Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Ajang Pembuktian


__ADS_3

Beberapa hari ini tim satu dan tim dua hubungannya semakin memanas. Apalagi sikap Kyara pada Kamisha sangat acuh. Sampai dengan detik ini ia masih belum kembali ke rumah Kamisha dan memilih untuk kontrak rumah sendiri.


Xander juga masih bersikap acuh tak acuh dengan Kamisha. Ia bahkan lebih banyak diam ketika bertemu tidak seperti dulu yang sering bertengkar, komunikatif bahkan menggodanya.


Semua perubahan itu Kamisha terima sebagai konsekuensi atas kebohongannya. Terkadang ia berpikir seandainya dulu ia tidak mengikuti kemauan keponakannya itu. Awalnya ia berpikir demi melindungi keutuhan keluarganya. Tapi sayang sekali ia melakukan dengan cara yang salah, sehingga berakibat fatal untuk semuanya. Apa yang menurut kita baik belum tentu menurut orang lain juga baik.


"Sha, aku sama Norman ke perusahaan XX Garment dulu ya."


"Oke, kapan rencana mereka mau mengadakan acara di hotel ini?"


"Mungkin dua hari lagi."


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengecek quisioner pelanggan kita atas pelayanan hotel."


"Wah... wah... semangat betul tim ini. Tapi sayang dapat tamunya juga masih sedikit." tiba - tiba Tina anggota tim dua nyelonong ikut dalam pembicaraan mereka.


"Apa maksudmu ngomong begitu?" tanya Laras.


"Nggak ada maksud apa - apa, cuma kasihan saja. Sudah pontang panting kesana kemari pencapaiannya tidak sesuai dengan keinginan pak Xander."


"Siapa bilang tidak sesuai. Bukankah dirapat kemarin kamu dengar sendiri pak Xander memuji tim kami. Walaupun tamu kami tidak begitu banyak tapi selalu memenuhi target dan tidak mengalami kemunduran justru malah kemajuan. Sedangkan tim kalian mengalami kemunduran target dengan bulan lalu. Ini yang dinamakan berhasil?"


"Oh, ngajak bertengkar kamu!" ucap Tina emosi. "Ayo sini aku ladeni!"


"Ayo!" tantang Laras tidak mau kalah.


"Eh sudah... sudah... nggak usah bertengkar untuk masalah sepele." lerai Kamisha.


"Sepele apa?! ini masalah harga diri tim kita, Sha."


"Sudah... nggak usah di dengarkan." Kamisha berusaha menenangkan Laras.


"Heh... dasar pengecut!" bentak Tina dan berusaha memprovikasi.


"Percuma Tina kamu marah - marah seperti itu. Mereka semuanya tebal muka dan hati - hati, ada pengkhianat." ucap Kyara yang tiba - tiba ikut dalam perdebatan mereka. Ia melirik ke Kamisha. Dan Kamisha tahu itu. Ia berusaha tetap tenang dan tidak terpancing emosi.


"Jangan banyak bicara. Mari kita buktikan." ucap Laras.


"Oke, siapa takut. Kita buktikan siapa yang akan menjadi karyawan terbaik tahun ini." tantang Lina. "Sudah pasti Kyara dari tim kami."


"Semua bisa saja berubah. Jangan terlalu percaya diri terlalu tinggi, kalau jatuh sakit." sindir Laras.


"Laras sudah, jangan ladeni mereka." ucap Kamisha. "Berangkat ke lapangan gih."


"Awas kamu ya!"


"Apa!"


Laras dan Tina saling menatap dengan pandangan penuh dendam.


"Mbak Misha, maaf kalau nanti mbak yang tersakiti dengan kompetisi ini."


"Tidak masalah. Aku tidak perlu pembuktian seperti itu, biar orang yang menilai." ucap Kamisha sambil berdiri dan meninggalkan Kyara. Ia malas meladeni ocehan keponakannya itu. Ia tidak habis pikir, kok bisa ada orang tidak merasa bersalah atas perbuataannya.


Kamisha segera berkeliling hotel, sambil memastikan tamu - tamunya. Itu memang sering dia lakukan sebagai bentuk pelayanan karena mereka sudah mau menginap di hotel tempatnya bekerja.


Bahkan tidak segan Kamisha membagikan kue buatannya ketika mereka pulang sebagai bentuk terima kasih.


Karena ini menjelang weekend hotel sangat ramai. Sudah ada beberapa keluarga yang reservasi. Kamisha berjalan ke kolam renang. Banyak anak - anak yang berenang.


Prang pyaarr...!


"Bisa kerja nggak! bagaimana pelayanan hotel ini?! aku menuntut ganti rugi!"


"Maafkan saya pak." ucap pelayan.

__ADS_1


Kamisha melihat keributan ini dan berusaha menengahi.


"Selamat pagi pak... perkenalkan saya Kamisha dari bagian marketing. Ada yang bisa saya bantu?"


"Kebetulan! saya mau komplain!"


"Maaf sebelumnya pak, apa ada keluhan terhadap pelayanan kami?"


"Ada! tentu saja ada!"


"Apa keluhan bapak?"


"Nih, pelayan udik ini tidak pantas bekerja di sini. Pelayanannya sangat buruk!"


"Pelayanan yang bagaimana pak?"


"Saya tadi pesan sampanye dan istri saya pesan margarita, dia itu pelayan dan tidak perlu mengomentari apa yang kami pesan. Dia ini menolak pesanan kami dengan alasan untuk keselamatan dalam berenang."


"Sebenarnya yang di katakan oleh pelayan kami ada benarnya. Karena minuman yang bapak pesan mengandung kadar alkohol yang cukup tinggi dan itu bisa mengganggu keselamatan bapak. Atau mungkin minumannya bisa kami ganti dengan jus buah. Dan setelah berenang akan kami antar minuman yang bapak pesan tadi ke kamar."


"Tidak bisa! saya dan istri saya maunya sekarang!" tamu tadi semakin meninggikan suaranya.


"Maaf, tolong sabar sebentar pak."


"Memangnya kamu siapa!" ucap tamu tadi sambil maju mendekati Kamisha.


Kamisha dengan perlahan mundur sedikit.


"Kami disini adalah tamu dan tamu adalah raja! kami berhak melakukan apapun yang kami mau!" teriaknya sambil terus mendesak mundur Kamisha.


"Iya saya tahu, akan tetapi hotel kami memiliki peraturan tersendiri pak."


"Panggil atasanmu kemari! aku juga bisa membuatmu di pecat dari sini!"


"Ini sebagai balasan karena kurang sopan terhadap tamu!" tiba - tiba tamu tadi mendorong Kamisha hingga tercebur di kolam. "Hahahahhh... rasakan!" teriak tamu tadi sambil mengolok - olok Kamisha. Istrinya dan beberapa tamu lain mentertawakan Kamisha yang tercebur di kolam.


Kamisha berusaha untuk minta tolong karena ia tidak bisa berenang. Beberapa air sudah masuk ke dalam mulutnya. Kamisha menggerak - gerakkan kaki dan tangannya dengan harapan tidak tenggelam. Ya tuhan tolong aku, bagaimana kalau aku mati, bagaimana dengan Axel.


Ia terus tenggelam ke bawah dan hampir kehilangan kesadaran. Tiba - tiba ia merasakan seseorang menariknya ke atas. Malaikatkah batin Kamisha. Tubuhnya perlahan naik ke atas.


"Misha! Misha! bangun!" teriak Xander. "Alex panggil tenaga medis!"


"Baik pak."


Xander terus memompa dada Kamisha dan melakukan CPR. "Misha! please bangun!" Xander terus melakukan CPR dan memanggil nama Kamisha tanpa henti.


"Uhuk...! uhuk...! uhuk...!" Kamisha sadar dan memuntahkan air yang sempat masuk ke dalam perutnya.


"Ya tuhan syukurlah kamu sadar Misha." ucap Xander. Ia segera membantu Kamisha duduk agar ia bisa bernapas dengan lega. Tak lama kemudian tenaga medis datang. Xander mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Bibir Kamisha tampak pucat, tubuhnya menggigil kedinginan. Ingin rasanya Xander memeluk tubuh mungil itu tapi ia urungkan niatnya karena banyak tamu yang melihatnya.


"Bawa Misha ke rumah sakit."


"Baik pak."


"Terima kasih pak Xander," ucap Kamisha lirih. Ia kemudian di tuntun seorang pria dari tenaga medis. Mata Xander langsung menatap tajam.


Alex yang melihat hal itu langsung mengerti. "Maaf, biar mbaknya saja yang menuntun dan membawa mbak Misha ke mobil." ucap Alex. Seorang tenaga medis perempuan segera menggantikan posisi dan membawa Kamisha ke rumah sakit.


Setelah memastikan Kamisha di bawa ke rumah sakit. Xander langsung mengusut tuntas kasus ini.


"Bapak mau ganti baju dulu?" tanya Alex.


"Tidak perlu. Aku akan mengusut hal ini sampai tuntas." Xander segera menemui tamu yang sudah mendorong Kamisha. "Bapak yang mendorong karyawan saya hingga nyawanya terancam?"


"Saya tidak mendorongnya, dia sendiri yang berjalan mundur."

__ADS_1


"Ada kamera CCTV di beberapa titik. Bisa kita jadikan barang bukti di pengadilan nanti."


"Apa maksud anda? anda akan menuntut seorang tamu di hotel anda, yang dalam tanda kutib tamu adalah raja? bagaimana dengan pelayanan di hotel ini. Seorang tamu akan dituntut? hahahahhahh..."


"Why not? jika tamu itu telah membahayakan karyawan di hotel itu. Bisa jadi ia juga akan membahayakan tamu yang lain."


Tamu pria itu diam. Ia tidak melanjutkan perdebatannya.


"Saya dari awal sudah mendengar percakapan anda dengan karyawan saya. Tidak ada yang salah dengan mereka, karena sesuai dengan peraturan memang tidak diperbolehkan minum minuman beralkohol sebelum berenang. Yang bersalah adalah anda."


Tamu pria tadi masih saja diam. Bahkan tamu - tamu yang lain pun ikut terdiam. Hanya demi mempertahankan ego karena malu, bisa berakibat fatal bahkan bisa sampai menghilangkan nyawa seseorang.


"Silahkan jika anda ingin membawa masalah ini ke meja hijau. Akan saya tunggu permintaan maaf anda pada karyawan saya." lanjut Xander yang kemudian meninggalkan tempat itu menuju ke ruangannya.


Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih. "Bagaimana Misha?"


"Tidak apa - apa pak. Mbak Misha sudah diperbolehkan pulang, hanya sedikit syok saja dan perlu istitahat. Saya sudah menyiapkan mobil."


"Untuk apa?"


"Untuk menjenguk mbak Misha di rumahnya."


"Tidak perlu." jawab Xander. "Ya sudah kalau dia baik - baik saja." ucap Xander sambil kembali disibukkan dengan pekerjaannya.


Sementara itu...


"Kamu dimana?"


"Aku di kamar 3013."


Tampak seorang wanita berjalan dengan cepat menuju kamar 3013.


"Buka pintunya, aku ada di depan."


Seorang pria membuka pintu kamar dan mempersilahkan wanita itu masuk.


"Kenapa kamu mendorong mbak Misha, ia tidak bisa berenang dan itu tidak ada dalam skenario kita."


"Aku terlalu mendalami peran, Ra. Aku pikir dengan dia jatuh ke kolam akan lebih mendramatisir keadaan."


"Tapi apa yang terjadi, gagal kan rencana kita." ucap Kyara. "Yang ada malah kita dituntut balik."


"Tenang aku akan minta maaf, masalah selesai."


"Ingat jangan bawa - bawa namaku. Nih bayaranmu."


Pria yang berperan sebagai tamu tadi membuka amplop yang di berikan Kyara. "Hmm, sesuai perjanjian." ucapnya. "Tapi aku harus meminta lebih."


"Untuk apa? Ini tidak sesuai perjanjian."


"Aku harus merendahkan harga diriku untuk meminta maaf pada Kamisha. Dan itu tidak murah."


"Aku sudah tidak punya uang lagi." tolak Kyara.


"Baiklah, aku akan berterus terang pada Xander atasanmu yang tampan itu."


"Apa maumu?"


"Aku mau kau bayar dengan tubuhmu, gampang bukan?"


Kyara tampak berpikir, jika ia tidak melakukannya, Xander pasti akan tahu segalanya dan memecatnya. "Baiklah." ucapnya.


"Oke baby, kita akan lewati malam panjang ini dengan kegiatan yang panas. Hahahahhh..."


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2