
"Adegan terakhir… butiran cahaya berkilauan jatuh dari atas sebagai fade out!" Pengawas panggung menginstruksikan.
Mikail membeku di sisinya menatap Chéri dan Rafaél tanpa berkedip.
Tirai panggung resmi ditutup.
Lampu spot light dimatikan.
Rafaél melepaskan pelukannya dan mencengkeram pergelangan tangan Chéri.
Chéri memekik terkejut.
Pria itu menghelanya berlari keluar panggung.
"Tunggu!" Chéri berusaha menahannya. "Masih ada curtain call…"
Pria itu tidak menggubrisnya.
"Jangan lari di tempat gelap, nanti tersandung!" Chéri tak menyerah.
Rafaél menghentikan langkahnya secara mendadak. Kemudian berbalik menghadap Chéri.
Chéri bisa merasakan wajah pria itu sangat dekat.
"Apa kau benar-benar Rafaél?" Chéri bertanya gugup ketika Rafaél meraba-raba bahu dan pinggangnya. Lalu tiba-tiba sudah menggendongnya, kemudian membawanya turun dari panggung dan melarikannya ke ruang kostum pria.
Para staf dan pemain lain tersentak melihat tingkah lakunya.
Pria itu menurunkannya dan mengunci pintu.
Chéri memekik tertahan. Bayang-bayang peristiwa di ruang kostum sebelumnya melintas dalam benaknya.
Mungkinkah dia masih kepribadian yang lain? Chéri membatin gusar.
"Kau sudah melihatnya?" Rafaél bertanya terengah-engah.
Ah, syukurlah! Ternyata dia Rafaél, pikir Chéri lega.
"Kau sudah melihat kepribadianku yang lain?" Rafaél bertanya lagi.
Chéri masih tergagap, tak bisa langsung menjawab.
"Katakan apa saja yang dia lakukan?" Rafaél mendesaknya. "Ceritakan semuanya!"
"Dia…" Chéri menjawab ragu. Dia menciumku, kenangnya masam. Apakah aku harus mengatakannya juga?
Orang-orang di belakang panggung mulai berisik.
Mikail dan pengawas panggung menyerbu ke tengah-tengah mereka.
"Di mana Rafaél?" Mikail dan pengawas panggung bertanya nyaris serempak.
"Tidak tahu," seseorang menjawab mereka sembari mengedikkan bahunya. "Pokoknya tadi Rafaél langsung ke ruang kostum sambil menggendong Chéri," katanya acuh tak acuh.
"Kenapa mereka berdua mengurung diri lagi?" Pengawas panggung merutuk jengkel sembari bergegas ke ruang kostum. "Sebentar lagi mau curtain call!"
"Aku sebetulnya tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan di ruang kostum," gerutu seorang pemain. "Tapi kebiasaan mereka mengunci pintu mau tidak mau membuat otakku traveling."
Mikail melirik pemain itu dengan wajah cemberut, kemudian melewatinya dengan langkah-langkah lebar.
Pengawas panggung berjalan di depannya sambil mengumpat-ngumpat.
Mikail segera menyusul pria itu dan mendahuluinya ke ruang kostum.
Rafaél masih duduk membungkuk di meja rias sementara Chéri duduk di bangku, tepat di depannya.
"Apa yang lain tahu?" Rafaél belum selesai menginterogasi.
"Yang tahu hanya aku dan Mikail," jawab Chéri. "Seperti yang kuceritakan tadi," ia menambahkan.
__ADS_1
"Kau baru menceritakan garis besarnya saja," sanggah Rafaél. "Aku ingin tahu secara mendetail, apa saja yang dilakukannya selagi aku tidak sadarkan diri. Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Chéri mendesah pendek seraya tertunduk.
Rafaél ikut tertunduk. "Mengerikan, ya? Aku bisa mengerti," katanya muram. "Tentu kau tidak nyaman bersama dengan seseorang yang tiba-tiba berubah menjadi orang lain."
"Tidak! Bukan begitu," sergah Chéri. "Aku—"
BRUAK!
Pintu terbanting membuka.
"Kalian benar-benar keterlaluan," sembur Mikail dari ambang pintu.
Chéri dan Rafaél menoleh serentak.
"Mengurung diri seperti ini… orang-orang bisa curiga!" Mikail memarahi mereka.
"Aku mengerti," kata Rafaél seraya melompat turun dari meja, kemudian berbalik memunggungi Chéri dan Mikail. "Chéri, kau boleh pergi!"
Chéri menatap punggung pria itu, dan melirik ke arah Mikail.
Kedua pria itu mengatupkan mulutnya dengan tampang masam.
Chéri menghela tubuhnya berdiri dan melangkah keluar ruangan.
Begitu sampai di luar, Cyzarine menghadangnya seraya bersedekap. "Kudengar dia menciummu, apa itu benar?"
Chéri tidak menjawab.
"Gara-gara itu Rafaél jadi kacau, kan?" Cyzarine meninggikan suaranya.
Chéri mengetatkan rahangnya. Bersiap untuk membantahnya. Tapi kemudian segera ingat ia tak bisa mengatakannya. Jadi Chéri tetap mengatupkan mulutnya.
Cyzarine mendesah pendek. "Paling tidak kau sudah menang," katanya seraya membeliak. "Rafaél-lah yang mengacaukan pertunjukan, dan bukan kau!"
Chéri masih membeku di tempatnya.
BRUAK!
Pintu ruang kostum berderak membuka.
Mikail menyeruak keluar dan merenggut Chéri ke dalam pelukannya.
Cyzarine mendengus dan memalingkan wajahnya dengan sikap ketus. "Lihat saja," katanya. "Aku akan meminta kembali peran Si Cantik yang telah kau rebut. Aku kan, jauh lebih bagus!"
Mikail memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
.
.
.
Hiruk-pikuk para penonton bergemuruh seperti dengung lebah yang sedang gelisah.
"Pertunjukan yang mendebarkan!" Komentar beberapa orang, terdengar tumpang tindih, bersahut-sahutan di tengah arus antrian keluar.
"Aku juga berdebar-debar tadi waktu terakhir kali Si Cantik memanggil Si Buruk Rupa…"
"Sebetulnya akting Si Cantik tadi biasa-biasa saja, tapi anehnya aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya."
"Cantiknya…"
"Akting Di Buruk Rupa dari awal sampai akhir sangat bagus, tapi apa kalian merasa ada yang ganjil di tengah-tengah pertunjukan?"
"Aku juga merasa aneh!"
Kyle menyeruak di tengah-tengah kerumunan dan menyelinap ke sisi teras untuk kemudian mencopot pamflet yang dipasangnya di depan pintu.
__ADS_1
"Rupanya kau lagi!"
Suara itu membuat Kyle tersentak dan berbalik sekaligus. Terdengar begitu… dekat!
Mikail Volkov…
Tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya seraya bersedekap.
"Ahahaha!" Kyle tertawa gelisah seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Sejak kapan dia berdiri di situ? Katanya dalam hati.
Dasar keparat kecil, batin Mikail.
.
.
.
Di depan ruang administrasi…
Hiruk-pikuk para pemain juga tak kalah gaduh.
"Hei! Rafaél mengundurkan diri dari peran Si Buruk Rupa!"
Apa?
Chéri tersentak mendengar pembicaraan itu, kemudian menyeruak ke tengah kerumunan.
Di dekat pintu masuk ruang administrasi, di papan pengumuman, tertulis daftar pemain yang akan tampil pada hari kedua.
Chéri membeku menatap daftar peran utama.
Si Buruk Rupa: Saul Evanskov.
"Akhirnya… dia mengizinkan Saul…" Seseorang berkata di belakangnya.
Chéri tercenung.
Kalau begitu, untuk apa aku…
"Chéri!" Suara Mikail Volkov menyentakkan gadis itu dari lamunannya.
Chéri berbalik dan menatapnya tanpa bersemangat.
"Kau pulang duluan saja," kata Mikail. "Malam ini Rafaél akan menginap di tempatku. Katanya dia tidak percaya diri kalau harus berada dalam satu tempat bersamamu."
Apa katanya?
Tidak percaya diri?
Tadi dia tidak sekali pun menyinggung hal itu.
"Apa karena kepribadian itu… bisa menyerangku?" Chéri bertanya sedih.
"Well, kita tidak pernah tahu kapan kepribadian itu akan muncul," jelas Mikail. "Dia bisa berubah sewaktu-waktu. Jadi… kita tak boleh ambil risiko."
Chéri tertunduk lemas, semakin kehilangan daya hidupnya.
"Dia tidak segan-segan melakukan itu padamu," bujuk Mikail. "Situasinya sangat berbahaya. Beristirahatlah, Chéri! Besok kau masih harus tampil."
Chéri masih bergeming.
"Mau kuantar ke kamarmu?" Mikail menawarkan.
Chéri menggeleng lemah.
"Hei—bersemangatlah!" Mikail menepuk puncak kepala Chéri.
Chéri memaksakan senyum dan melambaikan tangannya sekilas. Kemudian memutar dan berjalan ke arah lift dengan langkah-langkah limbung.
__ADS_1
Padahal aku sudah susah payah berusaha menyukai teater, batinnya muram. Apa sekarang aku tidak bisa main dengan dia lagi?