
"Oahaamm." Xander menguap lebar. Badannya sudah membaik dan tidak demam lagi seperti tadi malam. Heh apa ini kenapa terasa kenyal, ini bukan bantal yang biasa aku pakai batin Xander. Ia kemudian melihat sekitarnya. What aku tidur di atas dada Kamisha! hampir saja Xander terpekik tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pantas saja terasa nyaman batinnya tersenyum nakal. Ia menaruh kembali kepalanya di atas dada Kamisha.
"Baiklah Misha ini bukan kesalahanku, dan kamu sendiri yang membawaku ke dalam pelukanmu. Apa salahnya aku menikmati keberuntunganku ini." gumam Xander sambil mengusap lembut pipi Kamisha.
"Hmmm." sepertinya Kamisha mulai terbangun. Dengan secepat kilat Xander kembali memejamkan mata di atas dada Kamisha.
Setelah melalui malam yang cukup melelahkan Kamisha akhirnya terbangun. "Aduh kepala siapa sih ini, dadaku jadi sesak." perlahan Ia melihat kepemilik kepala itu. "What!" pekiknya sambil menutup mulut demgan kedua tangannya. Ini kepala Xander, kok bisa sampai disini batin Kamisha keheranan. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya lagi, kembali mengingat kejadian semalam. Ah ya ternyata aku sendiri yang dengan sukarela memeluknya karena semalam demamnya tinggi. Perlahan Kamisha bergeser dan menaruh kepala Xander dengan hati - hati agar tidak terbangun. Kalau sampai ketahuan ia akan malu nantinya.
Ia kembali memeriksa kening dan badan Xander. "Ah sudah tidak panas." gumamnya.
"Oaham." Xander pura - pura baru terbangun.
"Kamu sudah bangun?"
Xander memgangguk pelan.
"Semalam kamu demam, tapi pagi ini demamnya sudah turun. Kamu mau berangkat ke kantor atau mau istirahat dulu di rumah?"
"Badanku masih lemas, Misha." gumamnya dengan suara lirih.
"Benarkah?" Kamisha kembali memegang kening Xander. "Padahal sudah tidak demam, ini sudah normal lagi."
"Aku tidak tahu kenapa terasa lemas begini." ucap Xander berpura - pura.
"Aku panggilkan dokter ya?"
"Tidak usah. Aku buat istirahat saja di rumah."
"Baiklah kalau begitu, aku buatkan bubur dulu ya." Kamisha menyelimuti tubuh Xander lagi dan bergegas turun ke dapur untuk membuat bubur.
Hmmm ternyata bisa manis juga sikapnya terhadap orang yang sakit. Maaf Misha aku terpaksa membohongimu batin Xander sambil tersenyum smirk. Sepertinya sakit setiap hari tidak masalah jika di rawat oleh Kamisha seperti ini.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama bubur sudah siap. Dengan segera Kamisha membawanya ke atas.
"Ayo makan buburnya dulu."
Xander hanya diam sambil memandangnya dengan tatapan sayu.
"Ah aku lupa, badanmu masih lemas. Tunggu sebentar ya." Kamisha meletakkan nampan berisi bubur dan susu hangat di atas nakas. "Aku bantu kamu bangun oke."
Kamisha menarik selimut dan membantu Xander untuk duduk. "Sebentar aku taruh bantal dulu biar punggungmu nyaman." Kamisha mengambil bantal dan menaruhnya di belakang punggung Xander agar ia nyaman bersandar. Saat itu Kamisha yang masih mengenakan baju yidur berbelahan dada rendah, sehingga beberapa kali bukit kembarnya terlihat jelas oleh Xander. Bukit kembar milik Kamisha terlihat menari - nari dan bergoyang di pelupuk mata Xander.
Sial kenapa begitu menggoda batin Xander. Beberapa kali ia menelan ludah dan berusaha mengkondisikan burungnya agar tidak terbangun.
"Gimana sudah nyaman?"
"Eh, ah ya su__sudah."
"Wajahmu merah dan berkeringat, apa demam lagi." gumam Kamisha. Ia kembali memastikan suhu badan Xander.
"Mungkin karena lemasnya itu."
"Oh bisa jadi. Makanya nanti kamu makan yang banyak ya, aku sudah masak bubur tadi."
Xander hanya mengangguk.
"Aku suapin ya." Kamisha mulai menyuapi Xander sambil sesekali meniup bubur agar tidak terlalu panas. "Aaa.. ayo buka mulutnya."
Xander menurut saja perintahnya "Bagus, anak pintar." pujinya.
"Aku bukan Axel, Misha."
"Ah ya aku sampai lupa, maaf."
"It's okay aku tidak keberatan."
Setelah bubur dan segelas susu habis Kamisha bergegas untuk membawa piring kotor ke bawah.
"Misha." panggil Xander tiba - tiba.
"Ya."
"Bisa bantu aku ke kamar mandi, aku takut jatuh."
"Oke." Kamisha kembali meletakkan nampannya di meja. Ia segera membantu Xander turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Awas pelan - pelan." Kamisha membawa masuk Xander ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Misha." panggilnya lagi
"Ya."
"Bisa bantu aku lepas celana?"
"Bisa. Eh tunggu dulu bilang apa tadi?"
"Tolong bantu aku lepas celana, aku mau buang air kecil."
"Ttapi__ aku__aku."
"Tadi kan kamu sudah setuju, lagian aku baru sakit Misha."
"Tadi aku tidak dengar, jadi kaget."
"Tenang saja, cuma lepas tali celana saja."
"Oh___ oke__oke." Kamisha bernapas lega. Walaupun tangannya sedikit gemetar. Xander yang menyadari akan hal itu tersenyum penuh kemenangan.
Karena terlalu tegang Kamisha menjadi sedikit kesulitan melepas simpul tali pada celana Xander. Walaupun sejatinya itu hal yang mudah. Sial kenapa jadi sulit begini sih batin Kamisha kesal. Dengan sedikit kekuatan ia menarik paksa tali itu yang mengakibatkan tangannya secara tidak sengaja menyenggol milik pribadi Xander.
Syiitt! sial! sentuhanmu telah membangunkan milikku, Misha batin Xander.
"Maaf."
"It's okay, sudah lepas talinya. Selanjutnya aku bisa sendiri."
"Baiklah, aku akan keluar. Panggil saja jika sudah selesai."
"Hmmm."
Kamisha segera keluar dan menutup pintu kamar mandi. "Huff.." ia menarik napas lega. Kamisha membersihkan tempat tidur, menyiapkan baju ganti untuk Xander sambil menunggu panggilan.
"Misha."
"Ya sebentar." bergegas Kamisha mendekat. "Kamu sudah selesai?"
"Ya."
Kamisha membuka pintu kamar mandi dan memapah Xander kembali ke temoat tidur.
"Loh, kamu kan masih lemas. Lebih baik istirahat saja dulu, baru besok mulai kerja."
"Aku tidak selemah itu, Misha."
"Tapi kamu habis demam lo, semaleman lagi."
"Benar, aku nggak apa - apa."
"Heh baiklah, kau itu keras kepala seperti Axel." keluh Kamisha. Walaupun seperti itu akhirnya ia tetap memapah Xander ke meja kerjanya. "Nanti kalau lemasnya tambah parah atau tiba - tiba kamu merasa pusing segera panggil aku, oke."
"Iya mommy Misha." ucap Xander. "Kau begitu mengkhawatirkan aku, jangan - jangan kau sudah jatuh cinta padaku." godanya kemudian.
"Ap__apa sih." jawab Kamisha gugup. "Aku turun ke dapur dulu mau masak." ucapnya sambil meninggalkan Xander sendiri.
"Heh akhirnya aku bisa sendiri, kalau kau terus berada di sampingku aku takut bisa menerkammu tanpa ampun. Pagi ini kau begitu menggoda iman burungku." gumam Xander. Maaf Misha aku terpaksa melakukannya.
Setelah kepergian Kamisha, Xander kemudian ia membuka laptop untuk melakukan video call dengan Alex.
"Bagaimana dengan rencana rapat tentang proyek kita yang baru?"
"Beberapa klien yang akan lelang proyek itu meminta agar rapat bisa dilakukan sore nanti."
"Alasannya?"
"Karena sistem pencairan dana. Mengingat ini sudah hampir ganti tahun. Jadi menurut mereka lebih cepat lebih baik."
"Baiklah turuti saja oermintaan mereka. Aku akan bersiap berangkat ke hotek"
"Baik pak, akan saya persiapkan rapat untuk nanti sore."
Panggilan selesai.
Pasti ada yang menghasut mereka untuk mengadakan rapat lebih cepat. Aku ingin tahu siapa yang sudah memprovokasi mereka. Kalau sampai tertangkap, tidak akan ada ampun untuk mereka batin Xander.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Sore itu rapat lelang untuk proyek baru pembuatan hotel dan pusat perbelanjaan di Jogja dimulai.
"Alex siapa diantara mereka yang paling berambisi?"
"Semua data tentang mereka sudah ada di file ini pak. Menurut saya yang paling berambisi saat ini adalah pak Dimas. Dan satu lagi informasi penting. Orang itu mengenal Kyara."
"Kyara?"
"Yah benar, beberapa kali ada yang melihat mereka bertemu di sebuah kafe. Saya rasa mereka adalah teman lama."
"Selidiki lebih lanjut, aku ingin tahu ada hubungan apa mereka."
"Baik, pak."
"Aku takut mereka merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan istri dan anakku."
"Istri?"
"Yah, Kamisha istriku."
"Oh ya, mbak Misha."
"Iya Kamisha, memang siapa lagi istriku. Dan ingat jangan panggil mbak Misha mbak Misha itu terlalu akrab."
"Baik, pak. Akan saya ganti menjadi bu Misha."
"Begitu lebih bagus." ucap Xander sambil tersenyum. Ah baru tinggal aku beberapa jam saja aku sudah rindu dengany
nya batin Xander.
Hmm, pak Xander kalau sudah bucin memang tidak terkalahkan batin Alex.
Rapat pun dimulai. Xander mendengarkan penjelasan mereka dengan seksama. Semua konsep yang ditawarkan semuanya menarik. Hanya saja belum ada yang sesuai dengan pemahamannya dalam membangun sebuah hotel. Tibalah giliran pak Dimas yang memaparkan tentang proyeknya. Memang terlihat ia orang yang berambisi. Tapi menurut Xander apa yang ia tampilkan hampir sama dengan peserta yang lainnya. Rapat sudah berlangsung hampir lima jam dan akhirnya tiba giliran Harvey. Ia memang mengatakan pada Xander akan ikut andil dalam lelang ini. Kali ini ia berdiri sendiri tanpa campur tangan dari mertuanya.
Dan benar saja, Xander menyukai konsep yang di paparkan oleh Harvey dan tim. Harvey tahu betul dengan apa yang diinginkan Xander.
"Baiklah kami akan memutuskan hari ini siapa yang akan memenangkan proyek pembuatan hotel saya di Jogja nanti. Jadi proyek ini akan kami berikan pada CV Putra Sentosa milik Bapak Harvey."
"Yes!" Harvey dan tim nya berteriak senang.
"Tunggu! apa yang membuat anda memilih pak Harvey daripada kami. Apa yang dipaparkan oleh pak Harvey tidak sebagus milik kami." teriak Dimas lantang.
"Anda benar - benar ingin tahu?"
"Tentu saja, kami ingin tahu alasannya."
"Saya merasa anda yang ada disini tidak mengenal saya dengan baik. Selama ini tujuan saya membuat hotel adalah memberikan kenyamanan untuk para tamu dengan nuansa kekeluargaan yang kental. Dengan nuansa alam yang akan selalu memberikan ketenangan dan kenyaman. Itulah konsep yang saya inginkan. Dan satu - satunya yang hampir sesuai dengan harapan saya adalah proposal milik pak Harvey."
Semua tamu terdiam mendengar penjelasan dari Xander.
"Saya rasa anda semua sudah mengerti. Jadi rapat lelang ini saya tutup." ucap Xander sambil meninggalkan ruang rapat.
"Sial!" teriak Dimas. Jadi benar dengan apa yang dikatakan oleh Heny. Ternyata istri Xander lebih tahu tentang pribadi Xander. Aku terlalu percaya dengan omongan Kyara sialan itu batin Dimas geram. Aku harus membuat perhitungan dengannya.
Dimas bergegas keluar dari ruang rapat. Ia tampak menelopon seseorang. Tak beraoa lama tampak Kyara datang mendekat.
Dimas menghampiri dan langsung mencengkeram kedua lengan Kyara. "Kurang ajar ya kamu!"
"Aoa maksud, om?"
"Kau telah menjebak dan membohongiku. Ternyata benar yang dikatakan oleh Heny. Apa maksud tujuanmu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin om tidak menganggu kehidupan ku lagi!"
"Hei! jaga omonganmu Kyara! ingat dulu aku yang sudah mengentaskanmu dari kerasnya kehidupan! aku yang mengentaskanmu dati kemiskinan!"
"Om? membantuku dari segala penderitaan? apa yang kita lakukan dulu adalah simbiosis mutualisme! jadi aku tidak berkewajiban membalas jasa pada om! mengerti!" ucap Kyara tak kalah emosinya.
"Dasar kurang ajar kamu ya!"
"Lepaskan tanganmu!" perintah Kyara. "Ingat jangan sampai security datang kemari dan menyeret om masuk penjara."
"Apa maksudmu? kau mengancamku?"
"Aku tidak mengancam, hanya membela diri." ucap Kyara tersenyum sinis. "Lihat di atas, ada beberapa kamera CCTV dan aku bisa melaporkan om karena tindak penyerangan. Mengerti!"
Dimas melihat ke sudut atas. Memang ada beberapa kamera CCTV. Perlahan ia melepaskan cengkeramannya dan memilih pergi meninggalkan Kyara.
__ADS_1
Sepeninggal Dimas, Kyara hanya terfiam. Kau harus pergi dari kehidupanku untuk selamanya om Dimas. Aku tidak mau masa laluku yang kelam banyak diketahui orang batin Kyara.
🌸🌸🌸🌸