Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Tidak Sempurna


__ADS_3

Kamisha sudah tersadar dari pengaruh obat penenang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan kondisi masih sama. Badannya terasa lemah, ia melihat mbok Sri sedang membereskan beberapa barang. "Mbok Sri." panggilnya


"Eh ya mbak Misha." dengan segera mbok Sri menghampiri Kamisha.


"Minum." pintanya


"Baik mbak." dengan cekatan mbok Sri mengambil segelas air. Ia membantu Kamisha untuk duduk. "Awas hati - hati, mbak."


Kamisha meminum air itu dengan perlahan. "Mama mana mbok?"


"Di ruangannya pak Xander."


"Aku mau ke sana."


"Tapi mbak, pesan dokter mbak Misha harus berbaring dulu di sini sampai kondisinya memungkinkan."


"Aku baik - baik saja, mbok. Aku mau melihat suamiku."


"Mbak, saya ijin perawat depan dulu ya. Saya takut kalau mbak Misha kenapa - napa."


Mbok Sri keluar menuju ruang perawat. Beberapa perawat masuk ke ruang Kamisha.


"Ibu Misha mau ke ruang perawatan pak Xander?"


"Ya."


"Baiklah, tapi harus menggunakan kursi roda."


Kamisha mengangguk lemah, di bantu mbok Sri dia turun dari atas tempat tidur dituntun ke kursi roda. Salah seorang perawat mendorongnya menuju ruang di mana Xander di rawat.


Mama Attalia yang melihat kedatangan Kamisha segera menghampiri.


"Kenapa kamu kesini? kondisimu kan masih lemah."


"Tidak apa - apa, ma. Aku ingin melihat keadaan suamiku."


"Baiklah."


Kamisha segera berganti baju menggunakan baju steril dari rumah sakit. Dengan tangan gemetar ia masuk ke dalam. Ia berkali - kali mengambil napas panjang berusaha tegar agar tidak pingsan lagi.


Ya tuhan, airmatanya seketika luruh membasahi pipi melihat suami yang di cintainya terbaring tak sadarkan diri. Kamisha duduk di samping Xander. Ia menggengam tangannya, mengecupnya berulang kali.


"Sayang ini aku." isaknya. "Aku mohon bangunlah, kau berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku." airmata Kamisha terus mengalir deras. Hatinya seakan tersayat melihat kondisi suaminya seperti itu. "Aku.. aku merindukanmu sayang. Hik.. hik.." Kamisha memeluk Xander.


Seorang perawat masuk. "Maaf ibu Kamisha, waktu berkunjung sudah cukup. Karena kondisi pasien yang masih dalam pengawasan dokter."


Kamisha beranjak dan mencium Xander beberapa kali. Perawat membantu Kamisha untuk keluar dari ruangan.


Di sana sudah ada Alex yang berada disamping mama Attalia.


"Duduklah disini." ucap mama. "Sha mama mohon kamu harus tegar, ada Axel yang masih membutuhkan perhatian darimu."


Kamisha hanya terdiam dengan tatapan kosong. "Pak Alex, bagaimana ini bisa terjadi? bukankah dia mau bertemu Heny di sebuah cafe."


"Nona Heny juga meninggal dalam kecelakaan ini."


"Mereka satu mobil?"


"Bukan seperti itu, menurut saksi dan dugaan pihak berwajib terjadi kejar - kejaran antara mobil Heny dan pak Xander. Sehingga terjadi kecelakaan ini."


"Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?"


"Di dalam mobil Heny terdapat dua orang laki - laki yang saat ini sedang di cari informasinya. Sedangkan nona Heny menurut keterangan dari visum dokter ia sudah meninggal dengan luka tusukan sebelum kecelakaan itu terjadi."


"Ini bukanlah masalah yang sepele." ucap Kamisha


Tiba - tiba seorang dokter mendatangi mereka. "Dengan keluarga bapak Xander?"


"Ya dokter."


"Jadi kami beritahukan kondisi pak Xander saat ini. Untuk operasi di bagian kepala sudah berhasil, begitu pula dengan kakinya. Akan tetapi sampai saat ini beliau belum sadarkan diri. Jika sebelum tiga hari pak Xander sudah sadar maka beliau telah melewati masa kritis. Jika tidak maka kami nyatakan koma dan hidupnya akan bergantung dengan alat."


"Maksud dokter apa?! kalau dokter bilang operasinya berhasil kenapa dia tidak sadarkan diri!" emosi Kamisha tersulut mendengar keterangan dari dokter.


"Tenang, Misha." ucap mama Attalia.


"Aku tidak bisa tenang ma, mana ada operasi di nyatakan berhasil tapi pasien masih tidak sadarkan diri."


"Setiap orang kondisinya berbeda ibu Misha." jawab dokter.


"Suami saya adalah orang yang paling sehat, dia juga rajin berolah raga. Bagaimana bisa kondisinya jadi seperti ini!"


"Kami tahu, tapi memang seperti ini kondisinya. Kami sudah berusaha secara maksimal. Kita tunggu perkembangannya tiga hari kedepan." jelas dokter itu yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Sabar Misha, kita tunggu tiga hari. Jika memang tidak ada perkembangan kita bawa Xander ke luar negeri."


"Baiklah, ma."


"Pulanglah."


"Aku mau di sini, ma."


"Tidak ada yang bisa kita kerjakan disini, Misha. Lebih baik kau pulang. Jelaskan kondisi Xander pada Axel. Besok pagi kau bisa berjaga disini."


Kamisha tampak diam, semua kejadian yang begitu mendadak ini membuatnya tidak bisa berpikir secara jernih.


"Baiklah aku pulang sebentar, setelah menjelaskan pada Axel aku akan kembali ke sini lagi."


"Ya sudah terserah padamu saja." ucap mama Attalia. "Alex, kau antar Kamisha pulang."


Kamisha pulang ke rumah, ia terdiam sepanjang perjalanan, air matanya terus mengalir dari kedua sudut matanya. Ia benar - benar terpukul.


🌸🌸🌸🌸


Sudah dua hari ini Xander terbaring dengan tenang. Kondisinya masih saja sama. Kamisha terus mengalunkan doa demi kesembuhan suaminya itu. Ia hanya bisa melihat Xander dari luar dengan sebuah kaca besar. Sesekali dengan seijin dokter ia bisa masuk untuk sekedar membisikkan sesuatu untuk membuat suaminya sadar.


Saat ini Kamisha konsentrasi untuk kesembuhan Xander. Sedangkan semua urusan Axel di serahkan pada Kyara. Baik antar jemput sekolah, makan sampai dengan semua tugas - tugas di sekolah, semua Kyara yang membantu menjaganya. Yang memang seharusnya itu kewajibannya sebagai seorang ibu.


"Permisi saya mau membeli minuman sebentar. Kalau ada kabar mengenai suami saya tolong saya di kabari." pinta Kamisha pada salah satu perawat yang jaga.


"Baik bu."


Kamisha segera ke lantai bawah. Ia secepat mungkin untuk segera kembali. Akan tetapi tiba - tiba ia kembali merasakan sakit kepala dan pandangannya yang kunang - kunang. Ia berhenti sejenak dan berpegangan pada tembok agar tidak terjatuh


Dan ada seseorang yang tiba - tiba saja membantunya dari belakang.

__ADS_1


Kamisha menoleh. "Agung?"


"Ayo aku tuntun kamu ke kursi. Aku tidak sengaja melihatmu yang jalan terhuyung."


"Terima kasih." ucap Kamisha sembari duduk.


"Bagaimana keadaan suamimu?"


"Saat ini dia belum juga sadar." Kamisha menjawab dengan mata berkaca - kaca.


"Sabar, Sha." ucap Agung sembari menepuk pundaknya.


Kamisha agak sedikit kaget. "Aku sebaiknya kembali, aku sudah terlalu lama meninggalkan Xander."


"Istirahatlah dulu kalau masih pusing."


"Aku tidak apa - apa. Terima kasih." Kamisha beranjak dari duduknya dan segera kembali ke ruang perawatan Xander.


"Bisa saya menemui suami saya sebentar."


"Bisa, mari saya antar untuk ganti baju."


Setelah berganti baju, Kamisha segera masuk ke dalam kamar Xander.


"Sore sayang." sapanya sambil mengecup kening Xander. Kamisha kemudian menggenggam tangannya. "Kau kelihatan segar hari ini." Kamisha memulai obrolan seperti biasa. "Kau tahu sayang, aku sangat merindukanmu. Bukalah matamu, aku mohon." Kamisha kembali terisak, ia menangis sambil terus menggenggam tangan suaminya.


"Sha." seseorang memanggilnya.


Kamisha yang sayub - sayub mendengar suara yang sangat ia rindukan. Ia mendongakkan kepala dan melihat kedua mata yang sayu, yang selama ini selalu terpejam.


"Xxander." mulut Kamisha menganga tidak percaya dengan apa yg dilihatnya. "Dokter! dokter! dokter!" teriaknya sambil berlari keluar ruangan.


Beberapa dokter dan perawat segera masuk ke dalam untuk memeriksa kondisi Xander. Kamisha terus memperhatikan dengan harap - harap cemas. Takut jika itu hanya sebuah mimpi.


"Bu Kamisha, kita patut bersyukur bahwa pak Xander telah melewati masa kritisnya. Kami akan segera memindahkannya diruang perawatan biasa."


"Terima kasih dokter dan saya mohon maaf atas perkataan saya kemarin yang tersulut emosi."


"Tidak apa - apa kami tahu itu bukan kesengajaan. Kami permisi."


Setelah dokter dan perawat pergi Kamisha segera menghambur untuk memeluk suaminya. "Syukurlah kau sudah sadar sayang." Kamisha kembali terisak.


"Aku juga bersyukur bisa melihatmu lagi syg." ucap Xander.


"Kau tahu hidupku hancur melihat mu berbaring tak sadarkan diri."


"Tapi sekarang aku sadar, demi kamu."


"Terima kasih sayang."


Kamisha mencium bibir Xander dengan perasaan yang sangat mendalam.


"Wah.. wah.. sepertinya mama mengganggu momen kalian berdua." tiba - tiba mama Attalia berada di belakang.


"Mama." sapa Xander sambil tersenyum.


"Syukurlah kau sudah sadar sayang." mama Attalia mengecup kening putra semata wayangnya


Mereka semua dalam suasana bahagia menyambut kesembuhan Xander. Senyuman terukir di wajah semuanya. Akan tetapi...


"Ya sayang."


"Kkkenapa kakiku tidak bisa digerakkan?"


"Kaki kananmu habis dioperasi sayang, mungkin itu efek operasinya."


"Tidak.. tidak.. aku tidak bisa merasakan apa - apa dan juga sama sekali tidak bisa digerakkan. Kedua kakiku seperti mati rasa."


"Tenang sayang, jangan panik."


"Ttidak! ttidak! apa yang terjadi dengan kakiku?!"


"Tenang aku panggilkan dokter." Kamisha bergegas keluar untuk memanggil dokter.


Dokter dengan cekatan memeriksa kedua kaki Xander yang memang tidak peka. Kedu kakinya mati rasa dan tidak bisa digerakkan.


"Maaf pak Xander untuk sementara bapak.harus mengenakan kursi roda terlebih dahulu sambil kami melakukan terapi secara berkala." ucap Dokter. "Seharusnya tidak seperti ini reaksinya jika hanya operasi patah tulang."


"Tolong dok. Saya tidak bisa menerima jika kaki saya lumpuh, jika saya cacat!"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin menyembuhkan kaki bapak."


Dokter segera keluar.


Berulang kali Xander memukul - mukul kakinya. "Kenapa tidak terasa! kenapa!"


Kamisha segera memegangi kedua tangan Xander dibantu dengan Alex.


"Tenang sayang."


"Kamu yang sabar Xander." ucap mama.


"Bagaimana aku bisa tenang. Aku cacat Misha! aku cacat ma! aku tidak sempurna!"


"Di dunia ini tidak ada yang sempurna." ucap mama.


"Benar apa yang dikatakan mama. Itu tidak akan terjadi. Kau dengar sendiri kan, dengan terapi kau pasti akan kembali seperti semula." ucap Kamisha. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, ada aku yang selalu disisimu sayang." Kamisha memeluk Xander yang masih shock dengan keterangan dokter.


🌸🌸🌸🌸


Xander akhirnya diperbolehkan untuk pulang walaupun harus menggunakan kursi roda. Kamisha mendorong Xander, membantunya jika membutuhkan bantuan tanpa mengeluh sedikitpun.


Kamar mereka sementara berpindah di bawah sampai nanti Xander bisa berjalan kembali


Ia juga berpesan pada Axel untuk tidak menanyakan apapun soal kondisi daddynya yang berada diatas kursi roda.


"Selamat datang kembali ke rumah sayang." Kamisha tersenyum lebar. "Aku senang kita sudah kembali di rumah."


Xander hanya diam.


"Daddy." panggil Axel sambil berlari dari dalam. Ia memeluk Xander dan menciumnya berulang kali. "Aku merindukanmu."


"Benarkah?"


"Iya, aku ingin ke rumah sakit menemanimu tapi dilarang oleh mommy. Aku di rumah saja mendoakan daddy."

__ADS_1


"Terima kasih sayang berkat doamu daddy jadi sudah pulang."


Axel tersenyum bangga. Walaupun ia baru berumur lima tahun tapi sikapnya sudah lebih dewasa daripada umurnya.


"Sayang mommy antar daddy ke kamar dulu ya."


"Baiklah, istirahatlah daddy."


Tampak Kyara yang menyusul datang menyambut mereka. "Selamat datang kembali om Xander, syukurlah kau sudah boleh pulang."


Xander hanya terdiam tanpa menjawab apa - apa.


"Terima kasih Kyara." sahut Kamisha. " Aku akan membawa Xander ke kamar ia masih butuh banyak istirahat."


Kamisha mendorong Xander menuju kamarnya.


"Kenapa kamar kita pindah di bawah?"


"Maaf Xander kami pikir lebih baik sementara kamu pindah di bawah." mama menjelaskan.


"Karena aku cacat bukan?"


"Tidak sayang, jangan berpikiran seperti itu. Kamu tidak cacat, ini bisa disembuhkan tapi memang butuh proses."


"Tinggalkan aku! aku ingin sendiri."


Kamisha dan mama Attalia saling berpandangan.


"Baiklah kami akan keluar. Kalau ada apa - apa panggil aku saja." ucap Kamisha sambil mengecup kening suaminya.


Xander hanya diam tanpa menjawab apa - apa. Kamisha tahu suaminya itu belum bisa menerima keadaannya yang sekarang. Apalagi dia dulu senang orang yang sangat aktif dan tiba - tiba saja ia menjadi tidak bisa apa - apa dan bergantung pada orang lain.


"Kamu yang sabar ya, Sha."


"Iya ma."


"Mbak kalau butuh bantuan aku juga siap membantu." sahut Kyara.


"Terima kasih."


Tiba - tiba.. brraaakkk!!! praanggg!!!


Kamisha dan mama berlari tergopoh - gopoh masuk ke dalam kamar, karena suara itu berasal dari sana. Mereka sangat terkejut melihat Xander yang terjatuh dari kursi rodanya.


"Ya tuhan, apa yang terjadi sayang." Kamisha berusaha membantu suaminya berdiri.


"Pergi." dorongnya hingga tubuh Kamisha hampir terjatuh.


"Tidak sayang aku tidak akan pergi! Seberapa kuat kau menolakku aku akan yetap disini menemanimu." Kamisha tetap mendekat dan memeluk Xander dengan erat.


Xander tampak terisak. "Maafkan aku sayang, aku sudah menyakitimu."


"Tidak apa - apa Xander, kita lalui ini bersama - sama oke. Jangan suruh aku menjauh darimu."


Setelah membaringkan tubuh Xander di tempat tidur, Kamisha segera memberikan obat dan beberapa vitamin dari dokter. "Tidurlah, aku akan menunggu disini."


Tak berapa lama Xander tertidur karena pengaruh dari obat penenang yang diberikan oleh dokter. Setelah dirasa cukup pulas, Kamisha keluar sebentar untuk memindahkan beberapa barang dari kamar atas ke kamar bawah.


"Sha, jangan terlalu capek. Biar mbok Sri sama pelayan yang lain saja." mama Attalia mengingatkan.


"Barangnya cuma sedikit kok ma." Kamisha melanjutkan kembali kegiatannya.


Sementara itu di depan ada Harvey dan Zeline yang datang berkunjung.


"Mana Xander?"


"Dia sedang istirahat, Harvey. Kita ngobrol di depan saja yuk."


Mereka bertiga menuju ke ruang tamu depan.


"Bagaimana keadaan Xander?" tanya Harvey.


"Dia saat ini membutuhkan banyak perhatian dan dukungan dari orang terdekat. Bahwa sejatinya ia tidak cacat. Itu bisa disembuhkan." jawab Misha.


"Kenapa tidak dibawa ke luar negeri saja?" tanya Zeline.


"Kondisinya belum memungkinkan karena habis operasi kepala dan kaki. Mungkin satu bulan lagi baru bisa."


"Kamu yang sabar, Sha."


"Terima kasih Zeline, Harvey."


"Oya, kami ada berita gembira."


"Apa itu?"


"Aku sudah hamil dua bulan, Sha."


"Wow.. aku ikut senang mendengarnya. Selamat Zeline." Kamisha memeluk Zeline. Ia turut bahagia mendengar berita itu.


Tiba - tiba saja mereka dikejutkan dengan kedatangan Kyara dari belakang.


"Hai Harvey, Zeline." sapanya.


"Kok kamu bisa disini?" tanya Harvey yang tampak sangat kaget.


"Aku tinggal disini sementara." jawab Kyara.


"Eh iya, sementara tinggal disini sampai menemukan rumah kontrakan yang baru." Kamisha berusaha mencairkan suasana yamg canggung setelah kedatangan Kyara


"Oya, aku dengar kamu hamil Zeline. Selamat ya." Kyara memberi ucapan selamat.


"Terima kasih." jawab Zeline lirih.


Seperti bisa membaca situasi seperti ini Harvey langsung mengajak Zeline pulang dengan alasan tidak boleh capek - capek harus istirahat yang banyak.


"Iya Misha, kami akan pulang dulu. Salam saja buat Harvey. Lain hari kami akan kesini lagi bertemu Xanser."


"Terima kasih kedatangannya. Aku akan mengantar kalian sampai depan."


Mereka bertiga menuju ke depan. Tampak Kyara yang memandang mereka dengan tatapan tajam.


"Heh, semuanya akan terbayar satu demi satu. Bukankah begitu Xander?" gumam Kyara sambil tersenyum smirk. Tampak matanya yang indah tapi mematikan merasa sangat puas.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2