
Sore ini Xander duduk santai di sofa kamar. Kamisha masuk sambil membawakan secangkir coklat panas.
"Terima kasih sayang." Xander segera menikmati coklat panas buatan istrinya.
Kamisha duduk di sampingnya sambil membaca beberapa majalah mengenai cara mengolah makanan bayi agar lebih bergizi dan bervariasi.
"Hotel kita akan bekerja sama dengan even om Matteo."
"Oya.. Wah untung besar dong."
"Tentu saja. Dan penawaran yang dilakukan om Matteo tidak main - main."
"Apa tidak ada harga istimewa sayang, mengingat kalian adalah keluarga?"
"Om Matteo orangnya sangat disiplin. Ia bisa membedakan mana bisnis, mana keluarga."
Kamisha mengangguk - angguk sambil pandangannya tak lepas dari majalah.
"Sayang besok kita ada pemotretan dan pembuatan video."
"Kita?" Kamisha mendongakkan kepala dan meletakkan majalah itu di meja.
"Iya, aku, kamu, Axel dan Zio."
"Buat apa Xander?"
"Promosi hotel kita tentunya."
"Kamu yakin. Aku tidak secantik model - model sayang."
"Seratus persen yakin. Kau lupa konsep aku membangun sebuah hotel?"
"Kehangatan sebuah keluarga."
Xander memeluk istrinya dari belakang. "Aku sangat mencintaimu, aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau satu - satunya wanita dalam hidupku."
"Hmmm bohong."
"Aku berani bersumpah sayang."
"Mana aku tahu waktu kita menikah kau masih perjaka atau tidak."
"Ya tuhan, aku masih perjaka. Kau satu - satunya wanita yang pernah aku masuki."
"Tapi kenapa kau sangat pintar dalam bercinta?"
"Itu naluri sayang. Dan juga video tentang itu bisa diakses dengan bebas. Aku sebagai seorang pria wajar jika penasaran."
"Terus kamu praktekkan gitu?"
"Kamu yang pertama kali sayang, kamu wanita yang mendapat kehormatan bisa merasakan kejantananku yang tidak main - main ini."
"Hahahhah.. Iya.. Iya aku percaya. Terima kasih sayang karena aku mendapat kehormatan itu."
"Aku juga Misha, terima kasih sudah menjaganya untukku." Xander mencium leher Kamisha. Dan sepertinya ia tahu arah ciuman Xander kemana.
"Sayang, ini waktunya Zio makan."
"Kan ada mbok Sri." Xander sudah tidak bisa mengendalikan ciuman dan tangan - tangannya. "Salah siapa tadi kau menyebut - nyebut soal kejantanan."
"Aku tidak___." sebelum protes Xander sudah membungkam mulut Kamisha dengan ciuman panasnya. Dan terjadi lagi penyatuan dua insan yang tidak kenal lelah itu.
🌸🌸🌸🌸
Malam itu setelah pulang dari kantor Sofi merebahkan tubuhnya di atas kasur ukuran queen size di rumah kecil miliknya. Walaupun rumah itu sederhana tapi sangat nyaman di rasa Sofi. Sejak memutuskan pertunangannya hubungan Sofi dan kedua orang tuanya berjalan tidak baik. Mereka masih memaksa Sofi untuk meneruskan pertunangan itu karena seiring berjalannya waktu sifat orang akan berubah.
Tapi Sofi memiliki prinsip sendiri, jika seorang pria sudah melakukan perselingkuhan dan kekerasan maka tidak ada toleransi untuk itu. Pikirannya kembali pada mantan tunangannya. Hubungan mereka berawal dari perjodohan, Sofi berusaha menerima keputusan itu dengan lapang dada. Berusaha mencintai dan menghargai tunangannya. Tapi sepertinya usahanya sia - sia. Ia merasa seperti Kamisha yang ketika itu mengetahui perselingkuhan Rama dengan mata kepala sendiri.
Sofi juga mengalami body shaming ketika mantan tunangannya mengatakan ia tidak menyukai wanita gendut seperti Sofi. Sebenarnya Sofi tidak gendut hanya saja kurang tinggi dan memiliki bokong yang besar padat , jadi terkesan berisi. Padahal menurut Kamisha tubuh Sofi itu seksi.
Suara dering handphone membuyarkan lamunannya.
"Halo."
"Malam, Sofi."
__ADS_1
"Selamat malam pak Matteo."
"Ke apartemenku."
"Sekarang pak?"
"Ya sekarang! Ada yang perlu aku bahas denganmu."
"Tapi pak ini kan___"
"Ini masalah pekerjaan Sofi, kamu tidak usah berpikir macam - macam."
"Baiklah."
Panggilan diakhiri, dengan malas Sofi turun dari atas tempat tidurnya, berganti baju dan segera menemui Matteo. Tak lupa ia membawa laptop.
Tidak perlu memakan waktu yang cukup lama, Sofi sudah sampai di depan pintu apartemen Matteo.
"Masuk."
Sofi segera masuk dan duduk di sofa. Ia membuka laptopnya dengan harapan pekerjaannya akan cepat selesai. Badannya sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat.
"Apa ada yang ingin bapak revisi lagi?"
Matteo sepertinya tidak mengindahkan pertanyaan Sofi. Ia malah asyik dengan handphonenya. "Kau bisa memasak?"
"Bisa sedikit, tapi tidak semahir Kamisha."
"Buatkan aku makan malam."
"Maaf, saya disini untuk bekerja bukan sebagai pembantu anda." nada bicara Sofi penuh penekanan karena kesal dengan sikap Matteo yang sepertinya ingin mengerjainya.
"Aku belum makan malam."
"Saya pesankan lewat online."
Matteo memandang Sofi, perhatiaannya teralihkan dari handphone ditangannya. "Aku tidak suka! Buatkan aku nasi goreng."
"Saya tegaskan lagi, saya bukan pembantu anda!"
Sofi mendengus kesal. "Akan saya buatkan, tapi tepati janji anda. Setelah makan kita bekerja dan saya bisa pulang."
"Tenang saja honey, aku orang yang tidak pernah ingkar janji."
Sofi segera kedapur membuatkan Matteo nasi goreng. Walaupun ia tidak jago memasak tapi kalau hanya untuk nasi goreng tidak masalah buatnya.
Ketika membuka almari es ia sempat kaget dengan isinya. Ternyata sangat lengkap, itu menandakan Matteo suka dengan masakan rumahan. Sofi mengambil telur dan sosis dan tidak membutuhkan waktu yang lama nasi goreng sederhana ala Sofi sudah siap.
"Silahkan, nasi gorengnya."
Matteo segera duduk di meja makan. Dengan berlahan ia menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya.
Tampak wajah Sofi yang tegang, takut mendengar komentar Matteo. "Hmm, not bad. It's delicious honey."
"Thank's." jawabnya lega.
Setelah selesai makan, Matteo segera fokus bekerja sesuai dengan janjinya. Disini ia sangat serius. Jarak yang terlalu dekat membuat jantung Sofi berdetak kencang. Ia kagum dengan Matteo yang benar - benar fokus kalau bekerja. Ide - ide dan keputusannya membuat Sofi tidak bisa berkata apa - apa untuk menggambarkannya.
Pantas saja banyak wanita yang menggilainya, setidaknya itu gosip yang beredar di luar sana. Ia sangat tampan walau sudah berumur.
"Hei, fokus kerja. Jangan melihatku."
"Oh maaf."
"Aku tahu aku memang tampan, tapi kali ini kita fokus kerja."
"Baik." Sofi malu karena ternyata ia yang tidak konsisten. Ketahuan mencuri pandang ketika bekerja.
Sofi berusaha mengembalian konsentrasinya lagi. Ia bahkan menguap beberapa kali karena sejak pagi hingga sore ia belum beristirahat.
Tiba - tiba saja ia mendengar suara Matteo yang bertambah perlahan hingga akhirnya ia tidak mendengar apa - apa.
"Jadi panggung ini nanti kita ubah, kita pindah disini dengan penonton yang mengelilinginya. Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Matteo. Ia masih menunggu jawaban Sofi.
"Sof." panggilnya. Karena tidak mendapat respon maka ia melihat apa yang dilakukan Sofi dan ternyata, ia tertidur pulas.
__ADS_1
Matteo menarik napas panjang. Perlahan ia mendekat ke arah Sofi dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut. Matteo mengambil alih laptop di depan Sofi dan melanjutkan lagi revisinya. Ia mau revisi itu jadi malam ini. Hampir dua jam ia berkutat sendiri dengan laptop dan akhirnya selesai.
Matteo kembali memandang wajah Sofi yang tenang ketika tidur. Ia membelai anak rambut Sofi yang jatuh menutupi wajahnya.
"Beautiful." ucapnya lirih.
Matteo segera menggendong Sofi dan membawanya ke dalam kamarnya. Karena Matteo hanya tinggal sendiri maka kamar tidur hanya ada satu. Dengan perlahan ia meletakkan tubuh Sofi di atas tempat tidur.
Matteo segera ke kamar mandi, ia berendam dengan air hangat. Setelah puas ia segera tidur bergabung bersama Sofi.
"I want you to be my girls, honey." ucap Matteo sambil mengecup kening Sofi.
🌸🌸🌸🌸
Pagi ini Sofi bangun dengan perasaan ternyaman yang pernah ada, bahkan ia sempat menggeliat ke sana kemari menikmati kelembutan dan kehangatan dari selimut yang ia pakai.
Tunggu.. Selimut? Sejak kapan aku mempunyai selimut selembut ini pikir Sofi. Ia segera menyadari kalau ia tidak berada dalam rumahnya.
Oh my god! Mulutnya menganga seakan tidak percaya. Aku tidur di rumah Matteo.
Dengan segera ia bangun dan menuju ke kamar mandi. Ia membasuh mukanya dan menyesali kenapa semalam ia bisa dengan santainya tertidur saat bekerja. Apa karena usia tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi karena capek.
Setelah memantabkan tekad dan siap menerima segala konsekuensinya akibat lalai dalam bekerja ia segera keluar dari kamar untuk menemui Matteo.
Ia mencari - cari pria itu dan melihat sosoknya sedang sibuk berkutat di dapur. Dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek membuat penampilannya tidak seperti pria berumur empat puluhan.
"Pagi." sapanya yang tahu bahwa Sofi sedang memandanginya.
"Oh, selamat pagi pak."
"Duduklah, sarapan sebentar lagi siap."
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada, kau duduk saja."
"Maaf semalam saya ketiduran."
"It's okey, never mind."
"Hmm, saya akan bertanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan sekarang juga."
"Santai saja Sofi, kita sarapan dulu." Matteo membawa dua piring berisi sandwich yang sangat mengoda. Apalagi Sofi semalam belum makan. "Aku harap kau suka masakanku. Ayo di cicipi."
Dengan perlahan Sofi mulai memasukkan potongan sandwich ke dalam mulutnya.
"Enak?"
"Hmm banget. Baru pertama kali saya merasakan sandwich selembut ini."
"Hahahahh.. Aku suka dengan pujianmu. Habiskan kalau begitu."
"Pasti akan saya habiskan tanpa tersisa."
"Good honey."
Walaupun panggilan itu menganggu telinga Sofi tapi kali ini ia biarkan saja. Saat ini ia sedang menikmati sarapan istimewanya.
"Hmm, maaf kalau boleh saya bertanya."
"Of course, jangan malu. Tanyakan saja."
"Semalam saya tidur di kamar anda?"
Matteo mengangguk sambil terus menikmati sandwich buatannya sendiri. Entah kenapa pagi ini sarapannya begitu nikmat. Atau karena keberadaan Sofi yang membuat suasana lebih hidup dan hangat.
"Lantas dimana anda tidur? Saya lihat apartemen anda hanya memiliki satu kamar tidur."
"Tentu saja di kamarku sendiri, terus mau di mana lagi?"
"Anda tidur dilantai?" suara Sofi mendadak lirih karena takut jika tebakannya itu benar maka berakhirlah kariernya.
Matteo menggelengkan kepalanya. "Tidak honey, aku tidur di sebelahmu." jawabnya santai.
"Apa!" teriak Sofi. Bagaikan tersambar petir di pagi hari setelah mendengar jawaban Matteo. Itu artinya mereka tidur bersama. Mulut Sofi menganga seakan tidak percaya. Aku tidur dengan pria tanpa ikatan pernikahan tangisnya dalam hati.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸