
Pagi itu Kamisha bangun terlambat. Ia melakukan peregangan sebentar, tubuhnya tampak letih setelah pertempuran semalam dengan Xander. Suaminya itu seperti tidak ada lelahnya.
Matanya mengerjap - erjap silau oleh cahaya matahari pagi.
"Kau sudah bangun sayang?"
Kamisha tersenyum melihat pemandangan yang selalu ia impikan waktu mereka berpisah dulu. Xander yang hanya mengenakan celana boxer sedang menggendong Enzio.
"Dia rewel?"
"Tidak, hanya terbangun sebentar tapi aku sudah memberinya susu tadi." jawab Xander lirih.
"Kenapa suaramu pelan - pelan?"
"Ssstt.. jangan berisik dia nanti terbangun."
"Tidak apa - apa kalau dia bangun, ini waktunya dia untuk mandi."
"Please Misha, kasihan dia masih mengantuk."
Kamisha tersenyum mendengar jawaban suaminya. "Kenapa kau memaksanya tidur sayang? apa tujuanmu?"
"Tidak ada tujuan apa - apa. Aku hanya kasihan melihat dia masih mengantuk."
"Benarkah? tidak ada maksud yang lain?" Kamisha menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidur. Tubuhnya yang tanpa tertutup satu helai benang pun berjalan menghampiri Xander. "Kau tidak menginginkanku sayang." godanya.
"Misha__." Mata Xander membelalak melihat istrinya yang semakin berani.
"Baiklah jika kau tidak menginginkanku, aku akan mandi."
"Jangan sayang."
"Kenapa?"
"Tunggu Zio tidur, sebentar lagi."
"Apa hubungannya dengan Zio." Kamisha masih berpura - pura tidak tahu maksud dari suaminya. Ia hanya menggodanya saja.
"Sudah ah, aku mau mandi. Tubuhku lengket semua." Kamisha membalikkan badan.
Xander yang melihat gelagat istri mau ke kamar mandi, ia segera meletakkan Zio ke dalam box bayi. Beruntung ia tidak bangun lagi. Dengan sigap dari belakang ia menggendong istri kecilnya.
"Hei, apa yang kau lakukan!" pekik Kamisha.
"Salah siapa kau menggodaku." Xander membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
"Sayang, tubuhku lengket semua. Aku juga belum cuci muka."
"Masa bodo." Xander mulai melakukan penyerangan - penyerangan kecil.
"Aaacchh.. sayang." lenguh Kamisha. "Kalau Zio terbangun bagaimana?"
"Dia tidak akan bangun, ia tahu daddynya membutuhkan mommynya." Xander memulai memainkan dua bukit kembar Kamisha. Permainan panas mereka kembali di mulai.
🌸🌸🌸🌸
"Sof, sudah selesai beres - beresnya?"
"Sudah. Ayo."
Sofi dan Siwi menenteng koper keluar dari kamar. Aldo dan teman - teman yang lain sudah menunggu di lobby.
Sofi segera mengurus administrasi hotel sementara teman - temannya menunggu di sofa sambil menunggu jemputan.
"Hei, honey kita ketemu lagi."
Sofi menoleh ke suara yang terdengar tidak asing ditelinganya.
"Kau." ucap nya terkejut.
"Mau pulang?"
"Bukan urusanmu."
"Oh common honey. Aku merindukanmu."
"Maaf, saya merasa tidak nyaman dengan anda. Jangan sampai saya bertindak nekat untuk memanggil security."
"Kau tidak akan berani sayang." ucap pria itu.
"Mau bukti?" tantang Sofi. Ia beranjak dari duduknya bersiap memanggil security.
Pria itu dengan cepat menarik tangan Sofi hingga ia jatuh ke dalam pelukan pria itu.
"Jangan berani menantangku, honey."
"Kalau aku berani kau mau apa? tolong jangan menguji kesabaranku!"
Pria itu melepaskan pelukannya. Sofi segera melangkah menjauh. Ia membetulkan pakaiannya yang berantakan dan mendengus kesal.
Ia segera berjalan menghampiri teman - temannya dan bergegas meninggalkan Bali.
Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan pria tadi. Apa kesalahannya hingga ia menjadi target. Ia sama sekali tidak mengenalnya.
"Kenapa melamun?"
"Ha.. oh nggak apa - apa."
"Memikirkan pria itu?"
__ADS_1
"Pria itu?"
"Iya pria yang semalam ngotot ingin duduk bersama kita. Aku rasa dia mengincarmu."
"Aneh, aku sama sekali tidak mengenalnya."
"Tapi kalau aku lihat - lihat lagi, ia lumayan tampan. Hehehehh..."
"Tampan apanya, ia lebih seperti seorang penguntit. Apalagi usianya yang sudah tidak muda lagi."
"Eh tidak muda tapi body nya masih joss!"
"Kau ini. Sudah ah malas aku bahas dia."
Sofi memejamkan mata pura - pura tidur, ia malas membicarakan pria tua seperti om om.
Tak lama kemudian ia sampai ke bandara, setelah berpamitan pada teman - temannya ia segera pulang kerumah. Nanti malam ia janjian mau makan malam bersama Kamisha.
Sementara itu..
Kamisha sedang menyiapkan makan siang. Mbok Sri dan sopir sedang menjemput Axel yang sebentar lagi pulang.
"Sayang." peluk Xander dari belakang. "Aku lapar."
"Iya sebentar lagi makanannya siap. Sekalian tunggu Axel pulang yah."
"Aku tidak lapar itu." Xander mencium leher Kamisha, tangannya sudah mulai memberikan sentuhan yang membuat Kamisha melayang.
"Xander, sebentar lagi Axel pulang."
"Sebentar saja, please."
"Mana bisa kau main sebentar Xander."
"Bisa." Xander mulai mencium leher dan telinga Kamisha. "Ya, sebentar saja." mohonnya.
Kamisha yang sudah tidak bisa berpikir jernih hanya mengangguk mengiyakan permintaan suaminya. Xander menyukainya karena Kamisha sangat mudah untuk di rayu.
Yah janji hanya tinggal janji, permainan yang seharusnya sebentar menjadi lama. Itupun terhenti karena ada sebuah panggilan masuk ke dalam handphone Xander.
"Siapa?"
"Adiknya mama."
"Mama punya adik?"
"Iya."
"Kenapa kamu nggak cerita?"
"Adik mama lama tinggal di Perancis. Dia terlalu lama hidup bebas. Di usia empat puluh tahun ia belum menikah."
"Kenapa dia tidak datang kepernikahan kita?"
"Hahahhah, seperti dirimu."
"Tidak sayang, aku hanya genit kepadamu." Xander kembali memeluk istrinya.
"Sudah ah, Axel pasti sudah pulang. Kau sudah berjanji tidak akan lama. Ini sudah satu jam kita disini."
"Kalau menyangkut kamu aku tidak pernah ada puasnya, Misha."
"Xander."
"Ya."
"Sejak kita kembali bersama, aku lupa menggunakan alat kontrasepsi."
"Kenapa? khawatir Zio akan jadi kakak."
"Iya tentu saja."
"Aku malah bahagia kalau kamu bisa hamil lagi."
"Zio masih kecil sayang."
"Ya sudah besok kita periksa ke dokter, siapa tahu Xander junior sudah ada lagi."
Kamisha mendengus kesal, sedangkan Xander tertawa terbahak - bahak.
🌸🌸🌸🌸
Malam ini Xander bersama keluarga kecilnya akan makan malam bersama. Kamisha juga mengundang Sofi. Ia sudah rindu dengan sahabatnya itu.
"Bagaimana penampilanku, mommy?"
"Kamu tampan malam ini sayang."
"Bagaimana denganku?"
"Kamu juga tampan sayang, perfect." puji Kamisha, ia mencium sekilas bibir Xander.
"Mau lagi."
"Sudah ah, ada anak - anak."
"Kalau begitu nanti malam___."
"Iya.. iya.. pokoknya nanti malam gas poll." sahut Kamisha. "Ayo berangkat, aku sudah kangen sama Sofi."
__ADS_1
Xander tersenyum melihat istrinya yang antusias malam ini. Sambil menggendong Zio mereka menuju mobil.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka sampai di sebuah restoran dimana mereka akan makan malam.
Kamisha menggandeng Axel untuk masuk sedangkan Zio masih nyaman dalam gendongan Xander.
"Misha."
"Sofi."
Mereka berdua saling berpelukan melepas rindu. Xander tahu istrinya itu pasti akan membutuhkan waktu untuk mengobrol dengan Sofi. Jadi anak - anak dia yang handle.
"Akhirnya kau kembali."
"Yah, kemarin - kemarin aku memang keras kepala. Tapi sekarang tidak lagi, demi kebahagiaanku, Axel, Zio dan juga mama."
"Oya bagaimana keadaan tante."
"Syukurlah, sudah membaik. Mungkin besok sudah boleh pulang."
Kamisha dan Sofi berbincang dengan asyiknya hingga seseorang datang.
"Xander."
"Hai, om. Welcome to Indonesia."
Xander tampak berpelukan dengan seorang pria yang sudah cukup berumur.
"Sayang kenalkan ini om Matteo, adiknya mama." ucap Xander. "Dan om, ini istriku."
"Selamat malam om, aku Kamisha istrinya Xander." Kamisha mengulurkan tangannya.
"Hmm, beautiful. Kamu pintar cari istri Xander."
"Terima kasih." Kamisha tersipu mendengar pujian Matteo.
"Dan siapakah dua pria ganteng ini?"
"Ini anak kami, Axel ayo sapa kakek Matteo." perintah Xander.
"Hei.. hei.. jangan panggil aku kakek. Aku tidak setua itu, panggil uncle."
"Hmm sepertinya memang benar, aku harus memanggilmu uncle Matteo."
"Good boy, i like it." Matteo segera memeluk Axel.
"Oya, ini sahabatku. Namanya Sofi." Kamisha tidak lupa memperkenalkan Sofi.
"Malam honey, kita ketemu lagi."
What, bagaimana bisa pria tua ini ada disini. Om nya Xander lagi. Kenapa aku begitu sial batin Sofi.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Kamisha keheranan.
"Sudah."
"Belum." jawab Sofi cepat.
"Honey, kita sudah saling mengenal. Di Bali remember."
"Itu bukan perkenalan, itu lebih seperti pemaksaan."
"Wah sepertinya kau harus bercerita tentang ini padaku, Sof." ucap Kamisha.
"Sudah.. sudah.. kita makan malam dulu. Obrolan kita lanjutkan sambil makan, oke." potong Xander.
Sofi dengan wajah masam akhirnya menuruti kata Xander. Itu ia lakukan demi sahabatnya. Jika saja itu bukan karena permintaan Kamisha, sudah pasti ia akan meninggalkan restoran dari tadi.
Berbagai macam hidangan telah disediakan tapi hal itu tidak membuat Sofi berselera. Dari tadi Matteo tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari dirinya.
"Hmm.. permisi aku ke toilet dulu."
Sofi beranjak dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju toilet.
"Aku juga akan ke toilet." pamit Matteo.
Di dalam kamar mandi, Sofi banyak menatap dirinya di dalam cermin.
Sial kenapa aku berjumpa lagi dengan pria tua bangka itu. Sofi masih meratapi nasibnya hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Aku menepati janjiku bukan?" Matteo sudah masuk ke dalam dan bersandar pada sebuah dinding.
"Hei apa yang kau lakukan. Ini toilet wanita!"
"Aku menunggumu, honey."
"Please jangan panggil aku honey. Aku bukan honey mu."
"Baiklah, bagaimana kalau sayang, darling, cinta, love atau wife. Pilih yang kamu suka."
"Dasar brengsek, tidak ada yang aku suka. Permisi." Sofi berniat untuk keluar akan tetapi tubuh Matteo menghalanginya. "Tolong, minggir!"
Matteo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan menguji kesabaranku! minggir!"
"Kau juga jangan menguji imanku sayang, malam ini kau sangat seksi."
"Dasar tua bangka mesum!" Sofi melayangkan tendangannya hingga mengenai tulang kering Matteo. Ia meringis kesakitan. Hal itu digunakan Sofi untuk segera pulang tanpa pamit pada Kamisha dan Xander.
__ADS_1
Awas! jangan sampai aku bertemu dengan tua bangka mesum itu lagi! amit - amit!
🌸🌸🌸🌸