
Malam yang dingin hingga terasa menusuk tulang, Xander dan Harvey pulang kembali ke Bandung. Di Tasikmalaya ia tidak menemukan Rani. Mereka hanya bertemu dengan orang tuanya. Melihat rumah Rani di Tasikmalaya memang jauh dari kata layak, pantas saja untuk orang yang terbiasa berfoya - foya pasti tidak akan betah tinggal dalam himpitan ekonomi seperti itu.
Perjalanan mereka tidak sia - sia, mereka mendapat alamat Rani yang berada di Bandung. Malam itu juga mereka harus menemukan keberadaan Rani, agar masalah ini sudah selesai.
Banyak sekali masalah yang harus diselesaikan oleh Xander. Masalah Harvey belum juga masalah Kamisha. Semua sudah menemukan titik temu. Ia berjanji setelah semuanya selesai mereka akan pergi berlibur.
"Sudah dapat alamatnya Alex?"
"Ini sudah betul pak, Desa Cibiru Hilir kecamatan Cileunyi."
"Tanya saja sama pengurus RT nya."
"Tapi ini sudah malam, pak. Ini sudah jam sebelas malam."
"Ah kita sudah sampai disini, kau cari bagaimana caranya menemukan rumah itu. Aku ingin masalah Harvey selesai malam ini juga."
"Baik pak."
Alex melakukan panggilan ke beberapa orang terdekatnya. Dan___
"Saya sudah bisa menghubungi RT disini. Sebentar lagi keluar pak."
"Kerja bagus Alex."
Tak lama kemudian datanglah dua orang pria menghampiri mobil mereka.
"Mungkin itu pak RT nya, mari pak." Alex membukakan pintu untuk Xander dan Harvey.
"Wilujeng wengi (Selamat malam), pak Alex ya?"
"Iya betul."
"Saya pak Cecep RT disini dan ini Mamat dia seksi keamanan. Naha kuring tiasa ngabantosan anjeun (Ada yang bisa saya bantu)?"
"Perkenalkan ini atasan saya, pak Xander dan ini pak Harvey. Kami kemari karena ingin mencari seseorang."
"Oh, tiasa (bisa).. tiasa (bisa). Ada fotonya pak?"
"Ada, sebentar." Alex membuka handphone nya dan memperlihatkan sebuah foto pada pak Cecep.
"Eh kayaknya bukan orang sini?"
"Memang bukan orang sini, aslinya dari Tasikmalaya namanya Rani."
"Eh pak Cecep ini kan pacarnya si Ujang yang sering nginep di rumahnya." ucap orang yang bernama Mamat.
"Iya ya.. mirip.'
"Bukan mirip, ini mah orang yang sama."
"Pak Mamat tahu rumah Ujang?" tanya Xander.
"Tahu pak, cuma kalo jam segini dia masih kerja."
"Kerja? kerja dimana?"
"Kurang tahu saya pak, yang saya tahu pulangnya sekitar jam 3 pagi."
"Bisa antar kami ke rumahnya, nanti kami akan tunggu di mobil."
"Baik pak, mari."
Mereka mengikuti Cecep dan Mamat ke rumah Ujang. Hanya memakan waktu sepuluh menit mereka sudah sampi di sebuah rumah kecil bercat hijau. Rumah itu tampak gelap pertanda bahwa yang punya rumah pergi.
"Pak cecep dan pak Mmat pulang saja, Ujang akan kami tunggu disini."
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa - apa silahkan saja hubungi kami."
"Baik pak, terima kasih" ucap Alex.
Sepeninggal Cecep dan Mamat, Xander dan Harvey masuk ke dalam mobil. Mereka menunggu kedatangan Ujang.
Saat ini keberuntungan sepertinya perpihak pada mereka pukul satu dini hari tampak Ujang berboncengan dengan seorang wanita berhenti di depan rumah.
"Pak, itu sepertinya Ujang." tunjuk Alex.
"Ah kamu benar, itu Rani."
Xander dan Harvey segera keluar dari mobil untuk bertemu mereka.
"Ujang." panggil Xander.
Pria itu menoleh begitu melihat Harvey dia lari menghindar, Alex dengan cepat mengejar. Hanya dengan hitungan waktu ia berhasil meringkusnya.
"Apa maksud kalian?!" teriak Rani. "Lepaskan Ujang!"
"Tidak tahu malu! kau masih bertanya apa maksud kami!"
"Harvey! kau tidak takut kalau foto itu aku kirim ke istrimu?" ancam Rani.
"Silahkan toh istriku sudah tahu! aku tidak takut pada ancamanmu."
"Kau masih ingat denganku Rani?" tanya Xander
Rani diam sambil memandang Xander "Kamu.. kamu.. suaminya Kamisha kan?"
"Ya dan yang pernah memenjarakan Rama mantan suamimu. Aku yakin kau tidak akan lupa."
"Kalian saling kenal?"
"Harvey saudaraku." jawab Xander
Rani tampak sangat terkejut
"Hei lepaskan!" Ujang teriak - teriak dan meronta - ronta.
"Kalian akan kami bawa ke kantor polisi."
"Kurang ajar! lepaskan! lepaskan!"
Alex memegang erat tangan Ujang. Dengan dibantu Harvey mereka berdua mengikat tangan Ujang.
Beberapa warga ada yang keluar karena keributan ini.
"Kalian telah melakukan penipuan." ucap Xander. "Dan aku pastikan kalian akan mendekam dipenjara."
Alex sudah menghubungi pihak berwajib dan menunggu kedatangan mereka. Ada juga pak Cecep dan Mamat di sana, mereka ke kantor polisi sebagai saksi.
"Syukurlah masalah ini sudah terselesaikan." Xander bersandar di samping mobil sambil melihat mobil patroli pihak kepolisian membawa Ujang dan Rani.
"Thank"s bro atas bantuannya."
__ADS_1
"Kau harusnya juga berterima kasih pada istriku."
"Misha? kenapa?"
"Tadi sore ia bertemu dengan Zeline."
"Benarkah, terus.. terus bagaimana?"
"Zeline sudah memaafkanmu, ia sudah menerima semua masa lalu termasuk Axel."
"Oh god, syukurlah." Harvey mengusap wajahnya.
"Pulanglah dia menunggumu di rumah."
"Ya tuhan aku ingin menangis."
"Buanglah sifat cengengmu itu. Oya satu lagi, Misha bilang setelah melihat Axel istrimu ingin memiliki anak dengan mu."
"Xander kau bercanda kan?"
"Kau kira aku ada bakat pelawak? sehingga hal penting seperti ini buat lelucon."
"Ayo kita pulang Xander." Harvey sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
"Oke.. oke.. ayo kita pulang. Kau kira aku tidak rindu Misha."
Urusan pemerasan yang dilakukan Ujang dan Rani di serahkan pada Alex, dua insan manusia yang sedang bucin terhadap istrinya segera pulang.
Xander tiba di rumah pukul tiga dini hari. Ia melihat Kamisha tidur di sofa ruang tengah menunggu kedatangannya.
Xander dengan lembut membelai istrinya. "Terima kasih sayang sudah mau menungguku pulang." bisiknya.
Dengan sisa tenaga Xander membawa istrinya naik ke atas masuk ke dalam kamar.
Jika tidak mengganggu tidurmu sudah aku pastikan kita bertempur malam ini sayang ucap Xander dalam hati. Ia memeluk Kamisha dan tertidur bersamanya.
🌸🌸🌸🌸
Tanpa terasa waktu penentuan telah tiba. Semua anggota tim dua hadir bersama dengan tim keuangan.
"Kenapa beberapa hari ini kau sulit dihubungi Misha?" tanya Laras
"Tenang saja."
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Norman.
"Baik,kamu juga tenang saja." jawab Kamisha.
"Siapa pelakunya?" tanyanya lagi.
"Sebentar lagi kamu juga akan tahu, maaf ya sudah membuat kalian khawatir.
Tampak kelegaan di wajah Norman setelah mendengar jawaban Khamisa. Sepertinya Kamisha tidak tahu, kalau dia tahu aku dibalik ini semua pasti reaksinya tidak akan seperti itu pikir Norman dalam hati.
Xander memasuki ruang rapat, suasana tampak tegang.
"Rapat kita mulai. Silahkan tim dua memberikan pernyataan."
"Terimakasih atas waktu yang pak Xander berikan pada tim kami untuk menemukan bukti - bukti mengenai banyaknya pengeluaran di tim kami."
Kamisha memberikan sebuah berkas pada Xander.
"Apa ini?"
"Maaf pihak kami tidak menuduh, semua berdasarkan bukti." jawab Nita
"Benarkah seperti itu?"
"Kau mencurigai kami!?" nada bicara Nita mulai tinggi
"Tenang! semuanya tenang! kita beri kesempatan tim dua menjelaskan."
"Di sini ada dua nota dan faktur yang sama - sama asli. Tapi itu hanya kelihatannya saja. Sebenarnya nota dan faktur itu berbeda." Kamisha menarik napas sebelum melanjutkan. "Laras memberikan nota yang sudah ditanda tangani akan tetapi sampai di bagian keuangan nota itu berbeda jumlahnya."
"Nota yang diberikan Laras ke kami ada tanda tangannya juga." bantah Nita.
"Baiklah mari kita lihat apakah tanda tangan itu sama."
Kamisha memperlihatkan dua buah tanda tangan Laras yang ada di nota dan faktur.
"Itu sama kok." ucap Nita.
"Ini memang terlihat sama, tapi ini bukan tanda tangan Laras. Lihat guratan yang berada di sisi ini." Kamisha menunjuk dan melingkari. "Ini yang membedakan." lanjutnya. "Saya sudah konsultasi kepada ahli dan menyatakan bahwa itu tanda tangan yang berbeda. Ini pernyataannya." Kamisha memberikan secarik kertas pada Xander.
Xander menerimanya. "Lantas siapa yang berani memalsukan tanda tangan Laras?"
"Mungkin Norman bisa menjelaskan?" Kamisha menoleh ke arah Norman. Sontak membuat norman terkejut.
"Apa maksudmu MIsha?"
"Kau yang memalsukan tanda tangan Laras bukan?"
"Kau jangan menuduh tanpa bukti!"
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau pandai memalsukan tanda tangan termasuk tanda tangan istrimu ketika mengajukan pinjaman ke kantor. Itu saja kamu sudah menyalahi aturan."
"Itu bukan bukti Misha!" Norman masih menyanggah.
"Oke, saya sudah menanyakan langsung pada beberapa toko dan pihak yang terkait dalam nota dan faktur. Menurut mereka bahwa ada orang yang meminta pembuatan nota rangkap dua dan orang itu adalah Norman. Pemilik toko dan pihak terkait sanggup bersaksi disini jika bapak mengijinkan."
"Brengsek kau Misha!" umpat Norman. Ia berdiri dan berusaha untuk memukul Kamisha tapi dengan sigap Xander menangkis pukulan itu.
"Jangan kau berani melukai Kamisha. Disini aku tidak hanya sebagai atasan tapi juga suaminya jika itu sudah menyangkut keselamatannya." Xander geram dan menatap tajam pada Norman. "Jangan sampai aku berbuat kejam dengan tidak hanya memecatmu tapi juga memasukkanmu ke dalam penjara." lanjutnya. "Norman! apa benar kau melakukan itu?!"
"Yah benar saya melakukan itu." Norman bersimpuh dilantai. Kepalanya tertunduk malu.
"Dan untuk Nita__." Kamisha melirik Nita. "Dia sudah bekerja sama dengan Norman."
"Kau jangan sembarangan ya."
"Laras sudah menyerahkan nota dan faktur itu, kami ada bukti bahwa kau yang menerima berkasnya. Dan sekarang terbukti nota itu dibuat ulang dan dipalsukan oleh Norman, Bagaimana bisa Norman melakukan itu tanpa bantuan orang dari pihak keuangan." Kamisha berhenti sejenak mengatur napasnya karena emosi. "Kau sudah berjanji pada tim kami untuk memberi waktu akan tetapi dengan segera kau melaporkan hal ini pada pak Xander sehingga Laras tidak ada waktu membela diri. Itu karena kau dibayar oleh Norman bukan?"
"Mana buktinya?"
"Kau lupa, beberapa hari sebelum nya pak Xander menambah beberapa CCTV di berbagai sudut dengan tujuan untuk keamanan. Mungkin kalian tidak tahu bahwa ketika Norman memberi kamu uang terekam oleh kamera CCTV yang baru."
"Nita!" bentak Xander. "Apa benar itu!?"
"PPak Xander saya bisa jelaskan."
"Benarkah itu!" teriak Xander lagi
__ADS_1
"Itu.. itu.. saya dipaksa Norman pak, saya diancam."
"Dasar wanita licik,. kau dengan sukarela menerima uangku!"
"Kau jangan menyeret ku dalam urusan ini! kau sendiri yang korupsi!"
"Sialan kau Nita!" Norman berdiri untuk mencekik leher Nita tapi dengan sigap di halau oleh Alex.
"Nita aku rasa kau tidak diancam oleh Norman, kalian partner. Ketika Norman mengajukan pinjaman ke kantor kau dengan leluasa memberinya padahal kau tahu yang tanda tanan itu bukan istri Norman, tapi Norman sendiri."
"Nita! mau mengelak kemana lagi!?"
NIta terduduk lemas, air matanya mengalir membasahi pipi.
"Maafkan saya pak, tolong beri saya kesempatan satu kali lagi." mohonnya.
"Kau tahu aku tidakmenyukai kejujuran. Tapi yang paling penting kalian sungguh tega memfitnah orang yang tidak bersalah."
"Kenapa tega kau melakukan itu Norman?" tanya Laras dengan mata berkaca - kaca. "Kita sudah bertahun - tahun menjadi rekan satu tim, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri."
"Maafkan aku Laras, aku butuh uang."
"Kalau kau butuh uang, kau bisa mengatakan padaku. Aku akan membantumu."
"Maaf." Norman tertunduk.
"Kalian sudah mengakui kejahatan yang kalian lakukan. Apakah ada orang lain yang terlibat?" tanya Xander. "Nita?"
"Saya tidak tahu karena selama ini saya hanya berhubungan dengan Norman."
"Norman?" Xander mangalihkan pandangannya pada Norman.
"Saya melakukan sendiri tanpa perintah orang lain karena himpitan ekonomi."
"Baik lah. Alex kau buat surat pemecatan pada mereka berdua."
"Baik pak."
"Rapat selesai, kalian bisa kembali bekerja seperti biasa. Good job Kamisha, Laras."
"Terima kasih pak." jawab mereka bersamaan.
"Misha aku ingin bicara sebentar."
"Baik pak."
Setelah semua pergi Kamisha segera memeluk Xander. "Terima kasih sayang kau sudah banyak membantuku." Kamisha menghujani Xander dengan ciuman -ciuman.
"Hanya inikah hadiah untukku."
"Kau ambil saja hadiahnya nanti waktu di rumah." Kamisha mengerlingkan matanya dengan nakal.
"Ya tuhan aku menginginkanmu sekarang. tapi hari ini jadwalku padat. Mungkin malam baru sampai rumah."
"Baiklah, aku tunggu kamu di rumah. Jaga kesehatan." Kamisha memberi ciuman yang hangat sebelum kembali ke ruangannya.
🌸🌸🌸🌸
Malam itu Xander segera menemui Kamisha di dalam kamarnya setelah selesai meeting dengan beberapa klien. Akan tetapi ada yang aneh, kamarnya tampak gelap.
"Misha." panggilnya. "Sayang kau ada di dalam?"
Sepi, tidak ada jawaban. Xander menyalakan lampu dan alangkah terkejutnya mendapati istrinya mengenakan lingerie warna hitam berada di atas tempat tidur.
"Wow. Beautiful." puji Xander.
"Kemarilah sayang, ayo ambil hadiahmu."
Xander melempar tasnya ke sembarang tempat, ia melepaskan dasinya dan naik ke atas tempat tidur.
"Aku bantu sayang." Kamisha melepas kancing baju Xander satu persatu. Dan melemparkan bajunya kesembarang tempat. Kamisha kemudian mendorong suaminya dan naik diatas tubuhnya. Dengan lembut ia bermain - main di dada Xander dengan lidahnya persis seperti kucing. Lenguhan Xander yang kali ini terdengar. Kamisha mengambil alih permainan.
Dengan menggunakan giginya ia melepas ikat pinggang suaminya.
"Sayang kau___." belum sampai Xander meneruskan perkataannya ia di buat berteriak keasyikan oleh kamisha "Aaacchh..!"
Kamisha sudah bermain - main dengan milik pribadi Xander yang memiliki ukuran luar biasa. Ia sangat menikmatinya seperti makan permen lilipop. Xander memejamkan mata menikmati permainan istrinya.
Setelah puas Kamisha kembali merangkak ke atas ia berusaha melakukan penyatuan. Permainan ia kendalikan. Tubuh Kamisha naik turun seperti naik kuda. Walaupun terlihat masih kikuk, Xander sangat menyukai permainan ini.
Lenguhan demi lenguhan terdengar dari mulut keduanya. Xander memainkan bukit kembar Kamisha, memutarnya dengan lembut. "Aaacchh..!" teriak Kamisha. Setelah beberapa lama mereka berdua mencapai puncaknya.
Kamisha mencium Xander dengan lembut. Ia mengatur napasnya. "Kau menyukainya sayang?"
"Sangat. Tapi setelah ini ganti aku yang mengendalikan permainan."
"Aaacchh Xander." Kamisha dengan pasrah mengikuti permainan suaminya lagi.
🌸🌸🌸🌸
Sementara itu di sebuah klub malam.
"Gilakau! kenapa kau menjebak Norman. Padahal kau juga menikmati uang itu."
"Diam kau Tina jangan ikut campur!"
"Kau tidak kasihan dengannya. Bagaimana ia akan menghidupi istri dan anaknya."
"Istri dan anaknya? atau menghidupimu?"
"Apa maksudmu?"
Kyara membuka handphone nya dan memperlihatkan sesuatu. Tampak mata Tina terbelalak lebar tak percaya. "Ddari mana kau dapat video itu?"
"Dari handphone mu."
"Kau tahu password handphane ku?"
"Kau sendiri yang memberitahunya."
"Ttega kau kyara. Aku begitu percaya padamu."
"Diam dan tutup mulutmu, kau tidak ingin video ini tersebar bukan. Bagaimana jadinya jika video ini sampai ke istri Norman? Dan juga alasan Norman mau melakukan penggelapan uang denganku juga demi menuruti hobi belanjamu yang gila itu. Kau tidak mau terseret dan dipecat kan?'"
"Sialan kau Kyara!"
"Hahahah... ikuti saja permainanku dan jangan banyak bicara."
"Kau betul - betul menakutkan."
"Keadaan yang membuatku seperti ini. Hidup ini keras Tina. Ingat itu."
__ADS_1
Kyara menenggak minumannya pikirannya menerawang jauh. Sial kau bisa lepas dari jebakanku mbak Misha. Kali ini aku pastikan tidak akan gagal ucap Kyara dalam hati. ia menggenggam erat gelas ditangannya sebelum meminumnya kembali.
🌸🌸🌸🌸