
"Xander bangun, sudah pagi." Kamisha membangunkan suaminya yang masih asyik tidur dalam selimut. Ia meletakkan Zio di samping Xander dengan harapan suaminya itu bangun. "Sayang ayo bangun, kata Alex hari ini kamu ada meeting."
"Oahemm.. Lima menit lagi Misha, aku masih mengantuk."
"Aduh, nggak ada lima menit lagi. Ini sudah terlambat." Kamisha mulai menyibak selimut yang sedang di pakai oleh Xander.
"Lihat itu, mommy galak sama daddy." ucap Xander sambil menciumi Zio. Ia kemudian mengangkat Zio dan menaruhnya di atas dadanya.
"Peralatan mandi sudah aku siapkan. Mandilah pakai air hangat, biar tubuhmu lebih segar."
"Terima kasih sayang, kemarilah."
"Ada apa?"
"Cium dulu."
"Huh, dasar manja." Kamisha segera menghampiri Xander dan memberinya ciuman sekilas.
"Lagi." pintanya
"Muaacchh.. Sudah ya, kalau cium - ciuman begini nanti yang ada kamu terlambat kerja."
"Heheheh, sepertinya kamu tahu maksudku."
"Tadi malam kan sudah, ingat kata dokter. Apalagi siklus datang bulanku sebentar lagi." Kamisha mengambil Zio dari atas dada Xander. "Ayolah sayang, aku harus menyiapkan sarapan untuk kalian.
Xander beranjak dari tempat tidurnya, dengan langkah santai ia melewati Kamisha. Dan tak lupa menepuk bokong istrinya untuk menggoda.
"Sayang." teriak Kamisha kaget.
"Siapa suruh kamu tambah seksi." Xander berlalu menuju ke kamar mandi.
Kamisha hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Ia bergegas ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
"Pagi, Misha."
"Oh, pagi om Matteo."
"Sibuk?"
"Tidak terlalu, hanya menyiapkan sarapan untuk Xander dan Axel."
"Bisa bicara?"
"Oh, tentu saja. Silahkan."
"Ini soal Sofi teman kamu."
"Sofi? Kenapa om?"
"Bagaimana dengan kinerjanya? Proyek yang aku berikan ini sangat besar. Aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun."
"Selama aku mengenal Sofi dan kami bersahabat, dia adalah wanita pekerja keras, bertanggung jawab. Aku bisa bertahan sampai sekarang juga karena dia yang selalu mendukungku. Apa ada masalah dengan kinerjanya?"
"Sebenarnya tidak ada. Hanya saja awal perkenalan kami tidak begitu baik. Dan aku takut itu akan membawa dampak buruk pada even yang sedang aku kerjakan."
"Om, tenang saja. Sofi itu orangnya bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan mana urusan pribadi."
"Baiklah aku percaya padamu."
"Aku berani menjaminnya." jawab Kamisha mantab.
"Hei apa itu jaminan, istriku tidak boleh menjadi jaminan." sahut Xander yang tiba - tiba ikut bergabung dengan mereka.
"Ini tidak seperti yang kau pikir sayang."
__ADS_1
Xander mencium pipi istrinya. "Om jangan macam - macam dengan istriku ya."
"Hei, jangan salah paham. Aku hanya menanyakan soal kinerja Sofi."
"Jangan banyak alasan. Karena kau playboy."
"Oh common, aku memang banyak dekat dengan wanita. Tapi aku tidak sehina itu sampai harus merayu istri keponakannya sendiri."
"Sudah sayang, ayo sarapan dulu. Lihat itu jagoanmu sudah turun. Kau tidak mau bertengkar di depannya kan." Tampak Axel yang sedang turun di temani oleh mbok Sri.
Akhirnya perdebatan selesai karena ada Axel.
🌸🌸🌸🌸
"Wi, kamu lihat flashdisk ku."
"Flashdisk? Yang mana?"
"Tadi aku taruh di atas laptop." Sofi masih terus mencari dan tentu saja panik.
"Waduh, aku nggak tahu Sof."
"Tolong dong bantu aku nyari, itu flashdisk isinya tentang proyek kerja sama kita dengan perusahaannya pak Matteo."
"Iya aku bantu nyari."
Mereka berdua sibuk mencari tapi sudah hampir setengah jam tetap tidak dapat menemukan flashdisk itu.
Aneh, tadi jelas - jelas ada. Kenapa baru aku tinggal sebentar tiba - tiba sudah tidak ada. Atau jangan - jangan ada yang ingin merusak kinerjaku tapi siapa. Sofi berpikir dengan keras.
Ia tidak bisa tinggal diam dan itu tidak menyelesaikan masalah. Sebenarnya Sofi banyak belajar dari Kamisha dalam bekerja. Kamisha selalu mempunyai cadangan atas apa yang sudah ia kerjakan.
"Wi, aku tinggal sebentar ya."
"Loh, mau kemana? rapat dengan pak Matteo sebentar lagi."
Sofi keluar sebentar. Kali ini ia meminjam motor satpam perusahaan, takut kalau ada macet di jalan. Dan ia lebih leluasa melewati jalan pintas.
Tidak sampai sepuluh menit ia sudah bisa mendapatkan flashdisk cadangan. Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai motor menuju ke kantor.
"Yes, berhasil." teriaknya puas.
Ia melihat mobil Matteo baru saja terparkir di depan lobby perusahaan. Dengan melewati jalur belakang akhirnya ia sampai di ruang meeting bersamaan dengan Matteo.
"Rapat bisa kita mulai?"
"Bisa." jawab semuanya.
Sementara itu Sofi mengatur napas dan degup jantungnya karena ia berlari setengah mati agar sampai di ruang rapat dengan tepat waktu.
"Sofi!" panggil Matteo.
"Ia sebentar pak." ia menarik napas panjang dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju ke depan. Ia segera memberikan presentasi atas rancangan untuk even yang akan diadakan oleh perusahaan Matteo.
"Ini rancangan proyek dari saya, apabila ada yang kurang mohon masukannya."
Matteo terdiam, wajahnya sangat serius dalam rapat. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan waktu mereka bertemu di Bali. Ternyata kalau dia serius tampan juga pikir Sofi.
Sofi harap - harap cemas, karena belum ada reaksi apapun dari Matteo. Setelah hampir lima belas menit rapat dalam keadaan sunyi tiba - tiba Matteo mulai berbicara.
"Bagus, tapi ada beberapa yang perlu diganti. Tolong catat, karena besok saya harus sudah menerima revisi di meja saya." perintah Matteo. "Untuk acara pembukaan kita indoor, tapi untuk penutupan bisa kita lakukan di outdoor. Karena even ini dilaksanakan selama tiga hari jadi tolong untuk semua peserta, model dan juri agar bisa mendapatkan layanan hotel yang baik."
"Baik pak." jawab Sofi sambil mencatat permintaan Matteo.
"Kau rubah saja konsep penutupannya, saya ingin lebih glamour. Sehingga even ini akan banyak meninggalkan kesan di hati peserta dan tamu."
__ADS_1
"Baik pak."
"Dan satu lagi, saya ingin semua peserta rapat hadir sepuluh menit sebelum kita mulai rapat yang kedua. Saya ingin lebih disiplin karena itu menentukan apakah acara kita berhasil atau tidak."
"Baik, maafkan saya pak." jawab Sofi sambil menunduk. "Tidak akan saya ulangi lagi."
"Bagus, rapat selesai."
Semua yang rapat segera meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Sofi, ia berjalan dengan sedikit tertatih karena kakinya lecet harus memburu waktu. Ia duduk di sebuah bangku, dilepaskannya sepatu itu pelan - pelan dan benar saja kakinya terluka.
"Aauwww." teriaknya lirih. Ia berusaha menahan perih.
"Lain kali jangan pakai sepatu hak tinggi."
Sofi mendongakkan kepalanya dan melihat Matteo di depannya.
"Baik pak, maaf." ucapnya lirih.
"Kau itu kerja menggunakan kaki lebih baik gunakan sepatu yang nyaman." Matteo menyerahkan obat dan plester untuk lukanya.
"Terima kasih pak."
"Ingat besok revisi harus sudah ada di mejaku." perintah Matteo sambil meninggalkan Sofi sendiri. Sofi melihat pria yang berusia empat puluh tahun keatas itu hingga hilang di belokan, baru ia bernapas dengan lega.
Ia menghela napas. Huh sungguh melelahkan, ia jadi teringat perjuangan Kamisha dulu.
🌸🌸🌸🌸
Sore itu Xander tertidur di sofa ruang kerjanya. Tidak biasanya dia tertidur dikantor.
"Xander ada?"
"Ada di dalam bu Misha."
Kamisha segera masuk ke dalam dan mendapati suaminya yang tertidur pulas. Kamisha sengaja datang ke hotel untuk menjemput Xander. Mereka harus makan malam bersama mama dan keluarga Harvey. Sudah lama mereka tidak mengadakan acara keluarga.
"Sayang bangun."
Dengan perlahan Xander membuka matanya.
"Kamu sakit?" tanya Kamisha sambil memegang kening suaminya.
Xander hanya menggeleng, ia memeluk tubuh Kamisha dan menaruh kepalanya di atas pangkuan istrinya.
"Kalau kamu sakit, acara makan malamnya bisa kita batalkan."
"Tidak perlu, aku baik - baik saja hanya___."
"Hanya kenapa?"
"Malas."
"Malas, tumben kamu seperti itu. Biasanya kamu yang paling semangat kalau kita pergi bersama anak - anak."
"Entahlah." jawab Xander. "Anak - anak mana?"
"Mereka sama mbok Sri sedang main di taman resort."
Xander melepas pelukannya dan duduk di sofa. Tiba - tiba muncul ide gila di benak Kamisha. Ia mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan membuangnya ke sembarang tempat. Dengan perlahan ia naik ke atas pangkuannya Xander. Itu membuat Xander terkejut.
"Sayang." ucapnya lirih.
"Aku ingin bercinta disini sayang." rayunya.
"Yes! Aku mau sayang." tiba - tiba saja semangat Xander muncul lagi. Dan ide Kamisha berhasil. Dan terpaksa makan malam mundur satu jam ke belakang.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸