
Pagi ini Kamisha terbangun, tubuhnya terasa berat. Ternyata tangan dan kaki Xander melingkar ditubuhnya. Dengan perlahan dia menyingkirkan tangan dan kaki itu. Sejenak dia memandang wajah suaminya itu.
Aku sudah terbiasa tidur disampingnya, aku merasa nyaman dan bagaimana aku nanti harus melalui hari - hariku tanpanya. Perasaan ini menguras tenagaku, aku merasa sangat lelah batin Kamisha.
Kamisha bergegas ke kamar mandi dan bersiap ikut menyiapkan sarapan. Dia melepas bajunya satu persatu dan alangkah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya. Tanda kemerahan akibat perbuatan Xander tidak memudar justru Kamisha merasa itu bertambah merah. Apa yang terjadi dengan kulitku pikir Kamisha. Ia menggosok - gosok kulitnya. Hmmm tidak terasa gatal atau perih, ini aneh sekali. Kamisha keheranan dan tidak habis pikir. Tentu saja ia tidak akan leluasa mengenakan baju model tertentu karena tanda itu tidak hilang - hilang.
Setelah selesai mandi dan hanya mengenakan handuk Kamisha sibuk menghilangan jejak kemerahan itu dengan concealer hingga tidak memperhatikan Xander yang melihatnya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aacchh! kau membuatku kaget." teriak Kamisha sambil menutupi bagian dadanya dan berbalik membelakangi Xander.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?"
"Hmm.. aku___"
"Kenapa?"
"Itu__ aku__." Kamisha bingung menjawabnya. Ia menarik napas panjang menetralkan rasa kagetnya. "Badanku gatal."
"Coba aku lihat."
"Jangan aku nggak pakai baju, kamu balik badan dong jangan lihat."
"Hei.. aku ini suamimu."
"Tapi___."
"Tapi kenapa?"
"Aduh Xander please, aku mohon jangan di lihat."
"Baiklah kalau itu maumu, aku juga nggak tertarik." ucap Xander sambil pergi meninggalkan Kamisha.
Ada perasaan sedih, kecewa ketika Xander mengatakan itu. Yah kamu memang benar Xander, kau tidak tertarik padaku. Apa yang bisa kau banggakan dari seorang wanita single parent, tidak cantik dan terlalu sederhana. Kamisha menarik napas panjang lagi. Matanya berkaca - kaca, berusaha menenangkan hatinya sendiri adalah solusinya.
Sementara itu di dalam kamar mandi Xander menenangkan napasnya yang memburu setelah melihat istrinya itu hanya mengenakan handuk. Ingin rasanya dia menerkam Kamisha saat itu juga. Jika saja ia tidak berusaha menahan hasratnya sudah bisa di pastikan ia akan bertindak nekat. Dengan guyuran air dingin Xander meredakan nafsunya.
Tak lama kemudian ia keluar dan melihat Kamisha sedang mengikat rambutnya.
"Tumben kamu bangun pagi?" tanya Kamisha untuk mencairkan suasana.
"Kau lupa? hari ini Bianca mau datang ke kantor. Dia juga ingin ketemu dengan mama bukan?"
"Ah ya, aku ingat." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kamisha. Entah kenapa jika Xander menyebut Bianca mood nya langsung hilang. Ia menjadi pendiam.
"Hei jangan melamun."
Kamisha terhenyak "Oh, aku kebawah dulu menyiapkan sarapan." menghindar dari Xander adalah jalan keluar yang terbaik saat ini.
Kamisha menyibukkan diri di dapur sebelum berangkat kerja.
"Pagi mommy."
"Pagi sayang." ucap Kamisha sambil mencium kening Axel. "Axel mau nasi goreng?"
"Mau."
Dengan cekatan Kamisha mengambil nasi goreng untuk Axel. Dari dulu Axel sangat suka nasi goreng buatannya.
"Mommy!" teriak Axel kesal.
"Ada apa sayang?"
"Nasi gorengnya asin."
"Ah yang benar." ucap Kamisha tidak percaya. Ia menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Wah kamu benar, nasi goreng mommy asin. Jangan dimakan Axel. Mommy buatkan susu dan roti saja."
"Eh ada apa ini, cucu oma kok cemberut?" tanya mama Attalia yang bergabung untuk sarapan
"Nasi goreng mommy keasinan, oma."
"Benarkah? tumben masakanmu keasinan, Misha?"
"Maaf ma."
"Tidak apa - apa. Mama perhatikan akhir - akhir ini kamu sering melamun. Ada apa? apa kamu ada masalah?"
"Tidak ada apa - apa, ma."
"Pagi semua." sapa Xander sambil mencium mama Attalia dan Axel. "Kok nasinya tidak dimakan Axel?"
"Ini semua gara - gara mommy yang masak keasinan." jawab Axel.
"Benrkah? tidak biasanya kamu masa keasinan, Misha?"
Kamisha hanya diam, benar kata orang tua susana hati itu mempengaruhi cita rasa masakan.
"Aku hanya lelah." jawab Kamisha lirih
"Kau harus memperhatikan istrimu, ajaklah dia jalan - jalan." ucap mama Attalia.
"Kalau kau lelah lebih baik hari ini tidak usah ke hotel." ucap Xander.
Apa tidak ke hotel? tidak.. tidak.. kalau aku tidak berangkat aku tidak bisa mengawasi mereka pikir Kamisha. "Aku tidak apa - apa kok. Justru aku malah kangen dengan teman - teman di hotel."
"Baiklah kalau itu maumu."
Setelah selesai sarapan Xander dan Kamisha berangkat sedangkan Axel diantar oleh supir.
"Jemput Bianca dulu sebelum ke hotel." perintah Xander pada supir.
"Bianca ikut sekalian?"
"Iya, kau tidak keberatan kan?"
"Tidak."
Tak berapa lama mereka sampai di apartemen milik Bianca.
__ADS_1
"Hai boy, morning." sapa Bianca. "Hai, Misha."
"Hai." balas Kamisha. "Aku pindah ke depan saja agar kalian leluasa ngobrolnya."
"You don't mind?"
Kamisha menggelengan kepala sambil tersenyum. Ia segera pindah ke kursi depan sebelah supir. Sepanjang perjalanan Xander dan Bianca terlibat obrolan yang menyenangkan, tertawa, berdebat semuanya seperti sepasang suami istri. Kamisha menggenggam tangannya dengan erat, emosi, marah, kesal semua ia rasakan saat ini. Ingin rasanya ia menghilang dari mobil begitu saja. Kamisha berusaha keras meredam rasa cemburunya, berulang kali ia mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan. Dan akhirnya mereka sampai juga di hotel. Kamisha langsung pamit menuju ruangannya. Sedangkan Xander mengajak Bianca untuk keliling hotelnya.
"Hei kau kenal perempuan itu?"
"Yang mana?"
"Itu yang sama pak Xander." tunjuk Tina.
"Nggak, selama bersamanya aku tidak mengenalnya." jawab Kyara.
"Aku rasa sebentar lagi Kamisha akan tersingkir dari hidup Xander."
"Dari mana kau tahu?"
"Lihat keakraban mereka, itu hubungan yang lebih dari sekedar teman."
"Baguslah kalau mbak Misha tersingkir aku merasa lebih mudah menyingkirkan perempuan itu dari pada bulikku tercinta." Kyara tersenyum smirk.
Tina dan Kyara berjalan menuju ruangannya dan berpapasan dengan Kamisha.
"Kasihan yang sebentar lagi akan diceraikan." sindir Tina
"Sepertinya akan ada janda kembang di hotel ini." sahut Kyara.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu? ingat perbuatan kalian tempo hari? ingin masuk penjara rupanya." ancam Kamisha.
"Silahkan saja, kau tidak punya bukti." Tina tersenyum sinis.
Kamisha yang malas berdebat dengan mereka memilih pergi. Ia akan ke resort untuk mengecek beberapa tamu. Tapi alangkah terkejutnya dengan apa yang dia lihat. Dari kejauhan tampak Xander yang sedang menggendong tubuh Bianca.
Ya tuhan apa yang mereka lakukan batin Kamisha. Tak terasa air matanya menetes. Dengan segera ia pergi ke dari tempat itu, ia pergi ke rumah lamanya. Ia ingin menangis sepuasnya tanpa ada orang yang tahu.
🌸🌸🌸🌸
"Selamat siang pak."
"Ada apa Alex?"
"Saya sudah menemukan rekaman CCTV kejadian waktu anniversay hotel."
"Benarkah? perlihatkan padaku?'
Dengan cepat Alex memperlihatkan rekaman itu.
"Tunggu, yang membawaku keluar dari hallroom adalah Kyara dan Tina? pantas saat itu aku merasa bukan Kamisha."
"Tunggu sampai bapak melihat rekaman CCTV yang satu lagi, anda pasti akan lebih terkejut."
Alex memperlihatkan rekaman yang satu lagi. "Waktu kejadian, CCTV di koridor kamar 3013 rusak. Baru kemarin tehnisi bisa memperbaikinya."
Xander melihat Kyara dan Tina membawanya hampir masuk ke kamar 3013 tapi di cegah oleh seorang perempuan. Mereka seperti terlibat percekcokan. Tak lama kemudian Kamisha datang merebutnya dan membawa masuk ke kamar 3013.
"Itu Heny teman wanita pak Dimas, dia dulu berteman dengan Kyara dan juga mengenal nyonya Kamisha. Heny dulu pernah tinggal di Jogja sebelum pindah ke Jakarta. Waktu di Jakarta Heny lah yang menampung Kyara dn mengenalkannya dengan pak Dimas. Tapi sekarang hubungannya dengan Kyara memburuk, mungkin dia yang memberitahukan nyonya Kamisha tentang rencana jahat Kyara."
"Kenapa Kamisha berbohong padaku? kenapa lagi - lagi Kamisha menutupi kejahatan keponakannya itu?"
Lebih baik anda tanyakan langsung pada nyonya sendiri pak."
"Dimana dia?"
"Tadi saya ke ruangannya tapi menurut keterangan Laras, nyonya Kamisha ijin pulang karena tidak enak badan."
"Aku akan pulang."
"Maaf pak, hari ini ada rapat penting dengan klien terkait proyek yang ada di Jogja."
"Hah, sial. Apa tidak bisa kau tunda?"
"Tadi saya sudah berusaha negosiasi karena saya tahu, setelah bapak tahu masalah ini pasti ingin segera menyelesaikannya. Tapi mereka bersikukuh rapat harus diadakan hari ini."
"Baiklah, buat rapat ini singkat. Aku harus minta penjelasan dari Kamisha."
🌸🌸🌸🌸
Malam itu Kamisha pulang sendiri menggunakan taxi.
"Misha, kau tidak pulang bersama Xander?"
"Xander masih sibuk, ma." jawab Kamisha. "Aku ke atas dulu badanku capek."
"Ya, istirahatlah."
Kamisha segera menuju ke atas, setelah berganti pakaian ia ke kamar Axel. Ternyata putra kecilnya itu sudah tidur. Kamisha berbaring di samping Axel, dengan lembut ia membelai kepala putranya itu.
"Maafkan mommy Axel, karena mommy belum bisa memberikan kebahagian seutuhnya padamu. Sebentar lagi kita akan hidup berdua seperti dulu lagi. Daddymu telah menemukan orang yang akan menemaninya di hari tua dan sayang sekali orang itu bukanlah kita." ucap Kamisha dengan lirih. Airmatanya mengalir lagi dan ia buru - buru mengusapnya. Karena kelelahan akhirnya ia tidur di samping putranya itu.
Xander pulang dengan tergesa - gesa.
"Ma, mana Misha?"
"Tadi langsung istirahat di kamar katanya capek." jawab Mama Attalia.
Xander setengah berlari naik tangga menuju ke kamarnya. "Misha." panggilnya. Tapi nihil, tidak ada jawaban dari Kamisha. Xander bergegas ke kamar mandi dan hasilnya juga nihil. Apa di kamar Axel pikirnya. Ia bergegas ke kamar Axel dan benar ia menemukan istrinya itu meringkuk sambil memeluk Axel. Xander melihat wajah Kamisha yang tampak lelah. Apa mungkin dia rindu dengan Axel pikirnya. Ya sudahlah ijinkan dia tidur disini semalam saja. Xander akhirnya memutuskan untuk keluar dan istirahat di kamarnya.
Keesokan paginya Kamisha bangun dan segera mengantar Axel sekolah sekalian berangkat ke hotel. Ia memang sengaja tidak membangunkan Xander karena sengaja menghindarinya. Apalagi hari ini ia akan mengantar tamu tour wisata keliling kota Bandung.
"Ma, Kamisha mana?" tanya Xander tampak kelimpungan mencari istrinya.
"Kamu itu, dari semalam mencari Misha terus. Ada apa? apa kalian bertengkar?"
"Tidak. Hanya saja semalam dia tidur dikamar Axel. Dan pagi ini dia meninggalkanku sendiri."
"Tadi dia pamit katanya ada tour wisata dengan beberapa tamu."
"Ya sudah aku susul saja di kantor, ma."
__ADS_1
"Kau tidak sarapan dulu?"
"Nanti saja di hotel."
Xander bergegas berangkat ke hotel dengan harapan Kamisha belum berangkat sehingga mereka bisa berbicara. Tapi sayang sekali sampai disana rombongan sudah berangkat tiga puluh menit yang lalu. Xander tampak frustasi karena harus menunggu malam sampai bisa bicara dengan istrinya.
"Maaf pak Xander hari ini anda ada janji mengunjungi proyek dengan nona Bianca di Jakarta."
"Ah ya aku sampai lupa, aku sudah janji dengannya. Kita berangat sekarang, nanti malam aku harus sudah sampai lagi disini sebelum Kamisha pulang."
"Baik pak."
Xander segera berangkat ke Jakarta dengan Bianca mereka ada bisnis di sana. Tapi rencana tinggal rencana, acara yang dijadwalkan sampai sore ternyata malam mereka baru selesai. Sesampai di rumah Kamisha sudah tertidur di kamar Axel lagi. Xander ingin membangunkannya tapi merasa kasihan dengan Kamisha. Ingin ia menggendongnya ke kamar tapi takut ketahuan kalau ternyata selama ini ia yang sudah memindahkan Kamisha dari sofa ke tempat tidur. Xander mengacak - acak rambutnya dengan frustasi. Akhirnya ia memutuskan tidur sendiri lagi malam ini. Sebenarnya ia tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak ada Kamisha di sampingnya. Hampir dua hari mereka tidak bicara.
Pagi ini Xander terbangun sangat terlambat, pukul sembilan pagi. Semalam ia baru memejamkan mata sekitar pukul tiga pagi. Dan hasilnya ia tidak bisa bertemu dengan Kamisha lagi, karena istrinya itu sudah berangkat ke hotel. Xander bergegas ke kantor setelah memastikan Kamisha tidak ada jadwal ke lapangan.
"Dimana Kamisha?" tanyanya pada Laras.
"Dia ke resort pak, karena tamu kami akan cek out hari ini."
Xander bergegas menyusul ke resort dan benar saja istrinya baru saja berbicara dengan tamu. Xander benar - benar sangat merindukannya.
"Bisa bicara sebentar? ini penting." tanyanya pada Kamisha.
"Aku sedang mengurus tamu cek out."
"Alex." panggilnya. "Kau urus masalah ini." perintahnya.
"Baik tuan." jawab Alex.
"Nah sekarang kau sudah bebas, bisa kita bicara?"
"Bicaralah." ucap Kamisha.
"Ayo kita bicara di ruanganku."
"Kenapa tidak disini?"
"Misha please, kau mengabaikanku beberapa hari ini."
"Aku tidak mengabaikanmu Xander."
"Lantas ini apa? kau tidak seperti biasanya. Ayo kita bicara."
"Aku sudah bilang, kalau mau bicara bicaralah." jawab Kamisha dengan nada agak tinggi.
"Baiklah kalau kamu tidak bisa diajak baik - baik, jangan salahkan aku jika kamu malu nantinya." Xander segera memanggul kamisha dipundaknya.
"Aacchh!!! apa yang kamu lakukan? turunkan aku Xander!"
"Diamlah, anak manis. Jangan rewel."
"Xander! aku bukan anak kecil."
"Diamlah atau daddy akan menghukummu." canda Xander sambil terus memanggul Kamisha dan membawanya ke suatu tempat.
Beberapa tamu dan karyawan tertawa cekikikan melihatnya. Mereka menganggap itu sebagai suatu tindakan yang romantis. Alex hanya menggeleng - gelengkan kepala dan berdoa "Good luck, pak."
"Xander!" teriak Kamisha.
"Plak!" Xander memukul bokong Kamisha.
"Aaauuw! jangan kurang ajar ya!"
"Kan sudah daddy bilang, jangan nakal." balas Xander tersenyum senang karena bisa mempermainkan istrinya.
Xander membuka sebuah kamar dan itu milik pribadinya yang berada di lantai paling atas. Setelah masuk ke dalam kamar Xander meletakkan Kamisha di atas sofa.
"Aku mau keluar."
"Sudah aku kunci." jawab Xander santai. "Ini kamar Khusus, kau tidak bisa keluar tanpa kata sandi."
Kamisha mendengus kesal.
"Kenapa kau mengabaikanku?" tanya Xander.
"Aku tidak mengabaikanmu." jawab Kamisha sambi mengalihan pandangan. "Kamu sendiri yang sibuk dengan teman lamamu itu."
"Bianca? apa hubungannya dengan Bianca?"
Kamisha hanya diam, lidahnya tiba - tiba kaku tidak bisa berbicara apa - apa.
"Oke lupakan pertanyaanku itu. Sekarang aku akan bertanya soal hal lain, kenapa kau menyembunyikan kejahatan keponakanmu yang sudah memberikan obat perangsang padaku."
"Darimana kau tahu?"
"Jawab pertanyaanku Misha, kenapa kau membohongiku?"
"Aku__ aku__."
"Kau tahu aku tidak suka dibohongi!"
"Aku tahu tapi itu tidak akan merubah keadaan bukan. Kita hanyalah sepasang suami istri kontrak. Aku berbohong atau tidak itu tidak akan merubah perasaanmu padaku, kan!"
"Apa maksdudmu?"
"Lepaskan aku Xander, kau bisa bebas hidup bahagia dengan Bianca!"
"Bicaramu ngelantur Kamisha!"
"Itu fakta kan! Dia adalah cinta sejatimu, masa lalu yang selalu kau tunggu. Aku tahu kalian saling mencintai dan aku tidak mau jadi penghalang diantara kalian. Jadi kenapa tidak kau lepaskan aku!" Kamisha mulai terisak. "Sakit rasanya melihat kalian berdua tertawa bahagia, aku marah! aku emosi! aku hampir tidak.. tidak bisa bernapas melihat kebersamaan kalian!" teriak Kamisha dengan emosi yang tak terbendung lagi.
"Kau.. kau cemburu?"
"Ya aku cemburu! puas kau sekarang! aku akui aku telah kalah darimu Xander! aku kalah!"
"Kenapa, Misha!?" teriak Xander.
"Aku kalah Xander karena aku sudah mencintaimu." jawab Kamisha sambil menangis. "Aku mencintaimu Xander Alfero Hadid!"
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1