Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Tragedi


__ADS_3

"Apa tidak ada kamar yang lain, atau mungkin kamar istirahat buat karyawan. Kalau ada akan saya sewa."


"Maaf tidak ada, adanya kamar untuk istirahat satpam dan OB."


Xander tersenyum melihat jawaban resepsionis. "Kamu mau tidur sama mereka?" bisiknya di telinga Kamisha


"Nggaklah," jawab Kamisha ketus.


"Jadi bagaimana ini?" tanya resepsionis untuk memastikan kembali.


"Ya kami ambil kamar yang tersisa."


Setelah mengisi data pribadi, resepsionis segera memberikan kunci pada mereka.


"Maaf, apa saya bisa pinjam charger?"


"Bisa," jawab resepsionis sambil menyerahkan charger pada Kamisha. Tampak kelegaan menghiasi wajah Kamisha. Seorang OB yang masih sangat muda mengantarkan mereka ke kamar.


"Aku nanti tidur di sofa." ucap Kamisha tiba - tiba.


"Kalau ada sofanya? jangan kau bandingkan dengan hotel kita."


Kamisha membenarkan apa yang di ucapkan Xander.


"Kalau tidak ada sofa ya tidur di bawah."


"Dilantai?"


"Kan bisa minta bed tambahan."


"Mereka tadi bilang hanya kamar ini yang tersisa. Mana bisa ada bed tambahan."


Lagi - lagi dalam hati Kamisha membenarkan ucapan Xander.


"Pakai selimut juga bisa buat alas."


"Dari pada kamu ribut mikir bagaimana tidurnya. Lebih baik kita lihat kamarnya dulu, baru memutuskan."


"Ya sudah."


Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar. OB membuka pintu kamar dan mempersilahkan mereka masuk.


"Selamat menikmati malam yang Indah," ucap OB.


Kamisha hanya tersenyum simpul mendengar perkataan OB. Malam yang indah gundulmu, ini lebih cocok di sebut malam mencekam batin Kamisha. Bagaimana tidak ini pertama kalinya ia tidur dengan pria asing. Dadanya sesak dan jantungnya berdetak tidak karuan.


Kamisha segera melihat sekeliling kamar. Disana hanya ada bed dengan ukuran queen, sebuah almari kecil, satu buah kursi dari kayu, kaca dan kamar mandi. Kamisha melihat ke atas tempat tidur, ada dua bantal, dua guling dan satu selimut tipis. Waduh gawat, selimutnya tipis begini aku bisa masuk angin besok pagi batin Kamisha.


Kamisha berbalik dan menuju ke kamar mandi, ia membuka pintu dan yang ada hanya shower biasa. Ia pikir kalau ada bathtubnya ia bisa tidur disana.


"Mau mandi?"


"Enggak, cuma mau cek saja siapa tahu ada bathtubnya."


"Ingat Misha ini hanya penginapan kecil, kita sudah dapat kamar untuk istirahat saja sudah bersyukur."


"Bukan itu maksudku, kalau ada bathtubnya aku bisa tidur di sana."


"Hahahahh.. jadi kamu dari tadi berjalan kesana kemari hanya untuk memikirkan bagaimana kamu akan tidur nanti."


"Ada masalah?"


"Hahahahh... aku tidak habis pikir. Kamu wanita pertama yang menolak untuk tidur bersamaku."


"Aku bukan wanita sembarangan, aku menjunjung harga diri."


"Iya.. iya aku tahu," jawab Xander. "Jadi sekarang bagaimana, kau mau tidur dimana? terus terang kalau aku tidak mau tidur di lantai, aku akan tidur di tempat tidur. Terserah kamu mau tidur dimana. Aku mau mandi dulu, badanku capek."


Kamisha diam. Ia sibuk memikirkan nasibnya yang kurang beruntung pada hari ini. Ia teringat harus mencharger handphone nya. Ia memakai charger yang dia pinjam di resepsionis tadi.


Setelah lima menit berlalu ia segera menyalakan handphonenya. Terdapat beberapa panggilan dari Axel, dari Kyara, dari Laras dan juga dari Sofi. Kamisha segera melakukan panggilan pada mereka. Hanya pada Kyara ia belum bisa menghubunginya.


"Bagaimana Axel?" tanya Xander yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.


"Ya tuhan, pakai baju dong!" teriak Kamisha sambil memalingkan muka.


"Bajuku kotor," ucap Xander.


"Terus kamu mau pakai itu sepanjang malam?"


"Nggak lah, kamu pesan ke OB buat belikan aku baju."


"Kok main perintah?"


"Aku ini atasanmu."


Kamisha melirik ke arah jam dinding. "Sudah lepas dari jam kantor." ucapnya enteng.


"Oh.. aku tahu kamu sengaja karena ingin melihatku setengah telanjang kan?"


"Enak saja, nggak lah."


"Ya kalau begitu laksanakan perintahku."


"Iya.. iya.." Kamisha keluar sambil bersungut kesal.


Setelah menemui OB dan memberinya uang Kamisha kembali ke kamarnya lagi. Dia sempat berpapasan dengan beberapa pasangan yang sedang asyik bercumbu di lorong. Kamisha langsung memalingkan muka.


"Mana?"


"Sebentar baru dibelikan di toko dekat penginapan."


"Kamu mandi saja dulu."


"Nanti nunggu kalau sudah ada pakaian gantinya." jawab Kamisha sambil mengecek handphonenya lagi.


Xander menyalakan televisi. Dia mengganti saluran berulang kali. "Tidak ada yang bagus." gerutunya. "Oya Axel bagaimana? dia baik - baik sajakan?"


"Iya, dia baik. Tadi ingin berbicara padamu tapi aku bilang kamu baru keluar." jawab Kamisha. "Oya Xander, bisa aku minta tolong padamu?"


"Apa?"


"Jangan cerita pada siapapun terutama Axel, kalau kita satu kamar. Aku tidak ingin waktu dia dewasa dia menyimpulkan bahwa tidur dengan wanita tanpa ikatan diperbolehkan."


"Oke, aku akan menutup mulutku rapat - rapat. Tapi ada syaratnya?"


"Apa itu?"


"Nanti aku beritahu, belum kepikiran."

__ADS_1


Tok... tok... tok... pintu kamar terketuk


"Selamat malam, maaf mengganggu. Ini pesanannya."


"Oh terima kasih." jawab Kamisha sambil membawa pesanannya dan menaruhnya di meja.


"Kok banyak sekali?"


"Ini bajunya," jawabnya sambil menyerahkan kaos dan celana pada Xander. "Ini makan malamnya, maaf adanya cuma nasi goreng dan susu jahe. Tidak apa - apa kan?"


Xander tersenyum, Kamisha termasuk orang yang pengertian dan tahu apa yang ia mau.


"Terima kasih."


"Makanlah, aku akan mandi." Kamisha masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian yang sudah di belinya tadi. Tidak membutuhkan waktu lama Kamisha keluar sudah dengan kaos dan celana.


"Hahahhah..." Xander tertawa.


"Kenapa tertawa? ada yang lucu?"


"Nggak... cuma lihat tulisan di kaosmu itu yang membuat aku tertawa."


"Wife?" Kamisha membaca tulisan di kaosnya. "Ada yang aneh?"


"Tidak ada, mungkin OB kira kita pasangan suami istri. Lihat kaosku." Xander memperlihatkan kaos yang dikenakannya.


Kebetulan warna kaos mereka sama dan Kamisha membaca tulisan di kaos itu "Husband." ia nampak canggung dengan apa yang mereka kenakan lebih pada kaos couple.


"Sudah aku mau tidur."


"Nggak makan dulu?"


"Minum susu jahe sudah kenyang."


"Nggak jadi tidur lantai nih?" goda Xander


"Nggak," jawab Kamisha ketus. "Ingat ya batasnya guling ini. Awas kalau melebihi batas, aku tidak akan segan walau kau atasanku" ancamnya.


Xander hanya tersenyum saja. Kamisha tidur dengan posisi membelakangi Xander. Ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa, ia terlalu tegang.


"Aku naik ya." Xander memberi aba - aba.


Kamisha hanya diam, agar Xander menyangka ia sudah tidur. Kamisha merasakan kasurnya mulai bergerak itu tandanya Xander sudah tidur di sampingnya.


"Kamu tenang saja, aku tahu batasan. Dan aku tidak akan melakukan hal - hal yang memang tidak kamu inginkan. Selamat malam." ucap Xander sambil mematikan lampu.


🍁🍁🍁🍁


"Oahamm..." Xander menguap dan melakukan peregangan otot. Heh kaki siapa ini batinnya. Ia melirik ke arah Kamisha yang ternyata sudah bergeser mendekat ke arahnya. Xander tersenyum, ternyata Kamisha sendiri yang melanggarnya.


Wajah Kamisha yang tampak jelas di depan mata Xander lagi - lagi membuatnya terpesona. Ia terus memandangi wajah yang tenang seperti bayi itu. Xander meniup wajah Kamisha berusaha membangunkannya.


"Hmmm..." gumam Kamisha tanpa bergeming


Xander kembali meniup - niup wajah Kamisha.


"Axel, biarkan mommy tidur sebentar lagi sayang. Mommy masih mengantuk."


Xander tersenyum geli, ia kembali meniup wajah Kamisha.


"Hmm... anak mommy ternyata mau menggoda ya... akan mommy hukum." Kamisha yang masih belum membuka matanya tiba - tiba menarik wajah Xander ke dalam pelukannya dan menciumi nya bertubi - tubi. "Nih mommy cium kamu sampai puas."


Loh... loh... suara siapa itu, kenapa suaranya besar dan berat, itu bukan suara Axel, terus suara siapa batin Kamisha panik. Ia membuka matanya pelan - pelan. "Aaaacchh...!!!" teriaknya. "Apa yang kamu lakukan?!"


"Aku melakukan apa?"


"Kamu ingkar janji! katanya tidak akan melakukan hal - hal yang tidak aku inginkan, lantas ini buktinya apa coba!"


"Tenang dulu Misha."


"Nggak! ya tuhan kamu sudah mengotori tubuhku." Kamisha histeris sambil menutupi tubuhnya dengan bantal.


"Hei... hei... dengar dulu!" teriak Xander. "Lihat ini, siapa yang melanggar batas?"


Kamisha melihat dengan seksama dan ia tidak percaya dengan penglihatannya. Kok bisa ya aku malah bergeser pada Xander, apa karena kebiasaan tidur memeluk Axel jadi seperti ini batin Kamisha menyesal. "Pokoknya tubuhku ini sudah ternoda." ucap Kamisha sambil turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Aneh, ternoda apanya. Justru aku yang ternoda. Dia kan sudah menikah harusnya tahu ternoda itu seperti apa. Benar - benar aneh dan mencurigakan, dulu waktu proses ada Axel bagaimana caranya? apa dia tidak bisa membedakan? apa perlu aku menyelidiki latar belakangnya batin Xander.


Tak lama kemudian Kamisha keluar dari kamar mandi dan terpaksa mengenakan pakaian itu lagi.


"Masih marah?"


"Sudah tidak, maaf aku yang keliru."


"It's okey." jawab Xander


"Kebiasaanku pada Axel memang kadang sering terbawa."


"Aku mandi dulu. Aku sudah menelepon Alex untuk menjemput kita. Mungkin setelah sarapan pagi kita sudah pulang."


"Syukurlah, aku sangat merindukan Axel."


Xander kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Kamisha mencoba menelepon rumah.


"Halo mbok, Axel sudah berangkat sekolah?"


"Sudah mbak, tadi diantar mbak Kyara."


"Oh syukurlah dia mau mengantarnya mbok, dari semalam aku hubungi tidak bisa."


"Hari ini tadi Axel tidak rewel dan tahu kalau mbak Misha sedang bekerja."


"Baik, terima kasih ya mbok. Pagi ini aku sudah akan pulang mbok."


"Hati - hati mbak."


"Ya mbok." Kamisha mengakhiri panggilannya.


Xander keluar dari kamar mandi, wajahnya tampak sangat segar. Kamisha sempat terkesima dengan ketampanannya.


"Kenapa bengong?"


"Oh... itu aku rindu Axel."


"Ayo sarapan?"


Kamisha beranjak dan mengikuti Xander untuk sarapan di lantai bawah. Karena ini memang penginapan kecil jadi hanya menyediakan satu makanan saja yaitu bubur ayam.


Drrtt... drrt... drrt... suara handphone

__ADS_1


"Halo."


"Maaf pak saya sudah di depan."


"Oke, tunggu sebentar. Kamisha baru sarapan."


Panggilan di akhiri. "Alex sudah di depan."


"Oya, cepat sekali." ucap Kamisha. "Mobil yang di tinggal dekat curug bagaimana?"


"Sudah diurus bengkel."


"Ayo kita pulang."


"Dihabiskan dulu makannya."


"Sudah, aku sudah kenyang kok."


"Oke kita pulang."


Mereka berdua segera keluar menuju ke mobil karena semua administrasi sudah di selesaikan oleh Alex.


"Wah pak Xander dan mbak Misha cocok sekali memakai pakaian itu. Benar - benar seperti couple sungguhan." goda Alex.


"Sudah jangan banyak komentar, konsentrasi nyetir." perintah Xander untuk menyembunyikan rasa malunya.


🍁🍁🍁🍁


"Kak Kya, kita mau kemana?"


"Kita akan ketemu seorang teman."


"Siapa?"


"Om Harvey, kamu ingat?"


"Oh, om tampan saudaranya om Xander."


"Betul, seratus untuk Axel."


"Tapi Axel mau sekolah."


"Ini cuma sebentar kok. Tadi kak Kya sudah ijin bu guru."


"Oh baiklah."


Kyara mengendarai mobil menuju ke sebuah kafe. Disana sudah ada Harvey yang menunggunya.


"Hai Axel." sapa Harvey sambil memeluk Axel.


"Hai om Harvey."


"Sudah sarapan?"


"Sudah om."


"Hmm, mau es krim?"


"Mau, yang rasa coklat."


"Oke, om pesankan."


Harvey memanggil pelayanan dan memesan apa yang diinginkan Axel.


Kafe ini sangat luas tanahnya. Ada beberapa tempat bermain untuk anak - anak.


"Kak, boleh Axel main di sana?"


"Ya boleh."


Axel segera pergi bermain bergabung dengan anak dari pengunjung kafe yang lain.


"Dia memanggilmu kak."


"Apa boleh buat, aku terpaksa Harvey."


"Sudah kau bicarakan dengan Misha?"


"Sudah tapi mbak Misha menolak, dia merasa yang membesarkan Axel jadi berhak atas semuanya."


"Kau tidak bilang jika Axel bersamaku, dia akan hidup serba kecukupan."


"Sudah, tapi ia tetap ingin kamu sendiri yang mengatakan sendiri tentang kesungguhanmu mengadopsi Axel."


"Aku harus mencari cara, karena ia tercatat satu kartu keluarga dengan Kamisha. Jika aku bawa ke Singapore tentu akan kesulitan dalam mengurus paspor."


"Terus bagaimana?"


"Hentikan dulu pembicaraan ini, dia kemari." ucap Harvey yang melihat Axel berlari kecil menghampiri mereka.


"Kak Kya, aku mau sekolah."


"Iya, sebentar lagi." jawab Kyara.


"Oh Axel mau ke sekolah ya, oke nanti kita ketemu lagi. Tapi om ingin ini menjadi rahasia kita, oke."


"Hmm, baiklah."


"Anak pintar." puji Harvey. "Kau pulanglah dulu, kita lanjutkan pembicaraan ini lain waktu."


"Oke." jawab Kyara yang tampak kesal karena belum menemukan jalan keluar. "Ayo Axel kita pulang."


Kyara dan Axel naik mobil. Dengan kecepatan agak tinggi Kyara mengendarai mobil.


"Kak, jangan ngebut. Aku takut."


"Katanya mau cepat ke sekolah, jadi jangan banyak protes." jawab Kyara ketus.


Axel hanya diam dan menurut. Tak berapa lama mereka sampai. Tapi karena berlawanan arah Kyara menghentikan mobilnya bersebrangan dengan sekolah.


"Ayo turun, kita sudah sampai."


"Bantu aku menyeberang, kak."


"Axel, kamu itu sudah besar. Harusnya sudah bisa dong menyeberang sendiri. Hari ini aku ada rapat."


"Baiklah." Axel membuka pintu mobil. Ia menengok ke kanan dan ke kiri. Begitu berulang - ulang. Karena banyaknya motor yang lalu lalang, Axel menunggu sampai sepi. Dengan ragu - ragu ia memutuskan untuk menyeberang dan ciiiitttt___ braakk..!!!.


Suara apa itu batin Kyara yang sudah akan melajukan mobilnya. Ia melihat spion dan berteriak histeria. "Astaga Axeelll...!!!

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2