Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 31


__ADS_3

"Besok kan, kau masih bisa tampil," bujuk Mikail. "Jadi… kau masih punya kesempatan—"


"Tidak!" Chéri bersikeras. "Aku akan menyelesaikan drama ini. Lagi pula siapa yang akan percaya kalau dia bukan Rafaél. Drama ini tidak bisa dibatalkan!"


Bersamaan dengan itu, beberapa orang staf menghambur ke dalam dengan wajah gusar. "Di sini kau rupanya," kata salah satu dari mereka. "Kami mencarimu ke mana-mana," kata yang lainnya.


"Aku akan pergi," kata Chéri.


Mikail mengangkat tangannya mengisyaratkan para staf itu untuk menunggu di luar. "Chéri, aku juga tak berharap drama ini hancur. Tapi mustahil bagi kita untuk meminta kepribadian ini berakting."


"Aku yang akan menyesuaikan diri dengan apa yang dia lakukan nanti," tekad Chéri.


"Ini terlalu berisiko," sanggah Mikail. "Pada akhirnya drama ini akan tetap dihancurkan oleh kepribadian ini."


"Tapi kasihan Rafaél!" Chéri meninggikan suaranya. Bulir air mata menggelinding di pipi mulusnya.


Mikail menelan ludah dan memandangi wajah gadis itu dengan perasaan tak tega.


"Chéri! Mikail!" Para staf yang menunggu di luar mulai kehabisan kesabaran.


Mikail mendesah pendek dan mengeluarkan saputangan dari saku celananya, kemudian menyodorkannya pada Chéri. "Hapus air matamu," katanya. "Wajahmu sangat kacau."


Chéri menerima saputangan itu seraya mengamati wajah Mikail.


Mikail memalingkan wajahnya. "Pergilah!" Ia mengibaskan tangannya sembari cemberut.


Chéri memaksakan senyum dan memeluknya.


"Hei! Tolong bawakan bedak dan kuas lipstik!" Mikail berteriak ke arah pintu.


Seketika suasana di luar berubah gaduh. Suara-suara berdebuk ribut dan berdebam di permukaan lantai, bersahut-sahutan dengan suara-suara mereka yang saling menginstruksikan satu sama lain, membahana sampai ke ujung koridor.


Beberapa saat kemudian, Sesha menerobos ke dalam ruangan dengan sekotak peralatan makeup.


Mikail sendiri yang mendandani Chéri kali ini.


"Aku baru tahu kau ahli make over," komentar Sesha sedikit terkejut.


"Lihat ke bawah," perintah Mikail pada Chéri ketika ia menyapukan eyeshadow di kelopak mata gadis itu. "Ingat," katanya. "Kau tak boleh lengah!" Ia menasihati.


"Satu tahun yang lalu… bagaimana caranya dia menghilang?" Chéri bertanya setengah menggumam.


"Saat situasi memburuk, dia menghilang dengan sendirinya," jelas Mikail. "Dia paling tak tahan kalau ditekan."


Sesha menyimak pembicaraan mereka dengan alis bertautan.


"Saat aku berakting… rasanya enak sekali kalau diriku bisa menghilang," bisik Chéri pada Mikail. "Tapi… dalam hal ini, Rafaél mungkin benar-benar menghilang. Aku bisa membayangkan betapa mengerikan saat itu."

__ADS_1


Mikail memoleskan perona pipi tanpa bicara.


"Aku memang bodoh…" Chéri menggumam.


Mikail menyelesaikan pekerjaannya. "Berakting bukan berarti menghilangkan diri kita sendiri," katanya. "Tapi membangkitkan kepribadian dalam diri kita yang tidak pernah kita tahu."


Giliran Chéri sekarang yang diam.


"Ada kalanya penonton menahan napas dan mengembuskan napas…" Mikail melanjutkan. "Itu adalah saat di mana kau dan seluruh penonton menjiwai karakter Si Cantik dan Si Buruk Rupa." Ia menatap ke dalam mata Chéri sekarang. "Chéri…" katanya. "Kau telah membangkitkan Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang selama ini terlelap dalam tidurnya."


Chéri terperangah. "Apakah itu sesuatu yang hebat?"


"Ya," jawab Mikail seraya tersenyum lembut.


"Aku…" Chéri tergagap dalam keharuan. "Aku akan mencoba tampil. Kalau aku bisa menjiwai Si Cantik… pasti aku bisa membangunkan jiwa Rafaél yang sekarang sedang tertidur dalam kepribadian itu, kan?"


Mikail terdiam.


"Rafaél bisa kembali seperti semula, kan?" Chéri bertanya lagi, kali ini suaranya terdengar bergetar menahan tangis.


Mikail menarik kepala gadis itu ke dadanya. "Sudah, jangan menangis lagi. Nanti makeup-mu luntur," katanya. "Aku suka dirimu yang tegar!" Ia menambahkan. Memberi dorongan spiritual.


Dari seberang koridor, Rafaél melirik ke arah mereka melalui pintu ruang administrasi yang terbuka dan tersenyum sinis. "Aku tidak semanja itu," dengusnya seraya memasangkan topeng singa ke wajahnya.


"Cantik! Buruk Rupa! Sudah siap?" Pengawas panggung berteriak tak sabar.


Sesha masih membeku di tempatnya, menatap Chéri, kemudian menatap Mikail dengan ekspresi wajah kebingungan.


"Lihat apa?" Mikail memelototinya.


"Nothing," jawab Sesha cepat-cepat, kemudian memalingkan wajah dan bergegas meninggalkan ruang administrasi. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan tadi? pikir Sesha, kemudian melirik ke arah Chéri dengan tatapan penuh selidik.


Chéri sudah berada di belakang panggung.


Rafaél sudah menunggunya seraya menyodorkan telapak tangannya ke arah Chéri.


Chéri menelan ludah dengan susah payah, kemudian menautkan tangannya pada tangan pria itu dengan perasaan gugup.


Dia bukan Rafaél, batinnya getir.


Lalu keduanya melangkah ke atas panggung dengan aura mengerikan.


Apa yang akan diperbuat kepribadian ini?


Aku takut, pikir Chéri. Tapi…


"Buruk Rupa, bolehkah aku pulang ke rumah ayahku?" Chéri memulai dialognya. "Satu minggu saja," lanjutnya berusaha tegar. "Kau sendiri sudah melihatnya, melalui cermin ajaib… ayahku sedang sakit keras. Izinkan aku untuk menjenguknya."

__ADS_1


Rafaél diam saja.


"Kumohon, Buruk Rupa!" Chéri melanjutkan dialognya. "Kalau ayahku tahu aku baik-baik saja dan diperlakukan dengan sangat baik, ayahku pasti akan segera pulih. Aku pasti akan kembali padamu… kumohon!"


Rafaél mendekatinya. Tapi kemudian hanya cengengesan di balik topengnya sembari memelototi Chéri.


Seharusnya pada bagian ini, Si Buruk Rupa mengulurkan tangan dan berkata, "Aku lebih baik mati daripada membuatmu menderita."


Jadi kau berniat untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun? pikir Chéri. Baiklah!


"Buruk Rupa! Apa kau marah?" Chéri berimprovisasi. "Kalau begitu maafkan aku." Direnggutnya tangan Rafaél dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya merenggut tepi jubahnya.


Mikail mengawasi mereka dari celah tirai di belakang panggung. Terlihat waswas dan prihatin.


Di bagian ini, seharusnya Si Buruk Rupa memberikan sarung tangannya pada Si Cantik sebagai tanda bahwa ia diizinkan pergi. Tapi Rafaél tidak melakukannya.


Jadi Chéri diam-diam merenggut sarung tangan pria itu dan memindahkannya ke tangannya sendiri dengan diam-diam. Jubah pria itu menyembunyikan aksinya dari perhatian penonton.


"Kalau begitu kau tak perlu mengatakan apa pun," kata Chéri---masih dalam mode improvisasi. "Aku takkan mengungkitnya lagi."


Menyadari ada yang tak beres, Rafaél menyentakkan tangan dan jubahnya. Lalu beringsut menjauhi Chéri.


Chéri sudah berhasil memindahkan sarung tangan pria itu ke tangannya. Ia menatap sarung tangan itu dengan mata dan mulut membulat, kemudian mendongak menatap wajah Rafaél. "Buruk Rupa," desisnya dengan ekspresi haru. "Sarung tangan ajaibmu… sarung tangan yang bisa membawaku pergi ke mana pun dalam sekejap…"


Mikail menutupi mulutnya dengan kepalan tangan dan tertawa tanpa suara. Dia sungguh cerdik, katanya dalam hati. Lalu buru-buru pergi dari tempat itu dan bergegas ke ruang kontrol.


"Kamu memberikan benda sepenting ini padaku?" Chéri membelalakkan kedua matanya dan menghambur memeluk Rafaél. "Terima kasih, Buruk Rupa!"


Rafaél menggeram.


Chéri melepaskan pelukannya cepat-cepat, kemudian berbalik dan berlari meninggalkan panggung. "Aku pasti kembali satu minggu lagi," teriaknya sebelum ia menghilang di balik tirai. "Tunggu aku, Buruk Rupa!"


Rafaél mematung di tempatnya seraya memelototi gadis itu dengan amarah yang nyaris meledak.


"Maaf! Aku ambil alih kendali untuk sementara!" Mikail berkata pada pengawas panggung sembari merebut headset dari kepala pria itu.


Pengawas panggung itu tercekat. Menatap kesal ke arah Mikail.


"Langsung matikan lampu dan sambung ke babak 16!" Mikail memberi instruksi ke bagian tata lampu melalui wireless.


Panggung mendadak gelap.


"AAAAAAAAAAAAARRRRRRGH!!!" Rafaél berteriak murka.


Para penonton terperanjat.


"Pentas macam apa ini?" Pengawas panggung mengerang frustrasi.

__ADS_1


__ADS_2