Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Terkuak Satu Demi Satu


__ADS_3

"Bagaimana ini, Sha?" bisik Laras.


"Kamu tenang dulu. Masalah ini terlanjur banyak orang yang tahu. Kita akan kesulitan menyelidikinya."


"Kemarin bagian keuangan memberi kita waktu dua hari, kenapa sekarang pak Xander sudah tahu?"


"Nita bertindak karena ada yang menyuruhnya."


"Maksudmu dia di bayar?"


"Mungkin saja benar, tujuannya hanya satu agar kita kesulitan mengetahui siapa pelakunya. Dan yang melakukannya ya pelaku itu sendiri."


"Apa mungkin ada orang dalam tim kita yang melakukan itu?"


"Bisa saja. Oleh sebab itu lebih baik hanya kita yang tahu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur sudah banyak yang tahu jadi kita harus berhati - hati." ucap Kamisha.


"Ingat Sha waktu kita cuma dua hari."


"Iya aku tahu." balas Kamisha.


Drrtt... drrrtt.. sebuah pesan masuk di handphone Kamisha.


"Eh Ras, aku keluar dulu."


"Oke, saling berkabar ya."


Kamisha mengangguk. Ia segera keluar dari ruang kerjanya menuju ke suatu tempat.


Tiba - tiba ada yang menarik tangannya


"Aaauuww!!" teriaknya.


"Sssttt jangan teriak keras - keras sayang, ini aku."


"Xander?" pekik Kamisha.


"Sssttt.."


"Katanya ketemu di ruang kerjamu?"


"Iya, tapi aku merasa ada yang memperhatikan gerak gerik kita." Xander memeluk tubuh istrinya karena khawatir.


"Lepaskan!"


"Sayang ayolah. Jangan marah padaku."


"Di ruang rapat kau membentakku, Xander. Begitukah perlakuanmu terhadap istrimu."


"Sayang.. sayang dengarkan aku dulu."


"Nggak! jangan harap kau menyentuh tubuhku sebelum masalah ini aku selesaikan." Kamisha pura - pura marah. Karena ia tahu Xander melakukan ini sebagai atasannya dan menjaga profesionalitas.


"Ayolah Misha, aku tidak bisa seharipun tanpa menyentuhmu sayang. Kau candu bagiku."


"Bohong!"


"Aku berani bersumpah. Aku marah karena pura - pura sayang. Karena sebagai atasan aku harus bersikap adil terhadap anak buahku." Xander mulai mencium istrinya tanpa henti. Hingga Kamisha merasa geli.


"Stop Xander."


"Aku tidak akan berhenti sebelum kau memaafkan aku."


"Hahahahh.. aku hanya pura - pura marah padamu. Kau seperti Axel jika merajuk." Kamisha mencubit hidung suaminya karena gemas. "Kau juga harus tahu, aku tidak bisa marah padamu. Hah sepertinya aku terlalu mencintaimu Xander Alfero Hadid."


Tanpa aba - aba Xander mencium bibir istrinya. Dengan ciuman yang begitu mendalam.


"Kita ke kamar." bisiknya.


"Kamar apa?"


"Kamar Hotel." Xander menarik istrinya menuju ke kamar. Kamar yang sama seperti waktu pertama kali mereka bercinta.


Tanpa mereka sadari sepasang mata yang tanpa sengaja menangkap kemesraan mereka.


"Sialan kau mbak Misha! ternyata kalian hanya pura - pura saling bertengkar!" Kyara tampak geram. Matanya merah menyala, tangannya mengepal. "Aku bersumpah, kebahagianmu tidak akan lama." Kyara segera pergi dan tampak akan menemui seseorang. Ia melakukan panggilan.


"Halo jangan di sini kita ketemu di cafe Stone" ucap Kyara di dalam telepon.


Tanpa lama - lama Kyara bergegas memanggil taxi dan pergi ke cafe Stone. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama akhirnya ia sampai pada cafe yang dituju.


Tampak seseorang sudah menunggu kehadirannya.


"Kamu harus berhati - hati." ucapnya mengawali pembicaraan.


"Kamisha terus melakukan penyelidikan bagaimana kalau sampai aku tertangkap."


"Pakai otakmu bodoh! kamu tenang saja kita sudah melakukan hal ini serapi mungkin."


"Kalau sampai aku tertangkap aku akan menyeretmu."


"Hahahahh.. berani kau melakukan ini padaku! kau sama sekali tidak punya bukti."


"Sial!"


"Ingat kartumu aku yang pegang. Jika sampai kau menyeretku dalam kasus ini aku pastikan kau akan dipenjara dengan lama."


"Apa maksudmu?"


"Aku punya rekaman video ketika kau menabrak om Dimas."


"Hei, kau yang menyuruhku."


"Haahaha.. Kau tidak ada bukti. Pernyataanmu tidak akan dianggap oleh kepolisian." Kyara tersenyum bangga. "Oya masih ada satu lagi. video perselingkuhanmu dengan Tina aku juga punya. Apa jadinya jika video itu aku kirimkan ke istrimu."


"Dasar wanita ular! licik!"


"Ingat tutup mulutmu, terkadang diam itu lebih baik." ucap Kyara. "Kalau kau tutup mulut aku jamin kau hanya akan dipecat dan aku bisa mencarikanmu pekerjaan baru. Tapi jika kau sampai buka mulut aku pastikan kau akan mendekam dipenjara."


"Sial!" umpat orang itu.

__ADS_1


"Hhahahahhh.. jangan berani mengancamku lagi! ingat nasibmu ada di genggaman tanganku. Ingat itu!" Kyara pergi meninggalkan orang itu.


🌸🌸🌸🌸


Sepertinya waktu tidak mengurungkan niat mereka untuk berhenti bercinta. Untuk beberapa lama mereka melakukan pergulatan karena terus terang saja Xander merasa bergairah ketika melihat istrinya marah, menurutnya itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Kau tidak istirahat sayang?" Xander bertanya dengan suara parau. Ia menghampiri Kamisha hanya dengan mengenakan celana boxer. Ia melihat istrinya sedang memeriksa sesuatu.


"Kau lupa? kau hanya memberi kami waktu dua hari untuk menyelesaikan masalah ini."


"Hmm.. ya.. ya.. waktu dua hari itu lama Misha, santai saja."


"Lama? Santai? Xander kau sadar dengan apa yang kau ucapkan." Kamisha berbalik memandang suaminya.


Xander tersenyum senang melihat istrinya yang tampak tegang dan kesal.


"Jangan senyum - senyum. Ini nggak lucu sayang. Kalau aku tidak segera menemukan siapa pelakunya, Laras akan kamu pecat." ucap Kamisha berapi - api.


Xander hanya diam dan terus bergerak mendekati istrinya.


"Xander hentikan, aku tahu arti tatapanmu itu?"


"Kalau kamu tahu, mendekatlah."


"Nggak, aku sibuk. Apalagi tadi kan sudah."


Xander menarik pinggang Kamisha hingga jatuh kepelukannya. "Siapa suruh kamu pakai kemejaku?"


"Bajuku kotor. Yang ada cuma ini. Please aku kerja dulu." Kamisha menatap suaminya dengan eye puppy.


"Kau kira aku suami yang tidak bisa di handalkan. Kamu tenang saja aku sudah menyuruh Alex menyelidikinya. Tinggal tunggu laporan darinya."


"Jadi___."


Xander mengangguk seakan tahu maksud perkataan istrinya.


"Pak Alex___."


Xander kembali mengangguk. "Iya, jadi bercintalah denganku tanpa memikirkan apapun." bisik Xander di telinga Kamisha. Kedua tangan kekar Xander sudah ada di bokong Kamisha, hanya sekali angkat ia berhasil menggendong istrinya. Dengan otomatis Kamisha mengaitkan kakinya ke pinggang Xander.


"I love you, suamiku." Kamisha mengecup sekilas bibir Xander.


"Hmmm.. sepertinya kita butuh mandi."


"Xander." Kamisha memeluk suaminya.


Setelah melalui indahnya percintaan ala Xander. Mereka berdua berbaring di atas tempat tidur.


"Apa yang membuatmu yakin kalau Laras tidak menggelapkan uang hotel?"


"Aku tahu kinerja Laras seperti apa. Ia berasal dari keluarga yang mampu, ia sangat teliti dan jujur. Apalagi didikan ala militer dari ayahnya." jawab Kamisha sambil menarik selimut agar menutupi tubuhnya yang polos. Xander selalu menggoda dengan menarik selimut itu ke bawah. "Laras memiliki semua bukti asli yang sudah ia kirim ke bagian keuangan. Tapi kenapa setelah sampai disana semuanya berbeda. Dan itu sama - sama asli."


"Pasti salah satu ada yang palsu sayang."


"Xander aku sudah dapat alamat rumahnya Rani. Ia tinggal di Tasikmalaya."


"Masih, kata Sofi ketika Rama dipenjara ia kembali tinggal di Tasikmalaya bersama orang tuanya. Ia sempat berdagang pakaian dipasar. Tapi karena sudah terbiasa hidup berfoya - foya bersama Rama pendapatan yang diperolehnya ia anggap kurang. Ia memutuskan kembali ke Bandung dan bekerja di klub malam "


"Memang terkadang kalau kita lupa akan bersyukur ya pasti akan bernasib seperti Rani."


"Apa yang nanti akan kalian lakukan?"


"Aku akan kesana bersama Harvey. Kau tidak apa - apa kan kalau nanti sore aku tinggal ke Tasikmalaya?"


"Menurutmu?" goda Kamisha.


"Hmmm, kau pasti akan sangat merindukanku."


"Itu sudah tahu jawabannya kenapa nanya." Kamisa membelai lembut dada suaminya. "Oya menurutmu kecurangan apa saja yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk memanipulasi suatu laporan?"


"Macam - macam." jawab Xander. "Misalnya membuat nota atau faktur palsu, menaikkan harga, memanipulasi sistem aplikasi bahkan bisa juga membuat tanda tangan palsu."


"Tunggu, tanda tangan palsu?"


"Iya, tapi itu butuh keahlian. Tidak mudah membuat tanda tangan palsu."


"Sayang, sepertinya aku melewatkan sesuatu." Kamisha menyibakkan selimut dan langsung berdiri tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun.


Xander tersenyum melihat kelakuan istrinya. Dengan penuh kesabaran, ia membawakan baju yang sudah dikirim Alex ke kamarnya.


"Pakai baju dulu nanti masuk angin."


"Terima kasih sayang." balas Kamisha sambil terus mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Kamu cari apa?"


"Cari nota yang ada tanda tangannya Laras."


"Buat apa?"


"Aku mau mencocokkan tanda tangan Laras antara nota yang di kirim ke keuangan dengan nota copy yang kami simpan."


Kamisha dibantu dengan Xander memeriksa dengan teliti.


"Sayang sepertinya tanda tangan ini ada sedikit perbedaan."


"Kamu benar."


"Aku akan telpon Alex, nanti dia akan bawa tanda tanga ini ke ahlinya. Pernyataannya bisa dijadikan bukti nanti."


"Baiklah."


"Dari mana kamu bisa berprasangka kalau itu tanda tangan palsu? ini benar - benar mirip."


"Tadi kau bilang bisa juga manipulasi melalui tanda tangan palsu. Dan aku teringat akan seseorang yang bisa melakukannya. Ia baru saja mengaku kalau ia bisa memalsukan tanda tangan."


"Siapa?"


"Norman anggota timku. Tadi pagi secara tidak sengaja ia bercerita kalau pengajuan pinjaman uang ke perusahaan, tidak perlu repot - repot membawa istrinya kemari karena tanda tangan istrinya bisa ia palsunya."

__ADS_1


"Yah memang benar kata epatah, sepandai pandainya tupai melompat ia akan jatuh juga. Dia tidak sadar telah mengakui kejahatannya sendiri."


"Aku jadi aemakin yakin kalau Laras tidak bersalah dan ia tidak akan di pecat."


"Good job sayang. Aku bangga padamu." Xander mengecup kening Kamisha. "Oya sebentar lagi Alex kemari mengambil gambar tanda tangan itu."


"Baiklah sayang, aku akan mandi dulu."


"Sha."


"Ya, ada apa?" Kamisha berbalik lagi. Langkahnya terhenti.


"Bisa aku minta tolong?"


"Minta tolong apa sayang?"


"Temuilah Zeline, ketika Harvey jujur padanya mengenai semuanya___"


"Termasuk Axel?" potong Kamisha.


"Ya termasuk Axel, Kyara dan juga Rani ia diusir dari rumah." lanjut Xander. "Ia memberi waktu Zeline untuk menenangkan diri. Cobalah kau bertemu dengannya ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi. Harvey tidak ingin nerpisah dengan Zeline."


"Baiklah sayang, nanti sore aku akan membuat janji dengan Zeline."


"Terima kasih sayang."


"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajibanku sebagai istrimu."


Xander sangat bersyukur memiliki Kamisha sebagai istrinya. Penantian lamanya selama lima tahun tidak sia - sia.


🌸🌸🌸🌸


"Sorry Sha, aku terlambat. Masih ada meeting tadi."


"It's oke. Mau minum apa?"


"Hmm.. orange juice sama cheese cake."


"Oke." Kamisha segera memesan makanan untuk Zeline.


"Kau sendirian?" tanya Zeline yang meletakkan tas nya di sebuah kursi kosong.


"Tidak, aku datang bersama Axel dan mbok Sri. Mereka sedang bermain di taman depan."


"Oh." Zeline tertunduk.


"Xander dan Harvey hari ini ke rumah Rani. Mereka sedang mengumpulkan bukti - bukti untuk menangkap Rani."


"Kau sudah tahu masalah itu?"


"Sudah, karena Rani adalah mantan karyawan di toko kue ku."


"Apa? kenapa jadi kebetulan seperti ini?"


"Boleh aku cerita?"


"Silahkan."


"Dulu aku punya kekasih bernama Rama, ia berselingkuh dengan Rani. Kami putus dan Rani aku pecat. Saat itu hampir saja aku disiksa oleh Rama, beruntunglah ada Xander yang menolongku. Cobaan datang bertubi - tubi padaku, tapi saat itu ada Axel yang dititipkan padaku untuk aku rawat. Axel adalah cahaya terang buatku. Walaupun dia bukan anak kandungku tapi begitu melihatnya ketika bayi seperti ada keterikatan hati antara aku dan dia. Mungkin karena kami bernasib sama. Sama - sama di telantarkan." Kamisha bercerita dengan mata berkaca - kaca.


"Oh god, aku tidak tahu kalau dulu hidupmu seberat itu Misha. I'm so sorry."


"Tapi aku sekarang bahagia bisa menikah dengan pria yang luar biasa, yang selalu menyayangi dan melindungi kami. Aku bahkan rela memberikan hidupku demi Xander."


"Kau begitu mencintai Xander, karena Xander baik. Apa Harvey seperti itu? layak aku pertahankan."


"Tentu saja layak, Harvey sangat mencintaimu Zeline. Kalau dulu dia pernah berbuat kesalahan bukankah itu terjadi sebelum mengenalmu dan itu bagian dari masa lalu yang tidak bisa kita hindari." jawab Kamisha. "Coba sekarang kau berpikir dengan jernih, Harvey bersedia dengan ikhlas menunggumu untuk memiliki anak lagi, merawatmu ketika kamu sakit dan jujur dengan apa yang dia alami walaupun itu berat."


"Itu aku tahu, tapi entah kenapa hatiku masih sakit."


"Kita buang ego kita demi orang yang kita cintai. Mereka bisa melakukan apa saja untuk kita, kenapa kita tidak bisa berkorban juga untuk mereka. Rumah tangga itu saling memberi saling menerima. Seharusnya kita dukung mereka jika sedang ada masalah. Kuncinya sabar dan ikhlas."


Zeline menangis sesenggukan. "Aku mencintai Harvey, Misha."


"Aku tahu." Kamisha memeluk Zeline untuk memberikan ketenangan. "Kalau kau mencintainya kenapa kau tidak berusaha memaafkan kesalahannya dan mulai dari awal lagi."


"Apakah dia masih mau menerimaku karena kemarin aku mengusirnya?"


"Tentu saja mau, kau tidak tahu betapa frustasinya dia saat kau marah. Dia sangat mencintaimu Zeline. Percayalah padaku."


Zeline mengangguk - angguk sambil mengusap air matanya. "Aku ingin dia kembali padaku."


"Teleponlah, aku yakin dia akan kembali ke sisimu dengan senang hati."


Tiba - tiba..


"Mommy kenapa kau membuat tante Harvey menangis?"


"Namanya bukan tante Harvey tapi tante Zeline, dan mommy tidak membuatnya menangis. Tante Zeline hanya kangen dengan om Harvey." Kamisha mengusap lembut kepala putranya.


"Ini Axel?" tanya Zeline pada Kamisha.


Kamisha mengangguk.


"Tante Zeline mau aku peluk. Mommy kalau kangen daddy biasanya langsung memelukku."


"Bolehkah?" tanya Zeline


"Tentu saja boleh." Axel memeluk Zeline dengan erat. "Jangan menangis tante Zeline."


"Terima kasih sayang." Zeline mencium pipi Axel yang gembul. "Misha."


"Ya."


"Sepertinya aku ingin memiliki anak dengan Harvey." ucap Zeline.


"Wow.. aku bahagia mendengarnya." Kamisha kembali memeluk Zeline. Harvey cepatlah kau selesaikan masalahmu dengan Rani. Karena kau akan menerima berita yang menggembirakan ucap Kamisha dalam hati.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2