saya memberikan kebebasan penuh padanya. Saya akan tetap berusaha menjadi istri sampai dia menemukan orang yang benar - benar dia cintai dan tentu saja bisa membahagiakan mama.
"Mbak Misha akan melakukan pernikahan ini dengan sukarela walaupun pak Xander tidak mencintai anda."
"Kenapa tidak? kebahagiaan mama Attalia lebih penting bagi saya. Pak Alex, ibu saya sudah meninggal, selama ini belum pernah ada yang mencintai saya dengan tulus seperti mama Attalia. Jadi kenapa tidak saya korbankan kebahagiaan saya demi beliau."
"Jadi demi nyonya juga anda bersedia membohongi pak Xander."
"Ya, itu betul. Sorot mata dan raut wajah beliau begitu bahagia ketika kami menikah. Apakah tega saya menghancurkannya. Walaupun akhirnya saya yang dituduh melakukan kebohongan." ucap Kamisha sambil tersenyum.
"Saya harap mbak Misha mendapatkan kebahagian."
"Terima kasih pak Alex. Jadi saya tidak memerlukan perjanjian hitam di atas putih. Begitu Xander tidak menginginkan saya lagi, saya dengan sukarela akan pergi."
"Baiklah nanti akan saya sampaikan pada Pak Xander."
"Kalau begitu saya pamit pak, saya akan segera kembali ke rumah Xander untuk acara pesta."
Kamisha meninggalkan Alex sendirian.
"Pak, anda sudah mendengar sendiri."
"Ya, aku sudah mendengarnya." jawab Xander
"Anda beruntung mendapatkan mbak Misha. Saya yakin di luar sana banyak pria yang menginginkannya, termasuk saya. Heheehhh.."
"Berani kamu!"
"Eh, tidak pak. Hanya bercanda."
"Ya sudah. Kamu bantu mama untuk persiapan resepsi nanti sore."
"Baik pak."
Panggilan di akhiri.
__ADS_1
Sementara itu di tempat parkir...
Kamisha duduk di belakang stir dia terdiam untuk beberapa saat. Ia menarik napas panjang. Gila bagaimana aku bisa ngomong selancar itu di depan pak Alex ya batin Kamisha yang tidak percaya dengan keberaniannya sendiri. Karena ia tahu bicara di depan pak Alex sama saja bicara di depan Xander. Apalagi tadi pak Alex mengenakan headset bluetooth di telinga itu artinya Xander sedang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Baiklah Xander, aku akan berusaha menaklukkan hatimu yang penuh ego itu." gumam Kamisha.
🍁🍁🍁🍁
Senja itu Kamisha tampak cantik mengenakan kebaya berwarna coklat gold. Resepsi ini hanya di hadiri oleh keluarga dekat, relasi bisnis dan karyawan hotel. Kyara tidak hadir di sana dan Kamisha tahu akan hal itu.
"Misha, kamu sudah siap?"
"Sudah, ma."
"Mama bersyukur Xander tidak membatalkan pernikahan ini."
"Oya, ma. Apa yang terjadi setelah kepergianku."
"Malam itu aku memutuskan untuk meminta maaf. Walaupun aku tahu Xander mengurung diri di kamar. Ia merasa di permainkan. Aku juga menjelaskan bahwa kamu tidak ada sangkut pautnya dengan semua rencana ini. Mungkin disini aku yang terlalu memaksakan kehendak. Xander sejak dulu anak yang penurut Misha. Ia tidak pernah sekalipun menolak permintaanku. Jadi aku sudah bertekad kalaupun kali ini dia menolak permintaanku untuk yang pertama kalinya, aku tidak masalah."
"Dan akhirnya?"
"Yah seperti yang kamu tahu, ia mau meneruskan pernikahan ini. Tolong jaga Xander, aku yakin kalian akan bahagia nantinya."
"Apa permintaan mama tidak terlalu tinggi padaku?"
"Tidak, aku percaya. Feelingku tidak pernah meleset." ucap mama Attalia. "Ayo keluar, Xander sudah menunggu."
"Baik, ma. Ayo Axel sayang."
Kamisha menggandeng tangan Axel dan keluar dari kamar. Tampak Xander sudah menunggu di sana. Dengan setelan jas warna hitam ia terlihat sangat gagah dan tampan.
"Xander."
"Ya, ma." jawabnya sambil menoleh ke sumber suara. Beberapa detik ia terdiam memandangi Kamisha yang anggun dan cantik mengenakan kebaya.
"Ehem, gimana menantu mama cantik kan?"
"Hmm, tapi tidurnya kayak kerbau."
"Jangan diambil hati Misha, ia hanya gugup saja."
"Iya, ma. Saya tahu."
"Sudah, ayo keluar. Tamu - tamu sudah menunggu."
Mereka segera keluar menyambut tamu - tamu yang ada. Suara denting piano menambah semaraknya acara pesta malam hari ini.
"Ting... ting... ting..." mama Attalia memukul gelas Sampanye. "Attention please," teriak mama Attalia. "Saya ucapkan terima kasih atas kedatangan para keluarga, rekan bisnis dan hadirin sekalian dalam acara pernikahan anak saya. Saya sangat bersyukur karena Xander sudah melepas masa lajangnya dan mau berkomitmen membentuk suatu rumah tangga bahagia dengan Kamisha." mama Attalia menarik napas panjang dan mengangkat gelasnya. "Xander__ Kamisha__ mama doakan pernikahan kalian langgeng dan cepat dikaruniai momongan. Cheerrs." mama Attalia mengangkat gelasnya untuk bersulang.
"Cheerrs..." semua tamu mengamini doa mama Attalia dan ikut mengangkat gelas.
"Takut ya kejadian itu terulang lagi. Kita kan sudah sah jadi suami istri." goda Kamisha.
"Ehem," Xander berdehem menetralkan kegugupannya. Ia kaget dengan jawaban Kamisha.
"Tenang saja, aku janji jaga diri kok." Kamisha tersenyum penuh kemenangan. Ia hanya mengangkat gelas tanpa meminumnya.
"Ayo cium...! cium...! cium...!" teriak salah seorang tamu yang kemudian di ikuti oleh tamu yang lain. Sorak sorai tamu yang menginginkan mereka untuk berciuman.
Sekarang keadaan menjadi terbalik. Kamisha berwajah pucat sedangkan Xander mulai tersenyum nakal.
"Kamu tidak ingin mereka tahu bagaimana cerita awal pernikahan kita kan?" bisik Xander
Kamisha hanya mengangguk.
"Kita berikan mereka tontonan yang menarik."
"Maksudmu?"
Xander langsung menyambar bibir Kamisha tanpa aba - aba.
Kamisha tampak terkejut dan kaku. Tapi hal itu tidak berlangsung lama.
Gila, aku berciuman dengan bibir yang selalu kurindukan setiap malam, yang selalu hadir dalam mimpiku batin Kamisha. Baiklah Xander akan aku buat kau tidak bisa melupakan bibirku dan rasa itu akan selalu muncul di setiap mimpimu.
Kamisha sedikit membuka mulutnya. Ia membiarkan Xander mengeksplor seluruh bibirnya. Memejamkan matanya untuk merasakan sensasi bagaimana berciuman.
Kenapa lagi - lagi aku tidak bisa berhenti. Bibir Kamisha seperti candu bagiku. Manis... terasa sangat manis batin Xander. Tanpa sadar ia menarik lebih dalam tubuh Kamisha ke dalam pelukannya. Bahkan menggigit bibir Kamisha yang menggoda.
"Woi..! berhenti woi..! lanjutkan dikamar saja!" teriak Harvey. Setelahnya di ikuti gelak tawa para tamu.
Teriakan itu membuat mereka sadar untuk menghentikan aktivitas mereka.
"Maaf." ucap Xander pada para tamu.
"It's okey bro, namanya juga pengantin baru."
"Hahahahh" semua tamu tertawa.
Acara kemudian berlanjut lagi dengan makan malam. Semua tamu dapat menikmati seluruh hidangan yang ada. Xander sedang ngobrol dengan beberapa relasi bisnisnya. Sedangkan Kamisha sibuk menuruti keinginan Axel untuk makan.
"Hai." sapa Harvey.
"Hai Harvey." balas Kamisha.
"Hai boy masih ingat, om."
"Masih." jawab Axel dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"Axel, di telan dulu sayang. Nanti bisa tersedak."
"Oke mommy."
"Kyara tidak datang?"
"Tidak."
"Aku kemarin bertemu dengannya."
"Oya, di pasti banyak membicarakan tentang aku dan Xander."
"Bukan membicarakan tapi lebih pada mengutuk kalian."
"Hahahah.. kau bisa saja."
"Oya, tawaranku untuk merawat Axel masih berlaku." bisik Harvey
"Aku tidak akan membiarkannya." Kamisha menatap tajam Harvey. "Berterus teranglah dulu pada istrimu."
"Itu tidak mungkin aku lakukan."
"Kalau begitu aku tidak akan memberikan Axel padamu."
"Oh Misha, seandainya dulu aku bertemu denganmu. Aku pastikan kita akan membina keluarga yang bahagia."
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi, bro." tiba - tiba dari arah belakang Xander ikut masuk dalam pembicaraan mereka. Ia langsung meraih pinggang Kamisha dan menariknya agar mendekat padanya. "Kau tadi sudah melihat ciuman panas kami bukan? itu menandakan betapa membaranya hubungan kami saat ini. Benar kan sayang?"
"Iya." jawab Kamisha.
"Tentu saja, kata oma sebentar lagi akan ada adik yang menemani hari - hari ku." sahut Axel
Kamisha terhenyak kaget mendengar perkataan putra kesayangannya itu. "Axel kalau makan jangan sambil bicara sayang."
"Oke, aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Aku permisi." pamit Harvey.
Sebelum pergi Xander berbisik di telinga Harvey. "Jangan macam - macam dengan keluargaku."
"Hei, relaks bro." ucap Harvey kemudian melangkah pergi.
Kamisha tersenyum.
"Kenapa senyum?" tanya Xander.
"Cemburu ya."
"Cemburu apa?"
"Tadi dengan Harvey."
"Nggak!"
"Kalau nggak kenapa mukanya merah, malu ya?"
"Mukaku merah karena alergi bibirmu, mengerti! mau lagi?"
Kamisha langsung menutup bibirnya dengan tangan.
Xander pergi meninggalkannya bergabung lagi bersama dengan teman - temannya. Pesta ini berlangsung sampai malam. Setelah tamu dan teman - teman pulang. Kamisha bisa lepas dari kebaya yang menyiksanya.
Setelah sampai kamar ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ah enaknya batin Kamisha sambil memejamkan mata. Ia melakukan peregangan otot.
"Ehem," suara deheman Xander membuatnya membuka mata dan duduk di pinggir tempat tidur. "Kamu tidur di sofa, aku tidak terbiasa tidur di tempat lain."
"Oke, sofa itu juga cukup besar. Apalagi badanku kecil, pasti cukup." jawab Kamisha.
"Kenapa tidak mau menandatangi perjanjian?" tanya Xander tiba - tiba.
"Aku bukan dagangan. Dan juga aku tidak membutuhkan uang itu."
"Lantas kau mau menjadi istri, apa itu sama saja dengan menjual harga dirimu?"
"Aku tidak menjual harga diriku di pernikahan ini. Kau sendiri yang datang dan meminta bapak untuk menikahkan kita. Terlepas kau suka atau tidak aku sekarang adalah istrimu yang sah." ucap Kamisha beranjak dari tempat tidur.
"Mau kemana?"
"Ke kamar mandi."
Xander diam sebenarnya ingin sekali ia meminta maaf pada Kamisha karena menuduhnya. Tapi karena gengsi yang tinggi ia urungkan niatnya itu.
Tak berapa lama Kamisha keluar sudah menggunakan baju tidur dan membalut rambutnya dengan handuk.
"Aahh segarnya," gumamnya. "Kamu tidak mandi?"
Xander tertegun melihat Kamisha habis mandi. Ia menelan ludah. "Kamu keramas?"
"Iya tadi kena hairspray."
"Jangan lupa di kering kan, nanti masuk angin."
"Terima kasih perhatiannya."
"Bukan cu___"
"Iya aku tahu, kalau lihat orang lain malam - malam rambutnya basah, kau juga akan menyarankan hal yang sama kan?" ucap Kamisha memotong pembicaraan Xander.
"Hmm," hanya itu yang keluar dari mulut Xander.
Kamisha segera mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Setelah kering ia bersiap untuk tidur di atas sofa. Heh, hari yang melelahkan batinnya. Ia sempat mendapat teror pesan dari Kyara dan mbak Ayu yang mengatakan dia orang yang tidak tahu malu. Beruntung Xander menjelaskan hubungannya dengan Kyara. Bahwa sejatinya belum ada apa - apa antara Kyara dan Xander. Setidaknya ia tidak merebut milik siapa - siapa. Semangat Misha, menaklukkan hati Xander.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁