Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 87


__ADS_3

Siapa yang telah mengeluarkanku dari dalam api?


Apa itu hanya mimpi?


Chéri bertanya-tanya di antara kesadarannya yang timbul tenggelam. Kelopak matanya bergetar. Jemarinya bergerak.


Mikail terkesiap dan menghambur ke sisi brankar.


Sesha, Leah dan Kyle berkerumun di depan pintu.


Kepala Chéri bergerak-gerak. Napasnya tersengal.


"Dia mulai siuman," Sesha berseru gembira.


"Chéri!"


Siapa?


Chéri terhenyak dan terduduk.


Semua mata mengerjap menatapnya.


Chéri membeku dan mengedar pandang, kemudian mengamati dirinya, mengangkat kedua tangannya yang diperban, dipasangi kabel infus. Aku selamat, katanya dalam hati.


Senyuman penuh kelegaan merekah di bibir Mikail. "Ah, syukurlah! Kau akhirnya sadarkan diri," gumamnya gembira.


Sesha dan yang lainnya menerobos masuk dan mengerumuni brankar gadis itu. "Aku terharu sekali saat melihat Rafaél keluar menggendongmu," tutur Sesha di antara senyum dan tangisan haru.


Jadi…


Itu bukan mimpi?


Chéri tersenyum ke arah teman-temannya.


Demian dan Ibrahim melongok di ambang pintu, tersenyum lebar sembari mengacungkan ibu jari mereka.


"Bagaimana dengan Rafaél?" Chéri bertanya pada Mikail.


Sesha mendesis menahan tawa sembari membekap mulutnya.


Chéri mengerutkan keningnya.


Mikail juga menyeringai, "Dia di sana!" Mikail memberitahu sembari menunjuk ke seberang ruangan.


Chéri menoleh ke sisi lainnya dan tertegun.


Seorang pria berambut pendek---tidak terlalu pendek, berdiri berdekap bersandar di bendul jendela. Sebagian rambutnya yang dibelah menyamping menutupi sebagian wajah dan sebelah matanya.


Bukan Rafaél!


Siapa dia?


Pria itu menyisir rambutnya dengan jemarinya, menurunkan kedua tangannya dari dada, kemudian menyelipkannya ke saku celana, lalu berjalan perlahan mendekati Chéri.


Chéri menelan ludah dan tergagap.


Ujung rambut pria itu melecut lembut dan jatuh kembali di wajahnya. Membuatnya terlihat berantakan sekaligus menawan dalam waktu bersamaan.


Tampan sekali, pikir Chéri.


"Kau tidak mengenali dia?" Mikail menggodanya.


Chéri melengak mengamati sosok pria asing itu dengan mata dan mulut membulat.


"Dia Rafaél," Sesha memberitahu.


Chéri menoleh pada Sesha.


"Karena rambutnya terbakar sebagian, Rafaél memangkas rambutnya," kata Sesha di antara senyum gelinya.


Chéri mengalihkan perhatian kembali pada pria di sisi brankarnya.


Pria itu berdeham, kemudian mengangkat wajahnya, dan mengedar pandang. "Well---guys," ungkapnya ragu-ragu. "Bisakah tinggalkan kami berdua?"


Seisi ruangan serentak mengacungkan ibu jarinya sembari tersenyum lebar, lalu menyingkir dari ruangan itu.


Chéri melengak menatap punggung teman-temannya, kemudian menoleh kembali ke arah Rafaél.


Rafaél?


Ah, rasanya tidak terlihat seperti Rafaél!


Hanya sedikit perubahan pada gaya rambutnya, tapi sudah mengubah keseluruhan kesan yang ditampilkan.


Pria ini terlihat lebih bersinar, lebih bersemangat, dan… lebih hidup.

__ADS_1


Dia bukan Rafaél!


Juga bukan Valentin.


Pria itu benar-benar berbeda dari keduanya. Chéri bisa merasakan itu. Ini bukan sekadar masalah perbedaan gaya rambut. Tapi sesuatu di dalam dirinya juga berbeda.


Chéri sama sekali tidak mengenali sosok ini.


Ya, dia mengenali wajah yang terlihat seperti hasil pahatan seorang maestro. Struktur tulang yang kuat dan garis wajah yang mengagumkan---seperti muncul dari mimpi, sebagai perwujudan sosok khayalan setiap wanita.


Chéri mengenali sepasang alis hitam dan tebal dengan bentuk yang elegan.


Chéri juga mengenali hidung mancung yang mendongak dan lekuk bibir yang terbentuk dengan sempurna.


Tapi Chéri tidak mengenali sepasang mata biru yang tidak mengandung magnet. Tidak ada tatapan menusuk yang dipenuhi misteri di sana. Tatapan itu terlihat sedikit… liar. Tapi berbinar-binar dipenuhi cahaya kehidupan. Gemerlapan dan sangat memukau.


Pria ini terlalu sempurna untuk menjadi Valentin maupun Rafaél.


Pesonanya terasa seperti karisma seorang pemimpin sebuah perusahaan besar.


Pria itu duduk perlahan di sisi tempat tidur Chéri.


Chéri beringsut sedikit menjauhinya. Sedikit kikuk dan salah tingkah.


Apa hanya perasaanku saja, pikir Chéri. Pria ini benar-benar asing.


"Rafaél…" Chéri berkata ragu.


Pria itu menatapnya dengan ekspresi teduh. Berbeda dengan ekspresi datar Rafaél, atau eskpresi dingin Valentin.


"Dan Valentin…" Chéri menambahkan dengan hati-hati.


"Ya," pria itu menyela perkataan Chéri. Mengerti arah pembicaraan gadis itu.


Chéri membekap wajahnya dan mengerang putus asa. "Semuanya gara-gara aku!" sesalnya hampir menangis. "Aku telah memecahkan cermin itu dan…" mereka berdua akhirnya benar-benar lenyap, Chéri menambahkan dalam hati, tak sanggup mengucapkannya.


Pria itu menyentuh lembut bahu Chéri, kemudian menariknya perlahan ke dalam dekapannya.


Chéri mengedikkan bahunya untuk menepis kedua tangan pria itu.


"Mereka tidak mati, Chéri!" Pria itu mengetatkan rangkulannya di bahu Chéri, lembut namun tegas.


Chéri menurunkan kedua tangannya dari wajahnya, kemudian mendongak menatap wajah pria itu.


"Mereka berdua hidup di dalam diriku," pria itu memberitahu.


"Waktu itu… Rafaél ingin mati, begitu juga dengan Valentin. Valentin tak ingin bertahan hidup kalau harus membunuh Rafaél. Mereka sudah saling memahami dan saling memaafkan. Mereka pikir tak apa kalau mereka mati. Tapi pada saat itu, cermin pecah. Mereka terlempar ke dunia nyata. Dan… di sana, ada kau yang terkepung api. Harus ada seseorang yang mengeluarkanmu dari dalam api. Tragedi yang mengharuskan salah satu dari mereka mati berubah dalam sekejap. Mereka berdua… menjadi satu dan hidup kembali. Ingatan mereka tidak terhapus. Semuanya ada di dalam diriku."


Benarkah?


"Chéri… keajaiban ini terjadi karena mereka berdua sama-sama mencintaimu." Pria itu—yang entah siapa sekarang, mengusap lembut pipi Chéri dengan buku jarinya. Tatapannya seteduh pagi. Suaranya setenang rembulan.


Chéri merasakan ketenangan yang damai.


Tidak ada kesedihan…


Tidak ada rasa kehilangan.


Semuanya terasa seperti… seolah dia terlahir kembali.


Semuanya dimulai kembali dari awal.


Dan…


Pria ini…


Ah, Chéri merasa tak yakin.


Tapi…


Dia begitu memukau.


Pria itu tiba-tiba merunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri, kemudian mendaratkan kecupan lembut. "Itu dari mereka berdua," bisiknya seraya tersenyum.


Chéri terpaku menatap senyumnya.


Dia mengenali senyuman itu—senyuman Rafaél!


Dan…


Tatapannya…


Tatapan tajam Valentin!


Pria ini memiliki keduanya—Rafael dan Valentin.

__ADS_1


Tapi apakah Chéri mencintainya?


Mencintai pria asing yang di dalamnya ada perbaduan dua pribadi yang sangat dia cintai?


Seolah dapat membaca kebimbangan Chéri, pria itu tersenyum simpul dan berpaling, lalu tertunduk.


Chéri meliriknya diam-diam.


Pria itu balas meliriknya.


Pandangan mereka bertemu dan terkunci.


Dia benar-benar tampan, pikir Chéri terpesona. Begitu tampan… sampai-sampai, Chéri merasa tak percaya diri, bahkan untuk sekadar menyentuhnya.


Pria itu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chéri dengan isyarat undangan.


Chéri menatapnya tak mengerti.


"Aku janji tak akan menggigit," bisik pria itu.


Chéri spontan tersenyum geli, kemudian menenggelamkan diri ke dalam dekapan pria itu.


Waktu bergulir perlahan, kegelapan mengendap di luar jendela.


"Sudah hampir malam," gumam Sesha sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku pulang dulu," katanya pada semua orang, kemudian berpamitan.


Kyle dan Leah menyusul kemudian, lalu Demian dan Ibrahim.


Hanya tinggal Mikail yang tersisa. Pria itu melambai sekilas ke arah mereka, kemudian menyadarkan punggungnya pada pilar dan melirik ke arah pintu kamar Chéri.


Tidak ada tanda-tanda Rafaél akan keluar.


Mikail mendesah pendek, kemudian menarik punggungnya dari pilar, melirik sekilas ke arah pintu, kemudian berlalu menjauh.


"Mikail!" Teriakan seorang gadis menghentikan langkahnya.


Mikail menoleh ke belakang.


Cyzarine menghambur ke arahnya dengan tergopoh-gopoh. "Aku langsung ke sini setelah melihat berita di TV," katanya terengah-engah. "Katanya mereka berdua terluka!"


Mikail tersenyum tipis. "Sepertinya, tugasku sudah selesai," katanya sebelum melanjutkan langkah.


Cyzarine spontan menghadangnya. "Apa maksudnya sudah selesai?"


Mikail menghentikan langkahnya dan menyisi dari jalan. "Kepribadian Rafaél dan Valentin sudah bersatu," katanya. "Jadi, sekarang aku tak perlu cemas lagi."


"Tapi dia tetap akan meneruskan dramanya, kan?" Cyzarine penasaran.


"Ya," jawab Mikail lugas. "Rafaél berniat membangun kembali MoscovArt Theatre dan dia akan menulis karya baru."


"Ah, syukurlah!" Cyzarine berlanting gembira. "Kalau begitu, kita akan kerja keras lagi, nih!"


Mikail langsung terdiam.


"Habis, kalau dipikir-pikir… siapa yang akan menyewakan gedung kepada grup teater yang sutradaranya merepotkan seperti Rafaél," cerocos Cyzarine dengan ekspresi konyol yang jelas dibuat-buat. "Dulu, dia pernah menghentikan pementasan. Sekarang, terjadi kebakaran. Lihat saja, Vladimir pasti marah besar. Siapa yang akan mengatasinya? Tidak ada yang bisa mengatasi situasi macam ini kecuali Mikail Volkov!" Cyzarine menyeringai.


Mikail tersenyum simpul.


.


.


.


"Kau lebih suka Rafaél atau Valentin?" Pria itu bertanya lembut di telinga Chéri.


"Aku tidak bisa membedakan mereka berdua," jawab Chéri. "Aku sangat mencintai keduanya."


"Betul juga, ya… cara Rafaél mencintai berawal dari keinginannya untuk menggantikan ayahmu, sehingga hubungan kalian bersifat spiritual. Sedangkan Valentin, lebih bersifat fisik. Tapi kalau denganku… aku belum tahu."


Begitu, ya?


Benar juga…


Orang ini baru saja lahir.


"Ng…" Chéri menggumam ragu. "Sebaiknya… aku memanggilmu apa? Sulit bagiku untuk memanggil Rafaél. Memanggil Valentin juga tidak enak…"


"Aku Rafaél Moscovich, ingat?"


"Ah, benar juga," gumam Chéri. "Tapi—"


"Jangan bilang kalau kau ingin pulang ke St Petersburg!" sela Rafaél memotong perkataan Chéri. "Sebab aku akan membuat drama baru. Aku akan membuat peran untukmu berdasarkan kisah Rafaél dan Valentin."


...KILAU BINATANG DI MOSKOW...

__ADS_1


..._Tamat_...


__ADS_2