
"Bagaimana keadaan bapak?"
"Alhamdulillah, sudah membaik nak Xander. Selera makan bapak juga bertambah mungkin karena Misha yang masak."
"Ah bapak bisa saja, masakan Misha masih kalah sama masakan mendiang ibu." sahut Misha.
"Mari kita makan dulu." ucap pak Amir mengalihkan pembicaraan karena ada bulik Yanti di situ. "Bapak harap nak Xander suka dengan masakan kampung."
"Suka pak, ini enak."
"Misha."
"Ya pak."
"Besok pulanglah ke Bandung. Kondisi bapak sudah semakin membaik. Kamu tenang saja ada Yanti dan Ajeng yang menjagaku."
"Tapi nafsu makan bapak belum pulih. Nanti kalau makannya bapak sudah banyak, aku akan pulang."
"Maafkan bapak, nak Xander. Terpaksa memisahkan kalian untuk sementara."
"Tidak apa - apa, pak." jawab Xander.
"Tuh kan, bapak tidak percaya sih. Xander nggak akan keberatan."
"Bapak tahu, jawaban nak Xander pasti akan seperti itu." ucap pak Amir. "Bapak dulu kan pernah muda apalagi pengantin baru jadi bapak tahu apa yang sebenarnya di rasakan oleh nak Xander, iya kan?"
Xander hanya tersenyum mendengar perkataan pak Amir.
"Memang apa yang di rasakan bapak?" tanya Kamisha.
"Yah kangen, maunya berdekatan terus, kalau sehari tidak ketemu gelisah." jelas pak Amir.
"Memangnya iya kamu juga sama seperti bapak?"
"Hmm... eh iy__iya." jawab Xander gugup.
"Memangnya kamu tidak merasakan hal yang sama dengan nak Xander? selama di rumah sakit bapak tahu kamu tidak tidur, gelisah terus. Pasti kangen dengan aroma ketiak nak Xander, iya kan?"
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Kamisha tersedak kaget mendengar pertanyaan pak Amir.
Xander yang mendengar hanya tersenyum, ada rona bahagia di wajahnya ternyata selama dua hari ini yang menderita tidak hanya dia.
Setelah makan malam Xander memutuskan menemani pak Amir mengobrol sebentar karena harus istirahat.
"Nih." Kamisha datang di teras depan sambil membawa camilan.
"Apa ini?"
"Klepon."
"Hahahha, lucu namanya."
"Ya, ini jajan pasar. Dari beras ketan dan di dalamnya ada gula merahnya."
"Bukan keju mozarella."
"Bukan, ayo coba aja. Cocok dimakan sambil minum teh."
Xander memgambil kue klepon dan mulai memasukkannya ke dalam mulut. Ia mulai menggigit. "Hmm." sesuatu keluar dari mulutnya.
"Hahahahh, gigitnya pelan - pelan. Jadi keluarkan gula merahnya." Kamisha tertawa sambil mengusap mulut Xander dengan tisu.
"Enak." puji Xander sambil memakan beberapa kue klepon. "Udaranya segar." ucapnya memulai percakapan.
"Iya, tapi masih segar waktu aku sekolah dulu."
"Oya, aku akan membangun hotel dan pusat perbelanjaan di sini."
"Benarkah? kapan?"
"Sebentar lagi aku akan membuka lelang untuk proyek pengerjaannya."
"Aku harap bisa lancar nantinya." ucap Kamisha. "Istirahat yuk, besok aku akan ajak kamu jalan - jalan keliling desa."
"Mau pamer?"
"Pamer apa?"
"Pamer suami."
"Hmm... narsis." gumam Kamisha sambil memanyunkan bibirnya
"Tapi memang iya kan, kalau aku tampan."
"Sudah, ah. Ngantuk." Kamisha masuk ke dalam meninggalkan Xander.
Xander terkekeh melihat kelakuan istrinya. "Hei tunggu." panggilnya sambil beranjak dari kursi masuk ke dalam rumah.
Kamisha mulai menata tempat tidur, menggelar tikar di bawah dan mengambil selimut.
"Xander, tempat tidurku tidak selebar yang ada di rumah. Walaupun agak sempit tapi nyaman kok. Aku akan tidur di bawah."
"Hei, kondisimu kurang fit karena pasti capek nunggu bapak di rumah sakit. Lebih baik tidur di atas saja."
"Kamu tidak apa - apa tidur di bawah."
"Siapa yang tidur di bawah?"
"La terus bagaimana?"
"Ya kita tidur di atas. Badanku masih pegal - pegal ."
"Tapi tempat tidurnya kan sempit."
"Tadi sore kita tidur nyatanya bisa kan. Kenapa sekarang kamu jadi bingung begini. Lagian kalau salah satu dari kita tidur di bawah terus bapak tahu bisa malah tambah sakit beliau."
"Hmm, bener juga. Baiklah kita tidur di atas."
"Kenapa mesti canggung kan sudah sering tidur bersama." gumam Xander.
"Apa kamu bilang barusan? Aku nggak dengar."
"Nggak apa - apa. Ayo kita tidur, aku capek."
Kamisha naik ke atas tempat tidur. Karena kamar tidur miliknya kecil jadi tempat tidurnya tidak bisa di tengah dan harus mepet ke tembok. Kamisha memilih tidur di pojok karena memang dari dulu sudah terbiasa seperti itu.
__ADS_1
"Xander."
"Hmm..."
"Terima kasih sudah mau menengok bapak."
"Ya."
"Selamat malam." ucap Kamisha sebelum memajamkan matanya. Betul kata bapak aroma tubuh Xander sungguh ajaib. Begitu mencium aromanya, ia bisa langsung tertidur dengan pulas.
Xander melirik ke arah Kamisha. Ia masih berusaha menidurkan matanya karena miliknya yang ada di bawah justru terbangun ketika berdekatan dengan Kamisha.
Gila, aku justru ingin bercinta dengannya. Mungkin kalau bercinta di tempat tidur seperti ini sangat mengasyikkan pikir Xander yang pikirannya berfantasi kemana - mana. Ia sibuk menidurkan lagi milik pribadinya. Tarik napas panjang dan di keluarkan pelan - pelan. Mau ke kamar mandi buat mandi air dingin harus di pikir dua kali kalau Tokek nya masih ada di sana tidak lucu kan dia teriak - teriak ketakutan.
Sabar... sabar... ada saatnya nanti. Sabar... sabar...
"Sha." panggil Xander. Tapi tidak ada jawaban dari Kamisha. "Kamu sudah tidur?"
Hening hanya suara jangkrik yang menyahut. Ah cepat sekali kamu tidur, apa benar kamu sebenarnya sudah terbiasa dengan aromaku batin Xander. Dipandangi wajah istrinya itu yang tenang dan damai. Xander menarik tubuh Kamisha agar lebih dekat dengannya. Dan tanpa di duga tangan Kamisha melingkar di dadanya, memeluknya dengan erat.
Xander mencium kening istrinya dengan lembut dan ikut tertidur di sampingnya.
🍁🍁🍁🍁
Pagi ini Xander mandi tanpa drama Tokek seperti kemarin sore. Setelah sarapan dengan pecel dan tempe mendoan, seperti janji Kamisha mereka akan jalan - jalan.
Bapak sendiri sudah mulai banyak makannya. Sedangkan bulik Yanti sedikit bicara sejak kedatangan Kamisha. Mungkin akhirnya dia menyadari kalau sebenarnya Kamisha tidak seburuk yang dia duga.
"Naik sepeda bisa, kan?"
"Bisa."
"Nih."
"Cuma satu?"
"Iya adanya ya sepeda kuno ini."
"Kamu bonceng dimana? sepedanya tidak ada boncengan di belakang."
"Hmmm di depan." jawab Kamisha malu.
Xander segera mengendarai takut kalau Kamisha berubah pikiran dan Kamisha duduk di palang depan sepeda.
"Apa nama sepeda ini?"
"Ini namanya sepeda onthel, kalau orang sini bilang sepeda kebo atau sepeda onta."
"Jalan kemana?"
"Lurus saja, kita ke sawahnya bapak dulu."
Sepanjang perjalanan mereka banyak di sapa oleh warga. Karena Kamisha dulu termasuk orang yang ramah. Sekarang di tambah ada Xander yang memang tidak bisa dipungkiri memiliki wajah yang tampan. Banyak ibu - ibu yang senyam senyum melihat Xander.
"Benar kan kataku, mereka pasti mengagumi ketampananku."
"Narsis lagi, sudah konsentrasi ngayuh sepeda saja. Mata jangan kemana - mana."
"Cemburu, ya?"
Xander terkekeh mendengar jawaban Kamisha. Suasana di desa sangat menyenangkan jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan padatnya pekerjaan.
"Disini enak ya. Bagaimana kalau kita liburan disini dulu?"
"Axel gimana, katamu dia merindukanku."
"E__ e__ " tiba - tiba saja Xander bingung menjawab. Aku yang sebenarnya merindukanmu batin Xander dalam hati.
"Gimana?" Kamisha mengulangi pertanyaannya lagi
"Kan sudah ada mama yang jaga." jawab Xander. "Apalagi aku juga belum beli oleh - oleh buat mama dan Axel."
"Baiklah kalau begitu." jawab Kamisha. "Ayo... kayuhnya yang kuat dong. Mana tenagamu?"
"Baiklah nyonya Xander, kamu akan melihat kekuatan suamimu yang sebenarnya." ucap Xander. Ia mengayuh sepeda dengan kekuatan penuh. Sepeda melaju dengan cepat
"Aaaccchhh..." teriak Kamisha senang.
Tak berapa lama mereka sampai di sawah milik pak Amir. Walaupun tidak terlalu besar tapi itu bisa mencukupi kebutuhan sehari - hari pak Amir.
"Sawah bapak kecil ya?"
"Iya tapi aku bersyukur karena bapak membesarkan kami dari kerja keras di sawah. Waktu mbak Ayu kena masalah. Aku yang bersikukuh untuk tidak menjual sawah ini. Entahlah seperti ada ikatan batin yang kuat, sayang kalau dijual."
"Kenapa?"
"Banyak kenanganku dengan ibu di sini. Setiap pulang sekolah kami bertiga pasti makan siangnya di sini bersama dengan petani yang lain. Ibu yang selalu memasak dan di bawa kesini. Rasa kebersamaan itu yang tidak bisa aku lupakan." Kamisha bercerita sambil menerawang jauh. Matanya sedikit berkaca - kaca. "Ayo kita sepeda lagi, akan aku tunjukkan dimana dulu aku sekolah."
Mereka kembali mengendarai sepeda menuju sekolahnya Kamisha. Sekolah itu sudah mengalami banyak perubahan lebih maju dan lebih banyak muridnya.
"Kau dulu sekolah dimana, Xander?"
"Hmm, waktu itu kami masih tinggal di Itali. Sebenarnya hampir sama juga sih dengan suasana disini. Banyak tumbuhan dan pohon - pohon. Yang membedakan hanya bahasa dan budaya."
"Oya ada pohon mangga yang dulu sering aku panjat. Yuk aku tunjukkan, siapa tahu sedang berbuah."
Kamisha menarik tangan Xander agar mengikutinya. Xander senang dengan tangan Kamisha yang hangat. Pantas saja Axel bisa sangat dekat dengan Kamisha. Karena ia tipe keibuan dan segala sesuatu dia lakukan dari hati dan tulus.
"Yah, buahnya belum matang." ucap Kamisha kecewa.
"Kita beli di supermaket saja."
"Kurang puas. Kalau manjat dan ambil sendiri rasanya lebih manis."
"Apa perlu aku tanam buah mangga di rumah?"
"Hahahah.. tidak perlu. Nanti yang ada Axel yang manjat, malah repot aku." jawab Kamisha. "Eh sudah hampir siang kita pulang yuk, sekalian nanti beli lauk saja. Kamu mau makan apa?"
"Gudeg sepertinya enak." pinta Xander.
"Oke, aku aku tunjukkan Gudeg yang enak." ajak Kamisha. Tanpa sadar ia menggandeng tangan Xander lagi. Yang dia lakukan sederhana tapi indah.
Setelah sampai di warung Gudeg. Xander menghabiskan dua piring. Kamisha senang melihatnya. Tak lupa ia membungkuskan untuk pak Amir di rumah.
"Setelah ini kita kemana?"
__ADS_1
"Kita pulang, bapak kepingin di buatkan Jadah." jawab Kamisha.
"Makanan apalagi itu?"
"Dari ketan yang di beri kelapa terus di tumbuk." jawab Kamisha. Ia memegang lengan Xander dan berkata. "Sepertinya lenganmu yang kuat ini sangat berguna."
"Maksudmu?"
"Sudah nanti aku beritahu prosesnya."
Mereka mengendarai sepeda lagi arah pulang. Walaupun saat ini menjelang siang tapi terasa tidak panas karena udara di pedesaan sangat sejuk.
"Sha."
"Hmm."
"Aku perhatikan sepertinya rumah itu paling bagus di sini."
"Ya, itu rumah mbah Wijaya, kakeknya Harvey."
"Kenapa Harvey tidak pernah menceritakan keluarganya di Jogja?"
"Yang aku dengar karena ayahnya Harvey menikah dengan orang yang bukan keturunan ningrat."
"Aku tidak menyangka kau suka bergosip."
"Aku memanh tidak suka bergosip." Kamisha memukul lengan Xander. "Aku terpaksa mencari informasi begitu tahu kalau Harvey ayahnya Axel." jelas Kamisha. "Setelah tahu ceritanya seperti itu, entah kenapa aku semakin berat untuk melepaskan Axel untuk mereka asuh. Apapun yang terjadi Axel tidak boleh pergi dari sisiku."
"Tenang saja, sekarang kau punya aku. Aku pria yang bisa diandalkan."
"Aku tahu, terima kasih." ucap Kamisha. Tiba - tiba. "Xander berhenti! stop!"
"Kenapa?"
"Itu ada mbah Wijaya di luar, tidak enak kalau aku tidak menyapanya."
"Baiklah."
Xander dan Kamisha turun dari sepedanya. Mereka berjalan kaki sambil menuntun sepeda. Tampak seorang laki - laki yang sudah lanjut usia, berambut putih sedang ada di halaman berbicara dengan pekerjanya. Walaupun sudah tua, aura wibawa mbah Wijaya tidak meredup.
"Monggo mbah." sapa Kamisha.
"Nduk Misha."
"Njih mbah." jawab Kamisha.
"Sopo kuwi nduk (siapa itu)?" tanya mbah wijaya sambil menatap ke arah Xander.
"Suami saya mbah."
"Bojomu? entuk wong sugih kowe saiki (Suamimu? dapat orang kaya kamu sekarang)" tanya mbaj Wijaya. Orang awam saja pasti akan tahu kalau Xander orang kaya.
"Ini Xander, mbah. Dia itu saudara sepupunya Zeline istrinya Harvey."
"Oh, awakke dewe dadi dulur saiki (oh, kita jadi kerabat sekarang). Pinter kowe nggolek bojo, bejo awakmu nduk (Pintar kamu cari suami, beruntung dirimu)."
"Alhamdulillah, mbah. Kalau begitu saya pareng rumiyen (permisi dulu). Monggo mbah." Kamisha pamit karena sejujurnya ia malas untuk bicara panjang lebar dengan mbah Wijaya. Mengingat perlakuan keluarga itu terhadap bapaknya. Tapi ya sudahlah toh itu sudah berlalu.
"Kamu seperti menghindar darinya."
"Banyak kejadian masa lalu yang terkadang membuat kita perlu menjaga jarak dengan orang itu."
"Apa dia pernah menyakiti keluargamu?"
"Yah, dulu waktu masalah mbak Ayu dan Kyara. Tapi sudahlah toh itu sudah masa lalu."
Setelah sampai rumah, Kamisha segera menyiapkan makan siang buat bapak. Dan juga menanak beras ketan untuk membuat Jadah. Setelah ketannya matang Kamisha segera menaruhnya dalam lumpang batu yang cukup besar.
"Nah sekarang kamu tumbuk hingga ketannya halus."
"Seperti membuat mochi."
"Iya, mirip."
"Pake apa?"
"Pake alu, lumayan berat sih."
Dengan sekuat tenaga Xander menumbuknya hingga halus. Tidak rugi dia ada disini, ternyata ada manfaatnya juga.
Setelah penuh perjuangan akhirnya Jadah itu selesai dan bisa di nikmati sambil minum kopi.
"Hmm, rasanya gurih." puji Xander
"Gurihnya itu di dapat dari kelapa parutnya nak Xander."
"Iya pak, ini pertama kalinya saya makan."
"Kalau di Bandung biasanya ini di bakar terus di kasih oncom. Kalau disini lebih ke di makan biasa atau di goreng."
"Mama pasti suka makanan seperti ini." ucap Xander.
"Iya tapi kalau buat besok - besok sudah basi. Nanti aku buatkan sendiri kalau sudah sampai Bandung." jawab Kamisha. "Oya besok kita beli oleh - oleh apa buat mama?"
"Kalau batik bagaimana?"
"Kita nyarinya ke rumah - rumah aja. Dijamin keasliannya."
"Terserah kamu."
Mereka menikmati makanan sambil bersantai sore di ruang tengah.
Tok... tok... tok... suara pintu di ketuk
"Ajeng, tolong buka pintunya."
"Njih mbak."
Ajeng segera membuka pintu depan dan terkejutlah dengan tamu yang datang.
"Siapa Jeng?" tanya Kamisha. Tidak ada jawaban dari Ajeng.
"Aku, mbak." jawab tamu itu dan terkejutlah Kamisha.
"Kyara."
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁