Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Bianca


__ADS_3

Pagi ini Xander diberondong banyak pertanyaan oleh mama masalah sakitnya. "Xander kata Misha kemarin kamu sakit?"


"Iya, ma."


"Jaga kesehatanmu. Cutilah beberapa hari. Atau bisa juga kalian pergi berlibur."


"I'm oke ma."


"Sudah periksa ke dokter?"


"Sudah."


"Apa katanya?"


"Aku hanya kelelahan." jawab Xander berbohong. Ia tidak mau membuat mamanya semakin khawatir.


"Ma, mama tidak perlu khawatir. Ada aku." sahut Kamisha.


"Ah ya, mama lupa. Ada Kamisha yang sekarang mengurusmu."


"Misha, bawa aku ke kamar." pinta Xander.


Kamisha segera menghampiri Xander. Dengan segera ia menaruh tangannya di pinggang Xander. "Kau masih merasa pusing?"


"Sedikit." jawabnya berbohong lagi. Ia ingin menghindari mama Attalia dan berkonsentrasi mengenai masalahnya. Hari ini ia akan mengambil hasil tes darah kemarin.


Sesampai di kamar Xander minta untuk diambilkan baju.


"Kau mau pergi?"


"Ya."


"Aku akan menemanimu."


"Tidak perlu, kau istirahat saja di rumah. Kau pasti capek mengurusku."


"Baiklah kalau itu maumu." ucap Kamisha setengah kecewa. Entah kenapa sejak kejadian itu ia maunya berdekatan terus dengan Xander. "Kalau begitu aku akan berangkat kerja."


"Tidak perlu, Alex sudah mengurus ijinmu untuk tidak masuk kerja hari ini."


Aduh kenapa aku tidak boleh berkegiatan hari ini, lantas apa yang aku lakukan di rumah pikir Kamisha. Ia bergegas mengambil baju untuk suaminya itu.


"Kalau begitu aku kan berkunjung ke toko sebentar, boleh?"


"Ya, nanti biar diantar sopir. Aku hari ini mau bertemu dengan teman lama."


"Teman lama?"


"Yah, dulu kami kuliah bersama - sama. Tapi dia memilih dunia mode dan berpindah ke perancis."


"Wanita?"


"Hemm.. ya. Bianca namanya."


"O..o.." ada sedikit rasa kesal di hati Kamisha. Karena demi bertemu teman masa lalunya itu dia mengabaikan kesehatannya. Begitu pentingkah wanita itu di hati Xander batin Kamisha gusar. "Kalian pasti sangat akrab?"


"Kamu benar. Dulu kami mengalami masa sulit bersama waktu kuliah. Pernah satu kali kami tidak bisa makan selama satu hari."


"Kok bisa?"


"Kami berdua mengadakan pesta dengan teman - teman kampus. Akibatnya uang bulanan yang di kirimkan orang tua kami habis. Yah terpaksa selama satu hari kami tidak makan, setelah itu kami berdua bekerja sebagai tukang cuci piring." Xander terkekeh geli sambil matanya menerawang mengingat masa lalu.


Aduh kenapa hatiku terasa sakit mendengar ia membicarakan wanita lain. Mataku terasa panas batin Kamish. Oh tidak ini bukan saatnya untuk menangis Kamisha, kau akan malu nantinya bisik kata hatinya. Kamisha menarik napas panjang menetralisir emosinya. Sudah jelas ini adalah wanita yang selalu ada di hati Xander. Pantas saja kau tidak ada di dalam hatinya Kamisha ternyata mereka sudah melalui masa sulit bersama.


"Hei, kenapa diam?"


"Oh.. aku hanya perpikir dia pasti sangat penting bagimu."


"Tentu saja." jawab Xander. "Jam berapa kau akan ke toko?"


"Mungkin siang, setelah membantu mama menata bunga di taman samping."


"Baiklah, nanti aku jemput di toko. Kita pulang sama - sama."


"Oke." jawab Kamisha singkat.


Aku sebenarnya tak bisa jauh darimu Misha, sejak mimpi indah itu batin Xander.


Xander segera pergi ke kantor dan Kamisha mulai membantu mama Attalia berkebun. Setelah selesai ia pamit untuk pergi ke toko.


"Gimana penjualan hari ini?"


"Masih sama seperti kemarin mbak."


"Roti yang sudah habis apa?"


"Brownis sama roti pisang."


"Kamu sudah buat lagi?"


"Belum mbak, ini baru buat bolu marmer."


"Ya sudah biar aku yang buat."


Kamisha mulai berkutat di dapur hingga hampir sore.


"Permisi."


"Suci, sepertinya ada pembeli?"


"Sepertinya iya mbak." jawab Suci. "Sebentar saya matikan mixernya dulu."


"Nggak usah, biar aku saja. Kamu teruskan membuat adonan."


"Baik, mbak."


Kamisha keluar dan terkejutlah ia.


"Loh, Agung. Kok bisa ada disini?"


"Aku ada proyek disini, Sha."


"Wah kebetulan sekali."


"Ini toko kue punyamu?"


"Iya."


"Katanya kamu kerja di hotel."


"Ini sambilan, sebelum kerja di hotel aku sudah buka toko kue ini. Yah sayang kalau tidak diteruskan." jawab Kamisha. "Kamu mau roti apa?"


"Bolu mamer saja."


"Oke." dengan cekatan Kamisha mengambil pesanan Agung. "Eh kita ngobrol di teras yuk."


"Oke."


Kamisha dan Agung duduk di teras.


"Bagaimana kabar anakmu?"

__ADS_1


"Axel? ah dia sudah sekolah di Paud."


"Maaf aku dulu pernah berprasangka buruk tentangmu."


"Tidak apa - apa itu karena kamu hanya melihat luarnya saja."


Mereka berdua terlibat obrolan yang menyenangkan.


Sementara itu...


"Alex, aku pulang."


"Bapak tidak menunggu kedatangan nona Bianca?"


"Kami ketemu nanti malam, dia masih ada urusan."


"Baik akan saya siapkan mobil."


Setelah mobil siap Xander segera pergi untuk menjemput Kamisha.


"Kita ke rumah sakit dulu. Hari ini hasil tesnya keluar."


"Baik, pak."


Alex membawa mobil ke arah rumah sakit. Hati Xander sangat tidak tenang untuk melihat hasil tes darahnya.


"Jadi begini pak Xander, setelah kami teliti di dalam darah anda kami menemukan zat Afrodisiak.'


"Apa itu dok?"


"Itu sejenis obat perangsang pak yang dapat meningkatkan gairah secara cepat."


"Jadi maksud anda saya pingsan karena obat itu, aneh sekali. Biasanya yang minum obat itu akan punya keinginan untuk bercinta. Tapi kenapa justru saya malah pingsan?"


"Memang benar seperti yang anda katakan. Hanya ada satu kemungkinan."


"Apa itu dok?"


"Anda sengaja dibuat pingsan."


"Siapa yang membuat saya pingsan?" gumam Xander.


"Maaf, kalau itu saya tidak tahu. Tanyakan saja pada orang yang pertama kali anda temui saat anda tersadar."


"Istri saya yang pertama saya lihat, tapi dia mengatakan saya pingsan karena sakit."


"Untuk urusan di luar kesehatan saya tidak berani ikut campur pak."


"Baiklah dok, terima kasih banyak atas penjelasannya."


Xander pamit pulang. Disepanjang perjalanan Xander terus berpikir.


"Alex, kau sudah menemukan informasi baru mengenai penyebab aku pingsan?"


"Saya masih menyelidki CCTV di sekitar hallroom. Karena berdasarkan keterangan, anda pusing ketika masih di dalam bukan?"


"Ya benar."


"Dan anda terbangun sudah ada di kamar 3013, itu artinya ada yang membawa anda ke kamar itu."


"Kamu benar, kira - kira siapa yang membawaku kesana?. ucap Xander. "Apa sudah ada kabar dari bagian tekhnisi?"


"Belum pak, mungkin malam sudah dapat hasil."


"Percepat kerja mereka, bagaimana pun caranya."


"Baik pak."


"Tunggu, Alex! berhenti!"


"Ya pak." jawab Alex sambil menginjak rem.


"Siapa pria itu? berani - beraninya mengobrol dengan istriku!"


"Mungkin tetangga, pak."


"Mereka tertawa - tawa tanpa memperdulikan kedatanganku!" ucap Xander geram.


"Bukan tidak memperdulikan tapi mereka tidak tahu kalau bapak datang."


"Tidak tahu bagaimana? mobil kita terlihat jelas!"


"Kalau posisinya seperti ini saya jamin mbak Misha tidak tahu pak. Pertama mobil kita berhenti di tetangganya dan kedua mobl kita tertutup pohon itu."


"Mbak! mbak! mau aku pecat!"


"Maaf maksud saya nyonya Kamisha."


"Ya sudah kita maju, kita lihat reaksi mereka kalau aku datang."


"Baik pak."


Setelah mobil terparkir sempurna, Xander keluar dari mobil. Kamisha yang melihatnya langsung menyambutnya dengan senyum yang lebar.


"Kau menjemputku?"


Xander tersenyum, ia sangat puas dengan reaksi Kamsha. Xander semakin ingin menunjukkan pada pria itu bahwa Kamisha miliknya, Tidak ada orang yang berhak memilikinya.


"Ya." jawab Xander sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kamisha. Kamisha sempat kaget tapi kemudian ia mengerti. Mungkin ia ingin menunjukkan pada orang kalau rmah tangga mereka bahagia.


"Oya kenalkan ini Agung, dia temanku waktu sekolah di Jogja dulu. Agung ini Xander suamiku."


"Salam kenal Xander, maaf aku berbincang sebentar dengan istrimu.'


"It's okey, never mind."


"Oya Misha, ini sudah sore aku permisi dulu."


"Ya, terima kasih atas kunjungannya. Sampaikan salamku untuk istrimu dirumah."


Oh dia sudah punya istri, Xander bernapas lega. Sepertinya aku telah salah sangka.


Setelah Agung pergi, Kamisha berpamitan pada Suci.


"Ayo kita pulang." ucapnya pada Xander. "Terima kasih mau menjemputku."


Drrrttt... drrrttt.. ada panggilan di handphone.


"Halo, hai___ oke.. oke aku akan kesana."


Xander bergegas masuk ke dalam mobil diikuti Kamisha yang masih keheranan. Suaminya tampak sangat senang setelah menerima telepon dari seseorang.


"Ke restoran Avec Amour." perintahnya pada Alex.


"Kita tidak pulang?"


"Tidak, kita akan bertemu dengan Bianca."


Deg.. deg.. deg.. jantung Kamisha tak beraturan begitu mendengar nama Bianca, teman masa lalunya Xander.


"Oh, sahabatmu itu."

__ADS_1


"Ya benar, kau pasti akan akrab dengannya. Dia itu gampang bergaul dan ramah."


Kamisha hanya diam memperhatikan suaminya. Entahlah sulit menggambarkan suasana hatinya saat ini. Cemas, marah, dadanya sesak bahkan perutnya itu tidak nyaman. Beberapa kali ia terlihat menarik napas panjang dan mengeluarkan pelan - pelan. Inikah yang namanya cemburu.


Tak berapa lama mereka sampai di restoran Avec Amour. Xander dan Kamisha segera masuk menuju meja yang sudah dipesan Bianca.


"Hai.." sapa Xander pada seorang wanita yang cantik dan anggun berambut panjang. Wanita itu menoleh, dia tersenyum lebar memandang tajam


ke arah Xander. Dia bangkit dan setengah berlari menghampiri Xander lalu mereka berpelukan erat.


"Hai, my boy. I miss you."


"I miss you too Bianca."


What! apa aku tidak salah dengar batin Kamisha. Ia menggenggam erat tanggannya. Bisa - bisanya dia mengatakan itu pada gadis lain. Eits tunggu aku tidak seharusnya marah, Xander kan memang tidak mencintaiku batin Kamisha berusaha menenangkan dirinya.


Akhirnya mereka saling melepaskan pelukan masing - masing.


"Oya, aku sampai lupa memperkenalkan. This is my wife, Kamisha."


"Your wife? she is very beautiful." puji Bianca. "Hai aku Bianca." ucap Bianca sambil mengulurkan tangannya.


"Kamisha." jawab Kamis sambil menjabat tangan Bianca. Ia tersenyum semanis mungkin untuk menetralkan perasaannya.


"Ayo kita duduk."


Mereka bertiga duduk bersama.


"Aku sudah memesan kopi kesukaanmu dan Savarin."


"Kau masih ingat?"


"Tentu saja." jawab Bianca.


"Bagaimana usahamu?"


"Good, kau tahu kan aku pekerja keras."


"Ah ya. Kau ingat saat kita bekerja sebagai tukang cuci piring. Karena tanganku yang terkelupas karena alergi sabun kau yang meggantikan pekerjaanku sampai akhirnya kita bisa makan."


"Yah waktu sudah berlalu cukup lama bukan."


Mereka berdua terlibat obrolan tentang masa lalu yang sama sekali Kamisha tidak mengerti. Akhirnya ia memilih diam.


"Maaf, aku permisi ke toilet sebentar." pamit Kamisha tiba - tiba.


"Silahkan, kamu lurus saja." jawab Bianca


"Terima kasih."


Kamisha segera meninggalkan mereka, lebih baik ia sedikit menghindar daripada terasa sesak dadanya.


Di dalam toilet Kamisha mencuci tangannya cukup lama. Ia memandang dirinya di cermin. kalau dibandingkan dengan Bianca ia kalah cantik, kalah pintar, kalah kaya dan yang pasti kalah dalam memenangkan hati Xander. Ia menarik napas panjang, sebelum memutuskan keluar.


"Kenapa lama?"


"Xander, kau menyusulku?" tanya Kamisha kaget.


"Ya, karena kau lama. Aku pikir kau tersesat. Kenapa lama?"


"Eeemm.. perutku agak kurang nyaman."


"Ya sudah ayo kita pulang."


Xander dan Kamisha kembali ke meja.


"Kami pamit dulu, ini sudah malam, mama pasti menunggu kami." ucap Xander.


"Yah, terlalu singkat pertemuan kita." ucap Bianca. " Aku juga kangen dengan mama. Bagaimana dengan koleksi bunga Lily nya?"


"Makin bertambah, apalagi ada Misha yang juga ikut mengurusnya." jawab Xander.


Akhirnya namaku disebut juga, setelah hampir dua jam mereka ngobrol batin Kamisha.


"Besok aku akan ke kantormu."


"Oke, aku akan menunggumu. Setelah itu aku kan mengajakmu ke rumah. Mama pasti senang melihatmu."


"Salam buat, mama." ucap Bianca sambil memeluk Xander dengan erat.


Xander dan Kamisha kembali ke mobil. Selama perjalanan Kamisha hanya diam. Ia tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Apa perutmu masih sakit? atau kita ke dokter?'


"Tidak apa - apa, buat tidur juga sembuh."


Kamisha memandang keluar jendela. Kerlap kerlib lampu di jalanan yang menghiasi kota Bandung tidak sebaik suasana hatinya.


Mereka akhirnya sampai di rumah. Setelah menyapa mama dan memastikan keadaan Axel. Kamisha pergi tidur.


"Istrimu kenapa?"


"Perutnya sakit, ma."


"Aku rasa bukan itu."


"Oya ma, Bianca pulang ke Indonesia. Dia titip salam buat mama."


"Bianca? kalian bertemu tadi?"


"Ya, makanya kami pulang terlambat."


"Sekarang mama tahu."


"Tahu apa, ma?"


"Penyebab istrimu sakit perut."


"Salah makan, kan. Memang apalagi."


"Mungkin dia cemburu dengan Bianca."


"Ah tidak mungkin."


"Xander, walaupun kalian teman di masa lalu tapi hargailah perasaan istrimu."


"Mama ini bicara apa. Sudah aku mau ke istirahat. Selamat malam." pamit Xander sambi mencium kening mama Attalia.


Sementara itu di dlam kamar mandi. Kamisha berendam sambil menitikkan airmata. Ia menumpahan emosinya dengan berendam air hangat. Perlahan ia mengusap noda - noda merah akibat perbuatan Xander tempo hari. Ya tuhan, aku sangat mencintaimu Xander. Sepertinya aku harus mundur pikir Kamisha.


Setelah puas berendam ia segera ke sofa untuk tidur.


Xander memasuki kamar, ia tersenyum melihat istrinya itu sudah tidur. Bergegas ia mandi dan segera membawa Kamisha untuk tidur bersamanya.


Tiba - tiba ia teringat akan mimpinya. Pelan - pelan ia ingin merasakan apa yang dirasakan saat mimpi. Menikmati tubuh istrinya itu. Dua bukit kembarnya yang menggoda, bibir mungil yang membuat candu ketika saling beradu dengan bibirnya. Beberapa kali Xander menelan ludah ketik melihat baju tidur Kamisha yang tersingkap. Apa yang ada di dalam sepertinya mengintip malu, membuat Xander penasaran. Dengan mengumpulkan keberanian Xander akhirnya membuka kancing baju tidur Kamisha hingga terlihatlah bukit kembar yang terpampang nyata. Tapi yang membuatnya terkejut adalah bercak - bercak kemerahan disekitar daerah itu.


Ini adalah bercak tanda kepemilikan batin Xander. Ini di buat oleh seorang pria, aku tahu itu.


Tunggu, jangan - jangan ini akibat perbuatanku minum obat perangsang. Pantas saja pagi itu Kamisha terlihat canggung. Teka teki ini semakin terkuak sedikit - demi sedikit. Apa yang kau sembunyikan dariku, Misha?


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2