Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Berlibur ke Puncak


__ADS_3

"Aduh, kenapa mbak Misha dan Pak Xander menolak panggilanku." Heny merasa cemas karena ia sama sekali tidak bisa menghubungi mereka.


"Besok pagi aku akan ke rumah mereka." tekadnya.


🌸🌸🌸🌸


Malam ini Kyara keluar, ia pergi untuk bertemu dengan Norman. Ia harus memastikan apakah Norman membocorkan semua kejahatan yang sudah dilakukan pada Heny.


"Seharusnya ia aku bunuh dengan om Dimas sekalian. Heny sudah membahayakan langkahku."


Dengan tatapan kosong dan ekspresi datar ia mendatangi tempat kos Norman.


Tok.. tok.. tok..


"Norman buka pintunya!"


Tok.. tok.. tok..


"Norman! buka pintunya! aku tahu kamu di dalam! keluar!"


Tiba - tiba dari arah belakang.


"Nyari siapa neng?"


Kyara menoleh. "Oh maaf, ibu tahu kemana perginya yang punya kamar ini."


"Oh, nyari mas Norman?"


"Iya."


"Wah, mas Norman sudah tidak kost disini lagi."


"Tidak kost? lantas pergi kemana dia?"


"Kemarin sore, dia ijin mau pulang ke Medan. Katanya anaknya sakit."


"Apa sebelumnya pernah ada orang datang kesini?"


Ibu itu tampak berpikir mengingat - ingat. "Oh ada, seorang wanita cuma saya tidak tahu namanya siapa?"


"Hmm, sebentar." Kyara mengambil handphonenya dan memperlihatkan sebuah gambar. "Apakah wanita ini?"


"Bukan, ini kan neng Tina teman kerjanya mas Norman. Kalau yang ini saya kenal."


"Atau yang ini?"


"Nah benar, wanita ini." pemilik kost itu membenarkan. "Soalnya waktu itu dia bawa tas gede banget."


"Lama dia bertamu kesini?"


"Lumayan mbak, setelah wanita itu pulang mas Norman sekalian pamit pulang kampung."


Benar dugaanku, Heny ternyata sudah datang ke sini. Semua akan kacau kalau ia sampai tahu semuanya. Dasar Norman brengsek umpat Kyara dalam hati. Kyara menggenggam erat handphone ditangannya. Ia geram dengan tindakan Heny yang ikut campur masalahnya.


"Ibu tahu alamat Norman yang di Medan."


"Wah saya tidak tahu, neng."


"Hmm, kalau KTPnya ibu masih simpan kan?"


"Ada fotocopyannya waktu awal mau kost disini. Coba saya cari dulu neng, siapa tahu masih ada."


"Baik, saya tunggu sini ya bu."


Pemilik kost segera masuk. Selang beberapa waktu ia keluar lagi.


"Maaf neng, ternyata fotocopy KTP nya tidak ada. Cuma saya mencatat alamatnya di buku. Ini kalau neng mau tahu."


"Oh, terima kasih bu. Bisa saya foto?"


"Oh silahkan saja neng."


Kyara dengan cepat memgambil foto. " Terima kasih bantuannya bu, kalau begitu saya permisi pulang."


"Silahkan neng."


Kyara segera meninggalkan tempat itu. "Duh yang datang, nyari mas Norman semuanya cantik - cantik." puji pemilik kost.


Kyara segera menelepon seseorang. Ia tampak cemas. "Halo, kamu dimana? aku tunggu di cafe seperti biasa."


Kyara segera pergi dari tempat kost Norman menuju sebuah cafe.


Selang beberapa menit ia sudah sampai ditujuan. Disana sudah menunggu seorang pria.


"Hai, sayang lama tidak bertemu."


"Jangan panggil aku seperti itu."


"Wow, sudah sombong kau rupanya."


"Sudah jangan banyak bicara. Waktuku cuma sedikit. Aku butuh bantuanmu."


"Oh butuh bantuanku ternyata." pria itu manggut - manggut. "Semua akan aku bantu asal jangan berurusan dengan Kamisha." pria itu menerawang jauh. "Gara - gara aku mendorongnya ke dalam kolam, Xander tidak melepaskan aku sampai sekarang."


"Ini memang ada hubungannya dengan mbak Misha, tapi orang yang menjadi targetku bukan mbak Misha."


"Siapa?"


"Yang pertama namanya Heny, dia temanku waktu sekolah dulu. Dia mengganggu rencana kecilku."


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Awasi gerak geriknya jangan sampai ia berhasil menemui Xander atau mbak Misha."


"Hanya itu saja?"


"Yah itu saja, kecuali jika ia sudah bertindak di luar batas. Kau bisa melakukan sesukamu."


"Oke." pria itu setuju. "Yang kedua?"


"Suruh orang mencari alamat ini di Medan." Kyara mengirim gambar ke handphone pria tersebut. "Pemilik alamat itu namanya Norman. Cari dan bawa dia padaku."

__ADS_1


"Apakah ia juga menjadi kerikil dalam rencanamu."


"Yah, kau benar."


"Baiklah dua target. Aku jamin semuanya akan beres." jawab pria itu.


"Bagus."


"Tunggu dulu sayang, tentu saja bayarannya tidak akan murah."


"Berapa yang kau minta?"


"Seratus juta untuk satu orangnya."


"Gila, kenapa tarifmu jadi mahal? dulu waktu kau mendorong mbak Misha ke kolam tidak semahal itu?"


"Semuanya mahal sekarang." jawab pria tadi enteng. "Ya sudah kalau tidak mau." Ia hampir beranjak dari tempat duduknya.


"Eh, tunggu dulu."


"Bagaimana?"


"Baiklah, aku setuju dengan harganya."


Mereka berjabat tangan sebagai tanda awal kerja sama mereka. Setelah itu pria tadi pergi meninggalkan Kyara sendiri.


"Dasar kau licik Bobby." Kyara tampak geram memandang kepergian pria tadi yang diketahui namanya Bobby. Ini semua aku lakukan karena aku butuh, jika tidak aku sudah malas berhubungan denganmu. Dasar pemeras! umpat Kyara dalam hati.


🌸🌸🌸🌸


Minggu pagi ini Kamisha, Xander dan Axel berada dalam satu tempat tidur.


"Daddy kapan kita liburan?" tanya Axel


"Hmm bagaimana kalau sekarang kita ke puncak?"


"Hah yang benar?" teriak Axel.


"Kenapa perginya mendadak? aku sama sekali tidak persiapan." ucap Kamisha.


"Kita hanya liburan ke tempat yang dekat saja dulu. Nanti kalau pekerjaanku sudah beres aku janji kita bertiga akan liburan keluar negeri."


"Tapi besok Axel sudah masuk sekolah lagi."


"Sudah ijin ke gurunya satu hari saja." saran Xander.


"Please mommy, please." mohon Axel.


"Hah baiklah. Aku akan telepon gurumu." Kamisha menyerah mendengar rengekan putranya itu. "Sekarang kau bereskan bajumu, tidak usah membawa baju banyak kita cuma sehari saja."


"Siap." Axel melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamarnya.


"Kau jangan memanjakannya, ini namanya bolos sekolah."


"Kan cuma baru sekali sayang."


"Tetap saja itu menyalahi aturan." Kamisha bermuka masam.


"Memangnya kenapa kalau aku sering marah - marah." ucap Kamisha sewot. "Apa kau jadi benci padaku? kau tidak cinta lagi padaku?"


"Hei.. hei.. kamu ngomong apa sih Misha." Xander segera memeluknya dengan mesra.


Tiba - tiba Kamisha terisak menangis. "Kamu.. kamu membentakku."


"Tidak sayang, aku tidak membentakmu." Xander berusaha menenangkan emosi istrinya yang naik turun. "Oke.. oke aku yang salah. Maafkan aku sayang."


Kamisha memandang wajah Xander. "Baiklah aku memaafkanmu." rona bahagia kembali menghiasi wajahnya.


"Duduklah, biar aku yang menata pakaian yang akan kita bawa nanti."


"Terima kasih sayang."


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama dalam persiapan menginap di puncak. Kali ini mereka hanya pergi bertiga. Mama Attalia tidak mau ikut karena sorenya akan ada arisan bersama teman - teman sosialitanya. Sedangkan Kyara, memang Xander enggan mengajaknya Dan Kamisha menghargai keputusan suaminya itu.


Selang beberapa menit mereka pergi. Datanglah sebuah Taxi.


"Selamat pagi, bisa saya bertemu bu Kamisha?"


"Maaf anda siapa?"


"Saya Heny."


"Wah maaf bu Heny, tuan Xander dan nyonya Kamisha sedang pergi ke puncak." jawab security.


"Oh, sedang pergi ya." ucap Heny sedikit kecewa.


"Kalau asistennya pak Xander, hmm siapa namanya? saya kok lupa."


"Oh pak Alex."


"Ya betul, paka Alex. Bisa saya minta nomor teleponnya?"


"Sebentar."


Bagian security menghubungi Alex untuk memberi tahu ada orang yang mencarinya.


Tiba - tiba tanpa sengaja Kyara tahu kedatangan Heny secara tidak sengaja.


"Hei, apa yang kau lakukan disini?!" tarik Kyara menjauhkan Heny dari security.


"Heh, mulai takut rupanya." ucap Heny tersenyum sinis.


"Aku tidak takut. Kau punya bukti apa?"


"Hahahahahh.. aku tahu dalam hatimu sudah sangat ketakutan. Aku bisa mendengar detak jantungmu yang cepat itu. Dasar wanita pembunuh dan tukang korupsi."


"Kkau.. kkau tahu."


"Tentu saja tahu. Kartumu ada di tanganku Kyara. Aku hanya ingin tahu reaksi Kamisha setelah mendengar ini."


"Jangan! berapa uang yang kau minta?"

__ADS_1


"Aku tidak butuh uang, yang aku butuhkan kau membusuk di penjara atas semua kejahatanmu."


"Tapi dewi fortuna sedang berpihak padaku. Kakakku pergi."


"Masih ada waktu. Kamu tenang saja. Tapi yang penting tenangkan mentalmu. Dasar perempuan gila!"


"Apa! kau panggil aku apa!!"


"Gila.. perempuan gila." Heny mengulangi perkataannya


"Kurang ajar!" mata Kyara memerah dan menyala - nyala. Tangannya siap menampar Heny..


"Siapa itu Kyara?" tanya mama Attalia


"Oh, ini ada sales sabun tante."


"Suruh pulang saja, aku belum butuh sabun."


"Baik tante."


"Kau dengar itu! pergilah sebelum aku panggil security!"


"Ini belum selesai Kyara. Kau akan menemukan karma atas apa yang telah kau perbuat. Ingat ini baru permulaan." ancam Heny


Heny pergi dengan tawa terbahak - bahak karena ia puas melihat Kyara yang tampak ketakutan.


Kyara masuk kembali ke dalam rumah, mama Attalia sedang merawat taman lily di samping rumah.


"Sudah pergi salesnya?"


"Sudah tante."


"Oh, aku kira dia temanmu. Sepertinya kalian akrab sekali."


"Nggak tante, tadi hanya sekedar berbasa - basi."


"Ya sudah, kadang sales itu suka maksa jualnya. Kadang bagus kadang pula dpt yang cocok."


"Oya tante, mbak Misha dan Axel pergi ke mana?"


"Ke puncak di daerah Bogor, kami memiliki sebuah vila dan beberapa perkebunan teh di sana."


"Oh begitu. Ya sudah tante saya masuk kedalam dulu."


Kyara naik ke atas segera menuju ke ruangannya.


🌸🌸🌸🌸


Kamisha dan Xander pergi ke puncak dengan mengendarai mobil. Xander menyetir sendiri tanpa bantuan sopir.


"Axel kita sudah sampai."


"Yeay.. pemandangannya bagus banget daddy."


"Syukurlah kalau kamu suka."


Axel segera turun dari mobil dan berlari kesana kemari menikmati segarnya udara disana.


"Axel hati - hati. Jangan lari jauh - jauh."


"Oke mommy."


Setelah puas melihat pemandangan, mereka bertiga masuk ke dalam sebuah villa milik keluarga Xander. Villa itu terdiri dari dua lantai. Walaupun tidak sebesar rumah Xander di Bandung, villa ini termasuk sangat mewah. Ada kolam renang air hangat, tempat untuk barbeque. Ada juga penjaga villa seorang suami istri asli warga setempat yang di pekerjakan oleh Xander untuk menjaga villanya.


"Axel nanti malam kita bakar jagung yuk?"


"Mau mommy aku mau."


"Nah, kalau begitu kamu bantu mommy mempersiapkannya oke."


Mereka berdua dibantu dengan penjaga membeli keperluan untuk barbeque dan bakar jagung nanti malam.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Xander sambil mencium pipi Kamisha.


"Aku mau bakar jagung."


"Baiklah aku akan mempersiapkan pembakarannya."


"Terima kasih sayang sudah mau membantuku."


"Sudah tugasku." jawab Xander. "Tapi___."


"Tapi apa?"


"Nanti malam___."


Kamisha menghela napas sambil tersenyum ia tahu maksud suaminya itu. "Iya.. iya nanti kalau Axel sudah tidur."


"Terima kasih sayang."


"Itu sudah kewajibanku."


Malam itu mereka mulai pesta barbeque. Kamisha memanggang daging dan jagung. Sedangkan Axel dan Xander asyik bermain kembang api.


Ditengah keasyikan mereka datanglah istri penjaga villa.


"Maaf tuan ada tamu."


"Tamu? mungkin salah orang. Tidak ada yang tahu aku pergi kemari."


"Tapi katanya keluarga tuan dan nyonya."


"Keluarga? mama?"


"Bukan tuan, seorang wanita muda."


"Halo semuanya. Maaf mengganggu waktu libur kalian."


"Kyara!" ucap Kamish dan Xander bersamaan.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2