
"Ada apa, mbak?"
"Ada maling, mbok!" teriak Kamisha. "Itu di sebelah sana, depan toko," tunjuknya masih sambil menggendong Axel.
"Biar saya cek mbak."
"Hati - hati mbok."
"Ada apa mommy," gumam Axel yang masih memejamkan mata.
"Tidak ada apa - apa, sudah tidur lagi." Kamisha menepuk - nepuk punggung Axel agar ia tertidur lagi.
Bu Sukma keluar dari dalam rumah bersama suaminya. "Ada apa mbak Misha?"
"Duh punten bu mengganggu, tadi ada orang berdiri disitu mengawasi rumah saya, saya pikir maling."
"Nah, benar kan kata suami saya. Gitu kok mbak Kyara bilang saya mengada - ada."
"Padahal, sudah beberapa hari ini saya tidak melihatnya lagi," timpal suami bu Sukma.
"Di CCTV nya kelihatan tidak mbak?"
"Itu dia bu, sejak saya pasang CCTV tidak ada orang yang tertangkap kamera sedang mengawasi rumah saya. Baru ini tadi, mudah - mudahan bisa kelihatan wajahnya."
"Ya mbak mudah - mudahan."
Dari kejauhan tampak mbok Sri datang memghampiri mereka.
"Gimana, mbok?"
"Nggak ketemu orangnya mbak, cuma sandal mbak Misha saja."
"Ya sudah tidak apa - apa, nanti kita lihat di CCTV."
"Ya mbak, segera saja di urus biar orangnya tertangkap." ucap bu Sukma.
"Ya bu, mudah - mudahan segera tertangkap."
"Kalau begitu kami kembali ke dalam rumah mbak, kalau ada apa - apa teriak saja kami pasti segera datang."
"Iya pak, bu Sukma. Punten sudah ganggu malam - malam."
"Nggak apa - apa mbak. Permisi..."
Kamisha dan mbok Sri juga masuk ke dalam rumah. Saat mereka sudah mencapai pintu depan, ada sebuah taksi yang berhenti di depan rumah. Keluarlah Kyara.
"Dari mana kamu, sampai malam - malam begini?"
"Dari rumah teman, persiapan kerja buat besok mbak."
"Syukurlah kami tidak apa - apa. Tadi ada orang lagi yang mengawasi rumah kita."
"Iya mbak, cuma orangnya melarikan diri."
"Oh," hanya itu tanggapan Kyara. "Mbak habis keluar?"
"Iya, tadi Axel minta menjenguk Xander di rumahnya."
"Bukan mbak yang maksa kan?"
"Buat apa? tanya saja sendiri sama Axel."
Kyara diam saja, ia teringat dengan permintaan Harvey. Sebaiknya aku tidak bertengkar dengan mbak Misha, agar semua rencanaku berhasil. "Ya sudah, tidak apa - apa. Aku ke kamar dulu mbak."
"Ya selamat istirahat," jawab Kamisha bingung tumben Kyara tidak sewot jika ia menemui Xander. Mungkin dia sekarang sudah menjadi dewasa dan tahu kalau hubunganku dengan Xander hanya sebatas atasan dan bawahan.
🍁🍁🍁🍁
Tak terasa sudah satu minggu ini pria yang mengintai rumah Kamisha tidak kembali. Hasil tangkapan kamera CCTV tidak terlihat jelas karena pria itu memakai topi. Sepertinya ia sudah berpengalaman dalam mengintai orang, jadi tahu bagaimana menghindar dari pantauan CCTV.
Kamisha melakukan kegiatannya seperti biasa. Sudah satu minggu ini ia tidak pernah bertengkar dengan Kyara dan selalu bersikap manis. Xander juga sudah mulai masuk ke kantor. Luka jahitnya sudah mengering dan membaik. Yah walaupun ada bekas luka, kata dokter dengan perawatan bisa menyamarkan bekasnya.
Siang itu Kamisha makan siang di cafe depan hotel. Kali ini ia makan siang sendiri karena Laras dan Norman berada di lapangan.
"Mbak aku mau bicara?"
"Bicaralah." jawab Kamisha sambil meminum jus pesanannya.
"Aku ingin mengurus Axel."
"Benarkah? kau akan mengaku padanya sebagai ibu kandungnya?"
"A___aku belum bisa. Mungkin nanti."
"Aku semakin tidak mengerti."
"Harvey sudah tahu kalau Axel anak kami."
"What? dari mana ia bisa tahu?"
"Panjang ceritanya mbak. Jadi dia ingin membesarkan Axel dengan mengangkatnya jadi anak."
"Istrinya tahu?"
"Belum?"
"Kalau begitu aku tidak bisa memberikan Axel padanya. Aku harus mendengar dari mulutnya sendiri kalau dia dan istrinya akan benar - benar melindungi dan merawat Axel dengan penuh kasih sayang."
"Mbak, kenapa mbak begitu repot. Disini aku ibu kandungnya!"
"Oh kalau seperti ini baru kau mengaku ibu kandungnya."
"Ya memang itu kenyataannya. Mbak harus tahu posisi mbak. Mbak Misha itu hanya buliknya Axel dan tidak berhak memiliki Axel. Aku dan Harvey yang lebih berhak!"
Plaakkk...! Kamisha menampar Kyara.
"Tapi aku yang membesarkannya. Ingat itu!" airmata Kamisha deras mengalir. "Dimana kamu saat ia menangis membutuhkan susu, dimana Harvey saat ia butuh perlindungan seorang ayah. Dan sekarang dengan santainya kau mau merebutnya dariku dan memberikannya pada orang yang sama sekali tidak Axel kenal. Dimana jalan pikiranmu, Ra!"
"Aku justru meringankan beban yang mbak tanggung selama ini."
"Aku tidak merasa Axel sebagai beban dalam hidupku. Axel itu anakku."
"Silahkan mbak beranggapan seperti itu. Tujuanku baik. Agar mbak bisa kembali ke kehidupan mbak. Menikah dan punya anak sendiri."
"Ya tuhan Kyara. Kamu ini seorang ibu atau penjahat. Dimana rasa kasih sayangmu pada Axel."
"Aku juga memikirkan Axel. Ia nanti akan bahagia bergelimang harta bila di asuh oleh keluarga Harvey."
"Hanya itu yang kau pikirkan. Harta dan harta. Apa kau pernah memikirkan perasaan Axel yang terbuang."
"Mbak aku tegaskan lagi. Aku ini ibu kandungnya jadi aku lebih berhak atas dia. Mbak hanya orang lain tidak berhak ikut campur masa depannya."
"Oke... kalau itu maumu! aku akan mempertahankan Axel. Silahkan kalau kau mau lewat jalur hukum. Aku siap." Kamisha pergi meninggalkan Kyara sendiri. Terasa sungguh menyakitkan perlakuan keponakannya itu. Kamisha benar - benar kecewa. Walaupun ia tahu kalau ia bukan orang tua kandungnya. Tapi kalau melihat ia di asuh oleh orang yang tidak jelas. Maka ia tidak akan rela menyerahkan Axel.
Sialan, aku gagal batin Kyara geram sambil mengepalkan tangannya. Atau aku gunakan cara paksa saja pikirnya lagi.
🍁🍁🍁🍁
Kamisha kembali ke hotel, tapi ia tidak masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk santai di taman dekat resort. Sambil melihat kebun stroberry yang belum berbuah lagi. Ia memikirkan apa yang Kyara katakan tadi. Memang Kamisha akui, ia bukan ibu kandung Axel. Dan tidak berhak sepenuhnya atas Axel, tapi selama ini ia merawat, membesarkan Axel dengan tulus iklas. Hatinya, batinnya sudah terikat dengan Axel. Dengan perlahan Kamisha mengusap air matanya sebelum jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Mbak Misha." panggilan seseorang membuyarkan lamunannya.
"Eh pak Alex, ya ada apa?"
"Maaf, pak Xander menunggu anda di ruangannya."
"Ada masalah apa ya pak?"
"Maaf saya kurang tahu."
"Baiklah, mari pak."
Mereka berdua berjalan menuju ke ruang kerja Xander.
"Selamat siang pak."
"Duduk."
Kamisha duduk berhadapan dengan Xander, sedangkan Alex pergi keluar.
"Kamu tidak ada acara hari ini?"
"Tidak pak."
"Bagus, kamu ikut aku."
"Maaf, kemana pak kalau saya boleh tahu?"
"Ke daerah dekat Curug Cibulao Bogor."
"Wah lumayan jauh ya pak dari sini."
"Kenapa?"
"Hmm.. pasti malam kita baru sampai sini."
"Kita perginya cuma sebentar, aku pastikan petang kita sudah sampai."
"Kalau begitu saya telepon rumah dulu pak, takut Axel menunggu saya."
Xander mengangguk tanda setuju. Kamisha segera menelepon rumah kalau nanti akan pulang terlambat.
"Sudah?"
"Sudah pak."
"Apa Axel marah?"
"Tidak, kalau saya perginya dengan anda."
"Syukurlah, ayo kita berangkat sekarang."
Xander dan Kamisha naik mobil bersama. Kali ini Xander tidak menggunakan sopir.
"Bapak tidak memakai sopir?"
"Tidak," jawab Xander. "Panggil seperti biasa saja, toh kita diluar kantor."
"Tapi ini masih jam kantor pak."
"It's okay. Tujuanku agar komunikasi kita gampang."
"Baiklah."
"Jadi tujuanku ke Bogor adalah aku memiliki tanah beberapa hektar di daerah puncak. Di sana sudah ada obyek wisata. Dan yang terdekat adalah curug Cibulao. Rencananya aku akan membangun resort disana. Aku mau minta pendapatmu."
"Tentang apa? aku tidak memiliki kemampuan ke situ."
"Cukup luas juga tanah mu di sana, nanti kita coba lihat dulu. Apakah banyak yang datang berkunjung ke sana."
"Untuk sementara ini aku hanya percaya padamu dan Alex."
"Terima kasih sudah menaruh kepercayaanmu padaku."
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Daerah itu memang masih jauh dari kata pembangunan. Tapi pemandangan alam yang di suguhkan benar - benar sangat indah.
"Bagaimana menurutmu?"
"Wow... ini benar - benar cantik."
"Nah tanahku itu letaknya di sebelah sana." tunjuk Xander.
"Kalau aku lihat itu sangat cocok dibangun sebuah resort atau semacam villa. Pemandangan yang disuguhkan sangat cocok untuk liburan keluarga. Aku lihat sepanjang perjalanan belum ada resort ataupun villa. Yang ada hanya homestay kecil ataupun hotel kecil lainnya."
"Oke, pendapatmu membuat aku menjadi lebih mantab untuk membangun resort disini." ucap Xander. "Ayo kita kesana."
Xander dan Kamisha berkeliling di sekitar curug. Udara yang segar, suasana alam pedesaan yang kental membuat mereka lupa bahwa hari sudah sore.
"Ayo kita kembali."
"Iya, aku benar - benar menikmati alam di sini. Kalau Axel ikut ia pasti senang bermain di bawah curug."
"Kapan - kapan kita ajak dia kemari."
Xander setengah berlari menuju ke mobil. "Oh syiit...!" umpatnya.
"Kenapa?"
"Lihat bannya kempes."
"Ban cadangannya ada kan? ayo aku bantu ganti."
Xander membuka bagasi belakang. "Sial...!"
"Kenapa lagi?"
"Ban cadangannya tidak ada."
"What! mobil sebagus ini tidak ada ban cadangannya?"
"Ada Misha cuma tidak terbawa."
"Kamu sih sering gonta ganti mobil dan tidak pernah mengecek apa mobil baik - baik saja atau tidak."
"Kan aku sudah punya sopir, kalau aku yang mengecek terus kerjaan mereka apa."
"Walau sudah ada sopir, tetap kita harus cek sendiri. Jangan tergantung dengan orang lain."
"Iya... iya... lain kali aku cek. Ayo kita ke jalan utama."
"Mobilnya?"
"Sudah tinggal saja, biar besok diambil Alex."
"Kalau di curi bagaimana?"
"Yah mau bagaimana lagi, rejeki pencuri itu berarti." jawab Xander asal. "Aauuww...!" teriaknya kemudian. "Kenapa menyubitku?"
"Jangan sembarangan omong."
__ADS_1
"Iya mom Misha." ucap Xander sambil mengusap lengannya bekas cubitan Kamisha.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai dipinggir jalan utama.
"Kamu pesan taksi."
"Iya sebentar." Kamisha mengambil handphone nya. "Yah baterainya habis."
"Kalau mau bepergian handphone nya di cek dulu, ingat jangan tergantung orang lain," ucap Xander membalikkan kata - kata Kamisha.
Wajah Kamisha tampak kesal dengan perkataan Xander. "Tapi di tempat seperti ini taxi pasti jarang. Mendingan ojek online aja. Kamu punya aplikasinya?"
"Aplikasi apa?"
"Ojek online."
"Apa itu? aku tidak pernah menggunakan jasa mereka."
Heh susah bicara dengan orang kaya batin Kamisha.
"Mana."
"Apanya?"
"Handphone kamu, kita download aplikasinya dulu."
Xander menyerahkan handphone miliknya pada Kamisha. "Yah tidak ada sinyal." sesal Kamisha.
"Namanya juga di desa."
"Kita naik angkot saja."
"Maksudmu kendaraan umum, bus?"
"Yah semacam itulah."
"Engg___."
"Kenapa?"
"Bayar pakai kartu bisa?"
"Ya tuhan, ya nggak bisa. Kamu nggak bawa uang cash?"
"Aku tidak pernah bawa, biasanya Alex yang mengurusnya."
"Oke... oke... sekarang catat ya. Nanti kalau sudah sampai di Bandung biasakan dirimu mengecek mobil sendiri, punya aplikasi ojek online dan bawa uang cash walaupun hanya sedikit."
"Iya... iya... tuh ada bus mau lewat, jangan bawel."
Kamisha segera melihat ke arah jalan, dilihatnya sebuah bus kecil melintas. Ia segera melambaikan tangannya. Bus berhenti tepat di depan mereka. Dan apa yang terjadi bus itu penuh. Dan mau tidak mau Xander dan Kamisha harus berdiri berdesakan.
"Kemana neng?" tanya kondektur bus.
"Terminal pak, saya mau ke Bandung."
"Wah bus ini tidak mengarah ke sana."
"Kalau begitu saya naik yang berikutnya saja."
"Wah neng bukan orang sini ya. Ini bus terakhir neng. Nggak ada bus yang lewat sini lagi."
"Ya sudah pak, kita ke pemberhentian terakhir."
Xander dan Kamisha memutuskan untuk tetap naik. Dari pada mereka di daerah puncak yang tidak ada siapa - siapa.
Xander berdiri berdesakan sedangkan Kamisha ada di depannya. Karena jalan yang berliku membuat mereka saling menempel berdekatan. Bahkan beberapa kali Kamisha kehilangan keseimbangan dan harus jatuh dalam pelukan Xander.
Sial berdekatan dengannya membangunkan milik pribadiku batin Xander. Apalagi bukit kembarnya yang menggoda, eit tunggu kenapa pikiranku sangat kotor, Xander berusaha mengalihkan pikirannya.
Aduh apa ini yang mengganjal di bawah, kenapa keras sekali, jangan - jangan handphone nya Xander batin Kamisha. "Hei."
"Apa?"
"Handphonemu mengganjal, pindah ke saku kemeja saja." bisik Kamisha
"Handphone apa?"
"Ini yang di bawah, mengganjal tau."
Wajah Xander langsung merah padam, ia tahu itu bukan handphone melainkan milik pribadinya yang tegak mengeras. "Sudah diam, jangan banyak bawel."
"Heh baiklah." Kamisha mendengus kesal.
Tak berapa lama Xander menarik napas lega, akhirnya ia lepas dari penderitaan ini. Mereka sudah sampai di pemberhentian terakhir.
"Pak kalau ke terminal , naik angkot yang jurusan apa?"
"Biasanya kalau jam segini angkot sudah pada pulang neng."
"Kalau ojek bagaimana?"
"Wah kalau itu saya kurang tahu, coba pakai aplikasi."
"Bapak punya?"
"Ya, ndak neng. Ojek itu kan saingan kita, tidak mungkin saya mempunyai aplikasinya."
"Jalan kaki jauh?"
"Wah ya jauh neng. Mending kalau mau kembali ke Bandung besok pagi saja. Ini sudah malam, neng bisa cari penginapan dulu."
"Ada pak?" tanya Zanser yang sedari tadi diam saja.
"Ada pak, kira - kira lima puluh meter lagi. Tapi ya maaf cuma penginapan kecil."
"Tidak apa - apa yang penting bisa istirahat." jawab Xander. "Ya sudah, kami kesana dulu pak."
"Ya silahkan, saya permisi dulu."
Sepeninggal angkot tadi kamisha masih cemas karena belum bisa menghubungi mbok Sri untuk menanyakan kabar Axel.
"Ayo kita istirahat dulu. Siapa tahu nanti di penginapan ada charge."
"Ah ya betul, ayo kita kesana." tiba - tiba saja Kamisha kembali bersemangat.
Mereka berjalan kesana sesuai petunjuk dari kondektur bus tadi. Dan benar ada penginapan kecil di sana. Walau kecil, penginapan ini terbilang ramai. Banyak orang yang menginap disana, tapi anehnya semuanya adalah pasangan muda mudi.
"Kamu tidak melihat ada yang aneh?"
"Apa?"
"Itu tamunya, kenapa mereka berpasangan semua? muda mudi lagi? jangan - jangan ini penginapan mesum."
"Sudah jangan berpikir terlalu jauh, yang penting kamu dapat charge kan."
"Ah ya benar, ayo kita pesan."
Xander dan Kamisha bertemu dengan resepsionis dan ternyata___
__ADS_1
"What?! kamarnya tinggal satu? jadi saya sekamar dengan dia?" tanya Kamisha pada resepsionis sambil memandang tidak percaya pada Xander. Kenapa hari ini aku sial betul, keluhnya.
🍁🍁🍁🍁