Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 12


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 21:16, ketika Chéri dan Rafaél tiba di MoscovArt Theatre.


Para anggota belum ada yang pulang satu pun. Mereka berkerumun di lobi menunggu Rafaél.


Rafaél terbelalak mendapati mereka begitu ia menyibak pintu masuk.


Chéri juga tercengang!


Mikail dan Demian yang berdiri paling dekat dengan pintu, segera menghambur ke arah mereka.


"Rafaél---kalian berdua…" Demian menggantung kalimatnya dan membeku dengan wajah cemas.


"Barusan ada telepon dari Tsar Dramy," Mikail mengambil alih pembicaraan. "Mereka mengajukan protes. Katanya, kau memukul roboh Vladimir di depan publik."


Rafaél tidak menggubrisnya. "Teman-teman," katanya seraya menghadap ke arah para anggota yang berkerumun di dekat tangga. "Pementasan Marionette akan dibatalkan!" Ia mengumumkan.


Mikail mengerutkan dahinya. "Kita sudah memesan gedung untuk pementasan sejak setahun yang lalu," protesnya.


"Aku tahu hal ini akan merepotkanmu," Rafaél meletakkan sebelah tangannya di bahu Mikail. "Mengatasi persoalan dana dan pemberitaan resmi pada publik memang bukan perkara mudah."


"Tapi, Rafaél!" Demian menginterupsi. "Kita berada di pihak yang benar. Bagaimana kalau kita adu Marionette kita dengan Marionette mereka?"


"Percuma saja," sergah Rafaél seraya mendesah dan memalingkan wajah. "Mereka sangat bagus," katanya pesimis. Kemudian tertunduk.


Seisi ruangan terdiam.


Tidak, pikir Chéri. Dia tidak seharusnya patah arang seperti ini hanya karena mereka lebih bagus. Bagaimanapun penulis asli tetap lebih berhak. Dia tidak boleh mundur. "Aku tidak mau ini terjadi!" Chéri memberanikan diri untuk bicara.


Seisi ruangan menoleh pada Chéri.


Rafaél menatapnya dengan binar samar kekaguman.


"Bagaimana dengan alternatif?" Chéri berkata ragu. Dia pasti tidak mau, pikirnya. "Barangkali Marionette lain---Marionette II…"


Semua mata mengerling penuh harap.


Rafaél tampak berpikir dan menimang-nimang. Lalu tersenyum tipis.


Mikail meliriknya diam-diam, kemudian bertukar pandang dengan Demian.


Sesha menggigit bibirnya menyembunyikan senyum.


Rafaél mengulurkan sebelah tangannya diam-diam dan melingkarkannya pada pinggang Chéri.


Gadis itu terkesiap dan berdebar-debar. Dia memelukku selama beberapa jam terakhir, pikirnya. Dan aku memeluknya sepanjang perjalanan. Tapi kenapa sentuhan ini terasa berbeda?

__ADS_1


"Baiklah," kata Rafaél sedikit melembut. "Karena jadwal pementasan hanya tinggal tiga minggu lagi. Sebagai ganti Marionette, kita akan mementaskan ulang Si Cantik Dan Si Buruk Rupa."


Seisi ruangan bergumam senang. Beberapa orang mulai memandang hormat Chéri.


Gadis kecil ini memang bukan pemula biasa seperti kata Mikail, pikir beberapa orang.


"Chéri juga akan kuberi peran!" Rafaél mengumumkan.


Seluruh anggota berseru antusias.


"Aku ingin membuat pertunjukan yang akan membuat Keparat itu terkejut!" Rafaél menandaskan.


Semua orang mengacungkan tinju, memberinya semangat.


"So—" Rafaél berteriak riang. "Follow me!" Ia memutar tubuhnya ke arah koridor, kemudian bergegas ke ruang latihan tanpa melepaskan rangkulannya dari pinggang Chéri.


Tak seorang pun memperhatikan itu. Mereka terlalu bersemangat untuk melakukan persiapan. Jadi, mereka hanya mengikutinya saja dengan langkah-langkah lebar.


"Ini pementasan ulang yang sangat mendadak," Rafaél menjelaskan setelah mereka sampai di ruang latihan. "Jadi, aku akan memutarkan video rekaman pementasan sebelumnya," tuturnya seraya menyiapkan perangkat proyektor yang baru diambilnya dari ruang properti. "Aku ingin kalian mengingat situasi panggungnya," katanya.


Seorang gadis menyelinap di sisi Rafaél dan mendorong Chéri menjauh dari Rafaél.


Chéri memekik terkejut dan beringsut seraya menoleh.


Rafaél tidak menyadarinya!


Gadis itu berusia dua puluh tahun---dua tahun lebih tua dari Chéri. Tapi wajahnya jauh lebih mungil dan terlihat seperti seumuran. Rambutnya lurus hitam mengkilat dan dipangkas sebatas bahu bergaya segi dengan poni menutupi alis. Sepasang matanya yang berwarna hitam juga hidung mancung mendongak serta tulang rahang yang tinggi membuatnya terkesan judes.


Tidak! Dia memang judes sungguhan, protes Chéri pada Penulis. Dia baru saja mendorongku!


"Meski pun drama ini dipentaskan setahun yang lalu, aku yakin kalian semua pasti bisa langsung mengingat dialog dan penyutradaraannya. Tapi…" Rafaél kembali bicara, setelah proyektor dinyalakan.


Chéri tidak terlalu memperhatikan perkataannya. Perhatiannya terfokus pada video yang sedang ditayangkan.


Rafaél memerankan tokoh utama pria dalam drama itu.


Rafaél menjadi si Buruk Rupa? Chéri melirik ke arah Rafaél.


Pria itu sedang merobek setengah dari lembaran naskah. "Skenario setahun yang lalu ini sudah tidak berguna."


Beberapa anggota membelalakkan mata mereka.


"Tokoh-tokohnya juga hampir semuanya akan diperbarui," kata Rafaél lagi. "Sambil mencocokan peran dengan para pemain, skenario ini akan ditulis ulang. Aku ingin kalian menganggap drama ini sebagai karya baru."


Setengah dari seisi ruangan terdengar mengerang.

__ADS_1


Chéri kembali memperhatikan layar.


"Bagi kalian yang mendapatkan peran, sepanjang hari ini kalian harus mempelajari peran masing-masing." Rafaél melanjutkan. "Kita tidak punya waktu lagi!"


Chéri tertegun. Dia bilang aku juga akan diberi peran, pikirnya. Bagaimana ini? Aku belum pernah main teater. Seketika Chéri menyesal telah mengajukan gagasan ini. Tapi di sisi lain, dia juga tidak berharap si pencuri naskah merasa di atas angin sementara penulis aslinya terpuruk dan merasa kalah.


"Ayah si cantik, Ibrahim Solomonov!" Rafaél mengumumkan.


Chéri menghela napas pelan. Serahkan nasib pada Tuhan, katanya dalam hati. Sudah berjalan sejauh ini, pikirnya. Sudah tidak bisa lari dan berhenti.


"Kakak perempuan, Spade, diperankan oleh Lila Blesinskaya. Kakak laki-laki, Heart, diperankan oleh Saul Evanskov. Kakak perempuan, Clover, diperankan oleh Evaline Jhonskova."


Evaline menggeram sembari mendelik pada Chéri.


Chéri mengerutkan dahi.


"Dewi Bulan, diperankan oleh Sesha Montrosecova." Demikian seterusnya, setiap kali ada nama yang dipanggil, semua orang terlihat tegang dengan ekspresi harap-harap cemas.


Sebagian merasa puas, sebagian merasa kecewa. Sebagian lagi terlihat bertanya-tanya, apakah mereka akan mendapatkan peran yang bagus. Apakah sutradara akan memberikan peran.


Sementara peran tinggal sedikit lagi, semua orang mulai melirik pada Chéri.


Chéri mengerjap dan berpura-pura fokus pada layar.


Dia belum dipanggil juga, pikir semua orang. Apa mungkin Rafaél berniat memberinya peran utama?


"Nah, sekarang peran utama." Rafaél mengumumkan.


Seisi ruangan mulai menegang. Tatapan mereka makin tertuju pada Chéri.


Aura permusuhannya terasa sekali, pikir Chéri.


Tiba-tiba, pintu ruang latihan berderak membuka, disusul teriakan seorang gadis. "Buruk Rupa!"


Seisi ruangan serentak berpaling ke arah pintu.


Selamat! pikir Chéri lega. Perhatian semua orang teralihkan sekarang.


Seorang gadis berambut ikal keemasan melangkah masuk dan mendekat pada Rafaél. "Kau adalah pria terhormat. Tak peduli seberapa buruk rupamu… tak peduli seberapa berbulu dan menakutkannya sosokmu, di mataku kau adalah pria yang baik hati."


Seisi ruangan bertepuk tangan.


Gadis itu menyeringai.


"Itu kan, Cyzarine Pedrova!" Seseorang berkata di belakang Chéri. "Bukankah dia sudah berhenti?"

__ADS_1


Apa dia pemeran si cantik yang dulu? Chéri bertanya-tanya dalam hatinya. Ia memperhatikan gadis itu dan melirik pada Rafaél.


Pria itu tetap memasang wajah datar seperti biasa. "Caramu mengucapkan dialog terlalu menggoda," katanya.


__ADS_2