
Empat tahun yang lalu 🍂
"Hen, kamu di mana? aku sudah sampai Jakarta."
"Oke, aku jemput kamu di terminal."
Seorang gadis yang masih sangat belia, duduk sendiri menunggu seseorang. Di pangkuannya terdapat tas yang lumayan besar. Wajahnya tampak kebingungan. Gadis itu adalah Kyara
"Ra." panggil seseorang.
"Hen," ucap Kyara.
"Ayo, ikut aku."
Kyara hanya mengangguk mengikuti ajakan Heny. Heny adalah sahabat Kyara sewaktu di Jogja. Karena orang tuanya pindah bekerja di Jakarta jadi ia ikut pindah ke Jakarta. Sampai sekarang mereka masih berhubungan dengan baik.
Kyara melihat di Jakarta banyak gedung bertingkat. Kita akan segera bertemu Harvey batin Kyara. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah bangunan cukup besar yang di dalamnya terdapat beberapa kamar. Mungkin sekitar dua puluh kamar.
"Yuk, masuk." ajak Heny.
"Kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?"
"Nggak, sejak ibuku menikah dengan pria brengsek itu. Aku malas tinggal bersama mereka."
"Kamu kost?"
"Iya, aku tinggal di sini bersama kekasihku."
"Tinggal satu rumah?"
"Ya, memang kenapa? ini jaman maju, Ra. Pemikiran kita jangan kuno seperti jaman nenek moyang kita dulu."
"Aku cuma belum terbiasa."
"Oya, nanti kamu tidur di ruang tamu ya. Maklum tempat kos ini kamarnya kecil dan cuma ada satu."
"Iya, diberi tumpangan saja aku sudah berterima kasih."
"Tas mu taruh disini saja."
"Ya."
Heny meninggalkan Kyara sendiri di ruang tamu. Ia masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian ia keluar dengan riasan yang cukup tebal dan pakaian yang seksi.
"Ra, aku pergi kerja dulu ya. Mungkin aku pulang agak malam. Ada mie rebus di dapur, kalau kamu lapar bisa memasaknya."
"Ya, terima kasih, Hen."
Heny keluar diantar oleh kekasihnya.
Kyara segera merebahkan tubuhnya di ruang tamu Heny. Ruang tamu itu tidak ada kursinya hanya sebuah ruangan kecil yang di beri karpet. Kyara memegangi perutnya yang masih terasa sakit karena baru satu minggu melahirkan. Ia datang ke Jakarta memang untuk menemui Harvey dengan harapan mereka bisa membentuk suatu rumah tangga yang bahagia. Dulu Harvey pernah memberitahunya kalau di Jakarta ia tinggal di sebuah perumahan elit.
Tak terasa Kyara tertidur hingga sebuah ketukan pintu membangunkannya. Ia bangun dan melihat dari jendela siapa tamunya. Ternyata Heny yang terduduk di lantai.
"Hen, ayo bangun. Kenapa tiduran disini?"
"Hai, Kyara. Ayo kita bersenang - senang." ucapnya. Bau menyengat keluar dari mulutnya.
"Kamu mabuk, Hen? ayo kita masuk dulu." Kyara membantu Heny berdiri dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia menidurkan Heny di sana.
Pagi sudah tiba, Kyara rencananya akan memasak. Semalam ia tidak sempat makan karena harus mengurus Heny yang muntah - muntah. Di sana ia hanya menemukan dua buah mie dan satu butir telur. Akhirnya ia memasak seadanya.
"Maaf ya aku belum belanja, uangku habis." suara Heny mengagetkannya.
"Ya tidak apa - apa. Ini sudah cukup kenyang, ayo makan."
"Makasih sudah mengurusku semalam."
Mereka berdua makan mie hingga habis.
"Oya, Ra. Kekasihmu ini tinggal dimana?" tanya Heny
"Ini alamatnya." Kyara menyodorkan secarik kertas yang berisi alamat Harvey.
"Kamu yakin ia mau bertanggung jawab?"
"Aku yakin, ia sangat mencintaiku."
"Heh, di jaman sekarang jangan terlalu percaya dengan omongan laki - laki. Omongan mereka hanya manis di awal tapi pahit diakhir, kebanyakan omong kosong."
"Dia orangnya baik Hen."
"Kalau baik dia tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan hamil."
Kyara diam. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Heny.
"Sekarang anakmu bagaimana?"
"Ada mbah Amir yang merawatnya."
"Gila, orang sudah tua renta kau suruh merawat bayi yang baru lahir."
"Katanya bayi itu akan di serahkan sama bulikku yang di Bandung. Aku dan bulikku usianya hampir sama. Ia adik bungsu ibuku."
"Lantas rencanamu disini bagaimana?"
"Aku akan mencari Harvey sampai ketemu, terus terang aku malu kembali ke Jogja. Hen, kalau masa nifasku sudah selesai tolong carikan aku pekerjaan."
"Di Jakarta itu cari kerjaan susah, apalagi kamu tidak tamat SMA."
"Aku akan melanjutkan sekolahku disini."
"Biaya dari mana?"
"Yah, aku bisa sekolah sambil bekerja. Tolonglah Hen, carikan aku pekerjaan."
__ADS_1
"Ya sudah, yang penting kita cari Harvey dulu. Setelah itu baru mikir buat cari kerjaan."
"Baiklah, terima kasih."
Setelah selesai sarapan pagi mereka berdua dengan berboncengan motor mencari alamat rumah Harvey. Setelah sampai di sana mereka tidak menemukannya karena keluarga Harvey sudah pergi ke Singapura. Rumah itu kosong.
"Nah, sia - sia kan. Aku bilang juga apa. Jangan percaya omongan laki - laki."
"Terus aku harus bagaimana?"
"Pulang saja di Jogja, urus anakmu."
"Aku malu sama orang - orang di sana."
"Hidup di kota besar tidak mudah, Ra. Lihat aku, aku kerja dari sore sampai malam, badan rusak semua."
"Kamu kerja di mana?"
"Aku kerja di sebuah klub malam sebagai pelayan."
"Bagaimana kalau aku ikut kerja di tempatmu? dan paginya aku bisa sekolah disini."
"Baiklah coba nanti malam aku bicara dengan managerku."
"Terima kasih ya, Hen."
Begitulah akhirnya Kyara bekerja di sebuah klub malam dan pagi harinya ia sekolah hingga tamat SMA. Setelah mendapatkan cukup uang ia dan Heny mulai pindah tempat kost mencari sebuah rumah untuk mereka tinggali bersama. Mereka juga keluar dari tempatnya bekerja dan berjualan pakaian secara online. Hingga pada suatu hari Heny berkenalan dengan seorang pria tengah baya.
"Siapa itu Hen?"
"Ssstt.. dia ladang uang buat kita."
"Maksudmu?"
"Ingat pria yang senyam senyum ke kita waktu makan di cafe."
"Ingat."
"Nah itu dia. Dia ingin berkenalan denganku."
"Oya."
"Ayo aku kenalkan." Heny menarik tangan Kyara dan mulai mengenalkannya dengan pria setengah baya itu. Dan baru Kyara ketahui namanya om Dimas. Ia pemilik sebuah perusahaan percetakan yang cukup besar di Jakarta. Ia sudah memiliki seorang istri tapi belum di karuniai anak sampai sekarang. Singkat cerita om Dimas tertarik dengan Kyara dan bersedia membiayai kuliah Kyara hingga selesai.
Mereka berhubungan hampir dua tahun hingga suatu hari istri om Dimas tahu. Berakhirlah hubungan mereka. Terakhir ia tahu kabar om Dimas telah menderita stroke. Dengan bersusah payah Kyara membiayai kuliahnya hingga lulus. Ia mulai hidup dari nol lagi. Heny sendiri akhirnya menikah dengan kekasihnya. Setelah lulus Kyara mulai mencari pekerjaan dan diterima bekerja di sebuah hotel 'Hadid Paradise'. Begitu tahu ia di terima di sebuah hotel di Bandung. Ia segera menemui mbah Amir, agar bisa tinggal dengan bulik Kamisha. Dengan tujuan meringankan beban hidupnya yang sudah tidak punya apa - apa lagi.
Tapi ternyata ia sulit menyesuaikan dengan prinsip hidup Kamisha. Bisa dikatakan Kamisha memiliki hidup yang lurus - lurus saja sedangkan dia penuh liku dan kelam.
Ia berusaha menutup masa lalunya dan membuka lembaran baru dengan Xander. Tapi itu semua tidaklah mudah.
🍁🍁🍁🍁
Masa sekarang 🍂
"Sha, tamu yang kemarin sudah minta maaf padamu?"
"Heh, kalau bukan pak Xander datang menolong aku nggak tahu harus bagaimana lagi."
"Ya aku bersyukur pak Xander datang tepat waktu."
"Harusnya pria itu masuk penjara karena ini sama saja dengan percobaan pembunuhan."
"Sudahlah, dia kan sudah punya itikad baik mau meminta maaf. Kita nggak perlu memperpanjang masalah. Yang ada malah nama baik hotel dipertaruhkan. Kita kan tidak tahu reaksi masyarakat bagaimana kalau ada pemberitaan tentang hotel kita."
"Benar juga sih. Yah maklum lah kita ini hanya orang kecil. Kadang nasib mempermainkan kita."
"Jangan berkata seperti itu, ingat kita harus bersyukur masih di berikan kesehatan, pekerjaan dengan gaji yang bagus. Jarang loh ada yang seberuntung kita."
"Iya... iya bu Ustazah."
"Hahahahhh.. ada - ada saja kamu."
"Eh, nanti malam kamu mau pakai baju apa?"
"Belum kepikiran. Nantilah lihat di almari ada baju apa yang cocok?"
"Jalan - jalan ke mall yuk habis pas istirahat nanti. Sekalian hunting baju."
"Tidak usah hunting baju, percuma! Karena sudah jelas terlihat disini siapa yang akan jadi bintang nanti malam." ucap Tina yang kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan mereka. "Pakai baju ini saja sekalian dari pada repot ganti."
"Eh! jangan sombong dulu. Kan belum ketahuan siapa yang mendapat award. Kita tidak tahu rencana tuhan."
"Ini tidak perlu rencana tuhan. Kita lihat yang nyata - nyata saja. Kemarin tim kamu juga baru dapat masalah kan? nggak usah terlalu percaya diri."
"Itu bukan salah Misha!" bentak Laras.
"Sudah... sudah... tidak perlu bertengkar untuk sesuatu yang kita sendiri tidak tahu pemenangnya. Bisa saja bukan aku dan juga bukan Kyara. Jadi please jangan bertengkar."
"Heh, dasar penakut!"
Kamisha memegang tangan Laras, berusaha menahannya agar tidak meladeni perkataan Tina.
"Ras, aku ke ruangan pak Xander dulu."
"Kenapa?"
"Mau menyerahkan kue sebagai ucapan terima kasih kemarin sudah menolongku."
"Oke."
Kamisha beranjak pergi, rencananya kue itu akan ia titipkan pada Alex.
"Selamat pagi menjelang siang pak Alex."
"Eh mbak Misha."
__ADS_1
"Pak, saya mau nitip ini buat pak Xander."
"Apa ini?"
"Cuma kue murah pak, sebagai ucapan terima kasih karena kemarin menyelamatkan saya."
"Kenapa tidak diantar sendiri di dalam?"
"Saya masih takut pak. Pak Xander kan masih marah dengan saya."
"Eh, ini kan bentuk ucapan terima kasih mbak Misha. Coba diantar sendiri takutnya salah paham, malah tambah marah."
"Eh bener juga ya pak. Ya sudah saya antar sendiri. Kalau begitu saya masuk dulu pak."
Kamisha mengetuk pintu dan mendengar jawaban Xander yang menyuruh untuk masuk.
"Maaf pak, saya Kamisha mau menghadap sebentar."
"Mau apa?"
"Saya mau menyerahkan kue ini untuk bapak, sebagai ucapan terima kasih saya karena bapak telah menyelamatkan saya."0
"Saya akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi dengan karyawan hotel yang lain. Jadi tidak perlu berlebihan." jawab Xander yang tanpa melihat Kamisha sedikitpun. Dia sibuk dengan berkas - berkas di hadapannya
"Saya tahu, karena bapak baik. Tapi artinya sangat besar untuk saya. Menyelamatkan saya sama dengan menyelamatkan Axel. Karena hanya saya yang dia punya." ucap Kamisha bergetar. Ia berusaha agar airmatanya tidak menetes setiap kali dia teringat putranya itu.
"Baiklah."
"Jadi bagaimana pak?"
"Apanya?"
"Kuenya."
"Taruh saja disitu, biar nanti Alex makan."
"Oh," Kamisha sedikit kecewa dengan jawaban Xander. Dia masih belum memaafkan aku batin Kamisha. "Kalau begitu saya keluar dulu, maaf sudah mengganggu waktu anda. Permisi."
🍁🍁🍁🍁
Kamisha akan pergi ke acara pemberian award untuk karyawan hotel yang baik kinerjanya. Dari semua bagian akan mendapatkan award. Penilaian ini tidak hanya dari direksi tapi juga dari pelanggan atau tamu yang sudah menginap di hotel 'Hadid Paradise'.
Malam ini Kamisha mengajak Axel sebagai pasangannya. Dengan baju senada berwarna hitam. Kamisha mengenakan gaun hitam panjang berbahan ducheese satin dengan krah sabrina sehingga memperlihatkan bahunya yang putih. Riasan yang minimalis menambah kecantikan Kamisha.
Malam itu banyak mata mengarah padanya, tak terkecuali Xander.
"Mommy itu om Xander."
"Ssst... jangan kesana sayang. Om Xander baru sibuk dengan tamu - tamunya. Kita makan saja yuk."
"Baiklah," ucap Axel yang sedikit kecewa karena ia ingin menyapa Xander.
"Axel mau makan apa?"
"Yang enak mana mommy?"
"Hmm... pie buah, puding custard, muffin, banyak sekali kesukaanmu sayang."
"Aku mau semuanya."
"Baiklah, mommy ambilkan." Kamisha segera mengambilkan makanan yang Axel suka, kemudian mengajaknya duduk di meja makan.
Tak berapa lama acara di mulai. Ada sambutan dari Xander kemudian di selingi hiburan dari beberapa artis. Dan akhirnya sampailah pada acara pemberian award untuk karyawan yang teladan.
"Apakah mommy akan menang?"
"Tidak tahu sayang."
"Kerja mommy bagus, aku yakin akan menang."
"Terima kasih dukungannya Axel. Mommy mencintaimu." ucap Kamisha sambil mengecup kening Axel.
Kamisha tampak gugup ketika pembawa acara membacakan karyawan teladan di bagian Marketing. "Dan pemberian award pada bagian marketing akan di berikan pada Kamisha Naeswari."
"Yeaayy... mommy menang!" teriak Axel.
"Benarkah?" Kamisha tidak percaya dengan pendengarannya.
"Untuk Kamisha Naeswari segera naik ke panggung untuk menerima hadiah berupa tropi, uang sebesar dua puluh lima juta dan tiket liburan selama tiga hari Bali."
"Ayo mommy maju."
"Baiklah sayang, mommy tinggal sebentar."
Kamisha maju dengan wajah bahagia, senang dan bangga atas pencapaiannya selama ini.
Xander memberikan hadiah secara simbolis.
"Terima kasih pak." ucap Kamisha dengan mata berkaca - kaca. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Silahkan memberikan pidato singkatnya." perintah pembawa acara.
"Terima kasih saya ucapkan pada tuhan yang maha esa, pak Xander, teman - teman satu tim dan tamu hotel. Hadiah ini saya persembahkan untuk putra saya satu - satunya, Axel. Ayo kemari sayang." Kamisha mengajak Axel naik ke panggung.
Dengan langkah kecil dan bangga Axel ikut bergabung bersama Kamisha.
"Axel adalah alasan kuat saya bekerja dengan baik di hotel ini. Senyumnya selalu memberi semangat saya setiap akan berangkat kerja. Jadi sebenarnya yang berhak menerima ini adalah Axel anak saya." tepuk tangan bergemuruh memberikan apresiasi atas pidato Kamisha.
Kamisha segera memeluk Axel. "Mommy sangat mencintaimu Axel."
"Aku juga sangat mencintai mommy."
Kamisha menitikkan air mata haru. Melihat ada Xander di sana Axel menghampirinya. Xander segera menggendong dan memeluknya.
"Thank's om, sudah memenangkan mommy." bisik Axel di telinga Xander.
__ADS_1
"It's okey boy, mommy mu berhak menerimanya."
🍁🍁🍁🍁