Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Tinggal Bersama


__ADS_3

Mbak Ayu di nyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit karena benturan di kepala akibat kecelakaan yang membuatnya meninggal.


Xander selalu berada di samping Kamisha. Ia berusaha menguatkan Kamisha yang shock berat. Pak Amir yang sudah usia senja hanya bisa meratapi kepergian putri tertuanya. Ia berusaha berbesar hati dan mengikhlaskan.


Setelah jenazah di bersihkan bisa segara di bawa pulang. Alex sudah mengurus semua biaya di rumah sakit.


Banyak yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa pada pak Amir. Kakak kedua Kamisha tidak bisa datang karena terkait pekerjaannya di Medan. Mereka hanya buruh dan sulit mendapat ijin dari perusahaan. Kamisha memaklumi kesulitan kakak keduanya itu.


Mama Attalia dan Axel baru saja datang. Mama Attalia banyak membantu Kamisha menerima tamu yang datang melayat. Pak Amir harus istirahat karena kondisi tubuhnya yang lemah.


"Sha istirahatlah dulu."


"Nanti saja, Ma."


"Xander sudah pulang dari pemakaman?"


"Belum, Ma. Jarak pemakaman dengan rumah memang agak jauh." jawab Kamisha. Ia mulai membersihkan beberapa sampah yang berserakan di rumahnya.


"Sini mbak aku bantu?" Kyara menawarkan diri.


Kamisha menyerahkan sapu itu pada Kyara. Entah kenapa tiba - tiba kepalanya pusing kembali. Dan bruukk!


"Mbak Misha!" teriak Kyara.


Mama Attalia dan beberapa warga yang masih ada disitu segera membawa Kamisha masuk ke dalam kamar.


"Ada minyak angin?" tanya mama Attalia.


"Ada sebentar." Kyara segera mencari minyak angin di almari dekat ruang makan. Setelah ketemu langsung diserahkan ke mama Attalia. "Ini."


"Kamu ini kenapa, Sha? kenapa tubuhmu dingin begini." dengan lembut mama Attalia menggosok tubuh Kamisha dengan minyak angin. "Kyara tolong ambilkan selimut."


"Baik tante."


"Oma apa yang terjadi dengan mommy?"


"Mommy mu pingsan sayang."


"Kenapa pingsan?"


"Mungkin kecapekan, semalam mommy mu tidak tidur."


Kyara datang membawa selimut yang agak tebal. "Ini tante."


"Terima kasih Kyara." ucap mama Attalia. Axel segera membantu mama Attalia menyelimuti Kamisha.


"Kapan mommy bangun?"


"Oma tidak tahu, kau berdoa saja agar mommy mu segera bangun."


Dari luar tampak Xander datang tergopoh - gopoh setelah tahu kamisha pingsan.


"Apa yang terjadi, ma?"


"Istrimu pingsan. Mungkin kecapekan, semalam dia tidak tidur."


Xander menggenggam tangan Kamisha yang dingin. Ia menciumnya beberapa kali. Tampak kecemasan terlihat di wajahnya.


"Kita bawa ke rumah sakit."


"Baik mama akan panggil Alex untuk menyiapkan mobil."


Tiba - tiba Kamisha mulai membuka matanya "Xander." ucapnya lirih.


"Sayang, apa yang kamu rasakan? kita ke rumah sakit ya?"


Kamisha mengelengkan kepalanya lemah. "Tidak usah, aku tidak apa - apa."


"Tapi kamu habis pingsan sayang."


"Aku hanya lelah Xander. Kau temani saja aku tidur."


"Hmm, ayo Axel kita keluar sudah ada daddymu yang merawat mommy." ajak mama Attalia. "Ayo Kyara kita tinggalkan mereka berdua."


"Baik tante."


Mereka semua keluar tinggallah di dalam Xander dan Kamisha.


"Mau minum?"


Kamisha memgangguk - angguk. Dengan perlahan Xander mendudukkan Kamisha dan memberinya segelas air.


"Aku ambilkan makan."


"Nanti saja." cegah Kamisha.


"Kamu belum makan sejak tadi malam sayang. Makanlah sedikit agar badanmu tidak lemas."


"Ya aku akan makan, tapi nanti saja. Aku tidak mau sendiri Xander, jangan tinggalkan aku." Kamisha mulai terisak menangis.


Xander dengan lembut memeluk istrinya yang terlihat sangat rapuh. Ia terbiasa melihat Kamisha sebagai sosok perempuan yang tangguh dan tegar. Entah kenapa saat ini ia terlihat rapuh.


"Mati, hidup dan jodoh semua sudah diatur oleh tuhan sayang. Kita tidak bisa menyangkal hal itu. Apa yang terjadi dengan mbak Ayu sudah takdir dari yang diatas. Kita hanya bisa mendoakan agar semua amal mbak Ayu diterima olehNya."


"Terima kasih sayang, kau selalu ada untukku, selalu menguatkanku."


"Apa yang membuatmu bersedih sayang?"


"Banyak." Kamisha menarik napas panjang. "Aku belum sempat memperbaiki hubunganku dengan mbak Ayu yang sempat renggang akibat aku menikah denganmu. Dan juga pesan terakhir dari mbak Ayu."


"Apa itu?"


"Dia memintaku menjaga Kyara. Kau tahu kan beberapa waktu yang lalu aku menjaganya dan ternyata gagal. Aku takut jika aku tidak bisa memenuhi pesan terakhir almarhum."


"Yang pasti kau sudah berusaha, aku yakin mbak Ayu tidak akan menyalahkanmu. Kau sudah berusaha semampumu sayang."


"Benarkah seperti itu?"


"Ya aku yakin itu. Apalagi Kyara itu sudah dewasa. Kita juga tidak bisa memaksakan kehendak kita. Dia sudah bisa menentukan masa depannya sendiri. Maksud menjaga dari pesan mbak Ayu artinya tidak seberat yang ada dalam bayanganmu."


"Aku hanya takut Xander."


"Kau tenang saja sayang. Aku suamimu tentu saja itu juga menjadi tanggung jawabku, aku sangat mencintaimu sayang. Kau bisa dengan sesuka hatimu menyerahkan semua masalahmu padaku."


Kamisha memeluk erat tubuh suaminya. Pelukan itu tidak seerat biasanya karena tubuh lemahnya.


"Xander aku ingin tidur. Peluk aku." pinta Kamisha manja.


Xander segera naik ke atas tempat tidur. Memberikan lengan dan dadanya untuk Kamisha.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan menjagamu disini."


"Xander." panggil Kamisha lirih.


"Hmm."


"Aku mencintaimu."


"Aku tahu, aku lebih mencintaimu." Xander mengecup pucuk kepala Kamisha dengan lembut. Kamisha segera tertidur di dalam pelukan suaminya.


🌸🌸🌸🌸


Tak terasa sudah lebih dari tiga hari Kamisha ada di Jogja. Xander pun harus bolak balik Jogja Bandung demi istrinya.


"Sha."


"Njih pak."


"Kamu tidak pulang? Kasihan suamimu."


"Misha juga merasa seperti itu. Tapi apa bapak sudah bisa Misha tinggal sendiri?"


"Bapak sudah tidak apa - apa. Pulanglah nduk."


Kamisha hanya diam. Ia kemudian duduk bersimpuh dan meletakkan kepalanya di pangkuan pak Amir. Dengan lembut pak Amir mengusap kepala putri bungsunya itu.


"Kamisha minta maaf pak, kalau selama ini kurang perhatian terhadap bapak dan keluarga."


"Ini semua bukan salahmu, nduk. Ini salah bapak yang sebagai kepala keluarga telah menghancurkan keluarga ini sendiri. Janganlah ini menjadi beban dalam hidupmu. Sekarang kau sudah bersuami dan suamimu itu pria yang mencintaimu, yang baik dan bertanggung jawab. Bapak tidak ingin hanya karena masalah ini akan membebani rumah tangga kalian. Bapak ingin kamu bahagia nduk."


"Aku hanya merasa belum sempat memperbaiki hubungan keluarga kita, mbak Ayu malah sudah meninggal."


"Bapak tahu kamu merasa menyesal. Tapi itu semua sudah diatur oleh tuhan. Beberapa hari sebelum mbak mu meninggal, ia sempat berbicara bahwa ia sangat merasa bersalah terhadapmu."


"Merasa bersalah? soal apa pak?"


"Banyak. Soal Axel, soal Kyara dan juga soal hutang - hutangnya."


"Aku sudah ikhlaskan itu semua pak."


"Kalau kamu sudah ikhlas, bapak minta jangan terbebani dengan ini semua. Kita mulai dari awal lagi. Kalau soal Kyara itu seharusnya bukan tanggung jawabmu. Itu tanggung jawab bapak sebagai kakeknya."


"Tapi pesan mbak Ayu pak."


"Jangan menelan mentah - mentah pesan mbakyu mu itu. Maksud mbakyu mu menjaga itu tidak harus semuanya kamu yang bertanggung jawab. Kyara itu sudah dewasa, ia bisa memikirkan masa depannya sendiri. Maksud menjaga disini kamu memberi doa, support, dukungan, nasehat untuk Kyara."


"Xander juga berkata seperti itu pak."


"Nah suamimu saja tahu, jadi apalagi yang membuatmu risau. Biarlah semuanya berjalan sesuai jalannya. Kita manusia hanya bisa berencana."


"Baiklah kalau begitu, aku siap - siap dulu pak. Nanti sore aku pulang ke Bandung."


"Yah, bapak senang melihatmu sudah seperti biasa lagi. Kamu anak bapak yang paling tegar Misha."


Kamisha masuk ke dalam kamar. Ia memasukkan baju - bajunya ke dalam koper. Hatinya sudah lega ketika ia berbicara dari hati ke hati dengan bapaknya. Ia sekarang belajar untuk ikhlas menerima segala yang tuhan rencanakan untuk hidupnya.


"Mbak Misha mau pulang?" tanya Kyara dari belakang.


"Iya, aku kasihan sama Xander harus bolak balik Bandung Jogja. Dan juga Axel masih butuh aku."


"Baiklah mungkin dua hari lagi aku akan pulang. Aku mau menemani mbah Amir dulu."


"Ya mbak."


Kamisha melanjutkan menata bajunya lagi. Ia mengatakan pada Xander kalau dia mau pulang. Jadi tidak perlu datang ke Jogja. Kamisha bisa merasakan kalau suaminya sangat senang dengan kepulangannya. Ia tahu Xander sangat merindukannya.


🌸🌸🌸🌸


Kamisha sudah kembali ke aktivitasnya seperti biasa lagi. Dengan berjalannya waktu ia sudah bisa menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia sangat beruntung memiliki suami yang pengertian seperti Xander.


"Misha, hari ini aku akan pulang terlambat."


"Ada acara apa?"


"Ada rapat dengan klien, kebetulan tempatnya agak jauh."


"Dengan siapa kau berangkat?"


"Alex."


"Yang lain?"


"Tidak ada. Hanya kami berdua." jawab Xander. "Tumben kau bertanya sedetail itu. Kenapa?


"Ada wanitanya kah?" gumam Kamisha dengan suara lirih tapi Xander bisa mendengar.


"Hahahahhh.. kau cemburu."


"Memang ada?"


"Tidak ada sayang. Aku berani bersumpah, hanya ada aku dan Alex."


Mendengar jawaban suaminya wajah Kamisha berubah senang. Ia tersenyum manis.


Kamisha membantu suaminya memasukkan kancing ke dalam lubang kemeja. Sambil beberapa kali terlihat memainkan jarinya di dada Xander.


"Huh padahal aku kangen padamu." wajah Kamisha berubah cemberut.


"Ayolah sayang, kau jangan seperti itu."


"Kau sudah tidak menginginkan aku lagi?"


"Tidak sayang, aku selalu menginginkanmu." Xander mencium bibir Kamisha sekilas. "Kau tahu aku sangat mencintaimu."


"Bohong, nyatanya kau pergi."


"Aku bekerja sayang, tidak biasanya kau manja seperti ini."


"Ya karena aku ingin berlama - lama denganmu. Kau tahu kan kita beberapa hari yang lalu berjauhan."


Xander tersenyum, ia tahu istrinya itu ingin bercinta dengannya tapi malu untuk mengungkapkannya. Sikapnya yang seperti anak kecil membuat Xander ingin lebih lama mengerjainya.


"Maaf sayang aku harus kerja." jawab Xander. "Aku akan berusaha pulang cepat." Xander bergegas mengambil tas kerjanya.


"Xander aku___."


"Apa? cepat katakan aku terburu - buru Misha."


"Hmm aku___."

__ADS_1


"Ya sudah kamu katakan nanti di telepon ya. Aku pergi dulu."


"Sayang aku ingin bercinta denganmu sekarang juga!" teriak Kamisha yang membuat Xander ingin tertawa. Sikap pemalu Kamisha itu membuatnya semakin senang menggoda istrinya.


Xander membuang tas dan membuka kancing bajunya. Ia berbalik menghampiri Kamisha.


"Mmau apa kamu?"


"Katanya kau ingin bercinta denganku." Xander mengerlingkan matanya.


"Jadi kau menggodaku!" teriak Kamisha kesal.


"Hmm, ya sudah kalau tidak mau. Aku akan kembali ke kantor."


"Jangan!" dengan buru - buru Kamisha mencegahnya. "Aku mau." jawabnya tertunduk malu.


Xander mendekati istrinya hanya sekali angkat ia berhasil meggendong istrinya. Dengan spontan Kamisha mengaitkan kakinya di pinggang Xander.


"Nikmatilah tubuhku sayang." Xander mulai menciumi istrinya. Dengan perlahan ia meletakkan istrinya di atas tempat tidur. Kamisha tersenyum melihat suami yang mulai memanjakannya. Dan yang pasti lama. Selamat menunggu Alex..


🌸🌸🌸🌸


Hari ini Kamisha mencari Kyara di ruangannya. Informasi dari teman satu timnya, Kyara sedang mengurus kontrakkannya yang sedang bermasalah. Dengan segera Kamisha meminta alamat di mana Kyara tinggal.


Ia tampak nenelepon seseorang.


"Sof, temani aku sebentar."


Kamisha membereskan beberapa berkas dimejanya. Ia mematikan komputernya. "Mau kemana, Sha?"


"Aku ada urusan sebentar."


"Hati - hati."


"Ya, aku pergi dulu."


Kamisha bergegas menuju ke lobby dan Sofi sudah menunggunya di sana. Tak lupa ia mengirim pesan pada suaminya kalau ia pergi dengan Sofi.


"Sudah ijin Xander."


"Sudah."


"Kita mau kemana?"


"Ke alamat ini." Kamisha menyodorkan secarik kertas pada Sofi.


"Ada urusan apa kamu ke sana? ini kompleks perumahan, Sha."


"Menemui Kyara, sepertinya ia ada masalah."


"Heh, Kyara lagi Kyara lagi! Sudah berapa masalah yang di timbulkan olehnya! aku kok heran kamu masih berbaik hati dengannya! kalau aku jadi kamu sudah aku tendang dia dari hidupku."


"Jangan seperti itu, ia berjanji akan berubah. Dan aku sendiri melihat perubahan itu."


"Ini baru sebentar, Sha. Jangan - jangan sebentar lagi berubah ke sifat aslinya. Kau terlalu baik, jadi sering di manfaatkan orang."


"Tapi kali ini ia benar - benar berubah, Sof. Nyatanya sekarang dia mau antar jemput Axel."


"Ya sudahlah kalau itu keyakinanmu. Yang penting aku sudah memperingatkan. Mudah - mudahan saja ia seperti perkataanmu benar - benar berubah."


Setelah hampir tiga puluh menit mereka akhirnya sampai juga ke tempat kontrakannya Kyara. Terlihat Kyara sedang mengeluarkan beberapa barang dan kopernya.


Kamisha bergegas turun dan menghampirinya. "Apa yang terjadi, Ra?"


"Mbak Misha, bagaimana mbak bisa ada di sini?"


"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah apa yang terjadi dengan dirimu?"


"Aku diusir dari kontrakan."


"Alasannya?"


"Aku beberapa waktu yang lalu tertipu oleh teman kuliah ku yang sempat aku ceritakan ke mbak."


"Teman yang bawa pengaruh buruk buatmu?"


Kyara mengangguk pelan. "Ia awalnya berniat mengajakku bekerja sama menanam saham pada suatu perusahaan. Tapi ternyata perusahaan itu fiktif. Aku rugi hingga puluhan juta, uang tabunganku juga ikut habis."


"Kau di usir dari kontrakan karena tidak bisa bayar?"


"Iya mbak, aku sudah tidak punya uang lagi." Kyara mulai terisak.


"Tenanglah, jangan menangis. Mbak akan berusaha membantumu." Kamisha memeluk Kyara berusaha menenangkannya.


"Hei Kyara, kamu tidak sedang memainkan sebuah sinetron untuk mengelabuhi bulikmu lagi kan?"


"Maksud mbak Sofi apa?" Kyara menatap Sofi dengan tatapan nanar.


"Yah siapa tahu kamu sedang berbohong seperti biasanya." cibir Sofi.


"Sof sudah! Kyara sedang kena musibah, kita harus membantunya." ucap Kamisha.


"Baiklah aku percaya padamu kali ini, tapi jika kau berani membohongi sahabatku yang berhati tulus ini aku pastikan aku orang pertama yang akan menghajarmu."


"Aku berani bersumpah mbak Sofi, aku sudah berubah."


"Sofi, sudah. Tidak perlu berdebat lagi masalah itu." lerai Kamisha.


"Mbak Misha, dimana aku akan tinggal?" Kyara kembali terisak.


"Tenang.. tenang mbak cari solusinya."


"Bisakah untuk sementara aku tinggal dengan mbak Misha? Siapa lagi saudaraku di Bandung ini selain mbak Misha."


"Tidak bisa!" sahut Sofi. "Enak saja mau tinggal di rumah orang". Sofi tampak emosi. "Suruh saja dia menempati rumah lamamu."


"Sof, tenang dulu." ucap Kamisha. Sebenarnya ia juga terkejut dengan permintaan Kyara. Tapi ia jadi teringat pesan almarhum mbak Ayu untuk menjaga Kyara. "Rumah lama ku sudah aku kontrakkan selama satu tahun ke depan." jawab Kamisha. "Kyara, untuk tinggal di rumah mbak yang sekarang tidak semudah itu. Mbak harus minta ijin dengan Xander dan mama Attalia. Bagaimana kalau kau sementara tinggal di hotel dulu. Tunggu sampai mbak dapat ijin dari Xander."


"Baiklah mbak, aku nurut perintah mbak Misha. Maaf aku sudah merepotkan mbak."


"Tidak apa - apa, kita kan keluarga." Kamisha membelai rambut Kyara. "Sekarang masukkan koper dan barang - barangmu ke mobil. Aku akan mengantarmu ke hotel."


"Baik, terima kasih mbak."


"Sof bantu aku."


"Nggak! dia kan punya tangan, biar dia sendiri memasukkannya dalam mobil. Kita sudah bantu banyak, masak masalah sepele seperti itu harus kita bantu juga!" Sofi masih emosi dengan keputusan Kamisha. Ia masih sedikit curiga dengan perubahan Kyara yang begitu tiba - tiba. Awas saja kalau kau menyakiti sahabatku lagi ucap Sofi dalam hati, ia membanting pintu mobil karena kesal.


Kamisha hanya menarik napas panjang melihat sahabatnya itu. Ia tahu Sofi memang orang yang apa adanya dan ceplas ceplos. Semua itu ia lakukan demi membelanya. Tapi apa boleh buat Kyara keponakannya sedang tertimpa musibah. Kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan menolongnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2