Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 23


__ADS_3

"Whoa…! Boneka Rafaél!"


Chéri tersentak ketika tahu-tahu Vladimir sudah memelototinya seraya bersedekap. Kerumunan orang-orang tadi rupanya sudah terkuak, dan ia tidak menyadarinya.


Sekarang Vladimir menemukannya dan melangkah pelan menghampirinya sembari menyeringai.


Demian terperangah di belakang pria itu.


Chéri beringsut mundur ketika Vladimir semakin mendekat.


"Kudengar kau berperan sebagai Si Cantik bersama Cyzarine Pedrova?" Vladimir bertanya dan menghentikan langkahnya, dua langkah di depan Chéri. Kemudian menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Chéri memelototinya dengan mulut terkatup.


"Katanya hari pertama Cyzarine, dan kau di hari kedua?" Vladimir menambahkan seraya melangkah lebih dekat lagi.


Chéri melangkah mundur menjauhinya.


"Aku nonton tidak, ya?" Vladimir mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari, pura-pura berpikir keras.


Chéri spontan mencelat melewati Vladimir kemudian menghambur ke arah Demian. "Ayo, pergi!" Chéri merenggut lengan Demian dan menggamitnya.


"Hei—" Demian memekik terkejut.


Vladimir berbalik menghadap ke arah mereka.


"Kita tidak punya waktu untuk berbasa-basi," kata Chéri pada Demian. "Kami sedang sibuk menyukseskan drama kami," katanya pada Vladimir.


Vladimir terkekeh. "Percuma saja," sergahnya enteng. "MoscovArt Theatre akan hancur dengan drama itu!"


Chéri menghentikan langkahnya dan menoleh pada Vladimir.


"Riwayat Rafaél sudah tamat," tandas Vladimir.


Chéri mengetatkan rahangnya dan menerjang ke arah Vladimir.


Demian menyergap bahunya.


"Apa kau sedang mengancamku?" Chéri menggeram pada Vladimir.


Vladimir tergelak.


"Kenapa kau tertawa?" Chéri berteriak seraya menyentakkan tubuhnya. "Apa yang lucu?"


"Kecilkan suaramu!" Demian mengetatkan rangkulannya di bahu Chéri.


Chéri menggeliat-geliut dalam rengkuhan Demian seraya melotot pada Vladimir.


"Kau betul-betul seperti boneka," cemooh Vladimir seraya mendekat. Kemudian merunduk, mencondongkan tubuhnya ke arah Chéri. "Kalau tombol ini di tekan, kau akan melotot." Vladimir menempelkan ujung telunjuknya di cuping hidung Chéri.


Chéri menyentakkan wajahnya ke samping.


"Kalau tombol yang ini ditekan, kau akan marah!" Vladimir mencubit dagu Chéri dan menarik wajah gadis itu menghadap ke wajahnya.


Chéri beringsut seraya mendorong dada Vladimir.


"Dengan cara berpikirmu yang sesederhana ini, ditambah karaktermu yang seperti… boneka, kau memang cocok menjadi pemain drama!" Vladimir mengulurkan tangannya ke kening Chéri dan menjentikkan poni gadis itu dengan ujung jarinya.


Chéri menepiskannya. "Jangan sentuh!" hardiknya ketus.

__ADS_1


Vladimir kembali tergelak. "Jadi kau tidak mengizinkan pria lain menyentuhmu kecuali Rafaél?" godanya.


"Diam kau," sembur gadis itu sembari merenggut kacamata Vladimir dan melemparkannya.


"Hei—" Demian memekik terkejut seraya menyambar pinggang Chéri dengan spontan. Kemudian menariknya menjauh dari Vladimir.


"Kau mau menonton pertunjukan kami?" Chéri masih berkoar. "Silahkan saja! Itu pun kalau kau masih bisa melihat tanpa kacamatamu!"


"Tutup mulutmu!" Demian menggeram seraya menyeret gadis itu dan mempercepat langkahnya.


Begitu mereka sampai di MoscovArt Theatre, Rafaél menyambut mereka dengan semburan spektakuler. "Kalian terlambat!"


"Maaf," desis keduanya nyaris bersamaan.


"Pementasan sudah dimulai besok, dan kalian masih main-main!" Rafaél menghardik mereka. "Apa kalian mau dikeluarkan dari peran utama?"


Chéri dan Demian sekarang membeku bersamaan.


Tiga orang anak menghambur ke arah mereka.


Satu orang memakaikan jubah pada Demian, sementara dua lainnya mendandani Chéri di tempat itu juga dengan kecepatan turbo. Yang satu memakaikan gaun, yang lainnya merias wajah Chéri.


"Tidak ada waktu lagi untuk pergi ke ruang kostum," kata gadis yang memakaikan gaun.


"Kau hanya perlu memakai jubah saja," instruksi seseorang kepada Demian. "Mulai dari babak-6."


"Syukurlah, mereka berdua kelihatannya sudah akur," gumam Sesha. "Telatnya saja sama-sama!"


Rafaél menaikkan sebelah alisnya dan menoleh pada Chéri dan Demian.


"Kau bersiap di belakang spot light," anak perempuan yang memakaikan gaun Chéri berkata pada Demian. "Kau juga," katanya pada Chéri seraya memutar tubuh gadis itu dan menarik ritsleting di punggungnya.


"Sudah!" kata si gadis yang merias wajah Chéri seraya menekankan tisu di bibir gadis itu. "Demian sudah naik panggung," katanya.


Dua orang pemain sedang berakting di bawah lampu spot light, ketika Chéri sudah berada di atas panggung di belakang mereka.


Demian menekuk kepala Chéri dan menyusupkan kepala gadis itu di bawah jubahnya.


"Jadi… Si Cantik masih hidup?" Kakak perempuan Si Cantik berdialog.


"Benar," jawab kakak laki-laki Si Cantik.


"Demian…" Chéri berbisik setelah ia berbaring di pangkal kaki Demian, sementara pria itu duduk bersila mengungkung tubuhnya.


Demian merunduk mendekatkan telinganya ke mulut Chéri.


"Kenapa kau bisa bersama Vladimir?" tanya Chéri. "Padahal kau tahu dia telah mencuri naskah Rafaél dan memojokkan teater kita. Ada urusan apa kau dengan Vladimir?"


"Ada sesuatu yang kuminta," Demian mengaku.


"Apa kau sudah gila?" Chéri merenggut jubah Demian dan mengangkat kepalanya dari kaki Demian.


Demian mendesah pendek. "Dengar, Chéri! Vladimir Valensky ini sejenis monster mengerikan. Dia takkan melupakan penghinaan Rafaél saat pertunjukan dramanya."


"Tapi—"


"Kau juga terlalu gegabah," sergah Demian.


"Apa dia berniat merusak pentas kita besok?" Chéri menarik duduk tubuhnya.

__ADS_1


"Chéri! Jangan sembarang bergerak!" Teriakan Rafaél menggelegar dari bangku penonton.


Chéri dan Demian tergagap.


"Yang sedang di sorot itu pemain di depanmu. Kalau kalian sembarangan bergerak bisa menarik perhatian!"


"Nah, kan?" Sesha mendesis pada Rafaél. "Mereka sekarang sudah akrab. Di tengah pertunjukan saja mereka berbisik-bisik."


"Kau sendiri juga berbisik-bisik," sergah Rafaél ketus.


Sesha langsung membekap mulutnya dengan telapak tangan.


Sementara Rafaél mengatupkan mulutnya dengan tampang cemberut.


Cyzarine menggeram di belakang mereka seraya menggigiti kukunya. "Keparat si Demian," gerutunya tak senang.


"Demian…" Chéri berbisik lagi setelah ia kembali berbaring di kaki Demian. "Drama kita pasti sukses, kan?"


Demian tidak menjawab. Bukan karena tidak mendengarnya. Tapi karena tak yakin dengan jawabannya.


"Berada di sini… di tempat yang bermandikan cahaya ungu-biru, aku bisa merasakan kelembutan Si Cantik. Lebih lembut dari biasanya."


Demian tersenyum tipis. "Benar," ia menimpali. "Sebab panggung adalah semesta kecil yang telah disihir."


.


.


.


Keesokan harinya…


Hari pertama pementasan.


"Satu setengah jam lagi… tirai panggung akan dibuka," tutur Rafaél di tengah-tengah para pemain.


Mereka semua berkumpul di atas panggung, lengkap dengan kostum masing-masing.


Rafaél mengenakan jaket denim abu-abu berlapis t-shirt tangan panjang berkerah tinggi warna putih yang dipadu dengan jeans putih. Tampak ramah dan sedikit lembut.


Chéri berdiri di belakangnya mengenakan sweatshirt warna krem yang lembut, dengan jeans ketat warna putih dan sepatu lars selutut berwarna hitam. Rambut cokelat madu ikal gelombang yang panjangnya sampai ke sepinggang, diikat kencang ke belakang menyerupai ekor kuda.


Cyzarine tampil memukau dengan gaun putih bergaya putri Eropa pada abad pertengahan.


Para pemain lainnya juga tak kalah semarak.


Tapi entah kenapa Chéri merasa masih ada yang kurang.


"Mulai saat ini… panggung menjadi milik kalian para pemain," Rafaél melanjutkan. "Buatlah para penonton terpesona. Buatlah aku bangga," katanya penuh khidmat.


Para pemain menghela napas panjang dan menghembuskannya nyaris bersamaan.


Rafaél mengulurkan sebelah tangannya ke depan, disambut para pemain dan pengurus panggung.


"Good luck!" Rafaél berteriak.


"Good luck!" seru yang lainnya serempak seraya mengayunkan tangan mereka yang bertumpuk bertautan-tautan, kemudian mengentakkannya bersama-sama.


Aku tahu! Chéri menyadari.

__ADS_1


Demian tidak ada di sana!


__ADS_2